Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 71 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Nak Bayu gak betah ya tinggal di rumah budhe?” tanya Budhe dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.


“Bukan, Budhe. Bukan karena itu, besok kami berdua mau bulan madu,” jawab Bayu.


“Walah, bulan madu toh, ya wes gapapa kalau gitu,” balas budhe tersenyum gembira.


Anna pun selesai mencuci piring segera menghampiri budhe dan Bayu yang beberapa jam lalu telah sah menjadi suaminya.


“Udah, Sayang? Yuk kita istirahat. Besok dijemput Reigha subuh,” ucap Bayu yang diangguki oleh Anna.


“Dhe, budhe istirahat ya, kami mau packing baju trus istirahat” titah Anna pada Budhe.


“Yaudah, budhe istirahat dulu ya. Na, tolong lihat dulu itu pintu dan jendelanya, takut ada yang belum dikunci,” ujar budhe.


“Iya, Budhe, nanti Anna cek semua.”


Budhe berjalan menuju kamarnya meninggalkan sepasang suami istri baru itu.


“Bang, Abang masuk ke kamar dulu ya, Anna mau cek jendela dan pintu dulu,” ucap Anna saat melihat Budhe berlalu pergi.


“Iya, Sayang. Abang tunggu di kamar,” balas Bayu.


Anna pun segera mengecek pintu dan jendela setelah di rasa yakin udah terkunci semua, barulah Anna masuk kamar.


“Lagi ngapain sih, Bang?” tanya Anna.


“Oh, ini lagi packing barang ‘kan besok berangkat pagi,” jawab Bayu sesekali menoleh menatap istrinya.


“Biar Anna bantu ya, Bang, apa lagi nih yang belum masuk?” tanya Anna.


“Udah semua kok, Sayang, sekarang kita istirahat. Hari ini sangat menegangkan, capek Abang,” jawab Bayu mengajak Anna beristirahat.


Mereka pun akhirnya sepakat untuk tidur. Karena, besok harus ke bandara pagi, takutnya kesiangan.


Keesokan paginya, setelah sholat subuh Reigha serefa bersiap untuk mengantar Bayu ke bandara. Hanya saja, Reigha menunggu Shafa yang belum selesai berdandannya.


“Sayang, masih lama? Kita udah ditunggu Bayu lo,” tanya Reigha.


“Bentar lagi, Mas. Tinggal pakai lipstik doang,” jawab Shafa.


“Sayang, bentarnya seorang wanita kalau berdandan tuh lama loh,” gerutu Reigha yang tentu masih didengar oleh Shafa.


Tak lama, Shafa pun telah siap. Shafa menghampiri Reigha yang tampak bosan menunggu.


“Untung istri gue,” lirih Reigha.


“Bilang apa, Mas?” tanya Shafa.

__ADS_1


“Eh, enggak, Sayang. Itu tadi emm ... Bayu tuh, untung dah punya istri.” Reigha menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Setelah selesai dengan perdebatannya, mereka pun segera keluar dan pergi ke rumah budhe.


Sesampainya di rumah budhe, ternyata Bayu dan juga Anna udah menunggu di luar.


Reigha dan Shafa turun dan berpamitan pada Budhe sebelum mengantar pengantin baru ke bandara.


“Wow, pengantin baru udah g sabar ternyata, gak bisa tidur lo, Bay?” tanya Reigha menggoda pengantin baru.


“Bukannya kami yang gak sabar, tapi kalian kelamaan!” sungut Bayu segera membukakan pintu agar Anna terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.


“Yakin lo gak sabar buat honeymoon, Bay. Hmm?” tanya Reigha kembali saat Bayu sudah masuk ke dalam mobil.


“Udahlah, gak usah ngejek lo. Emangnya kemarin waktu mau honeymoon, lo gak gitu?”


“Enggaklah, sebelumnya gue ‘kan udah nikah sama Shafa,” balas Reigha.


“Heleh, tapi belah durennya ‘kan di Singapore, ngaku deh lo!” seru Bayu membuat Reigha kicep seketika.


Reigha hanya cengengesan membalas ucapan Bayu.


“Bay, inget. Lo harus jagain sahabat gue!” seru Shafa.


“Pastilah, Fa. Gue bakal jaga ekstra,” balas Bayu membuat pipi Anna merona.


“Oke, nanti biar gue yang urus.”


Tak lama, mereka sudah sampai di bandara. Reigha membantu Bayu menurunkan barang-barang. Sementara Shafa dan Anna tengah cepika-cepiki di mobil.


“Bay, lo sama Anna langsung check-in gue langsung pulang aja, ya ... ‘kan bentar lagi lo berangkat,” titah Reigha.


“Yaudah kalau gitu, gue masuk dulu ya,” ujar Bayu sambil meluk Reigha ala laki-laki.


“Yok, Sayang!” ajak Bayu membuat Anna dan Shafa melepaskan pelukan mereka dan segera Anna mengikuti langkah suaminya.


Setelah Bayy dan Anna masuk bandara, Reigha dan Shafa pun segera meninggalkan bandara.


Sesampainya di rumah, Reigha bersiap-siap pergi ke kantor.


Saat Shafa memakaikan dasi Reigha, “Sayang, gimana kalau selama Bayu pergi, kamu temani Mas di kantor?”


“Boleh, Mas. Emm ... tapi, gak bisa berangkat pagi ya, Mas, Shafa nyusul aja. Soalnya, Shafa harus bantu Mama dulu di rumah,” jawab Shafa.


“Sayang, ‘kan ada Mbok Nah, biarin Mbok Nah aja yang bantu Mama,” ucap Reigha dengan raut wajah seakan memelas.


“Yaudah kalau emang itu maunya Mas, Shafa nurut,” balas Shafa yang membuat

__ADS_1


“Gitu dong, Sayang, apa kata suami tuh, nurut. Emang istri solehahnya Mas,” kata Reigha sambil menoel hidung Shafa.


Mereka pun segera ke meja makan untuk sarapan, Mama Dhiya dan Papa Harun juga menuju ke ruang makan.


Selesai sarapan, Papa Harun mengajak ngobrol Reigha sebentar, sementara Shafa dan Mama Dhiya membereskan meja makan dan pergi ke dapur.


“Gha, Bayu udah jadi berangkat hari ini? Kamu gmn? Jadi ke Surabayanya?” tanya Papa Harun bertubi-tubi.


“Bayu udah berangkat, Pa. Tadi Reigha dan Shafa yang ngantar. Oh iya, Pa, untuk ke Surabayanya kapan?” jawab Reigha sembari bertanya kembali.


“Rencananya sih minggu depan, coba lihat jadwal kamu, Nak. Mau kamu percepatan atau sesuai rencana aja,” jawab Papa Harun yang membuat Reigha manggut-manggut.


“Oke. Kalau gitu, nanti Reigha tanya ke Puspa dulu deh, Pa. Minggu ini dan minggu depan waktu kosongnya di hari apa,” balas Reigha.


“Yaudah. Kalau gitu, Papa berangkat dulu,” pamit Papa segera menuju dapur untuk pamit pada Mama Dhiya.


Reigha pun segera masuk ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Shafa masuk ke kamar juga mau bersiap karena hari ini Shafa ikut Reigha ke kantor.


“Suamiku, ini tasnya. Yuk kita keluar,” titah Shafa seraya mengulurkan tangannya memberikan tas kerja Reigha.


“Makasih ya, Sayang.” Reigha merangkul Shafa dan berpamitan pada Mama Dhiya.


“Ma, Reigha dan Shafa ke kantor ya,” ucap Reigha berpamitan.


“Lho, ngapain Shafa ikut, Gha? di rumah aja nemenin Mama,” tanya Mama Dhiya.


“Ma, selama Bayu honeymoon, biarkan menantu Mama yang cantik ini menemani suaminya di kantor ya, Ma,” jawab Reigha membuat Mama Dhiya memaklumi Reigha yang udah terlanjur bucin akut pada istrinya.


“Owh, yaudah deh. Hati-hati ya, Fa,” ucap Mama Dhiya membuat Reigha mengernyit.


“Kok Shafa aja, Ma?” protes Reigha.


“Kan kesayangan Mama!” seru Mama Dhiya.


“Ma, tanpa adanya Reigha, gak mungkin Shafa bisa hadir menjadi keluarga kita,” ucap Reigha.


“Iya deh, iya. Hati-hati anak-anak Mama. Semangat kerjanya, ya, Nak,” ujar Mama Dhiya membuat Reigha dan Shafa tersenyum bersamaan.


Reigha dan Shafa segera mencium tangan Mama Dhiya. Kemudian, berjalan keluar rumah, masuk ke dalam mobil dan segera melajukannya menuju kantor.


Sesampainya di kantor, Reigha dan Shafa masuk sambil bergandengan tangan. Semua karyawan melihat dengan tatapan yang berbeda. Ada yang iri sama Shafa, dan ada yang senang melihat keharmonisan pasangan tersebut.


Sampai mereka memasuki lift menuju ruang CEO. Keluar dari lift, Puspa ternyata udah datang, dirinya yang mengetahui kedatangan Reigha, segera berdiri sembari mempersiapkan beberapa berkas untuk dibawanya masuk ke dalam ruangan Reigha.


Setelah Reigha dan Shafa masuk ruangan, Puspa segera mengikuti masuk ke ruangan untuk memberikan berkas seraya membacakan jadwal hari ini.


Selesai membacakan jadwal, Puspa kembali ke meja kerjanya. Namun, langkah puspa dihentikan oleh Reigha.

__ADS_1


“Tunggu, Puspa ... ”


__ADS_2