Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 84 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Oke. Kalau gitu, sekarang ganti Mama yang mau ngomong. Mama ada kabar bahagia,” ujar Mama Dhiya yang begitu semangat karena akan panen cucu tahun ini.


“Hah? Apa, Ma?” tanya Reigha.


Semua tampak serius menatap Mama Dhiya yang senyum-senyum sendiri.


“Ma, kok malah senyum-senyum. Ada apa, Ma?” tanya Shafa yang udah penasaran.


“Tadi itu Anna pingsan trus Bayu membawa ke rumah sakit, dan hasilnya dokter mengatakan kalau Anna ... ” ucap Mama menjeda melihat ekspresi Shafa dan Reigha yang udah penasaran.


“Anna hamil,” lanjut Mama tersenyum bahagia.


“Hah? Selamat ya, Bestie. Akhirnya kamu hamil juga. Nanti kita akan bareng-bareng merawat bayi yang lucu,” ucap Shafa dengan begitu senang menarik Anna dalam pelukannya.


“Kok bareng-barengnya berdua, Fa? Mama gak diajak nih?” tanya Mama cemberut.


“Ya pastilah Mamaku, Sayang ... ‘kan nanti cucu Mama tiga, jadi yang satunya sama omanya dong,” ucap Shafa. Mama pun langsung tertawa.


Para laki-laki hanya menatap heran dengan tiga wanita yang atusias membahas bayi.


“Lah, suaminya gak diajak!” celetuk Bayu.


“Kalian urus kantor aja,” balas Mama Dhiya.


“Beneran gak diajak nih kami, Ma? Mama gak mentingin anak lagi nih?” tanya Reigha bercanda.


“Anak nomor kesekian setelah cucu dan menantu,” jawab Mama membuat Reigha dan Bayu merengut.


“Boleh aja, asal suaminya gak dilupakan ya, Ma!” seru Papa Harun yang merasa sejak tadi tidak dibawa dalam ucapan Mama Dhiya.


Semua pun tampak tertawa bersamaan termasuk Dani dan Santi yang begitu terharu dengan kedamaian keluarga Papa Harun.


Malam itu, mereka semua merasa bahagia. Karena, beban yang selama ini dipendam sudah berakhir.


Karena udah malam, Santi diantar pulang oleh Dani sampai rumah. Santi merasa lega karena Reigha dan istrinya baik-baik saja juga mau memaafkannya.


Sesampainya di rumah, Santi langsung turun. Namun, saat Dani mau membuka pintunya santi berkata, “Mas, gak usah turun ya. Udah malam gak enak sama tetangga.”


“Baiklah, San. Kalau gitu aku langsung pulang ya. Dan, jangan lupa kabari kalau Papa kamu udah memberi kabar kapan ke Jakartanya,” balas Dani.


“Iya, nanti Santi kabari. Selamat malam, Mas, assalamualaikum.” Santi pun segera masuk rumah setelah melambaikan tangan ke Dani.


Di rumah Papa Harun, semua masih kumpul di ruang tamu menikmati pembicaraan dan juga menemani dua bumil yang masih asik mengobrol dengan Mama.


“Mama lega sekarang, masalah udah selesai,” ucap Mama Dhiya, diangguki oleh semua.


“Dan karena masalah udah selesai ... Reigha, kamu besuk kembali kerja di kantor dan Bayu mulai besok udah aktif di kantor Papa. Papa akan umumkan besuk kalau kamu yang gantikan Papa,” imbuh Papa berkata pada kedua putranya.


Reigha dan Bayu saling tatap. Kemudian Reigha bertanya, “Pa, Papa dan Mama jadi ke luar negeri?”

__ADS_1


“Gimana, Pa? Menantu kita dua-duanya lagi hamil lho, masa mama mau ninggalin mereka?” Mama menoleh menatap pada suaminya meminta jawaban.


“Tetap jadi. Kita gak lama kok, Ma, soalnya Papa udah terlanjur janji sama teman papa. Jadi, kita persingkat aja nanti,” jawab Papa.


“Iya, Ma, kami gapapa kok, kan ada anak-anak Mama yang perhatian sama istrinya,” ucap Shafa.


“Iya sangking perhatiannya sampai menghilang dan mau menikah,” sindir Bayu.


Reigha yang mendengar sindiran Bayu langsung menimpuk kepala Bayu pakai buku. Semua pun tertawa.


“Yaudah, semua istirahat ya, udah malam. Kasian istri-istri kalian jangan sampai kecapean,” titah Mama.


“Bentar, Ma. Papa dan Mama kapan berangkatnya?” tanya Reigha.


“Lima hari lagi kami berangkat,” jawab Papa mantap.


Setelah mendengar jawaban Papa, mereka pun segera masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat.


****


Ke esokan harinya, sesuai pembicaraan kemarin malam, Reigha udah bersiap ke kantor.


Sambil memasangkan dasi, Shafa berkata pada Reigha, “Mas, yang kemarin itu dijadikan pelajaran. Jangan asal janji sama seseorang. Dan, jangan diulangi lagi. Membantu orang itu baik, tapi kamu harus jaga dong sikap kamu. Masa kamu langsung janji gitu ke wanita lain, padahal Mas gak tau apa permintaan dia.”


“Iya-iya, Sayang, Mas akan ingat-ingat itu. Mas gak asal kasih janji lagi,” balas Reigha dengan lembut.


“Oke, udah selesai. Yaudah yuk sekarang kita keluar, kamu jaga diri ya sayang, kalau pengen apa-apa bilang aja. Nanti Mas bawakan pulang dari kantor,” titah Reigha diangguki dengan Shafa.


“Loh, Anna kemana, Bay?” tanya Mama Dhiya saat salah satu menantunya tidak terlihat oleh netranya.


“Anna dari tadi muntah-muntah, Ma. Dia sampai lemes banget. Fa, lo hamil tapi kok gak pernah muntah-muntah?” tanya Bayu heran.


“Gak tau juga, Dari awal mulai tau hamil sampai sekarang gak pernah merasakan morning sickness, makan enak-enak aja,” jawab Shafa yang memang benar adanya.


Reigha pun baru ingat sewaktu di Surabaya dia hampir setiap pagi muntah-muntah. Dia langsung berkata, “Istri gue sih emang gak pernah pagi-pagi muntah-muntah karena yang tiap pagi muntah-muntah itu gue”


Reigha terus menyantap sarapan paginya sambil sesekali menyaut pembahasan Bayu dan Shafa.


“Hah, beneran, Mas?”


Bayu langsung tertawa, “Ternyata anak-anak kalian menghukum lo, Gha. Karena, kemarin malah sibuk ngerawat wanita depresi itu.


Bayu pun mendapat tatapan tajam dari Reigha. Kemudian, mereka melanjutkan sarapan paginya.


“Mas, Shafa udah selesai makan. Shafa buatin minuman hangat dulu buat Anna ya,” ucap Shafa.


“Iya, Sayang, hati-hati perut kamu udah kelihatan sedikit buncit.”


Shafa pun mengangguk dan segera menuju ke dapur untuk membuatkan minuman jahe madu dan mengantarkan ke kamar Anna.

__ADS_1


Terdengar di dalam kamar, Anna lagi muntah-muntah. Shafa pun segera masuk.


“Na, lo pucat banget ... sini duduk sini dan minum ini, dihabiskan ya.” Shafa pun menuntun Anna untuk duduk di sofa dan meminum minuman yang dibuat oleh Shafa.


Anna segera meminumnya sampai habis. Setelah minum minuman dari shafa perut Anna merasa enakan gak mual lagi, akhirnya Anna udah gak muntah lagi.


“Makasih ya, Fa,” ucap Anna bernapas lega.


“Sama-sama, yaudah yuk sarapan dulu. Kasihan babynya kalau lo belum makan,” titah Shafa yang mendapat anggukan kecil dari Anna.


Shafa menuntun Anna menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, ternyata semua sudah di depan rumah.


“Gue ke depan dulu ya, Na. Lo makan aja,” ucap Shafa.


“Ikut, Fa.”


Shafa dan Anna berjalan bersamaan ke depan rumah. Menyalimi suami masing-masing.


“Kok gak di kamar aja, Sayang?” tanya Bayu.


“Udah baikan, Bang. Hati-hati ya, Bang. Semangat kerjanya!” jawab Anna.


“Iya, Sayang.”


“Sayang, mas berangkat dulu ya. Hari ini Mas agak sibuk karena Bayu udah pindah di kantor Papa,” ucap Reigha.


“Iya, Mas, hati-hati ya, Mas.”


Reigha mengangguk dan mengecup singkat kening Shafa dan juga beralih mengecup perut Shafa, “Kamu juga hati-hati bawa anak-anak kita. Papa berangkat ya, Nak.”


Saat reigha mau menjalankan mobil, Bayu memanggilnya.


“Gha, sebelum lo nyari pegawai baru untuk gantikan gue, gue sarankan untuk Farhan yg gantiin gue. Dia kompeten di bidang itu. Dan cara kerjanya sangat bagus,” ucap Bayu.


“Lah, kan ada Dani yang gantikan posisi lo,” balas Bayu.


“Maksud gue, gantikan posisi Anna. Hehehe, jadi Dani juga ada yang bantu.”


“Oke, nanti gue coba lihat cara kerjanya dulu,” ucap Reigha dan diangguki oleh Bayu.


Reigha pun segera melambaikan tangan ke Shafa lalu pergi meninggalkan rumah.


Bayu dan Papa semobil dan segera pamit sama Mama Dhiya juga Anna serta Shafa.


“Ma, Bayu berangkat dulu. Ma, Fa, titip Anna, ya.”


“Pasti Mama kamu yang overprotektif itu jagain mantu-mantunya dengan sangat baik, Bay,” bisik Papa yang berada di sebelah Bayu. Mereka pun berangkat.


Di kantor Reigha, pertama kali masuk kantor setelah dua bulan dia tinggalin.

__ADS_1


Semua pegawai pun menyapa dan hanya diangguki oleh reigha. Reigha segera naik lift.


Setelah sampai di depan ruangannya, Reigha menghampiri Puspa, “Puspa, sebelum bacain agenda hari ini, bisa tolong panggilkan HRD dan Farhan yang di marketing?”


__ADS_2