
Dan saat mereka di kamar ada suara orang mengetuk pintu, “Sebentar ya, Nak, sepertinya ada tamu,” kata Afkar.
Dan kemudian Afkar pun segera menuju ke pintu untuk melihat siapa yang datang.
“Selamat malam, Pak. Maaf saya ART di sini, saya di minta pak Reigha untuk menemani non Chayra selama kuliah di sini,” ucap Cici memperkenalkan diri.
“Baiklah, silakan masuk,” balas Afkar.
Dan setelah dipersilakan masuk, Cici segera masuk ke kamar yang udah menjadi kamarnya saat dulu dia bersama Daviana. Setelah menaruh barang-barangnya, Cici segera ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya.
Tak lama kemudian, mereka pun berkumpul untuk makan malam.
“Nak, papa udah lega, karena di sini kamu ada temannya. Cici ini seumuran sama Daviana, jadi kamu panggil mbak aja biar akrab,” kata Afkar.
“Jangan, Pak, panggil Cici aja biar kami bisa jadi teman,” sambar Cici.
“Baiklah, kamu selain di sini masih kuliah atau kerja, Ci?” tanya Afkar.
“Saya kuliah, Pak. Tapi ... karena saya sambil kerja jadi agak terlambat lulusnya,” jawab Cici.
“Baiklah, saya titip Chayra ya, Ci. Anggap dia seperti adik kamu sendiri,” pinta Afkar.
“Siap, Pak. Dengan senang hati,” balas Cici yang kemudian beralih menatap Chayra dan tersenyum.
“Mbak Cici, nanti boleh temani Chayra mencari-cari buku atau keperluan lain yang dibutuhkan di kampus gak?” tanya Chayra.
“Iya, Non. Tenang aja, pasti nanti saya antar,” jawab Cici.
Dan setelah akan malam pun mereka pun segera ke kamar untuk istirahat. Afkar masih menyempatkan video call dengan istrinya karena besok pagi Afkar akan kembali ke Indonesia.
Setelah mengpbrol dengan suaminta, kini Zhafira menelpon Chayra sampai larut.
Keesokan paginya, Afkar udah bersiap kembali ke bandara, mereka bertiga sedang sarapan pagi.
“Sayang, kalau ada apa-apa jangan sungkan kabari papa, ya, papa akan selalu ada waktu buat kamu,” ucap Afkar.
“Iya, Pa, pastilah. Kalau nggak ke papa emang ke siapa, Pa,” balas Chayra.
“Cici, titip Chayra ya. Jangan lupa ingatkan untuk jangan telat makan dan dijaga sholatnya,” kata Afkar.
“Iya, Pak, pasti akan saya jaga seperti adik saya sendiri,” ucap Cici.
“Yaudah, pesawat papa bentar lagi berangkat, papa balik ke Indonesia ya, Nak!” seru Afkar.
“Iya, Pa, hati-hati ya, Pa. Salam buat mama dan Adrian juga semua,” ucap Chayra memeluk Afkar.
Dan Afkar pun dengan berat hati meninggalkan putrinya sendirian di negara orang.
Sementara di Indonesia, saat sarapan pagi semua berkumpul di rumah Reigha.
Bayu, Anna dan Almeera ikut sarapan di rumah Reigha.
__ADS_1
“Gimana keadaan kamu, Dra, udah baikan?” tanya Bayu.
“Alhamdulillah udah sehat, Pi,” jawab Daviandra.
“Emang Andra kenapa? Kok gak ada yang bilang ke aku kalau Andra sakit? Sayang, kok gak bilang kalau putra kita sakit?” tanya Reigha.
“Andra gapapa kok, Pa, hanya kecapean aja. Sekarang juga udah baikan,” balas Daviandra.
“Beneran? coba sini dekat papa,” kata Reigha yang segera menempelkan telapak tangannya di kening Daviandra.
“Iya, gak panas kok. Jangan capek-capek ya, Nak,” titah Reigha.
“Iya, Pa, Andra akan jaga kesehatan kok,” ucap Daviandra.
“Gha, denger-denger Afkar daftarin anaknya ke universitas tempat Daviana ya? Tinggal dimana anaknya?” tanya Bayu.
“Iya, kemarin telpon gue, trus gue kasih tau alamat sewaktu Daviana tinggal dulu,” jawab Reigha.
“Kenapa kok mendadak pindah?” tanya Bayu kembali.
“Ya mana gue tau, Bay, emang gue bapak nya,” jawab Reigha.
“Hmm ... yaudah yuk, kita berangkat ke kantor,” kata Bayu ke Reigha.
“Dra, Za, kalian mau ke kampus atau ke kantor?” tanya Reigha.
“Kami ke kampus dulu, Pa, nanti baru ke kantor,” jawab Reza.
“InsyaaAllah udah kok, Pa,” jawab Reigha.
“Yaudah, papa dan papi berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum,” kata mereka dan para istri pun ikut ke depan mengantar suaminya.
“Mas, hati-hati di jalan, ya,” kata Shafa menarik tangan suaminya kemudian mencium punggung tangan Reigha.
“Iya, Sayang,” kata Reigha sambil mencium kening Shafa.
“Bang, hati-hati di jalan. Jangan ngebut!” seru Anna.
“Iya, Sayang, mana pernah abang ngebut,” balas Bayu.
Dan mereka pun berangkat dengan mobil masing-masing. Tak lama kemudian, Daviandra dan Reza ke depan dan berpamitan sama mama dan maminya kemudian disusul dengan Daviana , Almeera dan Vilia. Kini, tinggalah mereka berdua di rumah yang hari ini sedang ada pesanan untuk catering mereka.
Sementara di kampus, Daviandra dan Reza udah datang, mereka pun segera ke kantin. Jasmin yang tau kalau Daviandra dan Reza masuk kantin pun segera menyusul.
Saat Jasmin masuk ke kantin, ternyata tempat duduk di kantin penuh, jasmin pun langsung cemberut dan mendekati Daviandra, “Kak, bisa geser? Jasmin mau duduk,” kata Jasmin.
“Kenapa duduk di sini, sini udah penuh, cari tempat duduk lain!” seru Daviandra.
“Kak, tega ya sama aku, aku dah lapar loh, Kak,” balas Jasmin.
“Udah-udah ... sini duduk di sini," ucap Reza dan kemudian Reza pun segera berdiri.
__ADS_1
“Andra, gue ke kelas dulu ya,” kata Reza.
“Eh kita barengan aja. Lagian, kita kan tadi udah sarapan,” ucap Daviandra.
“Yahh ... kok jadinya jasmin ditinggal,” ucap Jasmin sembari menatap Daviandra dan Reza bergantian.
“Kita ada tugas. Kamu makan dulu nanti sakit,” kata Reza sambil berlalu meninggalkan Jasmin. Daviandra pun ikut pergi tanpa menoleh ke Jasmin.
“Kak, Kak Andra kok gak peka sih ... aku cinta loh sama kakak,” ucap lirih Jasmin.
Tak lama, makanan yang dipesan Jasmin pun datang, Jasmin makan dalam diam.
“Dra, lo ngerasa gak kalau Jasmin itu suka sama lo,” kata Reza.
“Gak usah punya pikiran seperti itu, Za, Jasmin itu sudah gue anggap adik gue sendiri,” kata Daviandra.
“Sama, gue juga anggap Jasmin itu adik gue sendiri,” ucap Reza.
“Kalau sama Daviana gimana, Za?” tanya Daviandra.
“Sama juga seperti Almeera. Daviana dan Vilia, itu semua adik gue,” jawab Reza.
“Ehmmm, oke gue pegang kata-kata lo, ya,” balas Daviandra.
Saat mereka masuk ke kelas, Saskia langsung menghampiri Daviandra, “Hai, Andra ... gimana? udah sembuh?” tanya Saskia.
“Gue kan gak sakit, gue baik-baik aja,” jawab Daviandra cuek.
“Dra, ini gue bawakan makanan buat kamu,” kata Saskia.
“Terima kasih, tolong kasihkan Reza aja,” balas Daviandra.
“Dra, ini buat kamu loh, kok di kasih Reza,” protes Saskia.
“Gue sama Reza itu sama, tinggal juga di rumah yang sama. Jadi, gak masalah kalau lo kasih ke Reza,” ucap Daviandra.
“Udahlah, terima aja, Dra, nanti setelah lo terima trus lo kasih ke gue,” kata Reza.
Daviandra pun menerima makanan dari Saskia setelah itu diberikan ke Reza.
Saskia yang tau pun marah, langsung keluar sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Dra, banyak banget sih penggemar lo,” celetuk Reza.
“Masa bodo, Za, yang penting gue gak suka,” balas Daviandra.
“Ya udah yuk segera kita selesaikan tugas kita, katanya hari ini dosen gak datang, jadi kita langsung ke kantor aja, gimana?” tanya Reza.
“Boleh juga, gue kemarin kan gak datang, mungkin hari ini kerjaan gue banyak nih,” balas Daviandra.
Tak lama kemudian, tugas mereka pun selesai dan mereka segera meninggalkan kelas menuju ke halaman kampus, saat tiba di halaman kampus ...
__ADS_1