
Prangg.....prangggg....
“Mama!” teriak Daviana panik.
Reza yang kaget pun seketika melihat dan saat melihat Daviana yang ketakutan Reza bingung apa yang harus dilakukan.
Shafa yang mendengar suara piring pecah pun segera keluar kamar dan melihat putrinya yang tampak ketakutan.
“Nak, kamu kenapa turun? Kan tadi mama nyuruh kamu di kamar aja,” ucap Shafa.
“Ma ... Ma ... Nai takut, Ma. Nai tadi mau ambil minum, Ma,” balas Daviana.
“Sayang, kamu lihat itu ... itu Reza, Nak,” kata Shafa.
“Reza, Ma?” tanya Daviana.
Daviana pun mengamati laki-laki di hadapannya dan Reza pun tetap berdiri di tempat tanpa bergerak karena takut pergerakannya akan membuat Daviana takut.
“Reza ... ka—kamu benar Reza?” tanya Daviana memastikan.
“Iya, Nai, aku Reza. Aku datang menemui mu, Nai,” jawab Reza.
“Ma ... apa benar itu, Ma? Nai ... Nai takut, Ma,” lirih Daviana.
“Nak, itu benar Reza. Kamu gak salah lihat kok, Sayang,” kata Shafa.
Daviana pun memberanikan diri mendekati Reza, sedikit demi sedikit ia mendekat ke Reza. Namun, kurang lebih 2 langkah semakin dekat ... tiba-tiba Daviana melihat Reza seperti melihat Calvin.
“Ma ... mama, itu buka Reza, Ma. I—itu ... itu mas Calvin, Ma,” kata Daviana yang langsung ambruk pingsan setelahnya.
“Astaghfirullah, Naima.” Reza yang segera menangkap Daviana agar tidak terjatuh.
“Ma ... ma, Reza izin membopong Naima dan membawa ke kamar ya, Ma,” kata Reza.
“Iya, Za. mama juga gak kuat, Za,” balas Shafa yang mengikuti Reza di belakangnya.
Setelah menidurkan Daviana, Reza pun segera keluar dari kamar.
“Ma, Reza ke kamar sebentar ya,” pamit Reza sebentar.
“Iya, Za,” balas Shafa.
Reza segera turun dan masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Reza menitikan air mata.
“Nai ... kenapa kamu jadi seperti ini, aku gak tega lihat kamu seperti ini, Nai. Calvin, gue gak akan membiarkan lo bahagia,” ucap Reza.
Reza segera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya karena mendengar di luar ada orang datang. Reza segera keluar kamar dan membukakan pintunya.
“Siang, Dokter ... silahkan masuk,” ucap Reza mempersilakan.
“Terima kasih, Pak,” balas Dokter tersebut.
Mereka pun segera masuk dan Reza mempersilahkan dokter tersebut duduk.
“Sebentar ya, Dokter, saya panggilkan mama saya dulu,” ucap Reza dan segera naik ke atas memanggilkan mama Shafa.
Tok...Tok...Tok...
“Iya, Za, ada apa?” tanya Shafa membuka pintu.
__ADS_1
“Ma, di bawah ada dokter Paulina sudah datang, mau Reza suruh langsung naik atau mama turun dulu?” balas Reza bertanya pada Shafa.
“Langsung di suruh ke sini aja ya, Za, Nai gak mau ditinggal tuh,” ucap Shafa.
“Baiklah, Ma ... sebentar ya,” balas Reza.
Reza pun segera turun dan menemui dokter Paulina.
“Maaf, Dokter ... kata mama saya, dokter di suruh langsung ke atas aja,” ucap Reza memberitahu dokter Paulina.
“Baiklah, Pak Reza. Mari silakan pak Reza tunjukkan di mana letak kamarnya,” kata dokter Paulina.
“Mari, Dokter.” Mereka pun segera naik ke atas menuju kamar Daviana.
Shafa yang udah menunggu di depan kamar segera mempersilakan dokter masuk.
“Maaf, Bu, saya akan memeriksa putri ibu,” kata dokter Paulina.
“Silakan, Dokter ... saya keluar sebentar,” ucap Shafa.
Dokter pun segera menemui Daviana dan pintu pun di tutup oleh Shafa.
“Ma, Reza benar-benar sedih melihat kondisi Nai,” lirih Reza sedih.
“Iya, Nak, mama juga. Kamu bantuin mama sembuhin Naima, ya,” kata Shafa.
“Tentu, Ma, tanpa mama minta pun pasti Reza bantu,” balas Reza.
“Ma, kita tunggu di sofa itu yuk, capek nanti mama kalau berdiri terus,” ucap Reza.
“Za, kamu gak kerja atau kuliah?” tanya Shafa.
“Ma, sebenarnya Reza udah gak kuliah, Ma. Reza percepat kuliahnya Cuma satu setengah tahun,” jawab Reza.
“Papi dan mami gak tau, Ma. Yaa mungkin kalau tau pasti Reza udah disuruh kembali ke Indonesia,” ucap Reza.
“Trus ... gimana sekarang kerjaan kamu? Gak masuk juga?” tanya Shafa kembali.
“Kerjaan bisa aku selesaikan di sini kok, Ma, mama tenang aja,” jawab Reza.
“Kamu memang anak baik, Za,” balas Shafa. Yang tak lama kemudian, dokter Paulina pun keluar dari kamar Daviana.
“Bu, Pak, sekarang pasien sedang istirahat karena baru saja saya kasih obat,” ucap dokter Paulina.
“Ini obatnya ... tolong diminumkan sesuai aturannya ya, Bu ... dan semoga semakin hari perkembangannya semakin baik,” lanjut dokter Paulina.
Dan di-aamiinkan oleh Shafa dan Reza.
Tak terasa 2 bulan udah Shafa dan Daviana di negara orang, dan perkembangan udah membaik. Daviana udah tidak ketakutan dan histeris lagi sama laki-laki dan Daviana semakin dekat dengan Reza.
Satu bulan yang lalu, sidang putusan cerai pun udah berjalan dan Daviana udah berstatus janda.
Reigha dan Daviandra selama 2 bulan tersebut bergantian datang menengok Shafa dan Daviana.
Saat ini Reza dan Daviana sedang berada di ruang tamu.
“Za, kamu kapan pulang ke Indonesia?” tanya Daviana.
“Belum tau, Nai ... emang kenapa?” balas Reza.
__ADS_1
“Gapapa sih, lebih ramai aja suasananya kalau kamu di Indonesia,” ucap Daviana.
“Nanti aku selesaikan pekerjaan di sini dulu nanti baru deh aku pindah ke Indonesia,” kata Reza.
Tak lama, mereka ngobrol terdengar orang mengetuk pintu.
“Za, siapa itu yang datang?” tanya Daviana.
“Yah ... siapa lagi Nai, pasti Chayra,” jawab Reza.
“Owh, yaudah suruh masuk aja,” balas Daviana.
“Oke, tapi aku sekalian pergi dulu ya, ada urusan sebentar, Nai,” ucap Reza.
“Oke. Hati-hati ya, Za,” kata Daviana.
“Assalamu’alaikum,” salam Chayra sembari melangkah masuk mendekat pada Daviana.
“Wa’alaikumussalam ... masuk, Chay, sini duduk sini,” kata Daviana menepuk sofa di sebelahnya.
“Mama kamu ke mana, Kak?” tanya Chayra.
“Owh ... mama lagi di dapur, masak untuk makan siang. Kamu gak kuliah, Chay?” jawab Daviana yang setelahnya bertanya pada Chayra.
“Hari ini Cuma ada kelas pagi aja, Kak. Dan ... ini tadi baru kuliah trus pulang mampir ke sini,” balas Chayra.
“Gimana keadaan kamu, Kak Nai? Sepertinya kamu sangat sehat dan bahagia,” ucap Chayra.
“Alhamdulillah, Chay ... aku merasa udah sangat sehat dan ingin kembali ke Indonesia,” kata Daviana.
“Kenapa buru-buru, Kak Nai?” tanya Chayra.
“Gue punya tanggung jawab di rumah sakit, Chay, kalau gue tinggal lama ... gimana nanti, bisa-bisa gue dipecat,” jawab Daviana.
“Iya juga ya ... kapan rencana kembali ke Indonesia, Kak Nai?” tanya Chayra.
“Tunggu kabar dari papa dulu, Chay ... baru gue pulang. Lo kapan pulang ke Indonesia?” tanya Daviana setelahnya.
“Mungkin setahun lagi, Kak Nai ... itu paling cepat,” jawab Chayra.
“Semoga lancar dan cepat pulang ya,” kata Daviana.
Mereka pun asik mengobrol sampai waktu tak terasa udah siang dan waktunya makan siang.
Shafa pun segera mengajak mereka makan siang. Saat mereka akan memulai makan, Shafa mendengar ada mobil berhenti. Shafa membukkan pintunya dan ternyata Reza yang datang.
Reza pun segera bergabung dengan yang lain untuk makan siang. Namun, saat mereka makan, ada orang yang mengetuk pintu.
“Za, kamu ngundang temen kamu?” tanya Shafa.
“Enggak kok, Ma,” jawab Daviana.
“Hmm.. siapa ya yang datang, Za,” lirih Shafa.
“Gak tau, Ma, aku gak ada janji sama orang,” kata Reza.
“Chay, kamu minta dijemput?” tanya Shafa.
“Enggak kok, Tan,” balas Chayra.
__ADS_1
“Coba Reza aja yang buka pintunya, Ma,” ucap Reza dan diangguki oleh Shafa.
Reza pun segera bergegas ke depan untuk membukakan pintu.