
Anna izin pada Bayu untuk kembali menemani Shafa di kamar. Sementara Bayu langsung menghubungi Dani yang sudah jelas dialah asisten Reigha saat ini.
Dua kali panggilan sempat tidak diterima oleh Dani. Kini panggilan ketiga dari Bayu diterima oleh Dani, “Halo, Dan?”
“Kamu di mana?” tanya Bayu.
“Saya di kantor Pak Reigha Jakarta, Pak. Ada apa, Pak?” jawab Dani.
“Dani, saya mau nanya, kenapa sampai sekarang Reigha belum pulang, bahkan ponselnya gak bisa di hubungi?” tanya Bayu kembali.
“Saya sendiri gak tau pastinya, Pak, cuma percakapan terakhir saya sama Pak Reigha sebulan yang lalu setelah masalah di kantor anak cabang selesai, Pak Reigha menyuruh saya pulang duluan ke Jakarta untuk menghandle kantor. Kalau ada yang perlu di tanda tangani suruh minta Pak Harun atau anda, Pak Bayu. Setelah itu, pak Reigha ponselnya udah gak bisa dihubungi sampai sekarang,” jawab Dani jujur
“Masalah udah kantor sebulan yang lalu? Oh ... baiklah kalau gitu, terima kasih,” kata Bayu segera menutup telponnya.
Sementara di rumah sakit, Santi semakin bersemangat karena ada Reigha yang selalu menemani. Reigha merasa udah sangat mencemaskan Shafa segera mendekat pada Pak Rudi.
“Pak Rudi, bagaimana ini? Kapan bapak akan memberitahu Santi? Saya udah terlalu lama ini di Surabaya, istri saya lebih butuh saya, Pak. Dia sedang hamil,” ucap Reigha dengan raut wajahnya yang gusar.
“Mohon bersabar sebentar lagi, Pak. Nanti sore Santi sudah boleh pulang, nanti di rumah saya coba pelan-pelan memberitahunya. Tolong bersabar dulu,” balas Pak Rudi.
Di Jakarta, Shafa semakin cemas, bahkan Shafa gak mau makan karena memikirkan suaminya yang menghilang. Akhirnya, Shafa di rawat di rumah sakit.
Papa Harun dan Mama Dhiya mencemaskan kondisi Shafa. Anna yang sedari tadi menunggui Shafa sedang tidur, Anna tampak tidak tega, menyuruh Bayu untuk menyusul Reigha ke Surabaya.
“Abang, tolong ... abang mau gak ke Surabaya mencari Kak Reigha?” tanya Anna.
“Baiklah, Sayang. Abang besok ke Surabaya ya, Abang mau mencari Reigha,” jawab Bayu.
“Iya, Bang. Berhati-hati, ya. Maaf Anna gak ikut, Anna khawatir sama Shafa,” balas Anna.
“Iya, Abang pesan tiket dulu. Minta tolong ya, Sayang, packing bajunya Abang.”
Bayu segera keluar ruang rawat Shafa, sementara Anna izin pada Mama Dhiya untuk menyiapkan keperluan Bayu selama di Surabaya.
Anna pulang diantar oleh Vano, sesampainya di rumah langsung mempersiapkan baju dan keperluan lainnya.
Keesokan harinya, Bayu berangkat ke bandara diantar oleh Vano. Setelah menurunkan Anna di rumah sakit untuk menunggui Shafa. Vano kembali melajukan mobilnya menuju bandara.
Selang waktu satu jam, pesawat yang membawa Bayu pun mengudara. Memerlukan waktu satu jam tiga puluh menit akhirnya pesawat pun mendarat di bandara internasional Janda. Bayu segera pesan taksi online. Dan, segera mencari hotel untuk menginap selama mencari Reigha.
Di rumah Pak Rudi, siang harinya Santi dipanggil Papanya untuk masuk ke ruang kerja Pak Rudi. Karena Santi gak mau jauh-jauh dari Reigha, Reigha pun dipersilakan masuk oleh Pak Rudi.
Di ruangan tersebut pak Rudi pelan-pelan mau menjelaskan tentang Reigha.
__ADS_1
“Santi, Nak, tolong dengarkan Papa ya, papa ingin kan yang terbaik buat kamu. Papa ingin kamu bahagia. Kamu mau kita jalan-kalan berdua kemana, Sayang?” tanya pak Rudi menatap Santi dalam.
“Santi gak mau kemana-mana, Pa. Santi menunggu Mas Reigha menikahi Santi,” jawab Santi.
“Sayang, Pak Reigha ini udah menikah, Nak, dan istrinya lagi hamil,” ucap Pak Rudi ragu-ragu.
“Gak, Pa. Gak mungkin. Mas Reigha janji mau nurut apa pun kemauan Santi, Pa. Mas Reigha harus menikahi Santi!” teriak Santi emosi.
“Santi, saya punya tanggung jawab di Jakarta, kantor saya udah cukup lama saya tinggalkan. Boleh ya saya pulang. Karena kerjaan saya akan terbengkalai kalau saya gak ada,” ujar Reigha yang berada di samping Pak Rudi.
“Baiklah, Mas Reigha boleh pulang ke Jakarta,” ucap Santi berhasil membuat Reigha tersenyum senang. Senyuman yang belum pernah Santi lihat sebelumnya.
“Tapi ... ” lanjut Santi membuat Reigha senyuman Reigha sirna seketika.
“Tapi, Santi harus ikut sama Mas Reigha ke Jakarta,” imbuh Santi.
Reigha dan Pak Rudi berpandangan. Bingung mau gimana lagi.
“Bagaimana ini, Pak Reigha?” tanya Pak Rudi.
“Nanti saya pikirkan dulu,” jawab Reigha.
Reigha pun pamit pulang kembali ke hotel ketika Santi tertidur. Setiap hari Santi diberi obat tidur / penenang karena Santi selalu gelisah kalau tidak minum obat tidur.
Reigha segera naik mobil dan berjalan-jalan untuk menghilangkan pikiran yg sangat membuat Reigha stres. Reigha berhenti di taman memutuskan untuk bersantai sejenak di sana.
Namun, saat Reigha melamun tiba-tiba pundaknya ditepuk membuat Reigha terlonjak kaget. Reigha segera menoleh dan tidak menyangka saat tau kalau yang menepuknya adalah Bayu.
“Bay, kok lo ada di sini?” tanya Reigha memeluk Bayu, sahabat yang sudah di anggap adiknya itu.
“Gue yang harusnya nanya sama lo, ngapain sih lo gak pulang dan gak ngasih kabar istri dan Mama Papa ?” tanya Bayu membalas pelukan Reigha yang tampak begitu erat tak seperti biasanya yang hanya pelukan singkat ala lelaki.
Reigha pun langsung mendudukkan dirinya kembali. Bayu menatap intens pada Reigha yang sangat acak-acakan tidak seperti biasanya. Bayu sekarang tau kalau saat ini Reigha sedang tidak baik-baik saja.
“Lo kenapa, Gha, cerita ke gue. Siapa tau gue bisa bantu lo,” ucap Bayu.
“Gue gapapa, Bay. Gimana kabar istri gue? Mama? Papa? Dan, anak-anak gue baik ‘kan?” tanya Reigha mengalihkan pembicaraan.
“Gha, yakin lo mau tau?”
Reigha mengangguk semangat.
“Shafa ... istri lo sekarang dirawat udah beberapa hari ini dia dirawat di rumah sakit karena mikirin lo sampai gak mau makan. Mama dan Papa mencemaskan lo. Bayangkan aja, istri lo hamil anak kembar, harusnya manja-manjaan sama suaminya malah suaminya hilang gak tau ke mana,” jawab Bayu menjelaskan.
__ADS_1
Reigha yg mendengar pun meneteskan air mata.
“Sebentar, Bay, tunggu sini dulu, gue ke mobil sebentar.” Reigha segera berlari kecil ke mobil untuk menulis surat agar bisa membuat Shafa, Mama, dan Papa tenang. Setelah selesai menulis, Reigha kembali menemui Bayu.
“Nih, Bay, gue nitip ini ya. Tolong kasih ke Mama, Papa, juga Shafa,” ujar Reigha.
“Mereka gak butuh ini, Gha. Mereka hanya mau lo pulang,” balas Bayu menyerahkan kembali kertas yang terlipat rapi itu.
“Gue pasti akan pulang, Bay. Tapi, gak sekarang. Lo pulang aja, bilang sama semua kalau gue baik-baik aja di sini,” ucap Reigha.
“Gha, gue gak akan pulang, gue akan di sini. Lo kenapa? Tolong cerita ke gue!” seru Bayu.
Akhirnya Reigha pun cerita dari awal sampai akhir tanpa ditambahi dan dikurangi olehnya.
“Ya Allah, Gha, trus gimana? Lo mau nikahin wanita itu?” tanya Bayu.
“Gue gak akan mau menduakan Shafa, Bay. Tapi, gue bingung harus gimana.”
“Menurut gue, mending lo pulang ke Jakarta. Biarin aja kalau wanita itu mau ikut lo. Asal papanya juga ikut. Nanti saat wanita itu tidur, lo bisa ketemu Shafa,” saran Bayu.
“Gue gak mau buat Shafa curiga, Bay,” balas Reigha.
“Tapi dengan cara lo menghilang seperti ini lo akan bunuh calon bayi lo, Gha!” seru Bayu.
“Jadi menurut lo, gue harus gimana, Bay?” tanya Reigha.
“Lo pulang, Gha. Nanti gue carikan rumah untuk wanita itu dan Papanya. Percaya sama gue,” jawab Bayu.
“Baiklah, besok gue pulang,” kata Reigha yang diangguki oleh Bayu.
“Oke. Besok lo pulang bareng gue. Ayo sekarang kita ke hotel. Lihat tu wajah lo udah gak ada cahayanya sama sekali, redup, Gha,” titah Bayu.
“Gue stres, Bay, gue kepikiran Shafa terus. Tapi, gue gak berani telpon,” balas Reigha.
Bayu membawa Reigha menuju mobil mereka pun pergi ke hotel tempat reigha menginap selama ini.
Bayu segera memesan tiket untuk empat orang dan menyuruh anak buahnya untuk mencarikan rumah tempat tinggal Santi dan papanya.
Sedangkan Reigha menelepon pak Rudi untuk mengajak berangkat ke Jakarta besok pagi.
Keesokan paginya, mereka udah berada di bandara. Santi gak mau jauh-jauh dari Reigha dan itu sebenarnya membuat Reigha risih.
“Ini siapa, Mas Reigha?” tanya Santi saat melihat Bayu di samping Reigha.
__ADS_1
“Adik saya,” jawab Reigha singkat.
“Halo, perkenalkan aku calon istri Mas Reigha,” ucap Santi pada Bayu yang hanya dapat senyuman dari Bayu.