Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 101 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Bay, kok kamu diam aja?” balas Mama beralih pandangannya pada Bayu yang hanya diam saja.


“Bayu cuma kangen sama Anna dan anak Bayu, Ma. Bayu belum bersabar sejak kejadian di rumah sakit tadi,” jawab Bayu.


“Yaudah, pulang aja yuk!” seru Mama mengajak mereka pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Bayu segera turun karena udah rindu pada Anna dan anaknya yang masih dalam kandungan. Bayu segera masuk kamar dan melihat Anna yang tengah tidur.


Bayu pun segera masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, kemudian ikut tidur di sebelah Anna.


Reigha, Papa, Mama segera duduk di ruang tengah karena Ayah yang sejak tadi tidak meninggalkan ruang itu. Ibu yang melihat besan dan menantunya datang, segera ke depan.


“Shafa di kamar ya, Bu?” tanya Reigha.


“Iya, Bak, lagi tidur. Si kembar juga tidur pulas banget,” jawab Ibu membuat Reigha manggut-manggut.


“Gha, kapan rencana kamu adain aqiqahnya?” tanya Mama.


“Akhir minggu ini aja ya, Ma. Gimana, Ma?” jawab Reigha.


“Mama sih setuju aja. Gimana, Besan? Akhir minggu ini sibuk nggak?” balas Mama bertanya pada besannya.


“Kalau untuk cucu sih pasti ada waktu. Kami akan siap membantu acaranya,” jawab Ayah dan disetujui oleh Ibu.


“Baiklah, deal, akhir minggu ini ya. Mama dan Ibu akan siapkan semua,” ucap Mama.


“Kita yang siapkan kambingnya aja ya, Pak,” titah Papa menoleh pada Ayah.


“Iya, bener itu, Pak,” balas Ayah mengangguk.


Dan mereka pun mengobrol sampai tak terasa menjelang malam.


Reigha segera izin ke kamar untuk bersih-bersih badannya dan melihat si kembar dan juga istrinya.


Saat masuk ke kamar ternyata si kembar dan Shafa tampak sudah mandi.


“Loh, Sayang, kok kamu mandiin si kembar sendiri?” tanya Reigha.


“Gapapa, kan Shafa udah biasa mandiin bayi dulu waktu di rumah sakit, Mas,” jawab Shafa sembari menggendong Daviandra. Sementara Daviana udah tertidur setelah diberikan asi oleh Shafa tadi.


“Tapi, Mas gak mau kamu kecapean, Sayang,” ucap Reigha.


“Cuma mandiin sih gak capek, Mas,” balas Shafa.


“Yaudah, Mas mandi dulu ya, Sayang.” Reigha bergegas menuju ke kamar mandi.


Shafa pun mengiyakan dan segera menyiapkan baju ganti untuk Reigha.


Setelah Reigha selesai mandi dan sholat, Reigha memberitahukan tentang acara aqiqah si kembar pada istrinya dan Shafa pun menyetujui. Setelah mengobrol mereka pun segera keluar untuk makan malam.


Saat makan malam ternyata Ayah dan Ibu udah pulang.


“Loh, Ayah dan Ibu kemana, Ma, Pa?” tanya Reigha.

__ADS_1


“Tadi Anggi telpon, katanya lagi gak enak badan, jadi Ayah dan Ibu kamu pulang dulu,” jawab Papa membuat Reigha dan Shafa manggut-manggut.


“Oh ... nanti Shafa telpon aja habis ini, Mas,” balas Shafa.


“Bayu dan Anna kok belum keluar?” tanya Mama.


“Bentar, biar Reigha panggil, Ma,” ucap Reigha segera menuju ke kamar Bayu.


Tok...Tok...Tok...


“Bay, udah malam loh ... ditunggu Mama dan Papa,” teriak Reigha di luar kamar Bayu.


Mendengar suara Reigha, Anna pun membukakan pintu kamar dan berkata, “Kak, Abang masih di kamar mandi. Nanti kami segera ke sana.”


“Oke.” Reigha segera kembali ke ruang makan.


Tanpa menunggu bayu dan Anna mereka segera makan tak lama kemudian Bayu dan Anna datang ke ruang makan.


“Bay, Na, maaf ya kami makan duluan,” ucap Mama.


“Gapapa, Ma, bayu tadi masih mandi,” balas Bayu.


“Gimana luka kamu, Bay?” tanya Papa.


“Udah baikan, Pa,” jawab Bayu.


“Alhamdulillah ... obatnya teratur diminum ya, Bay.”


“Iya, Pa,” balas Bayu dan mereka pun melanjutkan makannya. Setelah makan malam mereka semua segera istirahat.


Semua berebut ingin menggendong. Si kembar sama sekali gak rewel . Acara aqiqah si kembar sukses dan lancar.


****


Dua bulan kemudian, Anna kandungannya udah sembilan bulan. Bayu sama sekali tidak pernah meninggalkan Anna karena dia takut Anna tiba-tiba melahirkan.


Dan ternyata dugaannya benar. Sore hari ini, saat Bayu di ruang kerja bersama Reigha, Anna tiba-tiba merasakan perutnya sakit.


“Abang, to—tolongin Anna, Bang!” teriak Anna.


“Gha, gue keluar dulu ya, Anna manggil gue,” ucap Bayu segera keluar, Reigha pun menyusul langkah Bayu.


“Ada apa, Sayang?” tanya Bayu.


“Perut Anna sakit, Bang,” jawab Anna seraya meringis.


“Bay, sepertinya Anna mau lahiran, cepat bawa ke rumah sakit,” titah Reigha.


Tanpa menunggu lama, Bayu segera membawa Anna ke rumah sakit.


“Lah gimana tuh anak, ke rumah sakit kok gak bawa tas perlengkapannya,” celetuk Reigha menatap punggung Bayu yang telah menghilang dari pandangannya.


“Ada apa, Gha?” tanya Mama yang baru keluar dari kamar si kembar sembari menggendong Daviandra bersamaan dengan Shafa yang ikut keluar menggendong Daviana.

__ADS_1


“Itu tuh, Ma. Masa Bayu ke rumah sakit gak bawa tas perlengkapan lahirannya,” ucap Reigha dengan santainya.


“Hah? Apa, Gha? Anna mau lahiran? Kok kamu malah tenang gitu?” balas Mama yang mendadak panik.


Mama yang melihat mbok Nah tengah berjalan melewatinya pun memanggil, “Mbok Nah.”


“Mbok, tolong gendong cucu saya. Saya harus ke rumah sakit sekarang,” lanjut ucapan Mama dengan hati-hati memberikan Daviandra yang tengah tertidur.


Reigha pun yang segera sadar segera ke kamar Bayu untuk mengambil tasnya dan akan mengantarnya ke rumah sakit.


“Gha, Mama ikut,” ucap Mama.


“Ma, Shafa dan si kembar gimana kalau Mama ikut?” tanya Reigha.


“Kamu temani Bayu dan Anna, Mas. Shafa gapapa kok ada mbok Nah yang jagain di rumah kok,” jawab Shafa.


“Beneran kamu gapapa, Fa?” balas Mama memastikan.


“Gapapa, Ma. Mama dan Mas Reigha ke rumah sakit aja.”


Dan akhirnya Mama dan Reigha pun ke rumah sakit. Di mobil, Mama segera menelpon Papa untuk cepat pulang, karena Anna mau melahirkan.


Tak berapa lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Reigha pun langsung menuju ke ruang bersalin bersama Mama dan mereka pun bertemu Bayu.


“Gimana, Bay? Kok lo gak nemenin Anna di dalam?” tanya Reigha.


“Gue di sini aja ya, gue takut darah,” jawab Bayu.


Mama dan Reigha pun tertawa, “Lo tuh mau enaknya aja, Bay, bikinnya berdua, pas mau lahiran suruh berjuang sendiri,” celetuk Reigha.


Akhirnya Bayu pun segera masuk karena gak mau digodain sama Reigha.


“Permisi, Suster, saya mau mendampingi istri saya,” ucap Bayu.


“Oh ... silakan, Pak. Sambil menunggu dokter datang, kita periksa dulu sudah pembukaan berapa,” balas perawat yang sejak tadi ada di ruang bersalin.


“Wah, udah pembukaan lima. Tunggu sebentar ya, Bu, dipakai miring ke kiri dulu,” titah perawat.


“Bang, ini sakit banget,” ucap lirih Anna.


“Sabar ya, Sayang, pasti kamu kuat,” balas Bayu seraya menggenggam erat tangan Anna.


“Achhh ... sakit banget, dokternya mana sih, Bang,” ucap Anna yang gak sabar ingin mengeluarkan anaknya.


“Dokter ... dokter, tolong udah sakit banget ini!” seru Anna.


Beruntungnya tak lama kemudian dokternya datang memasuki ruangan bersalin.


“Permisi ya, Bu,” ucap Dokter yang udah menggunakan sarung tangan steril itu langsung memasukkan jarinya untuk mengecek pembukaan.


“Alhamdulillah udah lengkap ya, Bu. Sekarang ikuti aba-aba saya ya, kalau saya bilang ngeden, ngeden ya, Bu,” titah dokter.


“Oke, tarik napas. Buang perlahan,” lanjut dokter membuat Anna mengatur nafas untuk mulai mengejan.

__ADS_1


“Dalam hitungan ke tiga, silakan ngeden ya, Bu ... satu, dua, tiga, ngeden, Bu!” seru dokter.


__ADS_2