
Dan tak lama mereka, pun keluar dan segera meninggalkan rumah Reigha. Namun, saat Fathir dan Anggi hendak meninggalkan rumah Reigha si kembar memanggil Anggi.
“Aunty ... aunty,” panggil Daviandra.
“Iya, Sayangnya Aunty, kenapa lari-lari sih?” tanya Anggi pada dua ponakannya.
“Aunty mau ke mana?” balas Daviana bertanya.
“Aunty pulang dulu ya, Sayang, aunty kemarin gak bawa baju ganti, aunty juga mau sekalian bawakan baju untuk kakek dan nenek,” jawab Anggi.
“Kami ikut ya, Aunty? Boleh ‘kan, Om Fathir?” tanya Daviandra.
“Boleh dong, Sayang, tapi izin sama papa dan mama dulu ya,” titah Fathir.
“Oke, Om, tunggu sebentar ya, Om, Aunty,” balas Daviana segera berlari bersamaan dengan Daviandra masuk ke dalam rumah mencari mamanya.
Akhirnya Fathir dan Anggi pun menunggu si kembar pamit pada Shafa.
“Bang, gapapa kalau kembar ikut?” tanya Anggi ke Reigha.
“Ya gapapalah, Gi, kan pasti kalian jagain,” jawab Reigha.
“Ya pastilah, Bang, masa keponakan ditelantarkan,” balas Anggi.
“Tapi kami datangnya menjelang tahlilan loh, Bang, masih ada kerjaan sedikit yang belum selesai,” kata Fathir.
“Udahlah, santai aja. Gapapa datang terlambat,” ucap Reigha.
Dan tak lama si kembar datang sambil membawa tas ranselnya.
“Ayo, Aunty, kami udah siap,” kata Daviana dengan bersemangat.
“Udah diizinkan mama, Nak?” tanya Reigha.
“Udah dong, Papa. Papa juga bolehin ‘kan?” jawab Daviana sembari memastikan.
“Tentu, Nak. Baik-baik sama Aunty, ya, nurut juga sama Om,” titah Reigha.
“Oke, Pa, kami pergi ya. Assalamu’alaikum,” pamit Daviandra pada papanya.
“Wa'alaikumsalam,” balas Reigha.
“Bang, kami pulang dulu ya,” ucap Fathir berpamitan dengan Reigha.
“Iya, kalian hati-hati ya!” seru Reigha.
Dan saat semua masuk mobil, tiba-tiba Bayu memanggil.
“Fathir, Anggi, tunggu!” teriak Bayu.
“Iya, Bang, ada apa?” tanya Anggi mendekat.
“Itu si Reza pengen ikut juga. Boleh gak?” balas Bayu bertanya.
“Owalahhh ... ya pasti boleh dong, ayo gantengnya anty, sini,” jawab Anggi sembari menarik lembut lengan Reza.
__ADS_1
Dan Reza pun langsung tersenyum dan salim ke Bayu juga ke Reigha.
Setelahnya, Anggi menggandeng Reza dan segera masuk mobil. Dan akhirnya mereka pun berangkat ke rumah ayah Reynand.
Sesampainya di rumah ayah Reynand, Anggi bertemu dengan Farhan.
“Gi, di rumah pak Reigha acaranya tahlilan jam berapa?” tanya Farhan.
“Setelah maghrib, Mas,” jawab Anggi.
“Oke, makasih ya, Gi. Nanti sebelum maghrib aku ke sana sekalian mau bantu-bantu,” balas Farhan.
“Oh ... iya, Mas, Anggi masuk dulu ya,” ucap Anggi diangguki oleh Farhan.
Namun, belum sampai Anggi masuk, mertua Farhan berkata, “Ngapain kamu bantu-bantu di rumah Shafa itu, emang kamu pembantu? Dia kan kaya, udah pastilah dia bayarin orang untuk bantu-bantu di sana,” kata ibu Sinta.
“Bu, jangan begitulah, biar bagaimana pun keluarga Shafa udah banyak membantu mas Farhan sampai mas Farhan kerja di kantoran,” ucap Sintia.
“Hey, Sintia, dengar ya. Suami kamu itu kerja di kantoran karena otaknya pinter, bukan karena bantuan Shafa dan suaminya itu,” balas ibu Sinta.
“Astagfirullah, udahlah mas Farhan, gak usah ke rumah kak Shafa aja, temani itu mertua mas Farhan. Takutnya nanti meninggal jalan sendiri ke kuburan karena dia gak orang lain dan tetangga yang selalu dinyinyirin,” kata Anggi yang kesal dengan ibu Sinta.
“Hey, jaga mulut kamu ya bocah ingusan, kamu itu kalau ngomong yang sopan, gak pernah diajarin sopan santun sama orang tua kamu ya?” balas ibu Sinta yang marah karena Anggi melawannya.
“Ibu Sinta, kalau ibu bisa menghargai orang, maka orang lain akan menghargai ibu. Kalau hidup ibu suka nyinyirin orang, maka gak ada yang menghargai ibu. Jadi, ini bukan salah orang tua saya mendidik, tapi karna ibu dan sikap ibu yang membuat saya tidak bisa menghormati ibu. Permisi,” kata Anggi yang malas berdebat lagi pada ibu Sinta.
“Ayo sayang-sayangnya aunty, kita masuk ke rumah!” seru Anggi.
Dan Fathir pun segera menggandeng si kembar, sementara Anggi menggandeng Reza. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah.
“Kamu anak kurang ajar ya, berani sama ibu sendiri.” Ibu Sinta meramaikan bola matanya malas. Kemudian melangkah pergi meninggalkan anak dan menantunya.
“Udahlah, Sayang, jangan seperti itu sama ibu,” titah Farhan lembut.
“Ibu itu udah keterlaluan mas, aku malu sama Shafa. Dia udah banyak bantu kita selama ini,” kata Sintia memeluk Farhan.
Jangankan Sintia, Farhan pun sebenarnya juga malu karena Bu Sinta yang selalu berbuat masalah, tapi dia gak bisa berbuat apa-apa karena dia hanya seorang menantu.
“Yaudah yuk, kita siap-siap melayat, atau biar aku saja?” tanya Farhan.
“Enggak mas, aku ikut,” jawab Sintia.
Dan akhirnya mereka bersiap-siap pergi melayat ke rumah Reigha.
Saat mereka udah siap, mereka pun pamit ke Bu Sinta.
“Bu, kami pergi melayat dulu,” kata Sintia berpamitan.
“Terserah,” balas Bu Sinta ketus.
Farhan juga Sintia pun geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu Sinta. Mereka pun segera berangkat ke rumah Reigha.
Sementara di rumah Reigha, Shafa yang sedang bersiap-siap untuk acara tahlilan mama Dhiya tiba-tiba pusing dan saat akan pingsan Shafa segera duduk dan memegang kepalanya.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu Khalisa menghampiri.
__ADS_1
“Gak tau, Bu, ini tiba-tiba kepala Shafa pusing banget,” jawab Shafa.
“Kamu pasti telat makan, makan dulu trus istirahat sana,” titah ibu Khalisa.
Reigha yang mendengar pun segera mendekat dan bertanya, “Ada apa, Bu?”
“Itu, Nak, istrimu tiba-tiba mau pingsan,” jawab ibu Khalisa.
“Astagfirullah, Sayang, kamu pasti telat makan. Ayo makan dulu, atau mau mas suapin?” tanya Reigha pada Shafa.
“Ihhh mas nih apaan sih, masa disuapin, Shafa bisa makan sendiri kok,” balas Shafa karena malu pada ibu Khalisa.
“Yaudah, mas ambilkan saja makanannya, kamu tunggu sebentar,” titah Reigha.
Dan Reigha segera mengambilkan makanan. Ibu Khalisa pun pergi karena tidak mau mengganggu kebersamaan anak dan menantunya.
Setelah Reigha mengambilkan makanan untuk Shafa, Shafa segera menerima dan makan makanannya.
Kemudian, Reigha segera membuatkan teh hangat untuk istrinya. Setelah itu, Reigha duduk di depan Shafa.
Reigha gak tau kalau dri tadi Bayu mencarinya .
“Gha, lo di sini ternyata. Ngapain istri lo pake ditungguin gitu?” tanya Bayu.
“Shafa hampir pingsan, Bay,” jawab Reigha.
“Ya Allah, Fa, dijaga makannya, jangan terlalu sibuk. Maaf ya, karena Anna hamil, Anna jadi gak bisa bantuin lo,” balas Bayu.
“Gapapa, Bay, udahlah jangan dipikirkan,” ucap Shafa.
“Ada apa, Bay, ngapain lo nyari gue?” tanya Reigha.
“Itu di luar ada tamu. Lo keluar dulu temui,” jawab Bayu.
“Siapa?” tanya Reigha.
“Udahlah, temui dulu,” balas Bayu dan akhirnya Reigha dan Bayu ke depan untuk menemui tamunya.
Setelah Reigha dan Bayu ke depan, ternyata pak Hilman pengacara papa Harun yang datang.
“Oh, pak Hilman silakan masuk, Pak, kita langsung ke ruang kerja saya aja gimana?” tanya Reigha.
“Maaf sebelumnya, Pak, kedatangan saya ke mari karena ingin memberi tahukan surat wasiat yang udah dituliskan pak Harun sebelum meninggal,” jawab pak Hilman.
“Surat wasiat? Kok saya gak tau ya?” balas Reigha.
“Maka dari itu saya kemari ingin memberitahukannya, Pak,” ucap pak Hilman.
“Tapi ini sebentar lagi tamu-tamu akan datang, untuk acara tahlilan. Gimana ya, Pak?” tanya Bayu.
“Oh, kalau gitu saya hanya memberikan copy surat wasiatnya aja ya, Pak, nanti kalau udah tidak ada acara saya akan kembali ke sini lagi,” jawab pak Hilman.
“Baiklah, itu lebih baik, Pak,” balas Bayu diangguki oleh Reigha tanda setuju.
Dan pak Hilman pun segera memberikan copy surat wasiatnya ke Reigha dan ke Bayu. Kemudian, mereka pun segera membacanya.
__ADS_1