
“Mas, jadi mas di kantor sampai makan banyak? Emang makan apa?” tanya Shafa yang penasaran.
“Gak banyak kok, Sayang, cuma beberapa aja. Soto dan somay minumnya es kelapa muda,” jawab Reigha.
“Waduh, enak tuh makan somay minumnya es kelapa muda, Anna mau dong bang,” ucap Anna yang tiba-tiba berdiri gak jauh dari ruang makan.
“Iya, Sayang, nanti setelah makan malam ya Abang carikan,” balas Bayu.
“Nggak mau, Bang, Anna maunya sekarang!” seru Anna.
“Hah? Sekarang?” tanya Bayu.
“Duh, Bay, Anna ngidam tuh, harus lo carikan sampai dapat,” bisik Reigha.
“Ini gara-gara lo, istri gue jadi minta yang lo sebutin,” balas Bayu yang berbisik juga.
“Abang, kok malah bisik-bisik sih? Mau nggak? Kalau gak mau Anna pergi sendiri aja,” gerutu Anna.
“Mau dong, Sayang, bentar ya Abang habiskan makanannya dulu.”
Anna pun langsung pamit Papa dan Mama langsung melangkahkan kaki keluar rumah karena udah jengkel sama Bayu.
“Loh, loh ... Sayang, tunggu Abang!” panggil Bayu.
“Kamu sih, Bay, orang hamil minta sesuatu kok kamu tunda-tunda, ngambeklah Anna. Udah sana cepat kamu kejar. Nanti makan lagi ‘kan bisa,” tutur Mama.
“Iya, Ma, Pa, Bayu berangkat.” Segera dia berjalan mendekati Reigha sambil memukul pelan pundak Reigha.
“Awas lo ya, ini karena lo yang udah nyebut makanan itu di depan Anna,” lirih Bayu.
Reigha tertawa, “Hahaha, rasain!”
“Mas, makan kok sambil ketawa?” protes Shafa.
“Hehehe ... iya, Sayang. Maaf,” balas Reigha melanjutkan makannya.
“Gha, kamu itu akhir-akhir ini kalau di rumah seperti anak kecil!” celetuk Papa Harun.
“Hah, masa iya, Pa? Enggak ah, Reigha biasa aja,” elak Reigha.
‘Kamu mungkin gak sadar, tapi kami memperhatikannya, Gha,’ batin Papa Harun melihat Reigha yang masih saja makan.
“Udah yuk, Sayang. Kita ke kamar, Mas ngantuk,” ucap Reigha.
“Gha, baru juga selesai makan, kok udah ngantuk,” balas Mama.
“Iya, Ma. Ngantuk banget.”
“Ayolah, Sayang,” lanjut Reigha merengek bak anak kecil.
__ADS_1
“Kamu duluan aja ke kamar ya, Mas, Shafa mau rapiin tempat ini dulu,” balas Shafa dengan lembut.
“Yaudah Mas tunggu di sini aja.”
“Daripada nunggu di sini. Ayo tunggu di ruang keluarga aja, Gha,” ucap Papa mengajak Reigha dan Reigha pun menurut.
Mama dan Shafa merapikan ruang makan dibantu oleh Mbok Nah.
“Bu, sepertinya Den Reigha kuwalat sama Non Shafa ya,” ucap Mbok Nah membuat Mama dan Shafa menoleh bersamaan.
“Kok kuwalat, Mbok? Maksudnya gimana?” tanya Mama.
“Kemarin menghilang satu bulan, lah pulang-pulang anak-anak Den Reigha mau apa-apa mintanya ke Den Reigha. Semua dirasakan dari yang ngerasain muntah dan mualnya,” jawab Mbok Nah menjelaskan maksud dari ucapannya.
“Emm ... iyaa ya, Mbok, biarin itu syukurin ya,” balas Mama Dhiya tertawa.
Di ruang keluarga, “Gha, kamu kapan memeriksakan calon cucu Papa? Dua hari lagi, Papa dan Mama berangkat.”
“InsyaaAllah besok, Pa. Sebenarnya belum jadwalnya sih. Tapi, gapapa karena papa akan berangkat, jadinya besok aja kita USG lagi bayinya,” jawab Reigha.
“Hmm ... Pa, kok tiba-tiba Reigha pengen indomie ya? Haduh, Pa, makan indomie pakai sawi trus kasih telur setengah matang. Nikmat banget sih itu, Pa. Apalagi Papa yang buatin,” ucap Reigha membayangkan indomie.
“Pa, tolong buatin indomie kuah dong, Pa,” lanjut Reigha dengan tatapan memohon pada Papa Harun.
“Gha, kamu ‘kan udah makan. Udah ah, Papa mau ke kamar,” ucap Papa Harun membuat Reigha merengut.
“Papa tega, nanti kalau Reigha gak tidur gimana, Pa? Ayolah, Pa,” rengek Reigha.
“Kebetulan ada Mama. Ma, tolong bilang ke Papa dong, Reigha tuh mau mie instan tapi Papa yang buatin,” jawab Reigha membuat Mama Dhiya mengulum senyumnya.
“Pa, itu bukan kemauan Reigha lo, itu yang mau cucu-cucu Papa di dalam sini.” Mama Dhiya yang di samping Shafa mengelus perut Shafa yang terlihat buncit itu.
“Yakin, Papa gak mau nurutin cucu-cucu Papa?” lanjut Mama membuat Papa tampak berpikir.
“Ma, Mama ‘kan tau sendiri. Papa gak pernah masuk dapur, apa lagi masak,” balas Papa.
“Mas, Shafa yang buatin ya. Kasian Papa, Mas,” titah Shafa yang mendapat gelengan oleh Reigha.
“Enggak, Sayang. Mas maunya Papa yang buatin.”
“Ayolah, Pa. Mama bantu yuk,” ucap Mama membujuk Papa.
“Baiklah, demi cucu-cucuku, Papa turutin tunggu sebentar.” Papa segera menuju dapur dengan Mama yang berada di sisinya.
“Sini, Sayang, duduk dekat Mas. Besok kita lihat anak-anak kita, ya? Papa sebelum berangkat pengen lihat cucunya,” ucap Reigha, diangguki oleh Shafa.
“Iya, Mas. Jam berapa?” tanya Shafa.
“Menjelang makan siang aja ya, nanti sekalian makan siang,” jawab Reigha.
__ADS_1
Sementara di dapur, pasangan paruh baya itu tengah bersama membuat indomie kuah sesuai dengan yang Reigha bayangkan, Mama yang iris dan mencuci sayur-sayurnya dan Papa yang tinggal masukan semuanya sesudah air mendidih.
“Oke. Udah tuh, Pa. Sekarang, bumbunya taruh di mangkuk dulu, setelah itu mienya masukan mangkuk. Trus Papa kasih deh air hangat,” titah Mama Dhiya.
“Hah? Gitu aja, Ma? Halah ... tau gitu bisalah tanpa bantuan Mama. Makasih ya, Ma.”
Papa Harun tersenyum senang karena berhasil membuat indomie spesial untuk cucu-cucunya diwakili Reigha yang makan.
“Yaudah, yuk bawa ke anak kesayangan Papa tuh udah nunggu,” ucap Mama.
Papa pun segera membawa mienya dan menaruh di meja depan Reigha.
“Gha, ini mienya udah siap. Masih kuat perut kamu nampung?” tanya Papa memastikan.
“Masih kok, Pa. Ruang di perut masih aman,” balas Reigha terkekeh kemudian langsung menatap mie buatan Papa yang asapnya masih mengebul , baunya sungguh menggoda membuat Reigha tak sabar ingin menyantap habis mie tersebut.
“Makasih, Pa, udah buatin Reigha mie,” ucap Reigha.
“Niat hati gak buatin kamu. Tapi, buatin cucu-cucu Papa. Karena belum lahir cucunya Papa, jadi diwakili aja ke kamu. Udah tuh dimakan,” balas Papa.
Dan Reigha pun segera memakan dengan lahap mienya.
Bayu dan Anna kembali sampai rumah. Saat masuk, Bayu dan Anna merasa adanya bau indomie kuah yang sangat khas menyentuh indra penciuman Bayu dan Anna. Anna langsung ingin minta, tapi saat tau yang makan Reigha, Anna mengurungkan niatnya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Bayu.
“Gapapa. Lagi lihatin Kak Reigha makan, jadi pengen indomie yang dimakan Kak Reigha deh, Bang. Boleh gak ya kalau Anna minta,” ucap lirih Anna sambil sesekali menelan ludahnya sendiri.
“Ayo Mas mintakan,” ucap Bayu menarik lengan Anna ikut duduk bersama di ruang keluarga. Ternyata hanya Reigha dan Shafa di sana.
“Mana Papa dan Mama, Fa?” tanya Bayu.
“Udah di kamar, Bay. Istirahat,” jawab Shafa.
Anna duduk di samping Shafa. Sementara Bayu segera mendekat pada Reigha, “Wah, makan mie aja sampai ditungguin. Gue coba dong, Gha.”
Tak pikir panjang, Reigha pun segera memberikan sendoknya dan bayu langsung menerimanya. Tapi, Bayu bukannya duduk malah membawa mangkuknya ke tempat duduk Anna. Bayu menukar sendok tersebut dan memberikan sendok yang baru pada Anna.
“Loh, kok malah lo bawa, Bay? Gue belum selesai makannya,” protes Reigha.
“Udah cukup makannya, ini yang setengah buat calon anak gue,” balas Bayu.
Dan segera memberikan mienya tepat di hadapan Anna.
“Hihihi, Makasih, Bang,” ucap Anna yang sangat puas.
“Makasih, Kak Reigha,” lanjut Anna yang mendapat anggukan dari Reigha.
Kemudian, Reigha dan Shafa meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1
“Mas, Shafa buatin lagi ya, atau biar Papa buatin lagi, Mas?” tanya Shafa.