
Tok...Tok...Tok...
Daviana berdiri dan berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Ternyata Vilia yang mengetuk pintu.
“Kenapa, Vil?” tanya Daviana.
“Loh, Kakak kok belum mandi? Ayo kita turun, Kak,” balas Vilia.
“Kamu turun aja dulu ya, kakak mandi dulu,” kata Daviana.
“Lah, Kak Nai ... Ngapain aja dari tadi, kok baru mau mandi?” tanya Vilia.
“Tadi kakak istirahat sebentar, Dek,” jawab Daviana.
“Owhh ... yaudah, aku duluan deh ya, Kak,” balas Vilia dan mendapat anggukan dari Daviana.
Setelah Vilia pergi, Daviana pun segera bergegas untuk mandi. Setelah mandi dan sholat, Daviana melihat ponselnya sebentar dan karena gak ada notifikasi masuk, Daviana pun kembali menaruh ponselnya dan segera keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, ternyata semua udah duduk dan tinggal menunggu Daviana.
“Maaf semuanya ... Nai terlambat,” kata Daviana tak enak.
“Iya gapapa, Nak. Ayo duduk dan kita segera makan,” balas Reigha.
Dan mereka pun segera makan siang bersama dengan Bayu juga Anna yang ikut serta siang itu.
Sementara di tempat Reza, keesokan paginya sesuai apa yang dikatakan oleh Reza. Pagi-pagi Reza udah mengajak Shafa untuk jalan-jalan setelah menghabiskan sarapan yang dibuatkan oleh Shafa.
“Za, kita mau kemana?” tanya Shafa.
“Tenang aja, Ma, pokoknya hari ini Reza akan ajak mama jalan-jalan sampai mama puas di sini,” jawab Reza.
Shafa segera menatap Reza lalu berkata, “Nak ... ke mana pun kamu bawa mama jalan-jalan, asal bisa menghibur kamu, mama akan senang hati.”
“Mama, terima kasih ya, Ma, tapi Reza beneran gapapa kok, Ma,” balas Reza.
“Iya, yaudah yuk kita pergi jalan-jalan,” ucap Shafa dan mereka pun segera pergi meninggalkan apartemen Reza.
Mereka menikmati jalan-jalannya sampai tak terasa waktu udah sore dan mereka pun segera makan lalu pergi kembali ke apartemennya.
Sementara di Indonesia, tepatnya pada sore harinya, Daviana selalu menunggu kabar dari Reza. Namun, tetap saja gak ada kabar dari Reza.
“Apa aku telpon aja ya,” ucap lirih Daviana.
Daviana pun akhirnya memutuskan untuk menelepon Reza tapi ponselny tetap gak aktif.
__ADS_1
“Kan ... gak aktif HP-nya,” kata Daviana gak sadar saking jengkelnya sampai nangis.
Reigha yang bertepatan sedang melewati kamar Daviana mendengar suara tangis pun segera masuk ke kamar Daviana.
“Kak, kamu kenapa nangis? Kamu kangen mama?” tanya Reigha.
“Papa ...” lirih Daviana yang langsung berhambur memeluk Reigha.
“Kamu kenapa? Ayo cerita sama papa,” balas Reigha dengan lembut.
“Pa, Nai merasa kalau Reza itu melupakan aku, Pa. Setelah menelpon kemarin itu, sampai sekarang gak ngabari lagi, Nai telpon selalu gak aktif,” kata Daviana sembari menangis di pelukan papanya.
“Nak, Reza mungkin sibuk. Di sana dia bukan hanya kuliah, bahkan dia juga mengurus perusahaan di sana sendirian. Kamu yang sabar ya, nanti pasti telpon lagi,” ucap Reigha.
“Dulu aja waktu masih di sini perhatian banget sama Nai, giliran sekarang saat jauh malah lupa sama aku,” gerutu Daviana.
‘Dulu Reza perhatian sama kamu karena masih belum ada Calvin, Nak. Sekarang, saat kamu memilih Calvin, tentu saja Reza akan menjauh. Karena kalau gak menjauh, pasti hati Reza akan sakit melihat kamu bersanding dengan Calvin nantinya, Nak,’ batin Reigha.
“Pa, papa kok malah melamun? Tolong dong, Pa ... telponin reza,” kata Daviana setelahnya.
“Ya ... kalau kamu aja nelpon gak aktif, pasti papa telpon juga gak aktif, Nak, di tunggu aja ya. Papa ke dapur sebentar ya mau buat kopi,” ucap Reigha.
Daviana pun melepaskan pelukannya dan Reigha segera keluar dari kamar putrinya.
Reigha segera masuk ke ruang kerja dan mengunci pintunya. Dan segera menelpon Bayu.
“Assalamu’alaikum, Bay ... lo bisa ke rumah? Kalau bisa langsung masuk ke ruang kerja gue ya, gue tunggu,” kata Reigha.
“Wa’alaikumussalam, Gha. Iya bisa, Gha, gue ke sana,” balas Bayu dan segera pamit sama Anna kemudian segera menuju ke rumah Reigha.
Setelah sampai, Bayu pun segera masuk ke ruang kerja Reigha.
“Kenapa sih lo, Gha, pintu juga tumben dikunci?” tanya Bayu.
“Bay, gue batalin aja ya pernikahan Naima sama Calvin,” kata Reigha setelahnya.
“Lo kenapa? Jangan gegabah, Gha,” ucap Bayu.
“Gue gak tega melihat Naima yang setiap hari menunggu kabar dari Reza, sedangkan Reza aja sekarang berusaha melupakan Naima, Bay, anak-anak kita menderita. Dia gak bahagia,” balas Reigha.
“Jangan, Gha, ini memang sulit, tapi InsyaaAllah ini udah takdir Allah dan kita harus kuat,” ucap Bayu.
“Gue cuma kasihan sama anak-anak, Bay, sepertinya Naima pun ada rasa sama Reza, tapi seperti Reza ... Naima juga terlambat menyadarinya,” ungkap Reigha.
“Udahlah, Gha, kita berdoa aja semoga anak-anak kita selalu bahagia,” balas Bayu.
__ADS_1
“Aamiin.” Mereka pun meng-aamiinkan.
“Gha, gue pulang ya ... ni pasti gue ditungguin Anna nih, gak terasa udah malam,” kata Bayu berpamitan.
“Oke, Bay, thanks ya,” balas Reigha dan mendapat anggukan dari Bayu.
Mereka pun keluar dari ruang kerja, Reigha segera masuk ke kamarnya dan Bayu segera pulang ke rumah.
Tiga minggu kemudian, gak terasa pernikahan Daviana tinggal beberapa hari dan mereka pun udah mulai sibuk mempersiapkan semuanya.
Shafa pun sudah kembali dari tempat Reza sejak dua minggu yang lalu. Ya ... Shafa menemani Reza selama satu minggu karena Shafa pun juga harus mempersiapkan pernikahan Daviana dan Calvin.
Walaupun Shafa tidak tega meninggalkan Reza, tapi Daviana juga sedang butuh mamanya untuk mempersiapkan semuanya, bahkan Reza pun udah menitipkan kado dan meminta Shafa memberikannya di hari pernikahan Daviana.
Di kamar, Daviana tampak sedang melamun, Anggi yang rencananya mau mengajak makan siang pun kaget karena Daviana bukannya bahagia tapi malah melamun, akhirnya Anggi pun memutuskan untuk masuk ke kamar Daviana dan segera duduk di samping Daviana.
“Nai ... Naima,” panggil Anggi sambil memegang tangan Daviana.
“Eh ... aunty, udah dari tadi?” tanya Daviana.
“Nggak , baru saja. Kamu kenapa melamun? Bukannya kalau mau menikah itu harusnya bahagia ya,” jawab Anggi sembari bertanya kembali.
“Aunty,” lirih Daviana memeluk Anggi.
“Nai gak tau, Aunty, semakin mendekati hari H, Nai semakin ragu,” lanjut ucapan Daviana.
“Kok gitu ... kenapa? Kamu belum ada perasaan sama calon suami kamu?” tanya Anggi.
Dan Daviana pun menggeleng.
“Kalau gitu, kenapa dulu kamu terima? Papa dan mama ‘kan juga gak maksa kamu kan?” balas Anggi.
“Nggak, Anty, semua ini murni keputusan Nai. Tapi, hati ini gak tau kenapa semakin dekat hari H seperti menolak pernikahan ini,” kata Daviana.
“Ya udah, kamu sholat ya, Kak, minta petunjuk sama Allah dan biar hati kamu tenang. Aunty keluar dulu,” ucap Anggi.
“Iya, Aunty ... makasih ya,” balas Daviana sembari tersenyum dan melepaskan pelukannya pada Anggi.
Dan Anggi pun keluar segera menemui Shafa yang ternyata sedang duduk bersama suaminya membahas sesuatu yang Anggi pun tak tau apa.
“Kak, Bang, boleh Anggi duduk?” tanya Anggi.
“Duduk aja, Gi, ada apa? Sepertinya ada yang mau kamu omongin?” balas Shafa bertanya pada Anggi.
“Iya, Kak, aku tadi baru dari kamar Naima. Dan saat aku masuk ke kamarnya, Naima lagi melamun. Trus aku tanya dan dia pun cerita kalau semakin mendekati hari pernikahannya, dia semakin ragu. Ada apa sebenarnya?” tanya Anggi.
__ADS_1
Sontak saja Shafa dan Reigha pun saling tatap bingung menjelaskan apa pada Anggi.