Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 25 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian ...


Shafa tampak membantu Reigha yang baru saja keluar dari ruang therapy. Tujuh bulan yang mereka lalui, Shafa ekstra membantu Reigha dalam proses penyembuhan dibantu oleh Mama Dhiya. Akhirnya, kini Reigha tidak memakai kursi rodanya dan beralih pada tongkat elbow.


Seperti saat ini, Reigha dan Shafa tengah menunggu Bayu untuk menjemput keduanya. Reigha sangat bersyukur memiliki istri secantik dan sebaik Shafa.


Tak lama, mobil Bayu pun tiba dan keduanya masuk ke dalam mobil.


“Gimana keadaan lo, Gha?” tanya Bayu.


“Gue udah ngerasa lebih baik. Oiya, Bayu ... lo bisa gak antar gue dan Shafa ke rumah Ayah Reynand?” jawab Reigha sembari bertanya kembali.


“Eh, ngapain, Mas?” Shafa heran tiba-tiba Reigha yang mau datang ke rumah keluarganya.


“Mau main ke rumah mertua gak salah ‘kan, Sayang. Hmm?” balas Reigha membuat Shafa mengangguk kecil.


“Gue bisa aja. Jadi, langsung kesana aja nih?” tanya Bayu yang dibalas deheman oleh Reigha.


Saat di perjalanan pun Bayu membahas pekerjaan bersama Reigha. Bayu menceritakan bagaimana keadaan kantor dan karyawan yang baik-baik saja di sana. Serta, Anna yang mulai nyaman dengan dunia pekerjaan barunya.


“Reigha udah mulai sembuh, kalian jadi cerai?” tanya Bayu.


“Ngapain cerai?” balas Reigha yang balik bertanya pada Bayu.


“Lah, waktu di rumah sakit ‘kan perjanjiannya sampai Reigha sembuh. Gue cuma nanya aja, kalian jadi cerai gak?”


“Ooo, gak jadi. Malah kalau gue udah bisa jalan dan aktivitas normal lagi, kami berdua bakal persiapkan pernikahan. Akad nikah dan juga resepsi pernikahan yang sesungguhnya,” jawab Reigha membuat Bayu mengangguk paham.


“Gue kapan, ya ... bisa ngelamar Anna. Udah lama gue deketin, tapi gue belum berani ngelamar,” ucap lirih Bayu sembari menyetir mobil.


“Nanti gue bantu ngomong sama Anna. Dan, kita persiapkan waktu yang tepat,” balas Shafa yang membuat Bayu tersenyum senang.


Sesampainya di rumah kedua orang tua Shafa, Bayu mampir sebentar sebelum kembali lagi ke kantor. Kedatangan Shafa dan Reigha ke rumah membuat keluarga Shafa begitu senang, Ayah Reynand dan Ibu Khalisa serta Anggi langsung bergegas ke depan rumah untuk menyambut kedatangan keduanya di rumah ini dengan senyuman.


Shafa membantu Reigha berjalan dari mobil hingga masuk ke dalam rumah. Namun, tiba-tiba ...


“Eh, Shafa! Ternyata itu suami kamu, ya!” seru Bu Sinta tetangga Shafa yang terkenal dengan kejulid-annya dan juga kekepoannya melebihi ibu-ibu di kampung ini.

__ADS_1


Shafa hanya membalas dengan anggukan serta senyuman dan kembali membantu Reigha yang mulai melangkah dibantu tongkat elbownya.


“Ih, kok mau sih sama laki-laki gak bisa apa-apa gitu. Kayak gak ada laki-laki lain aja yang mau sama kamu, udah gak bisa apa-apa, malah nyusahin aja!” seru Bu Sinta kembali.


Keluarga Shafa menoleh pada Bu Sinta yang tepat berada di depan rumahnya sendiri.


“Duh, Bu Sinta. Udah deh gak usah ngurusin kehidupan kami. Bu Sinta tuh kurang-kurangi dong keponya, masa lihat mobil datang ke rumah kami, situ yang keluar duluan!” seru Anggi membuat Ayah Reynand menoleh pada sang putri.


“Gi, jangan seperti itu,” ucap Ayah Reynand.


“Pak Reynand, ajari tuh anaknya. Gak sopan banget!” celetuk Bu Sinta kembali membuat Anggi kesal.


Daripada Anggi mengeluarkan suaranya kembali, Ibu Khalisa langsung menarik Anggi masuk ke dalam rumah sembari memebekap mulut Anggi.


“Shafa, ajak Reigha dan Bayu masuk, Nak!” teriak Ibu dari dalam rumah.


“Iya, Bu,” balas Shafa.


Reigha kini diambil alih oleh Ayah Reynand untuk masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bayu dan Shafa duduk belakang Reigha.


“Shafa!” seru seseorang membuat Shafa menoleh.


Bayu yang tak ingin mengulang kejadian Shafa menghilang saat bersama temannya pun, hanya menjaga Shafa di belakang Shafa.


“Apa kabar lo, Fa?” tanya Sintia.


“Kabar gue baik. Lo gimana?” jawab Shafa sembari bertanya kembali.


“Gue baik. Kenalin ini suami gue,” balas Sintia memperkenalkan suaminya pada Shafa.


Shafa dan Sintia berteman sejak SD hingga SMA. Keduanya dipisahkan saat Shafa kuliah dan Sintia yang langsung dinikahkan oleh Bu Sinta.


“Sintia! Ngapain kamu main ke sana!” teriak Bu Sinta membuat Sintia bergegas pamitan pada Shafa.


“Yaudah, Fa. Besok lagi kita ngobrolnya, lo tau lah gimana emak gue. Hedeh gak ada perubahan, padahal udah mau punya cucu,” ucap Sintia berpamitan.


“Oh, lo udah hamil nih. Selamat!” seru Shafa memeluk Sintia.

__ADS_1


Sintia pun membalas pelukan Shafa, dan kembali dapat panggilan dari Bu Sinta. Membuat Sintia dan Farhan, suami Sintia langsung bergegas pulang ke rumah.


Kepergian Sintia dan Farhan membuat Shafa membalikkan badannya dan kaget saat melihat Bayu di belakangnya.


“Astaghfirullah, kaget gue!” seru Shafa.


“Tenang. Gue cuma jaga lo aja biar gak terulang kejadian di rumah sakit kemarin. Ntar gue harus ninggalin pekerjaan gue demi nyari lo sampai malem-malem,” balas Bayu membuat Shafa mendelik.


“Owalah, gak ikhlas ternyata,” ucap Shafa membuat Bayu tertawa.


“Bercanda kali!” seru Bayu.


Shafa pun mengajak Bayu masuk ke dalam rumah. Saat di dalam, Shafa langsung kena introgasi oleh Anggi.


“Kak, kok kakak lama banget sih gak main ke sini? Trus juga, udah lama kakak nikah, kok belum ada kabar kalau kakak hamil? Lihat tuh, anaknya Bu Sinta aja udah hamil,” ucap Anggi.


“Gi, kok kamu gitu sih? Lagian, Kakak dan Sintia ‘kan emang duluan Sintia nikahnya, trus juga sekarang kakak gak mikir itu dulu. Kakak mau fokus ke kesehatan suami Kakak aja,” balas Shafa membuat Anggi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Lah iya juga,” lirih Anggi malu.


“Reigha udah sehat total, Fa?” tanya Ibu Khalisa.


“Udah banyak perkembangannya, Bu. Mas Reigha udah bisa ngomong, udah bisa jalan walau masih dibantu tongkat elbow, tinggal beberapa minggu lagi kalau sering dilatih jalan dan therapy rutin, insyaaAllah semakin cepat Mas Reigha untuk sembuhnya,” jawab Shafa.


“Reigha bersyukur punya istri seperti Shafa, selain bisa menerima Reigha apa adanya, Shafa juga sangat telaten ngurus Reigha sampai bisa seperti ini, Yah, Bu,” ucap Reigha sembari tersenyum.


“Ayah dan Ibu malah yang harusnya terima kasih, karena kamu sudah mau menerima Shafa yang dari keluarga yang sederhana ini,” balas Ayah.


Kemudian, mereka pun mengobrol bersama sesekali diselingi oleh candaan dari Bayu dan juga Anggi yang selalu bicara blak-blakan.


“Emm ... Kak Shafa ngapain tadi gak ngelawan aja sih digituin sama Bu Sinta. Kan jadi aku yang kesal!” seru Anggi mencurutkan bibirnya.


“Kakak ‘kan gak nyuruh kamu kesal juga, dan kakak ga ada tuh nyuruh kamu ngelawan Bu Sinta,” balas Shafa.


“Gi, gak baik tau kamu bicara seperti tadi. Lain kali gak boleh diulangi,” lanjut ucapan Shafa membuat Anggi mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


Shafa merasa diperhatikan sejak tadi pun menoleh pada Reigha. Kemudian, Reigha mengulurkan suaranya.

__ADS_1


“Fa, kita nginap disini, yuk?” ucap Reigha.


__ADS_2