Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 54 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Ha? Masih masalah itu? Kirain dah selesai,” ucap Bayu kaget sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal kareba sejak tadi ditatap horor oleh Mama Dhiya.


“Bay, kamu itu peka dikit kenapa sih, Nak. Masa Anna pulang meeting seperti itu kamu gak tanyain?” tanya Mama Dhiya.


“Tapi, Ma ... tadi itu Bayu udah jelasin, Anna sepertinya gak mau dengerin Bayu,” jawab Bayu.


“Udah-udah ... Anna tadi udah Shafa kasih pengertian kok, Ma. Semoga Anna bisa mengerti,” ucap Shafa menengahi.


“Yaudah, yuk ke kamar istirahat, Sayang. Besok kita berangkat pagi,” kata Reigha mengajak istrinya menuju kamar.


“Iya, Mas. Ma, kami ke kamar ya,” ucap Shafa pada Reigha dan beralih pada Mama berpamitan menuju kamar.


“Iya, Nak. Selamat istirahat,” balas Mama Dhiya tersenyum pada keduanya.


“Bay, kamu cepat selesaikan masalah sama Anna, jangan berlarut-larut, Nak!” seru Mama Dhiya.


“Iya, Ma. Nanti Bayu akan ngobrol di halaman belakang sama Anna,” balas Bayu.


“Yaudah, Mama duluan ke kamar ya,” ucap Mama Dhiya.


“Oke, Ma. Selamat malam.” Melihat Mama udah berjalan menuju kamar, Bayu pun segera berjalan menuju kamar tamu menghampiri Anna.


Tok...Tok...Tok...


“Na, udah tidur?” tanya Bayu yang di depan pintu kamar tamu.


Anna pun segera membuka pintunya, “Iya, Bang. Ada apa?” tanya Anna.


“Na, kamu udah ngantuk apa belum? Kalau belum, temani Abang di taman belakang yuk,” ajak Bayu yang diangguki oleh Anna.


Anna pun segera menutup pintu kamar dan mengikuti langkah Bayu ke taman belakang. Mereka pun duduk berhadapan.


“Kamu kenapa, Na? Ada masalah apa?” tanya Bayu sambil memegang tangan Anna.


“Gak ada apa-apa kok, Bang. Anna cuma capek aja,” ucap Anna mengelak.


“Na, satu yang perlu kamu tau. Aku gak pernah main-main sama hubungan ini. Abang serius mau melamar kamu, karena Abang cinta banget sama kamu, Na. Jadi, tolong hilangkan perasaan dan prasangka kamu yang akan buat kamu sakit hati,” ucap Bayu meyakinkan Anna.


“Atau, kalau kamu mau, kita gak usah lamaran, kita langsung nikah. Gimana?” imbuh Bayu bertanya pada Anna.


“Bang, Anna hanya takut kehilangan Abang. Karena, Anna tau dan sadar kalau Anna banyak kekurangannya,” kata Anna hingga tak sadar kalau menitikkan air matanya.


“Baiklah. Biar kamu menghilangkan pikiran itu, Abang mau setelah Reigha dan Shafa pulang bulan madu, kita nikah. Jadi, selama mereka bulan madu, kamu dan Mama persiapkan pernikahan kita. Tolong ... abang gak mau kamu berpikiran seperti itu. Kita punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi, biarkan kita saling menutupi kekurangan kita dengan kelebihan kita, Na,” ucap Bayu panjang.


Anna pun terharu dan memeluk Bayu, “Maafin Anna ya, Bang. Anna cinta banget sama Abang, Anna takut kalau Abang tergoda sama Ivanka,” balas Anna dalam pelukan Bayu.


“Udah, gak usah nangis, Na. Abang juga cinta sama kamu. Tolong percaya, Abang gak akan tergoda sama wanita mana pun. Karena, di hati Abang udah ada kamu, Na,” ucap Bayu sambil mencium kening Anna.

__ADS_1


“Udah, ya ... ini udah malam. Ayo kita istirahat. Besok pagi, kita harus antar Reigha dan Shafa ke bandara,” lanjut ucapan Bayu yang diangguki oleh Anna.


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar mereka masing-masing.


Di tempat lain, tepatnya di kamar Reigha, tampak Shafa yang begitu cemas.


“Kok belum tidur sih, Sayang?” tanya Reigha yang melihat Shafa tak nyaman dengan posisinya.


Shafa membalikkan badannya menatap pada Reigha yang berbaring di sampingnya sembari berkata, “Mas, Shafa besok gimana ya ... jujur, Shafa takut naik pesawat.”


“Gak perlu takut, Sayang ... ada Mas kok, besok tenang aja ya,” kata Reigha menenangkan istrinya.


“Emangnya Mas gak malu kalau besok Shafa sampai mabuk udara?” tanya Shafa.


“Mas gak akan malu, Sayang. Tenangkan diri kamu, ya. Ayo sekarang tidur, biar besok kita lebih fresh,” balas Reigha sambil memeluk Shafa.


Akhirnya mereka berdua pun tertidur.


***


Pagi pun tiba, setelah sholat subuh berjama'ah, Reigha dan Shafa pun keluar dengan dua koper yang berada di tangan Reigha.


“Udah siap semua, Nak? Dicek lagi, nanti ada yang ketinggalan,” ucap Mama Dhiya saat melihat Reigha dan Shafa datang menghampirinya.


“InsyaaAllah udah semua, Ma,” balas Reigha.


“Belum keluar dari kamar sih. Coba kamu cek sana!” jawab Mama Dhiya.


“Sayang, Mas ke kamar Bayu bentar, ya,” ucap Reigha mengecup singkat dahi Shafa dan segera pergi ke kamar Bayu.


Mama Dhiya menarik lengan Shafa hingga duduk di sofa ruang tamu sembari berkata, “Kayaknya Reigha makin nempel aja sama kamu, Nak.”


“Kalian jangan lupakan pesanan Mama, ya,” imbuh Mama Dhiya membuat pipi Shafa bersemu merah.


“Emm ... InsyaaAllah gak lupa, Ma,” balas Shafa lirih yang tampaknya tengah malu pada Mama Dhiya.


“Yaudah, kamu ke kamar Anna gih, cek Anna udah siap atau belum,” ucap Mama Dhiya yang segera diangguki oleh Shafa.


Shafa pun bergegas menuju kamar Anna.


Sementara di kamar Bayu Reigha duduk di kasur Bayu sembari bertanya pada Bayu yang tengah melipat sajadahnya, “Bay, lo udah siap?”


“Ini baru selesai sholat subuh, Gha. Gue siapin mobil dulu ya, loe tunggu di depan!” seru Bayu.


“Oke, gue panggil istri gue trus sekalian pamit Mama,” balas Reigha yang segera keluar dari kamar Bayu.


Di kamar Anna, Anna tampak sudah siap dan keluar bersama Shafa menuju ruang tamu.

__ADS_1


“Na, gimana kemarin sama Bayu? Udah selesai ‘kan?” tanya Shafa.


“Alhamdulillah udah kok, Fa. Makasih ya. Lo selalu perhatian ke gue,” jawab Anna merangkul Shafa.


“Pastilah, Na. Kita kan udah lama bestie-an. Baik-baik ya lo selama gue pergi. Titip Mama Dhiya, kalau bisa lo temani aja Mama dengan lo nginap di sini gapapa, ‘kan? Gue cuma gak mau Mama kesepian, Na,” ucap Shafa.


“Emangnya ... gapapa, Fa?” tanya Anna.


“Nanti coba gue bilang ke Mama. Semoga aja gapapa, ya,” balas Shafa yang membuat Anna mengangguk mengiyakan.


Di ruang tamu, Mama udah tampak menunggu. Kemudian Shafa dan Anna datang menghampiri Mama dan duduk di kanan kiri Mama Dhiya.


“Ma, Mama ikut ke bandara?” tanya Shafa.


“Gak usah deh, Fa. Biar Bayu dan Anna aja yang antar. Gapapa ‘kan?” jawab Mama Dhiya.


“Gapapa kok, Ma. Nanti Mama istirahat, ya. Oh iya, Ma ... boleh hak kalau selama kami pergi, Anna nginap di sini nemani Mama?” tanya Shafa.


“Ya ... pasti boleh dong, Fa. Malah Mama senang ada temannya,” jawab Mama Dhiya hingga membuat Shafa dan Anna saling tatap dan melemparkan senyuman.


“Tuh, Na ... boleh kok sama Mama. Tolong jagain Mama selama kami pergi, ya, Na,” ucap Shafa yang diangguki oleh Anna dan membuat Mama Dhiya tersenyum karena perhatian kecil yang Shafa berikan padanya.


“Terima kasih, Tante!” seru Anna.


“Na, gak perlu formal gitu, bentar lagi kan kamu juga jadi mantu Mama,” kata Mama Dhiya sambil tersenyum.


Tak lama, Reigha datang dan berkata, “Yuk, Sayang. Bayu udah nunggu di depan.”


“Ma, kami pergi dulu, ya ... Mama baik-baik di rumah,” ucap Reigha berpamitan.


“Kalian hati-hati. Kabari Mama kalau udah sampai tujuan!” seru Mama yang diangguki oleh Reigha dan juga Shafa.


Reigha, Shafa, dan Anna bersalaman pada Mama Dhiya. Kemudian, mereka segera masuk ke dalam mobil yang tentunya di dalam sudah ada Bayu.


Saat semua barang sudah masuk, dan semuanya sudah siap, Bayu pun melajukan mobilnya melintasi jalan raya menuju ke bandara.


Selama di perjalanan, mereka pun mengobrol, “Bay, titip kantor selama gue pergi, ya. Dan, titip Mama juga.”


“Gha, Gha ... kayak mau pergi berapa tahun aja lo,” ucap Bayu sambil menyetir.


“Dulu waktu lo sakit emang siapa yang ngurus kantor?” imbuh Bayu.


“Iya, gue paham. Lo emang selalu bisa gue andalkan sebagai adik, sebagai teman juga,” ucap Reigha membuat Bayu tersenyum bersyukur.


Kini tibalah mereka di bandara, mereka berdua pun langsung check-in. Sambil menunggu, mereka bertempat ngobrol di ruang tunggu.


Tak di sangka, ternyata ada Ivanka di tempat yang sama. Tak sungkan, Ivanka pun segera menghampiri dan menyapa.

__ADS_1


“Selamat pagi, Pak Bayu. Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” ucap Ivanka menyapa.


__ADS_2