Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 107 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Yah, ini ada sedikit rezeki dari Reigha dan Shafa untuk membantu acara pernikahan Anggi, mohon di terima,” ucap Reigha memberikan amplop yang berisi cek untuk Ayah Reynand.


“Udahlah, Nak, gak usah repot-repot. Selama ini kamu udah banyak membantu keluarga Ayah. Tiap bulan kamu selalu kasih uang bulanan dan uang kuliah untuk Anggi. Itu pun selalu sisa banyak. Belum lagi kamu membantu biaya renovasi rumah ini. Udah, untuk pernikahan ini biar Ayah dan Ibu aja ya,” balas Ayah yang tak enak dengan menantunya.


“Ayah, tolong jangan menolak, ini adalah tanda bakti Reigha untuk Ayah dan Ibu,” ucap Reigha kembali.


Ayah pun menerima dengan menitikkan air matanya. Ayah sangat bersyukur punya menantu yang sangat menyayangi bukan hanya anaknya tapi seluruh keluarganya.


Reigha selalu menunjukan sikap hormatnya padahal Reigha orang kaya, tapi gak pernah memandang keluarga Shafa buruk. Reigha pun memeluk Ayah.


“Makasih ya, Nak. Ayah beruntung punya menantu seperti kamu, yang sangat menyayangi keluarga istrinya,” lirih Ayah.


“Reigha yang beruntung, Yah, ada di tengah keluarga ini dan mengenal Shafa. Dia adalah istri idaman bagi Reigha, Yah,” balas Reigha.


Saat mereka masih berpelukan Shafa datang dengan raut wajah bingung, “Ada apa ini, kok melow ... Ayah kenapa?”


“Gapapa, Nak. Ayah hanya bahagia kamu berada di tangan yang tepat. Suami kamu sangat menyayangi kamu,” jawab Ayah.


Dan Shafa pun mengangguk tanda setuju dengan perkataan Ayah Reynand.


“Yaudah kita istirahat yuk, Ayah pasti udah ditunggu cucu-cucu kakek di kamar,” ucap Ayah.


“Iya, Yah, selamat beristirahat,” balas Reigha diangguki oleh Ayah.


Ayah Reynand pun segera menuju ke kamarnya. Sementara Reigha dan Shafa pun segera masuk ke kamar juga.


Saat di kamar, Reigha berhadapan dengan Shafa dan berkata, “Sayang, kita cobain kasur ini yuk? Kuat gak kayunya.”


“Halahhh ... Mas, mas, bilang aja kamu mau minta jatah, mumpung si kembar sama nenek dan kakeknya, iya kan?” balas Shafa sembari mengulum senyumnya.


“Hehehe, tau aja. Iyalah, Sayang, besok kita pasti capek, sekarang aja ya.”


Shafa pun mengangguk, dan mereka pun melaksanakan ibadah suami istri sampai akhirnya tertidur.


***


Keesokan paginya, saat masih subuh, si kembar udah gedor-gedor pintu orang tuanya.


“Papa, Mama, buka pintunya, Pa, Ma ... Papa, Mama, buka pintunya, Pa, Ma!” teriak si kembar dari luar kamar.


Di dalam kamar, Shafa pun terbangun karena gedoran dari anak-anaknya.


“Mas, ayo bangun ... si kembar minta masuk tuh,” ucap Shafa segera memakai bajunya.


“Mas, ayo dong bangun, kalau gak bangun, itu bajunya dipakai dulu. Si kembar udah gak sabaran pengen masuk,” lanjut Shafa sambil memberikan baju ke Reigha.

__ADS_1


Reigha pun segera memakai bajunya dan kembali tidur, sedangkan Shafa bergegas membukakan pintunya.


“Iya, Sayang, maaf ya Mama baru bangun. Ada apa?” tanya Shafa saat udah membukakan pintu kamar.


“Mama, kami mau minum susu, Ma, tolong buatin,” ucap Daviandra diangguki okeh Daviana tanda setuju dengan ucapan kembarannya.


“Yaudah, kalian duduk di sini. Mama mau buatin susu dulu buat anak-anak pintarnya Mama ini,” balas Shafa dengan lembut dan langsung menuju ke dapur.


Sedangkan si kembar yang melihat Papanya masih tidur langsung naik di punggung untuk bangunin papanya.


“Papa, Papa ayo bangun!” seru si kembar sambil melonjak-lonjakkan badannya di punggung Reigha.


“Hmm, Papa masih ngantuk, Nak,” balas Reigha dengan suara serak khas baru bangun tidur.


“Ihh ... Papa gak malu ya, kakek aja udah bangun dari tadi!” celetuk Daviandra membuat Reigha langsung tersentak, Reigha baru ingat kalau saat ini dia berada di rumah mertuanya.


‘Ya Allah, kok bisa lupa sih kalau lagi nginap di rumah Ayah, mana kamar mandinya di belakang lagi,’ batin Reigha yang langsung bangun dan duduk.


“Nah gitu, Pa, bangun!” seru Daviandra sambil tersenyum.


Tak berapa lama, Shafa pun datang dengan membawa dua gelas susu untuk si kembar dan teh madu hangat untuk Reigha.


“Emm ... Mas pasti dibangunin si kembar ya?” tanya Shafa sambil memberikan 2 gelas susu ke si kembar.


“Iya, Sayang,” jawab Reigha sambil tersenyum.


“Mas, ini tehnya,” ucap Shafa memberikan segelas teh pada Reigha.


Reigha segera menerima, kemudian menyeruput teh buatan istrinya itu.


“Sayang, gimana Mas mandinya? Malu, pasti di belakang udah banyak orang,” ucap Reigha tampak kebingungan.


“Emm ... gimana, ya,” balas Shafa tampak berpikir.


“Oh, gini aja, Mas. Kamu mandiin Daviandra aja, sekalian Mas mandi juga,” lanjut Shafa telah menemukan ide.


“Oh iya, bener. Makasih ya, Sayang,” ucap Reigha sambil mencium pipi Shafa dan ternyata diketahui si kembar.


“Hiii Papa cium-cium Mama,” ledek Daviana hingga membuat Daviandra tertawa.


“Sayang, dengarkan Mama. Okay? Hari ini ‘kan Aunty Anggi akan menikah, jadi hari ini akan ada banyak orang yang datang, Nak. So, Andra buruan mandi sama papa ya, Daviana nanti mandi sama Mama,” titah Shafa pada si kembar.


Dan si kembar pun menurut. Daviandra segera turun dan menuju kamar mandi.


“Mas, kamu duluan aja ke kamar mandi, baju ganti nanti Shafa antar ya,” ucap Shafa diangguki oleh Reigha.

__ADS_1


Reigha pun segera keluar menyusul Daviandra yang udah lebih dulu ke kamar mandi.


Shafa pun menyiapkan baju ganti couple untuk keluarga mereka. Dan setelah itu mengajak Daviana bergegas mandi.


“Ayo, Sayang, kita menyusul Papa dan Kakak kamu ke kamar mandi. Sebelum Opa dan Oma datang, Daviana harus udah wangi,” titah Shafa.


“Opa dan Oma mau ke sini ya, Ma. Papi, Mami, dan Reza juga datang?” tanya Daviana.


“Iya, Sayang, bahkan keluarga Om Dani juga datang, ramai nanti di rumah kakek,” jawab Shafa membuat Daviana sangat senang.


“Hore! Ayo, Ma, kita mandi,” ajak Daviana yang sangat bersemangat. Dan, mereka pun segera menuju ke kamar mandi.


Saat di belakang dekat dapur, para ibu-ibu yang memasak gemas melihat tingkah Daviana, mereka pun bergantian menoel pipi Daviana.


Putri kecil itu hanya tersenyum melihat ibu-ibu yang gemas kepadanya. Dia sama sekali tidak protes.


Saat mereka sampai di depan kamar mandi, nampak Daviandra sudah sewot karena menunggu lama.


“Nak, hey, kenapa kok manyun gitu?” tanya Shafa dengan lembut.


“Mama lama, Andra kedinginan, Ma,” gerutu Daviandra merengut.


“Owalah, iya. Maaf ya, Sayang, sini Mama pakaikan bajunya,” titah Shafa.


“Mas, ini bajunya kamu,” ucap Shafa memberikan baju untuk Reigha. Kemudian, Reigha pun menerimanya dan segera masuk kamar mandi untuk mandi.


Daviandra udah tertutup handuk pun segera di bantu Shafa memakai baju, setelah selesai Shafa meminta Daviandra ke depan.


“Sayang, kamu tunggu di depan ya, mama mau mandikan adik kamu dulu. Tunggu Opa dan Oma di depan ya, Nak,” ucap Shafa.


“Asyik, Opa dan Oma mau datang!” seru Daviandra.


“Bukan hanya Opa dan Oma tau, Kak. Ada Papi, Mami, dan Reza juga datang,” sambar Daviana semakin membuat Daviandra tampak bersorak senang.


“Yeay!” seru Daviandra segera berlari masuk ke rumah.


Shafa yang melihat tingkah putranya hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Tak lama, Reigha keluar dari kamar mandi, kemudian Daviana segera masuk dan minta cepat di mandikan oleh Mamanya.


“Iihhh ... gantengnya, suami siapa sih,” ucap Shafa mencubit pipi kanan Reigha.


“Suaminya Shafa,” balas Reigha mencium istrinya.


Ibu-ibu yang melihat pun pada iri karena melihat kemesraan mereka.

__ADS_1


“Mas, dilihat ibu-ibu tuh,” lirih Shafa sembari menunduk malu.


__ADS_2