
“Hah, kok bisa? Gimana sekarang anak gue, Gha? Kurang ajar benar tu wanita,” balas Bayu yang emosi.
“Tunggu dulu, Bay. Gue jelasin dulu,” kata Reigha.
“Yaudah, cepetan. Jangan buat gue cemas, Gha,” ucap Bayu yang tak sabaran.
“Reza tadi di culik, tapi sekarang udah aman, Reza udah di rumah lagi main sama si kembar. Kalau si Ivanka, udah masuk penjara.”
“Alhamdulillah, makasih banyak ya, Gha. Lo udah jagain anak gue. Kata bayu
“Bay, anak lo itu anak gue juga. Jadi, udah pastilah gue akan jagain. Sekarang, lo fokus rawat Anna aja, Reza biar di rumah sama gue dan Shafa,” balas Reigha.
Bayu pun setelah bilang terima kasih lalu menutup telponnya. Reigha segera keluar dari ruang kerja dan segera masuk kamar untuk mandi.
Shafa ternyata udah menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Setelah Reigha selesai mandi, Reigha segera ke meja makan.
Di meja makan, hanya ada papa Harun. Reigha pun bertanya, “Shafa mana, Pa?”
“Lagi di kamar si kembar, manggil Andra, Nai, dan Reza untuk makan,” jawab papa Harun membuat Reigha ber-ooh ria.
“Tadi katanya Reza diculik ya, Gha?” tanya papa Harun.
“Iya, Pa, tapi alhamdulillah gak kenapa-kenapa. Malahan yang nyulik, besok kerja jadi pengawal mereka,” jawab Reigha.
“Serius kamu, Gha? Apa gak membahayakan?” balas papa Harun.
“InsyaaAllah enggak, Pa, kita harus memberikan kepercayaan sama orang yang mau berubah,” kata Reigha.
“Baiklah, papa percaya sama kamu.”
Dan tak lama,anak-anak- pun berlarian berebut tempat duduk untuk makan malam. Shafa yang melihat pun hanya geleng-geleng kepala.
“Ayo, udah segera makan. Setelah itu belajar,” titah Shafa.
“Iya, Mama,” balas Andra dan Reza serempak.
“Iya, Ma. Tapi, Nai mau disuapin mama,” rengek Daviana.
“Gini nih kalau lagi manja sama mamanya,” gerutu Reigha.
“Tuh, papa kamu minta disuapin mama,” sambar Papa Harun membuat anak-anak tertawa.
“Beneran, Opa? Tapi, Papa udah besar masa minta disuapin mama juga, Pa!” seru Daviana membuat papa Harun tertawa.
“Papa bercanda, Sayang,” kata Reigha sembari tersenyum pada putrinya.
“Yaudah ayo mama suapin, tapi setelah ini belajar bareng Andra dan Reza, ya,” titah Shafa diangguki dengan semangat oleh Daviana.
Mereka semua pun segera makan malam. Usai Shafa menyuapi Daviana, dia pun bergantian makan. Setelah selesai, papa Harun pamit untuk menjemput mama Dhiya ke rumah sakit. Shafa udah menyiapkan makanan yang akan dibawa ke rumah sakit. Papa harun pun segera pergi menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan si kembar dan Reza kembali ke kamar untuk belajar bersama. Tinggalah Reigha dan Shafa di ruang tengah. Reigha hendak membicarakan tentang Bobby yang mulai besok akan menjadi pengawal si kembar dan Reza.
Reigha udah terlebih dahulu duduk di sofa, sementara Shafa baru aja tiba dari dapur.
“Duduk sini sebentar, Sayang, ada yang mau aku omongin,” ucap Reigha.
“Ada apa, Mas, sepertinya penting?” tanya Shafa.
“Sayang, mulai besok Bobby akan menjadi sopir sekalian menjaga anak-anak, kira-kira kamu keberatan nggak?” balas Reigha.
“Ya enggaklah, Mas. Kenapa aku keberatan, apapun keputusan kamu, aku pasti setuju,” jawab Shafa.
“Termasuk kalau Mas mau nikah lagi ya, Sayang?” celetuk Reigha menggoda Shafa.
“Iiihhhhhh, Mas Reigha nih, godain aja deh,” gerutu Shafa.
“Ya awas aja Mas, kalau sampai kamu nikah lagi, aku akan pergi jauh bersama anak-anak dan aku pastikan Mas gak akan bertemu lagi dengan ku dan anak-anak,” lanjut Shafa.
Reigha yang tadinya godain istrinya, tiba-tiba memeluk sangat erat sembari berkata, “Jangan tinggalin aku ya, Sayang, aku gak bisa hidup tanpa kamu dan anak-anak.”
Shafa pun membalas pelukan Reigha sangat erat. Saking asyiknya mereka berpelukan, sampai gak sadar ada yang datang.
“Ekhm ... ekhmm,” dehem mama Dhiya yang ternyata udah pulang dari rumah sakit.
Shafa pun terkejut dan segera melepas pelukan Reigha.
“Eh, mama dan papa udah pulang,” kata Shafa yang gugup.
Reigha pun tersenyum, “Ya, lagian mama dan papa masuk rumah gak ngucapin salam.”
Mama Dhiya menjawab tepat di samping telinga Reigha, “Kata siapa kami gak salam, kami udah berkali-kali ngucapin salam, kalian yang gak tau tempat berpelukan sampai gak denger orang ngucapin salam.”
Reigha pun garuk-garuk kepala dan tersenyum menahan malu.
Papa Harun dan mama Dhiya pun duduk di ruang tengah.
“Pa, Ma, gimana kabar Anna?” tanya Shafa.
“Alhamdulillah udah semakin membaik, Fa. Calon anak mereka pun denyut jantungnya udah kembali normal. Semoga bisa secepatnya pulang, ya,” jawab mama Dhiya.
Merek pun mengaamiinkan serempak.
“Oh ya, Gha, tadi papa kamu cerita kalau Reza sempat diculik, apa benar?” tanya mama Dhiya.
“Iya, Ma, alhamdulillah kami jemput tepat waktu, jadi belum sampai Reza dibawa udah ketahuan Reigha,” jawab Reigha.
“Alhamdulillah, kamu mesti hati-hati sekarang, Fa. Jangan sampai anak-anak kalian diculik lagi,” titah mama Dhiya ke pada Shafa.
“Alhamdulillah yang nyulik udah ditangkap polisi kok, Ma, jadi InsyaaAllah kedepannya aman,” balas Reigha.
__ADS_1
“Yaudah, syukurlah. Mama ke kamar dulu ya, capek,” ucap mama Dhiya.
“Papa juga mau ke kamar ya, ngantuk,” imbuh papa Harun.
“Iya, Pa, Ma. Met istirahat,” kata Shafa.
Dan setelah papa dan mama pergi, Reigha pun mengajak Shafa masuk ke kamar.
“Sayang, ayo kita istirahat,” ajak Reigha.
“Mas ke kamar duluan aja ya, Shafa mau ke kamar anak-anak sebentar, udah selesai apa belum mereka belajar,” ucap Shafa diangguki oleh Reigha.
Dan Reigha pun menuju kamar sedangkan Shafa ke kamar anak-anak.
Setelah sampai di kamar, Reigha segera membersihkan badannya dan segera berbaring, saat Shafa masuk kamar ternyata Reigha udah tidur. Shafa pun segera menyelimuti Reigha dan ikut berbaring di sebelah suaminya.
****
Keesokan paginya, anak-anak udah bersiap untuk sekolah diantar oleh Shafa, di luar rumah, tampak Bobby udah siap mengantarkan.
Reigha segera keluar menemui Bobby terlebih dahulu sebelum sarapan.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Bobby sembari menunduk.
“Pagi, Bobby, hari ini kamu mulai pekerjaannya, keamanan istri dan tiga anak saya itu saya serahkan ke kamu. Jadi tolong kerja yang serius dan jangan sampai teledor,” balas Reigha.
“Baik, Pak, insyaaAllah saya akan melakukan kerjaan saya dengan baik dan saya janji gak akan mengecewakan kepercayaan bapak,” ucap Bobby dengan serius.
“Baiklah, selamat bekerja. Oh iya, kamu udah makan belum?” tanya Reigha.
“Saya nanti saja, Pak, akan makan di sekolahannya anak-anak saja,” jawab Bobby gak enak hati.
“Baiklah saya ke dalam dulu,” kata Reigha diangguki oleh Bobby.
Reigha masuk ke dalam rumah dan segera sarapan bersama. Setelah sarapan, Reigha meminta Shafa membawakan nasi untuk dimakan Bobby nanti di sekolah.
Setelah berpamitan sama oma dan opa nya, si kembar juga Reza pun segera keluar dan segera masuk mobil.
Shafa mencium punggung tangan Reigha dan mereka pun berpamitan sama papa juga mama. Lalu keluar bersama.
“Sayang, mas berangkat kerja ya, kamu hati-hati nanti ya,” titah Reigha sembari berpamitan.
“Iya, Mas, kamu juga hati-hati ya, Mas.”
Setelah berpamitan, Reigha pun terlebih dulu pergi meninggalkan rumah papa Harun menuju kantor, sedangkan Shafa setelah suaminya gak kelihatan lalu masuk ke mobil dan mereka pun segera berangkat menuju sekolahan anak-anak.
Sementara di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Anna, Anna yang semakin hari semakin baik, dokter sedang memeriksanya. Dan dokter udah memperbolehkan Anna untuk pulang.
Bayu pun segera keluar untuk mengurus administrasi untuk kepulangan istrinya.
__ADS_1
Namun, saat di lorong rumah sakit, Bayu dihentikan oleh seseorang dan menampar dirinya.
“Siapa anda? Kenapa menampar saya?” tanya Bayu terkesan protes.