
Dan setelah mereka berpamitan lalu Reigha pun pergi ke kantor.
Setelah Reigha pergi, Shafa pun berniat untuk ke kamar Daviana. Shafa ingin membantu putrinya untuk packing barang, tapi sampai di depan pintu kamar, Shafa melihat Daviana dan Calvin keluar dari kamar bersamaan.
“Lho ... udah siap packing barangnya?” tanya Shafa.
“Udah, Ma, kami pamit ya,” jawab Calvin.
“Iya, Nak ... tolong jaga putri mama ya, jangan sakiti dia,” pesan Shafa.
“Iya, Ma ... insyaaAllah,” balas Calvin sembari mencium punggung tangan Shafa kemudian disusul dengan Daviana juga berpamitan sama mamanya.
“Nai pamit ya, Ma, nanti Nai akan sering-sering main ke sini,” ucap Daviana.
“Iya, Nak ... jaga diri ya, ingat pesan mama kalau ada apa-apa bilang ke mama,” titah Shafa.
“Iya, Ma. Mama gak perlu khawatir, Calvin akan jagain Daviana. Kami pamit ya, Ma,” kata Calvin berpamitan.
“Iya, Nak, titip Naima ya. Hati-hati,” ucap Shafa.
Dan mereka pun akhirnya keluar meninggalkan rumah Reigha. Setelah sampai luar, Daviana pun bilang ke Calvin.
“Mas, kita pamit ke mami dan papi ya,” kata Naima.
“Iya ayo,” balas Calvin.
Mereka pun naik mobil dan berhenti di depan rumah Bayu. Setelah dibukakan pintunya, mereka pun masuk ke rumah.
“Assalamu’alaikum, Mami,” kata Daviana sembari masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumussalam, Nai. Tumben nih masuk lewat depan,” balas Anna.
“Iya, Mi. Nai ke sini tuh mau pamit ke mami dan papi,” kata Daviana.
“Loh ... emang mau ke mana? Bulan madu ya?” tanya Anna.
“Eh ... enggak, Mi, kami mau pindah ke rumah kami yang udah disiapkan mas Calvin,” jawab Daviana.
“Owhh ... kok mendadak, Nai?” tanya Anna.
“Iya, Mi ... kami ingin mandiri,” sambar Calvin menjawab.
“Owh, iyalah. Kalian harus belajar mandiri ya. Yaudah, mami pesan ... baik-baik ya kalian, rukun dan jangan bertengkar,” pesan Anna.
“Iya, Mi. Terima kasih ya, Mi,” kata Calvin.
“Iya sama-sama. Oh iya, Nai ... jangan sungkan kalau ada apa-apa telpon mami,” imbuh Anna berpesan.
“Siap, Mi, pasti dong,” balas Daviana.
“Yaudah, Mi, kami pamit ya, salam dari kami buat papi,” ucap Calvin.
__ADS_1
“Iya, nanti mami sampaikan. Hati-hati ya, Nak,” kata Anna.
“Iya, Mi. Assalamu’alaikum,” ucap keduanya sambil mencium tangan Anna.
“Wa’alaikumussalam,” kata Anna sambil mengantarkan mereka ke depan.
Mereka pun udah di mobil dan segera meluncur ke rumah baru yang udah dipersiapkan sebelumnya.
Kurang lebih tiga puluh menit, mereka sampai ke rumah tujuan. Calvin pun segera turun dan membukakan pintu rumah.
“Masuk, Na, aku ambil koper kita dulu,” ucap Calvin.
“Iya, Mas ... Nai masuk dulu ya,” balas Daviana.
“Iya, sambil lihat-lihat dulu,” ucap Calvin dan diangguki oleh Daviana.
Calvin pun segera menaruh kopernya di kamar lalu tanpa izin Daviana, Calvin langsung pergi.
Daviana yang masih keliling-keliling rumah pun gak tau kalau Calvin udah ninggalin dia.
Calvin segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Nadia.
Sesampainya di rumah Nadia, Calvin langsung masuk dan mencari keberadaan Nadia.
Calvin melihat Nadia yang sedang rebahan pun segera ikut merebahkan badannya juga di sisi Nadia.
“Lho, Sayang, kok aku gak dengar kamu datang?” tanya Nadia.
“Ini lagi baca novel, Sayang. Gimana, Yang? Kamu kemarin di marahin sama papa kamu?” jawab Nadia yang kembali bertanya.
“Enggak sayang, tapi aku diancam sama papa. Kalau aku gak bersikap baik sama Daviana, kamu yang akan bernasib buruk,” balas Calvin.
“Udah, Sayang, kita hati-hati aja ketemuannya. Dan jangan buat papa kamu marah, nanti tiba saatnya kita akan tunjukan sama istri kamu,” ucap Nadia.
“Iya, Sayang. Kamu yang sabar ya. Aku janji aku gak akan menyentuh dia kok,” kata Calvin.
“Iya, Sayang ... terima kasih,” balas Nadia memeluk Calvin.
Sementara di rumah, Daviana tampak sedang mencari-cari keberadaan Calvin.
“Mas, mas ... kamu di mana?” tanya Daviana.
Daviana terus mencari sampai depan baru sadar kalau mobilnya gak kelihatan.
“Mobilnya gak ada, berarti mas Calvin keluar. Tapi, ke mana ya,” lirih Daviana.
Tak lama kemudian, Calvin pun kembali membawa bungkusan, “Assalamu’alaikum,” kata Calvin.
“Wa’alaikumussalam, kamu dari mana, Mas?” tanya Daviana.
“Aku tadi keluar karena baru ingat kalau di rumah gak ada apa-apa. Jadi, aku beli makan untuk kita,” jawab Calvin.
__ADS_1
“Owh ... kok gak bilang sih, Mas ... kan bisa kita pergi berdua,” kata Daviana.
“Gapapa, kamu kan tadi lagi lihat rumah ini,” balas Calvin.
“Yaudah, aku ambilkan piring dulu ya, Mas,” ucap Daviana.
Calvin pun mengangguk.
‘Untung aja aku tadi cepat pulang dan kepikiran beli makan untuk alasan, kalau lama mungkin dia udah telpon mamaku dan ngadu,’ ucap Calvin dalam hati.
Tak lama, Daviana pun datang membawa piring dan mereka pun segera makan.
“Mas, setelah kita makan trus tolong antar aku belanja untuk isi kulkas ya, kulkas tadi aku lihat kosong,” kata Daviana.
“Maaf, Nai ... gak bisa. Aku ada janji mau ke kantor hari ini, ada yang penting soalnya, jadi kamu belanja sendiri gapapa ya,” ucap Calvin.
“Owh ... yaudahlah, Mas. Aku sendiri aja gapapa,” balas Daviana kecewa.
“Ini kamu pakai belanja, pinnya tanggal pernikahan kita,” ucap Calvin.
“Gak usah, Mas. Aku ada kok,” balas Daviana.
“Kamu udah jadi istri aku, jadi kartu ini aku berikan untuk kamu sebagai bukti kalau aku memang menafkahi kamu,” kata Calvin.
“Ehh ... i—iya, Mas. Makasih ya,” balas Daviana menerima kartunya.
Mereka pun udah selesai makan, Daviana segera membawa piring kotor ke dapur setelah itu Daviana ke kamar mengambil tas dan segera pergi setelah pamit ke Calvin.
Karena Daviana belum membawa mobilnya yang di rumah Reigha, jadi Daviana kali ini pergi menggunakan taksi online.
Setelah Daviana pergi, Calvib segera ke kamar dan segera menelpon Nadia. Walaupun mereka jarang bertemu tapi tiap ada kesempatan mereka gunakan untuk saling video call.
Menjelang makan malam, Daviana pun kembali sampai ke rumahnya. Daviana segera sibuk di dapur menyiapkan makan malam.
Setelah siap, Daviana pun segera mencari Calvin di kamar. Sesampainya di kamar, ternyata Calvin baru saja selesai mandi.
“Mas, makan yuk ... udah siap,” ajak Daviana.
“Ya udah kamu mandi dulu aku ke bawah,” ucap Calvin.
“Iya, Mas.” Daviana segera ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Daviana yang udah selesai mandi juga sholat lalu segera ke meja makan untuk makan malam bersama suaminya. Mereka pun makan malam dalam diam.
Setelah makan malam selesai, Daviana segera membereskan meja makan dan mencuci piring, sedangkan Calvin masuk ke ruang kerjanya.
Daviana yang baru saja tampak selesai beberes, dia segera ke kamar dan ternyata Calvin tidak ada. Daviana mencari keberadaan Calvin tapi Daviana masih tidak menemukan.
Saat Daviana mendekati sebuah ruangan, terdengar Calvin sedang menelpon seseorang.
“Ternyata mas Calvin sedang di ruangan ini, tapi dia dengan siapa? Kok kayaknya lagi ngobrol,” ucap lirih Daviana semakin berjalan mendekati ruangan tersebut.
__ADS_1
Daviana pun pelan-pelan berjalan mendekat ke ruang kerja Calvin. Saat hendak membuka pintunya, Daviana pun terkejut ...