
‘Hah, kok ... ’ batin Reza.
‘Loh, kok pak Hartawan Wijaya. Jadi, pak Hartawan yang melamar Naima,’ batin Reza.
Sedangkan di dalam ruangan Reigha, setelah kepergian pak Hartawan, Reigha segera menelpon Bayu.
“Assalamu’alaikum, Bay ... sibuk nggak?” tanya Reigha.
“Wa’alaikumussalam. Iya nih, lima belas menit lagi ada meeting,” jawab Bayu.
“Nanti saat makan siang kita ketemuan di suatu tempat ya, nanti gue kirmin alamatnya. Bisa?” tanya Reigha kembali.
“Iya, Bisa. Kirim aja lokasinya di mana, nampaknya masalah serius ini,” balas Bayu.
“Nanti lo juga tau. Sampai ketemu nanti ya,” ucap Reigha.
Dan mereka pun menutup telponnya. Tak lama kemudian, telpon Reigha pun berdering, ternyata Shafa yang menelpon.
“Assalamu’alaikum, Mas,” kata Shafa.
“Wa’alaikumussalam, Sayang ... ada apa?” tanya Reigha.
“Mas, Pak Hartawan jadi nemuin kamu? Jadi tadi pas belanja, aku ketemu istrinya. Bu Monica bilang kalau anaknya mau dijodohin sama Daviana. Apa kamu setuju, Mas?” balas Shafa.
“Sayang, pak Hartawan tadi memang udah menemui mas, tapi semua itu tergantung keputusan Daviana. Jadi, nanti aja ya, kita bahas di rumah,” kata Reigha.
“Iya, Mas. Assalamu’alaikum,” ucap Shafa. Dan setelah menjawab salam istrinya, Reigha pun segera menutup telpon.
Tak terasa tiba waktu makan siang, Reigha segera menuju ke tempat dimana Reigha dan Bayu makan siang. Sebelum Reigha berangkat, dia udah menitipkan pesan ke Dani dan Puspa.
Saat ini Reigha udah sampai di restoran dan ternyata Bayu udah sampai duluan.
“Bay, dah lama?” tanya Reigha yang langsung mendudukkan diri.
“Gak lama juga, tapi gue udah pesan makanan, gue juga udah pesanan juga buat lo,” jawab Bayu.
“Oh ... okelah. Thanks ya, Bay,” kata Reigha dan diangguki oleh Bayu.
“Ada apa, Gha? Sambil nunggu makanan kita datang, ceritakan apa yang mau lo ceritakan, sepertinya serius,” tanya Bayu.
“Kita kalah start duluan sama Shafa, Bay,” jawab Reigha dengan helaan napasnya.
“Maksud lo gimana? Ngomong yang jelas,” kata Bayu.
“Tadi pagi pak Hartawan Wijaya datang ke kantor gue, dia bilang kalau dua hari lagi akan datang ke rumah untuk melamar Daviana dan ternyata itu hasil perjodohan Shafa dan istrinya pak Hartawan,” balas Reigha.
“Oh ... gitu aja kok bingung sih, Gha. Kita ‘kan memang gak punya hak maksakan kehendak, Gha, lagian Shafa kan juga gak maksakan kehendak. Semua ‘kan tergantung pada Daviana. Jadi kita tunggu aja jawaban dari Daviana gimana,” ucap Bayu.
“Tapi kalau anak gue menerima gimana, Bay?” tanya Reigha.
“Ya berarti Reza dan Daviana gak berjodoh. Simpel aja mikirnya, Gha,” jawab Bayu.
“Hmm ... makasih ya, Bay. Gue tuh bingung karena ‘kan kita yang sempat mau jodohin Daviana sama Reza. Soalnya gue yakin, kalau sama Reza, Daviana pasti bahagia,” ucap Reigha.
__ADS_1
“Ya ... kita sebagai orang tua cuma bisa berusaha aja, Gha. Tapi, tetap tuhan yang menentukan takdirnya,” balas Bayu.
“Iya. Makasih ya, Bay,” kata Reigha dan diangguki oleh Bayu.
Dan tak lama, makanan mereka pun tiba, dan mereka segera makan makanannya.
“Gha, gue duluan ya. Gue mau meeting, tuh sekretaris gue dah nunggu,” ucap Bayu berpamitan.
“Oke, Bay. Thanks ya.Hati-hati lo!” balas Reigha.
Bayu pun berlalu pergi duluan ke kantor karena mau meeting. Tak lama kemudian, Reigha pun juga kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
Hingga sesampainya Reigha di kantor, dia melewati pantry dan melihat Reza yang tengah mengobrol bersama Daviandra.
“Lo beneran gapapa?” tanya Daviandra.
“Gapapa, Gak perlu terlalu dipikirkan, ayo udah habis waktu istirahat. Lanjut kerja,” jawab Reza yang segera berdiri.
Melihat Reza yang hendak keluar, Reigha pun bergegas jalan kembali menuju ke ruangan.
Di ruangan, Reigha yang tengah duduk di kursi kebesarannya pun tampak berpikir bagaimana caranya agar memastikan kalau Daviana menolak perjodohan yang telah dibuat oleh mamanya itu.
Tok...Tok...Tok...
“Pak, boleh saya masuk?” tanya Daviandra membuka sedikit ruangan.
“Masuklah, Nak,” sahut Reigha.
Daviandra segera mengkunci pintu ruangan dan duduk di hadapan papanya.
“Mana papa tau, Nak. Coba cari tau,” balas Reigha.
“Udah coba ditanyain, gak papa katanya, Pa,” ucap Daviandra.
“Mungkin nanti Reza akan cerita sendiri, kita tunggu aja,” kata Reigha.
“Yaudah kalau gitu Andra balik kerja ya, Pa,” ucap Daviandra dan diangguki oleh Reigha.
Setelah kepergian Daviandra, Reigha kembali berpikir mengenai Daviana hingga membuatnya tak fokus bekerja.
Sementara di rumah sakit, Daviana masih sibuk dengan tumpukan berkas pasien, tiba-tiba Raymond datang menghampirinya.
“Selamat siang, Dokter cantik. Ayo makan siang bareng?” sapa Raymond.
“Siang, Ray. Duluan aja ya, masih ada pasien nih,” balas Daviana.
“Mau aku bantuin?” tanya Raymond.
“Gak perlu, Ray, duluan aja,” jawab Daviana.
Raymond pun segera berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan Daviana.
Setelah kepergian Raymond, Daviana pun kembali menyelesaikan pekerjaannya dengan memeriksa pasien-pasien siang itu.
__ADS_1
Sekiranya semua pasien telah di periksa, tak lama kemudian, Daviana segera menghubungi Reza untuk menjemputnya.
“Assalamu’alaikum, Za. Sibuk gak? Boleh tolong jemput sekarang?” tanya Daviana.
“Wa’alaikumussalam, Nai. Boleh, meluncur ya,” jawab Reza.
Setelah itu pun telpon dimatikan oleh keduanya.
Reza segera ke ruangan Reigha untuk pamit izin keluar kantor sebentar untuk menjemput Daviana.
“Pa, Reza izin keluar kantor dulu. Jemput Naima,” ucap Reza.
“Iya, gapapa. Hati-hati, Za!” seru Reigha.
Reza mencium punggung tangan Reigha dan kemudian berlalu pergi berganti pakaian. Saat melewati pantry, Reza bertemu dengan Daviandra.
“Loh, mau ke mana lo?” tanya Daviandra.
“Jemput Naima. Tenang, nanti gue balik,” jawab Reza yang segera menuju ke luar kantor dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Belum sampai di rumah sakit, telpon Reza berdering dan menampilkan nama Daviandra.
“Assalamu’alaikum. Kenapa, Dra?” tanya Reza.
“Wa’alaikumussalam. Nanti lo antar Naima sampai rumah kan? Tolong bawakan baju gue, Za. Soalnya tadi gak sengaja jatuh dan basah,” jawab Daviandra.
“Oh iya, oke. Nanti gue bawain,” balas Reza.
“Iya. Makasih, Za.” Telpon pun ditutup.
Tak lama, Reza pun udah memarkirkan mobilnya dengan sempurna tepat di depan rumah sakit. Kemudian Reza merogoh kantongnya mencari ponsel untuk menghubungi Daviana.
“Assalamu’alaikum, Nai,” ucap Reza.
“Wa’alaikumussalam. Iya, Za, gue udah di luar mobil nih. Tolong, buka kunci mobil, Za,” pinta Daviana.
Reza pun segera mematikan telponnya dan membuka kunci mobil. Kemudian Daviana masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang tampak lelah.
“Langsung pulang, Nai?” tanya Reza.
“Iya, Za.”
Reza segera melajukan mobilnya menuju ke rumah papa Reigha dengan sesekali matanya melirik pada Daviana yang tampak melihat luar mobil.
“Capek, Nai?” tanya Reza.
“Iya, Za. Lumayan ... banyak pasien hari ini,” jawab Daviana.
“Udah makan? Mau mampir beli makan dulu gak?” tanya Reza kembali.
“Lapar sih, tapi makan di rumah aja. Pasti mama udah masak,” balas Daviana dan diangguki oleh Reza.
Tiba-tiba, Reza membelokkan mobil dan mobil berhenti dengan sempurna.
__ADS_1
“Loh, Za. Kok kita ke sini?” tanya Daviana.