
“Heh, Reigha ada di ruangan?” tanya Binar dengan judesnya.
“Maaf, Mbak. Pak Reigha melarang Anda masuk ke ruangannya,” jawab Puspa santai.
“Gak usah ngelarang-ngelarang gue!” seru Binar yang mendorong Puspa hingga membuat pintu terdorong kuat.
Puspa merapikan dirinya dan berkata pada Reigha, “Maaf, Pak. Nona Binar memaksa masuk ke dalam.”
Reigha yang sejak tadi kaget dengan kejadian pintu terdorong pun langsung mendekat pada Binar dan Puspa.
“Puspa, kembalilah ke mejamu, biar ini jadi urusan saya.” Mendengar hal tersebut, Puspa segera berlalu pergi dari ruangan Reigha.
“Hai, Sayang. Gimana kabar kamu? Pasti kamu kangen sama aku, ya?” tanya Binar dengan percaya dirinya.
“Mau apa lo kemari? Kita udah gak ada hubungan apa-apa!” seru Reigha.
“Jangan gitu dong, Sayang. Kemarin aku mutusin kamu karena syok aja lihat kamu gak bisa apa-apa. Tapi, sekarang aku kembali kesini. Aku tau kalau kamu masih cinta ‘kan sama aku,” kata Binar.
“Gak tau malu! Kata siapa gue cinta sama lo. Bukannya lo udah tau kalau aku udah nikah? Dan, lo ‘kan udah ketemu istri tercinta gue yang tentunya sangat cantik,” balas Reigha membuat Binar merotasikan bola matanya malas.
“Cantik dari mananya sih, kampungan gitu di bilang cantik!”
“Tutup mulut lo! Sekarang juga keluar dari ruangan ini!” bentak Reigha.
“Gha, kasih gue kesempatan untuk kita jalani lagi hubungan kita,” ucap Binar memohon.
“Jangan mimpi!” Reigha pun berjalan mendekat pada pintu dan membukakan pintu ruangannya. Kemudian, Reigha mengusir Binar begitu saja.
Binar yang diusir dari ruangan, dia keluar sambil marah-marah dan mengancam Reigha.
Reigha tak memperdulikan Binar. Reigha kembali masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi kebesarannya.
Bayu dan Anna baru saja sampai di lobby kantor dan mereka bertemu dengan Binar.
“Wah wah ... pagi-pagi ada yang nemuin suami orang ternyata,” sindir Bayu membuat Binar menatap Bayu dengan kesal.
“Lo cukup diam, dan gak usah ikut campur urusan gue!” seru Binar.
“Lo itu memang wanita gak tau malu, ya. Kemarin Reigha sakit, lo putusin. giliran dah sembuh, lo kejar-kejar,” ucap Bayu kembali membuat raut wajah Binar benar-benar kesal. Karena mendapat penolakan dari Reigha, dipermalukan pula di lobby kantor.
“Gue bilang, jangan ikut campur!” teriak Binar yang langsung mempercepat langkahnya keluar kantor.
Tak lama dari kepergian Binar, Delia tampak menghampiri Bayu dan Anna sembari berkata, “Selamat pagi, Bana.”
__ADS_1
“Lo ngomong sama siapa, Del?” tanya Bayu heran.
“Lah, gue nyapa lo berdua,” jawab Delia membuat Bayu dan Anna heran.
“Bana tuh singkatan nama kalian berdua, Bayu dan Anna,” imbuh Delia membuat Bayu ber-ooh ria.
“Emm ... Del, gu—gue minta maaf udah salah mengartikan lo,” ucap Anna pada Delia.
Delia pun merangkul Anna sembari berkata, “Udah, santai aja. Gue memaklumi kok.”
“Boleh kita berteman?” tawar Delia sembari mengulurkan tangannya.
“Boleh,” balas Anna membalas uluran tangan dari Delia.
Setelah itu, Delia pun pamit pada keduanya untuk masuk kembali ke dalam ruang kerjanya.
Dengan kepergian Delia, kini Bayu dan Anna pun berjalan masuk ke dalam lift.
Sampai di depan ruangan CEO, Bayu dan Anna berhenti di depan pintu.
“Na, aku ke ruangan Reigha sebentar, ya. Kamu langsung masuk duluan aja ke ruangan,” kata Bayu.
“Oh ... iya, Bang,” jawab Anna.
Anna bergegas masuk ke dalam ruangannya dan membuka ponselnya memberi pesan pada Shafa.
Setelah itu, Anna menyimpan ponselnya karena Shafa tampak sibuk belum membuka ponsel pagi ini.
Sementara di depan ruangan Reigha, Bayu tampak mendekati meja Puspa dan bertanya, “Binar tadi kenapa diizinkan masuk?”
“Bukan saya izinkan, Pak. Tapi, saya didorong hingga membuatnya berhasil masuk ke dalam ruangan Pak Reigha,” jawab Puspa jujur.
Bayu pun manggut-manggut, paham. Kemudian, Bayu masuk ke dalam ruangan Reigha.
“Gha, ngapain Binar pagi-pagi dah kesini?” tanya Bayu.
“Entahlah apa niatan dia. Buat mood gue jelek aja pagi-pagi,” jawab Reigha.
“Oh iya ... Bay, gue mau minta tolong semua meeting dan urusan kantor dimajukan hari ini dan besok, bisa?” imbuh Reigha bertanya pada Bayu.
“Oke, bisa.”
“Gue harus nemuin kolega di hotel tempat acara nikahan lo, di hotel blue star,” ucap Bayu.
__ADS_1
“Oh oke ... hati-hati, ya!” seru Reigha.
Bayu pun segera keluar dari ruangan Reigha. Bayu mendatangi ruangan Anna sembari berkata, “Sayang, aku harus pergi nemuin kolega. Kamu gapapa ‘kan kalau aku tinggal?”
“Gapapalah. hati-hati, ya,” ucap Anna yang diangguki oleh Bayu.
Bayu pun mengambil berkas di ruangannya dan bergegas keluar dari kantor menuju ke restoran hotel blue star tempat dia bertemu dengan kolega.
Sesampainya di restoran hotel, Bayu segera bertemu dan membicarakan mengenai pekerjaan.
Cukup lama pembicaraannya hingga kolega tersebut pamit terlebih dahulu karena ada urusan di kantornya.
Bayu masih di restoran hotel tersebut, tak di sangka, di restoran hotel itu Bayu melihat adanya tante Lucy dan anaknya. Bayu melihat keduanya tampak berbicara serius.
Akhirnya, Bayu segera berpindah tempat. Dia duduk tepat di belakang tante Lucy.
“Ma, gimana dong, Ma ... Rencana Papa dan Mama gagal total. Reigha sekarang udah sembuh dan udah kembali kerja. Sekarang, papa di penjara, bisa apa kita, Ma.” Cantika berkata lirih pada sang Mama yang tampak terlihat berpikir.
Tak lama, tante Lucy mengeluarkan suaranya, “Kamu tenang, Sayang. Mama masih punya rencana baru.”
“Besok kita ke rumah Reigha. Kita lihat dulu situasi di sana. Kalau ada kesempatan, kita bertindak,” lanjut ucapan tante Lucy.
“Emangnya, apa rencana Mama?” tanya Cantika yang penasaran.
“Mama mau ambil beberapa berkas penting Reigha di ruang kerja. Emm ... yuk ah, kita langsung ke rumah Reigha!” jawab tante Lucy dan mengajak Cantika segera meninggalkan restoran hotel tersebut.
Setelah mobil yang membawa tante Lucy pergi. Bayu segera menuju ke kantor untuk melaporkan kepada Reigha apa yang telah didengarnya. Saat di dalam mobil, bayu menelepon Mama Dhiya.
“Assalamualaikum, Ma. Mama masih di hotel atau udah di rumah?” tanya Bayu setelah memberi salam pada Mama Dhiya.
“Wa’alaikumussalam, Bayu. Ini Mama lagi di perjalanan mau pulang, Nak. Ada apa?” balas Mama Dhiya.
“Ma, Bayu mau minta tolong. Tolong ruang kerja Reigha dikunci, ya, Ma. Tolong jangan biarkan siapapun masuk ke ruang kerja Reigha, Ma.”
“Lho ... emang kenapa, Bayu?” tanya Mama Dhiya.
“Tadi kata Reigha, berkas di ruang kerja tercecer. Takutnya terbang keluar, Ma,” jawab Bayu membuat Mama Dhiya disebrang telpon manggut-manggut.
“Oh gitu ... yaudah nanti sampai rumah, Mama kunci ruang kerja Reigha. Kuncinya Mama titipkan ke Shafa, ya,” balas Mama Dhiya.
“Oke, Ma. Terima kasih,” ucap Bayu dan mematikan ponselnya.
Kini Bayu segera menuju ke kantor dengan cepat. Sesampainya di kantor, Bayu berlari kecil hingga sampai di ruangan Reigha.
__ADS_1
“Gha!” seru Bayu saat membuka pintu ruangan.
“Lo kenapa?” tanya Reigha santai tak berpaling netranya menatap laptop yang dihadapannya.