Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 49 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Mas temani, ya!” seru Reigha yang mendapat gelengan kecil dari Shafa.


“Gak perlu, Mas. Shafa cuma sebentar kok, gak enak sama teman kolega Mas,” balas Shafa.


“Yaudah, hati-hati ya, Sayang.”


Shafa yang telah mendapat izin pun segera berjalan menuju toilet.


Reigha mulai tak tenang kembali dan segera meminta tolong pada Anna untuk segera menyusul Shafa ke toilet.


“Na, gue minta tolong susulin shafa di toilet. Gue khawatir,” ucap Reigha yang segera diangguki oleh Anna.


“Baik, Pak.” Anna segera bergegas menyusul Shafa ke toilet dan kini Anna tepat berada di depan toilet melihat orang yang sedang membawa wanita di kursi roda. Tapi, Anna tidak melihat siapa yang berada di kursi roda.


Anna hanya fokus pada Shafa yang Anna tau berada di toilet. Anna langsung masuk ke toilet dan mencari Shafa. Anna pun membuka semua pintu di toilet tapi nihil, tidak menemukan apapun dan siapapun.


Anna tak langsung kembali ke aula, Anna tetap mencari kemana Shafa pergi. Kemudian, Anna teringat adanya seseorang yang dibawa menggunakan kursi roda.


Anna yang hendak melangkah keluar dari toilet, tiba-tiba dipanggil oleh seseorang yang tentu Anna mengenalnya.


“Na!” panggil seseorang tersebut.


Anna menoleh dan bernapas lega tatkala melihat Shafa yang tepat berada di hadapannya.


“Lo kemana aja sih?” tanya Anna berhambur memeluk Shafa erat.


“Tadi ada orang pingsan, Na. Gue bantuin dan untungnya langsung keluarganya membawa ke rumah sakit,” jawab Shafa.


Anna pun mengajak Shafa menuju kembali ke aula bergabung bersama Reigha dan tamu lainnya.


“Mas,” panggil Shafa.


Reigha yang dipanggil, langsung mendekat dan memeluk pinggang Shafa.


Semakin lama, semakin cepat pula waktu berlalu. Kini acara pernikahan telah usai, Farhan yang baru saja selesai makan dari dalam aula hotel, kini berjalan keluar duduk kembali di dalam mobil sembari mengawasi orang-orang yang mencurigakan tengah dimarahi oleh seorang wanita.


“Kalian bodoh!” seru wanita itu.


Farhan berusaha menguping karena merasa kasihan orang-orang yang sejak tadi selalu dimarahi.


“Ma—maaf, Bos. Tadi, temannya datang, kami gak ada waktu!” seru salah satunya sembari menunduk.


Sementara di dalam aula, Shafa dibawa oleh Anna menuju kamar. Reigha mengucap syukur karena tak terjadi apapun selama acara resepsi.


Andara yang menghadiri acara tersebut dan menjadi ketua pengamanan acara segera menghampiri Bayu yang tengah berbincang dengan Reigha.

__ADS_1


“Gimana? Semua aman?” tanya Andara melempar senyuman pada Reigha.


Tak lama, terjadilah suatu insiden yang membuat semuanya panik. Hotel yang sudah disewa penuh oleh Reigha tiba-tiba terbakar.


Semua tamu langsung turun dan bergegas keluar menyelamatkan keluarganya.


Begitu juga dengan Reigha, Bayu, dan Andara yang tengah mengobrol, segera berpencar.


Reigha menyelamatkan keluarga serta istrinya, Bayu menyelamatkan membantu Reigha dan juga menyelamatkan Anna. Sementara Andara langsung bersiap membantu agar tak ada yang tertinggal di dalam hotel.


Cukup cepat api menyerang hingga membakar habis seisi hotel tersebut. Andara selaku polisi segera menghubungi rekannya untuk bertindak cepat.


Sementara Reigha tengah kebingungan mencari kemana hilangnya Shafa. Yang tadinya tepat disamping Reigha, kini menghilang begitu saja.


Reigha segera memanggil Vano, menyuruh Mama Dhiya, Papa Harun, dan juga Anna untuk segera pulang.


Reigha pun membawa Bayu ikut bersamanya mencari Shafa yang tak kunjung ditemukan.


“Gha, lebih baik lagi kalau kita bawa Andara,” ucap Bayu.


Reigha pun setuju, kini mereka bertiga pergi menggunakan mobil Andara mencari kemana keberadaan Shafa.


Namun, belum sempat mobil melaju, ternyata Papa Harun ingin ikut serta mencari keberadaan menantunya. Akhirnya, tanpa berdebat, mereka bertiga membawa Papa Harun ikut bersama mencari Shafa.


Di tempat lain, Binar dan orang suruhannya membawa Shafa masuk ke dalam mobil. Farhan yang dari tadi memantau pun kaget, karena ternyata orang tersebut menculik Shafa.


“Gue harus melakukan sesuatu, karena Shafa udah bantu banyak untuk keluargaku,” imbuh Farhan.


Akhirnya, Farhan pun menelepon Reigha. Tapi, Reigha tidak segera menerima telpon darinya, Farhan menelepon bayu juga tak diterima telponnya. Keputusan terakhir, Farhan pun pesan ojek untuk membuntuti mobil itu. Mobil masih belum melaju, tapi ojek online Farhan udah datang.


“Bang, tunggu sebentar, ya!” seru Farhan.


“Iya, Bang,” balas tukang ojeknya.


Di dalam mobil Binar, tampak Binar tersenyum puas karena telah berhasil menculik Shafa. Tetapi, Shafa masih pingsan pengaruh bius yang Binar berikan saat semua sedang panik karena hotel terbakar.


“Gue kan dah bilang sama lo, tinggalin Reigha. Reigha itu punya gue, tapi lo gak hiraukan ucapan gue. Sekarang, rasain lo, harus pergi jauh ninggalin Reigha dan gak ada yang menolong kamu!” seru binar sambil tertawa puas.


“Gimana ini, Bos. Kita pergi sekarang? Nanti keburu orang-orang menyadari kalau orang ini hilang,” kata salah satu orang suruhan Binar.


“Baiklah, kita pergi sekarang!” perintah Binar.


Mobil pun segera pergi, Farhan yang udah siap segera mengikuti mobil itu.


Saat di jalan, Farhan terus menelepon Reigha. Tapi, Reigha belum juga menjawab.

__ADS_1


Sampai udah berapa kali telpon baru Reigha angkat sembari berkata, “Halo, ada apa, Farhan? Saya lagi sibuk nih.”


“Pak, maaf ini saya lagi ngikutin mobil yang menculik Shafa. Bisa bapak segera ke alamat yang sudah saya shareloc?” ucap Farhan membuat Reigha terdiam sebentar.


“Oke, Farhan. Terus kamu ikutin mobil itu, saya segera menyusul,” balas Reigha yang mendapatkan titik terang.


Sementara di mobil Andara, Papa Harun bertanya pada Reigha, “Kenapa Farhan, Gha?”


“Farhan lagi ngikutin mobil yang nyulik Shafa, Pa,” jawab Reigha sembari menyerahkan ponsel Reigha pada Andara yang tengah menyetir mobil.


Dalam ponsel Reigha telah tertera shareloc dari Farhan.


Di tempat lain, Binar yg merasa bahagia tidak menyadari kalau ada yang mengikutinya. Sampailah Binar dan suruhannya di tempat yang sudah dipersiapkam olehnya.


Shafa segera dibawa oleh orang suruhan Binar untuk masuk ke dalam dengan tangan terikat.


Farhan menunggu Reigha datang sambil memantau pergerakan Binar.


Sekitar setengah jam berlalu, akhirnya Reigha bersama Bayu, Andara, dan juga Papa Harun.


“Terima kasih udah bantu Shafa,” ucap Reigha pada Farhan.


“Itu udah tugas saya sebagai teman juga supirnya Pak Reigha dan juga Shafa,” balas Farhan.


Mereka pun segera diskusi untuk membantu membebaskan Shafa yang terperangkap di dalam.


“Kira-kira, siapa lagi nih kali ini yang menculik Shafa?” tanya Bayu.


“Ya ... siapa lagi kalau bukan Binar, Bay,” jawab Reigha dengan raut wajah khawatirnya.


“Trus kita harus gimana?” lirih Bayu yang mulai bingung.


Andara pun membisikkan suatu rencana pada Reigha, Papa Harun, dan juga Bayu.


Di tempat lain, Shafa udah mulai sadar. Shafa terkejut karena merasa asing dengan tempat ini. Tentu, Shafa juga baru sadar kalai dirinya telah di culik. Netra Shafa menelusuri tiap-tiap sudut yang memang yak ada siapa-siapa. Tetapi, selang beberapa waktu, Binar masuk ke ruangan itu.


“Wah, ternyata udah bangun lo. Gimana? mimpi apa tadi?” tanya Binar dengan senyum sinisnya.


“Oh ... ternyata lo yang nyulik gue. Ngapain sih lo repot-repot nyulik gue? Kalau Mas Reigha tau, lo akan tau gimana marahnya Mas Reigha,” balas Shafa menatap tajam pada Binar.


“Oh ya? Tentunya gue gak peduli! Justru, gue sekarang pengen buang lo jauh atau kalau bisa lo mati di tangan gue. Keinginan gue cuma satu, Reigha jadi milik gue,” ucap Binar menekankan kalimat akhirnya.


“Binar, cinta itu gak bisa di paksakan, lo itu bukan cinta tapi terobsesi. Sadarlah, dengan lo nyulik gue yang ada Mas Reigha semakin benci sama lo!” seru Shafa.


“Gue gak peduli, wanita kampungan! Kalau gue yang sempurna cantik gini gak bisa miliki Reigha, artinya wanita kampungan kayak lo gini ... duh! Jangan sampai deh lo bisa miliki Reigha,” balas Binar dengan ketus.

__ADS_1


“Dan, lo harus bersiap. Gue akan bawa lo pergi jauh dari Reigha,” ucap Binar yang langsung meninggalkan Shafa menemui orang suruhannya.


“Gimana ... tempatnya udah siap?” tanya Binar sembari tersenyum miring.


__ADS_2