
Dengan judesnya Yola menjawab kalau Pak Reighanya lagi sibuk. Shafa pun diminta untuk menunggu di ruang tunggu.
“Maaf, ya, Mbak. Mungkin Pak Reigha gak akan mau ketemu dengan anda. Dan satu lagi, hentikan obsesi mbak pada bos saya itu,” lanjut ucapan Yola dengan judesnya.
Shafa hanya menghela napasnya kasar, jika dijelaskan pun tidak akan paham dan tetap seperti itu. Karena Shafa mengira Reigha benar-benar sibuk, tak ingin Shafa mengganggu Reigha dengan menelponnya. Akhirnya, Shafa pun menunggu di ruang tunggu.
Sepuluh menit pun berlalu, sebentar lagi waktunya makan siang. Shafa udah cemas, takutnya Reigha keduluan pergi makan siang bersama Bayu.
Bayu baru saja ada urusan dari luar kantor. Saat di parkiran, Bayu bertemu dengan supirnya Mama Dhiya dan bertanya, “Vano, ada urusan apa ke sini?”
“Saya hanya mengantarkan istri Pak Reigha ke sini, Pak,” jawab Vano membuat Bayu manggut-manggut paham.
Bayu melangkah masuk, tampaknyaBayu yang hendak memasuki lift. Bayu mengedarkan pandangannya dan menangkap sosok Shafa yang tengah duduk, sesekali melihat jam di ponselnya.
Bayu yang melihat adanya Shafa menunggu di ruang tunggu. Bayu pun segera menghampiri dan bertanya, “Fa, lo ngapain di sini?”
“Untunglah ada lo, Bay. Ini gue mau antar makan siang Mas Reigha,” jawab Shafa.
“Trus ngapain lo gak langsung naik ke atas?” balas Bayu yang merasa heran dengan suster lulusan S2 ini. Tak mungkin jika Shafa lupa begitu saja ruangan Reigha dimana.
“Duh, Bay ... tuh kata Mbak yang di situ, Mas Reighanya lagi sibuk. Makannya gue disuruh nunggu di sini.” Shafa memutar bola matanya malas.
“Bentar deh, Fa.” Bayu segera menuju ke bagian resepsionis dan bertanya, “Siapa yang bilang ke wanita itu kalau Pak Reigha lagi sibuk?”
“Sa ... Saya, Pak,” jawab Yola sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Lo gak tau dia itu siapa? Kalau Pak Reigha sampai tau wanita itu nunggu kama di sini, siap-siap lo di pecat!” seru Bayu membuat Yola semakin bingung.
Yola dengan wajah pucatnya langsung bertanya, “Emangnya siapa wanita itu, Pak? Pasti dia yang terobsesi dengan Pak Reigha ‘kan?”
“Sembarangan lo! Heh, lo tau, ya. Pak Reigha sama wanita itu udah satu tahun yang lalu menikah dan lo malah bilang dia terobsesi sama Pak Reigha. Kalau lo tau kisah cinta mereka, Pak Reigha-lah yang terobsesi dengan wanita itu. Jadi, lo buat wanita itu susah dikit, habis sudah karir lo,” ucap Bayu membuat Yola terdiam, pucat.
“Eh, satu lagi nih ... Binar hanya masa lalunya Reigha. Kalau sempat dia ke sini, jangan bolehkah masuk. Paham?” lanjut Bayu yang segera diangguki oleh Yola.
Yola yang masih kaget pun hanya terdiam dan mencerna pikiran Bayu. Kemudian Yola langsung lari untuk minta maaf pada Shafa, istri Pak Reigha.
“Bu, saya minta maaf atas sikap saya yang tidak pantas tadi. Maaf, maaf banget, Bu. Mohon jangan laporkan ini ke Pak Reigha,” ucap Yola menunduk sembari memohon pada Shafa.
“Iya, Mbak. Gapapa kok. Lagian, Mbak juga gak tau ‘kan,” balas Shafa.
Yola mengangguk dan berkata, “I—iya, Bu. Sekali lagi, saya minta maaf.”
Shafa mengangguk memaafkan. Kemudian, Shafa diantar oleh Bayu menuju ke ruang CEO.
“Puspa, Pak Reigha di dalam?” tanya Bayu yang terlebih dahulu berhadapan dengan sekretaris CEO.
“Iya, Pak. Baru saja meetingnya selesai beberapa menit yang lalu,” jawab Puspa.
__ADS_1
Bayu mengetuk pintu.
Tok...Tok...Tok...
“Masuk!” teriak Reigha dari dalam.
Bayu langsung masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Shafa.
Ternyata kedatangan Bayu di ruangan Reigha tidak dihiraukan oleh Shafa. Bayu pun duduk dihadapan Reigha yang masih sibuk dengan laptopnya.
Shafa meletakkan makan siang di meja depan sofa. Kemudian, Shafa berdiri di belakang kursi kebesaran Reigha.
“Gha,” panggil Bayu.
“Gue lagi sibuk, Bay. Kerjaan lo emang udah selesai?” balas Reigha bertanya pada Bayu.
“Ingat, Gha. Lo gak boleh kecapean, gue aduin ntar ke istri lo!” seru Bayu yang tetap tak dihiraukan oleh Reigha.
“Sejak kapan lo suka ngadu gitu?” tanya Reigha yang masih sibuk dengan pekerjaannya itu.
“Sejak lo nikah sih. Dan lo sekarang gak boleh kerja berat, ntar kecapean gue yang kena sama Shafa,” jawab Bayu dan kembali mengeluarkan suaranya yang tetap tak membuat Reigha berpaling dari laptopnya.
“Selagi lo gak ngomong ke istri gue, ya aman aja kali,” balas Reigha.
“Dan, untungnya Bayu belum ngomong. Tapi, istri Pak Reigha ini udah tau duluan lho, Pak!” seru Shafa membuat Reigha kaget.
“Ternyata kamu keras kepala, ya.” Shafa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ish, tadi tuh Bayu yang gak mau kerja. Makannya Mas kerjain deh,” kilah Reigha.
“Lah, kok gue kena?” lirih Bayu yang kini menatap Reigha horor.
“Sayang, jawab dong pertanyaan Mas,” ucap Reigha mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Mas. Tadi tuh Shafa pergi sama Mama. Trus, setelah sampai rumah langsung masak dan kesini bawain makan siang tuh,” jawab Shafa membuat Reigha mengecup dahi istrinya.
“Udah deh, kamu jangan ulangi lagi, Mas. Kamu kalau diingatkan sama Bayu itu didengar dong, Mas. Hmm, udahlah, yuk kita makan siang dulu,” lanjut Shafa yang hanya diangguki oleh Reigha.
“Iya, Sayang ... iya.”
“Bay, keluar sana. Gue mau makan berdua,” imbuh Reigha mengusir Bayu.
“Gak mau. Gue mau ikut makan di sini!” celetuk Bayu membuat Reigha menatapnya tajam.
“Fa, lo bawain gue juga ‘kan?” tanya Bayu memastikan dengan PD-nya.
“Pasti dong, Bay. Ini nih punya lo dan Anna. Tolong bawain sekalian, ya,” jawab Shafa sembari menitipkan bekal untuk Anna.
__ADS_1
“Yeay! Makasih, Fa. Lo baik banget, beda sama yang di sebelah lo,!” seru Bayu melirik pada Reigha.
“Maksud lo apa?” tanya Reigha dengan netranya yang menatap tajam pada Bayu.
“Duh ... kalian tuh mau tengkar atau makan sih!” seru Shafa.
“Ibu negara udah marah nih. Yaudah gue mau makan, dah lapar juga,” ucap Bayu.
“Lo mau makan di sini atau di ruangan lo sama anna?” tanya Shafa pada Bayu.
“Hmm ... gue ke ruangan aja deh, Fa. Makan berdua sama Anna,” jawab Bayu membuat Reigha tersenyum sinis.
“Yaudah, sana. Huss huss!” seru Reigha mengusir Bayu.
Setelah kepergian Bayu, Shafa duduk disamping Reigha di sofa yang ada di dalam ruangan Reigha.
“Sayang, gimana tadi. Kemana aja pergi sama Mama?” tanya Reigha.
“Tadi Shafa ke tempat catering. Trus, ke butik, lalu ke salon dan .... ke toko emas,” jawab Shafa.
“Wah-wah ... pantas aja istri Mas ini tambah cantik hari ini!” puji Reigha membuat Shafa mencebikkan bibirnya.
“Mas, tadi Shafa dibelikan Mama cincin, tadinya Shafa nolak sih karena gak enak aja sama Mama. Tapi, Mama maksa terus. Jadinya, terpaksa shafa pilih,” lanjut Shafa bercerita.
“Trus, mana cincinnya sekarang?” tanya Reigha.
Shafa pun memperlihatkan cincin yang melingkar di jari tengah pada tangan sebelah kirinya.
“Ini, Mas. Bagus gak?” ucap Shafa meminta saran pada suaminya.
“Bagus kok, Sayang. Tapi, kenapa kok gak beli yang satu set sekalian, seperti yang udah ada kalung, gelang. Gitu?” balas Reigha bertanya pada Shafa.
“Ish, gak perlulah, Mas. Shafa gak suka pakai perhiasan berlebihan gitu,” jawab Shafa sembari membukakan bekal untuk Reigha.
Reigha pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Shafa. Kemudian, keduanya makan bersama.
Sementara di ruangan Anna, Bayu tampak datang menghampiri Anna sembari berkata, “Na, yuk makan siang dulu.”
“Nanti aja, Bang. Anna ke kantin,” balas Anna yang masih sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya.
“Na, ini ada titipan makan siang dari Shafa. Kalau lo gak mau, ya lo bilang sendiri ke Shafa aja,” ucap Bayu.
“Kalau mau, sini masuk ke ruangan gue. Kalau gak mau, nanti gue kembalikan ke Shafa dan lo sendiri yang jelasin ke Shafa apa alasan lo gak mau menerima apa yang udah dia kasih,” lanjut ucapan Bayu melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangannya.
Anna pun masuk ke dalam ruangan memgikuti langkah Bayu. Dan, Anna duduk dihadapan Bayu.
“Na, lo tuh kenapa? Kok lo seperti menghindar dari gue?” tanya Bayu menatap serius pada Anna yang dihadapannya.
__ADS_1