Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 13 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Tak lama kemudian, tugas mereka pun selesai dan mereka segera meninggalkan kelas menuju ke halaman kampus, saat tiba di halaman kampus ...


Jasmin sedang berdiri di dekat mobil Reza, “Ada apa, Jasmin? Kenapa kamu di sini? Kamu gak ada kelas?” tanya Reza.


“Aku lagi nungguin kak Andra, Kak, sebentar lagi aku masuk kelas,” jawab Jasmin.


“Ada apa cari kakak?” sambar Daviandra.


“Ayo kita ngobrol sebentar di sana, Kak. Tapi, kak Reza tunggu di sini sebentar ya,” ucap Jasmin..


Reza pun tampak mengangguk dan segera masuk ke mobil, sedangkan Daviandra dan Jasmin berjalan ke dekat taman kampus lalu duduk berdua.


“Ada apa, Jasmin, cepat kalau mau ngomong, kakak ada kerjaan nih,” kata Daviandra.


“Ehmm ... Kak, sebenarnya kakak udah punya pacar apa belum?” tanya Jasmin.


“Kenapa kamu tanya pacar kakak? Kakak belum punya pacar. Tapi, kakak udah punya calon istri,” jawab Daviandra.


“Kakak...” lirih Jasmin yang langsung menangis.


“Lho...lho...lho... kamu kenapa, Jasmin? Kok malah nangis?” tanya Daviandra.


‘Kak, aku itu suka sama kakak, tapi ternyata aku udah terlambat,’ batin Jasmin.


“Gapapa, Kak, aku senang aja karena ternyata kak Andra udah punya calon istri, tapi siapa sih, Kak?” tanya Jasmin yang penasaran.


“Nanti suatu saat kakak kasih tau, karena kamu ‘kan juga udah kakak anggap adik kakak sendiri, jadi nanti pasti kakak kasih tau,” balas Daviandra.


‘Hah? Cuma dianggap adik ternyata, putus harapanku,’ batin Jasmin dalam hati.


“Iya, Kak. Jasmin ke kelas dulu ya, Kak. Daa, Kak!” seru Jasmin.


Dan setelah dibalas anggukan oleh Daviandra. Jasmin pun segera berlari tapi bukannya ke kelas, tapi Jasmin ke toilet. Di toilet, dia menumpahkan tangisnya. Sedangkan Daviandra langsung masuk ke mobil Reza.


“Oke. Yuk, Za!” ajak Daviandra.


“Udah, Dra? Kenapa Jasmin? Ngomong apa? Kok sepertinya serius?” tanya Reza.


“Gak ada yang penting sih, cuma tanya gue dah punya pacar apa belum, gitu aja,” jawab Daviandra.


“Trus loe ngomong apa?” tanya Reza.


“Ya gue ngomong kalau gue belum punya pacar tapi gue punya calon istri,” balas Daviandra.


“Trus gimana reaksinya?” tanya Reza kembali.


“Ya ... dia nangis, tapi katanya nangis bahagia,” kata Daviandra.


“Lo itu gak peka atau pura-pura gak peka sih, Andra!” seru Reza.


“Emang kenapa?” tanya Daviandra.

__ADS_1


“Jasmin itu suka sama lo, makanya pas lo ngomong punya calon istri dia kaget trus patah hati, jadinya nangis,” jawab Reza.


“Serius lo? Tapi, gue kan cuma anggap Jasmin itu adik gue, Za, sama seperti Daviana, Almeera, Vilia,” kata Daviandra.


“Iya gue tau. Tapi, Jasmin itu jatuh cinta sama lo. Ah, lo itu udah buat anak orang patah hati, Dra,” ucap Reza.


“Yaa ... gue kan gak tau. Yaudahlah, mending segera tau daripada dia terlalu berharap,” balas Daviandra.


“Iya, siapa tau patah hatinya sebentar trus dia jatuh hati sama yang lain,” imbuh Reza dan segera mendapat anggukan dari Daviandra tanda setuju.


Dan mereka pun berhenti ngobrol karena udah hampir dekat kantor. Mereka harus merubah penampilan lagi. Lalu setelah selesai dengan penyamarannya, mereka pun berjalan kaki masuk lewat pintu samping. Mereka langsung bekerja sesuai yang udah dibuat daftar list oleh Dani.


Saat mereka istirahat kerja, Reza melihat Jasmin ada di ruangan Dani sedang menangis. Reza pun segera menghampiri Daviandra untuk memberitahukannya.


“Dra, gawat. Sepertinya Jasmin ngadu ke om Dani,” kata Reza.


“Ngadu apa?” tanya Daviandra.


“Ngadu kalau lo nolak dia lah,” jawab Reza.


“Gak usah ngadi-ngadi lo, Za, mana ada gue nolak Jasmin. Lagian ya ... masa iya Jasmin cerita ke papanya,” ucap Daviandra.


“Coba gue ke sana aja ya. Siapa tau om Dani nanya ke gue,” kata Reza.


“Lo itu kepo, kurang-kurangi lah keponya,” balas Daviandra.


“Udahlah, lo tenang aja nanti gue cerita ke lo,” kata Reza dan langsung pergi ke ruangan Dani. Karena Reza menyamar jadinya Jasmin gak mengenalinya.


Tok...Tok...Tok...


“Nak, kamu mau minum?” alih Dani bertanya pada putrinya.


“Gak usah, Pa, air minum aku masih ada,” kata Jasmin.


“Kok menangis kenapa, Pak?” tanya Reza.


“Itu Jasmin tadi di kampus katanya berantem sama temannya. Temannya itu sering buat masalah,” jawab Dani.


“Papa, ngapain cerita ke dia, dia mana ngerti, Pa,” protes Jasmin.


“Jangan begitu, Nak, yang sopan sama siapa aja,” titah Dani.


“Baiklah, Pak, saya permisi dulu. Mari, Non,” ucap Reza.


“Sana sana! Ganggu aja,” gerutu Jasmin.


“Hustt, Nak. Gak boleh,” tegur Dani.


Dan Reza pun keluar hendak menemui Daviandra. Namun, saat mau masuk lift, tiba-tiba Reza diberitahukan oleh OB kalau Reza dipanggil oleh Pak Reigha.


Reza pun segera menuju ke ruangan Reigha, tapi karena Reigha sedang ada tamu, Reza diminta Puspa untuk menunggu sebentar.

__ADS_1


Tak lama kemudian, tamu Reigha pun pulang dan Reza segera masuk.


“Assalamu’alaikum, Pa. Ada apa panggil Reza?” tanya Reza.


“Wa’alaikumussalam. Sini kita duduk di sofa sini,” balas Reigha yang segera berpindah duduk dari kursi kerjanya ke sofa.


Reza pun segera duduk di sebelah Reigha kemudian kembali bertanya, “Ada apa, Pa?”


“Kamu ngapain dari ruangan Dani? Kamu suka sama Jasmin?” ucap Reigha yang bertanya balik pada Reza.


“Astagfirullah ... papa nih, masa Reza suka sama Jasmin, Jasmin itu seperti adik Reza sendiri, Pa,” jawab Reza.


“Lalu, kenapa ke ruangan Dani?” tanya Reigha.


“I—itu ... emm ... itu, gimana ya ... kalau Reza cerita nanti Andra marah gak ya,” lirih Reza menggaruk-garuk kepala.


“Jangan ada rahasia-rahasiaan sama papa, cepat katakan,” ucap Reigha.


“Emm ... tadi di kampus ... pa, tolong pura-pura gak tau ya, nanti Andra gak mau cerita lagi sama Reza,” kata Reza.


“Iya, Za, papa akan tutup mulut,” ucap Reigha.


“Tadi waktu di kampus, Jasmin itu ngajak ngobrol Andra, Pa. Trus kata Andra, Jasmin itu nanya ke Andra apa Andra udah punya pacar, dan Andra-nya bilang kalau pacar gak punya tapi kalau calon istri punya,” jelas Reza menceritakan apa yang dia dapat dari Daviandra.


“Hah? Andra punya calon istri? Siapa tu, Za?” tanya Reigha.


“Emmm ... emm ... e—enggak tau, Pa,” jawab Reza gugup.


“Jangan bohong sama papa. Papa sangat yakin kamu udah tau,” ucap Reigha.


“Papa tanya ke Andra aja ya, Reza pamit,” kata Reza yang hendak berdiri.


“Oke, papa tanya ke Andra nanti. Kalau Andra nanya dari mana papa tau, nanti papa bilang kalau diberitahu Reza,” balas Reigha sembari tertawa.


“Papa kok gitu sih, tadi ‘kan papa bilang mau tutup mulut,” protes Reza.


“Ya kamu masih ada yang dirahasiakan ke papa,” ucap Reigha.


“Bukan dirahasiakan, Pa. Belum pasti aja. Karena, Daviandra belum mengungkapkan ke cewek itu,” kata Reza.


“Owh ... belum mengungkapkan ke Chayra,” lirih Reigha sembari manggut-manggut.


“Loh, papa tau dari mana?” tanya Reza kaget.


“Kalau itu, papa udah tau, Za. Tadi cuma mau mastikan aja,” jawab Reigha.


“Owhh gitu, Pa. Yaudah ya, Pa. Reza mau keluar dulu,” pamit Reza karena gak mau banyak ditanya lagi oleh Reigha.


“Papa belum selesai, Za. Papa mau tanya sama kamu, kalau kamu udah ada calon istri apa belum?” tanya Reigha.


“Pa, Reza belum mikirin itu. Nanti aja kalau udah sukses,” jawab Reza.

__ADS_1


“Beneran? Gak mau gitu sama anak papa?” tanya Reigha kembali.


“Anak papa siapa?” Reza tampak menoleh dan menatap serius pada Reigha.


__ADS_2