
Anna pun tak menunggu lama langsung masuk dan duduk di sofa kamar Shafa.
“Ada apa? Kenapa lo dari acara tadi nangis? Lo ada masalah? Ayolah, Fa ... lo cerita ke gue,” ucap Anna menatap Shafa dengan tatapan serius.
“Ehh ... enggak, gue hanya terharu aja, Na. Pasti lo suatu saat nanti juga akan ngerasain kalau anak lo mau nikah,” kata Shafa yang berusaha menutupi.
‘Ma'afin gue, Na, gue diminta mas Reigha untuk merahasiakan ini dari lo, karena itu juga permintaan Reza,’ batin Shafa.
“Ooo ... iya deh, gue kira lo kenapa. Lah trus ini, lo mau ke mana? Kok packing?” balas Anna yang kemudian bertanya kembali.
“Gue titip anak-anak beberapa hari ya, Na, gue diminta mas Reigha nemuin temannya yang istrinya lagi butuh teman ngobrol,” jawab Shafa.
“Owhh ... yaudah gapapa kalau gitu, tapi lo kan juga mau nyiapin pernikahan Naima, Fa,” balas Anna.
“Kan cuma beberapa hari aja, Na. Bisa kok, gue yakin ... InsyaaAllah acara Naima pasti sukses dan gal kekurangan satu pun,” kata Shafa.
“Ya udah deh ... sekarang lo lanjut packing, gue mau pulang aja,” ucap Anna.
“Oke, Na ... thanks ya!” seru Shafa.
Dan setelah mengangguk, Anna pun langsung keluar dari kamar Shafa.
Di ruang kerja, Reigha dan Bayu tampak sedang mengobrol serius, setelah itu mereka pun membahas tentang Shafa.
“Shafa kenapa, Gha?” Kata Anna dia ngelihat Shafa nangis,” tanya Bayu.
“Lo kan tau sendiri sesayang apa istri gue sama Reza, setelah gue ceritain dia-nya yang jadi sedih, gak tega sama Reza,” jawab Reigha.
“Ngapain lo ceritakan ke Shafa? Nanti kalau Shafa cerita ke Anna gimana, Gha?” balas Bayu.
“Nggak akan, Bay. Shafa udah gue wanti-wanti untuk gak cerita ke siapapun termasuk Anna,” kata Reigha.
“Yaudah kalau gitu, gue cuma gak mau rencana Reza yang mau menyendiri gagal. Ya karena ... lo tau kan Anna gimana? Dia kalau tau pasti langsung nyusul kesana dan minta ke gue buat nemenin Reza,” ucap Bayu.
“Iya gue tau. Tapi, besok gue pergi pagi ya, mau antar Shafa ke bandara. Tolong lo besok pagi, temanin anak-anak sarapan,” balas Reigha.
“Shafa mau ke mana, Gha?” tanya Bayu.
“Dia mau nemuin Reza, pengen nemenin Reza untuk beberapa hari aja,” jawab Reigha.
“Kan gue bilang juga apa, pasti itu ... untung Anna gak tau, Gha,” lirih Bayu.
“Udahlah, biarin aja. Bisa ‘kan lo besok pagi sarapan di sini?” balas Reigha kembali bertanya.
“Iya, besuk gue, Anna dan Almeera akan sarapan di sini sama si kembar dan Vilia. Yaudah yuk, kita keluar!” ajak Bayu dan diangguki oleh Reigha.
Dan mereka pun keluar dari ruang kerja. Sampai luar, Bayu melihat kalau Anna sedang menunggu di ruang tengah.
“Bang, ayo pulang ... ini udah malam, besok kita temani sarapan anak-anak di sini,” kata Anna.
“Iya, Sayang. Ayo! Oh iya, Almeera gimana? Biar tidur sini atau kita ajak pulang aja?” seru Bayu yang kemudian bertanya.
__ADS_1
“Biarin di sini ajalah, Bang, besok kan sekolah libur,” jawab Anna.
“Ya udah. Gha, gue pulang ya,” pamit Bayu.
Dan Anna pun juga pamit, setelahnya mereka pulang.
Keesokan paginya, setelah Shafa pamit ke anak-anaknya, lalu Reigha pun mengantarkan Shafa ke bandara.
Hari ini, Shafa sangat bersemangat karena akan bertemu Reza dan memberi kejutan pada Reza.
Setelah sampai bandara, Shafa pun berpamitan ke Reigha dan Shafa segera masuk untuk check-in.
Setelah 30 menit, akhirnya Shafa pun masuk ke pesawat dan tak lama kemudian, pesawat pun berangkat. Setelah Shafa masuk, Reigha segera pergi keluar dari bandara dan segera pulang.
Sesampainya Reigha di rumah, Bayu dan Anna juga Almeera udah pulang, tinggalah di rumah si kembar dan juga Vilia.
“Pa, kami mau pergi jalan-jalan, papa mau ikut?” tanya Daviandra.
“Mau ke mana, Nak? Papa capek banget rasanya,” jawab Reigha.
“Oh, Pa ... ayolah. Ini akan jadi kesempatan terakhir kita pergi bareng, karena kak Nai kan segera menikah dan akan ikut suaminya,” lirih Vilia.
“Ehmm ... yaudah papa ikut, tapi papa ganti baju dulu ya,” balas Reigha.
“Asyikkk! Oke, Papa kami tunggu di ruang tamu ya,” kata si kembar dan Vilia serempak.
Setelah Reigha selesai berganti pakaian, Reigha segera menemui anaknya yang sedang menunggunya.
“Oke, Papa. Horee kita jalan-jalan!” seru Vilia yang tampak sangat senang.
“Oh iya, Vilia ... coba kamu ke rumah papi, ajak Almeera ya, Nak,” pinta Reigha.
“Iya, Pa,” balas Vilia yang langsung berlari menuju pintu penghubung dan segera mencari Almeera.
Reigha dan si kembar menunggu Vilia dan Almeera di luar gerbang rumah Bayu.
Vilia tampak tidak sabar dan segera masuk di rumah Bayu, “Assalamu’alaikum, Papi, Mami ... kak Almeera ada?” tanya Vilia pada Bayu dan Anna yang tampak mengobrol santai di ruang tengah.
“Ada di kamar tuh, Nak. Ada apa sayang?” tanya Bayu.
“Papa nunggu di depan, Pi, kita mau jalan-jalan. Nah, Vilia ke sini mau ngajak kak Almeera pergi,” jawab Vilia.
“Oh ... yaudah, kamu tanya sendiri sama kak Almeera ya sayang, dia ada di kamar,” balas Anna.
“Okay, Mami. Vilia ke kamar kak Almeera ya,” ucap Vilia.
“Sayang, aku kedepan dulu ya, Reigha katanya nunggu anak-anak di depan,” kata Bayu.
“Iya, Bang ... aku nunggu Almeera dan Vilia, aku di sini aja,” ujar Anna.
Tak lama kemudian, Vilia dan Almeera tampak keluar dari kamar dan udah rapi, siap berangkat.
__ADS_1
“Mi, Almeera pergi sama papa ya,” pamit Almeera.
“Iya, Nak. Kalian hati-hati, ya,” balas Anna.
“Assalamualaikum, Mi,” kata Vilia dan Almeera serentak sembari mencium punggung tangan Anna.
“Wa’alaikumussalam,” balas Anna.
Mereka pun segera lari ke depan dan segera masuk ke mobil.
“Ayo, Pa, kita pergi!” seru Vilia.
Reigha yang sedang mengobrol dengan Bayu pun segera mengakhiri obrolannya dan kemudian masuk mobil.
“Mas Andra aja yang nyetir ya, Nak,” kata Reigha.
“Siap, Pa!” balas Daviandra.
Dan mereka pun berangkat setelah melambaikan tangan ke Bayu.
Di tempat lain, Shafa udah sampai di bandara, Shafa segera mencari seseorang yang udah disuruh Reigha menjemput istrinya dan setelah ketemu, mereka pun segera menuju ke tempat Reza.
15 menit kemudian, Shafa udah berada di apartemen tempat Reza tinggal. Ternyata, Reza sedang tidak ada, Shafa yang udah diberi kunci cadangan sama Reigha pun segera masuk ke rumah.
Setelah masuk, Shafa segera menguncinya kembali untuk memberi Reza kejutan.
Shafa segera ke kamar yang akan dia tempati beberapa hari ini, setelah istirahat sebentar ... Shafa segera memasak untuk makan dirinya dan reza nanti.
Setelah selesai masak, ternyata Reza juga belum ada tanda-tanda pulang, akhirnya Shafa pun masuk ke kamar Reza untuk melihat kamar Reza.
Saat masuk ke kamar Reza, Shafa melihat beberapa foto Daviana yang dipajang di dinding dan di meja dekat tempat tidurnya.
Shafa yang melihat itu semua menjadi semakin merasa bersalah dan tak kuasa menahan air matanya yang hendak jatuh ke pipinya saat itu.
Shafa pun segera menutup pintu kamar Reigha dan segera masuk ke kamarnya untuk memberi kabar ke suaminya sambil menunggu Reza pulang.
Malam harinya, Shafa mendengar ada orang datang, Shafa sangat yakin kalau itu Reza. Dan Shafa pun masih berdiam diri di kamarnya.
Di luar kamar, Reza yang sedang bersama temannya langsung masuk tanpa curiga. Saat melewati meja makan, Reza dan temannya kaget karena ada bermacam-macam masakan Indonesia.
“Wah ... Za, lo tadi masak?” tanya Antonio, yang tak lain adalah teman Reza yang ternyata berasal dari Indonesia juga namun telah lama tinggal di luar negeri.
“Ya nggak lah, Bro, mana gue bisa masak,” balas Reza.
“Lah, trus ini siapa yang masak?” tanya Antonio setelahnya.
“Bentar gue coba dulu ya,” kata Reza sambil menyendokan makanannya dan memasukkan di mulutnya.
“Ini ... kok ini sepertinya masakan ...” lirih Reza.
“Hah? Masakan siapa, Za?” tanya Antonio yang gak sasaran mendengar jawaban dari Reza.
__ADS_1