
“Lho, Ayah!” teriak Shafa sembari menautkan kedua alisnya, bingung.
Ayah Reynand pun tersenyum, “Iya, Nak. Ini Ayah.”
“Jadi, ini yang jualan Ayah? Sejak kapan?” tanya Shafa.
“Baru dua hari kemarin Ayah bukanya, Nak,” jawab Ayah Reynand.
“Fa, emang waktu masuk tadi, kamu gak lihat, ada palang besar bertuliskan, ‘NASI GORENG REYNAND’ di depan?” tanya Reigha.
“Tadi tuh Shafa gak lihat, Mas. Shafa langsung masuk aja. Karena, Shafa penasaran siapa yang jadi saingan ayah,” jawab Shafa sembari tertawa kecil.
“Iya, Nak. Ini yang belikan suami kamu. Nak Reigha gak mau Ayah kecapean karena harus keliling setiap hari,” ucap Ayah membuat mata Shafa membulat sempurna dan berhambur pada pelukan Reigha.
“Mas, terima kasih Mas udah baik banget sama Shafa dan keluarga Shafa juga,” ucap Shafa dalam pelukan Reigha.
“Iya, Sayang. Sama-sama. Kamu juga udah sangat baik dan telaten merawat Mas selama ini sampai sekarang Mas udah dinyatakan sembuh,” balas Reigha sembari mengusap kepala Shafa yang terlapisi oleh hijab.
“Yaudah, sekarang Ayah siapkan dulu nasi gorengnya,” ucap Ayah yang diangguki oleh keduanya.
“Terima kasih, Ayah.
Saat Ayah sudah pergi dari meja, Shafa mulai bertanya kembali pada Reigha, “Mas, Shafa masih heran deh. Kok bisa Mas beliin ruko Ayah. Padahal ‘kan Mas selama ini di rumah aja. Kalaupun keluar, pasti sama Shafa,” ucap Shafa sembari menautkan kedua alisnya, bingung.
“Iya ... ‘kan Mas bisa minta tolong ke Bayu, Sayang. Dia pasti bisa milih mana tempat yang bagus untuk jualan,” balas Reigha membuat Shafa manggut-manggut, paham.
“Berarti, Shafa juga harus bilang terima kasih ke Bayu. Emm ... Mas, bisa gak kalau Mas suruh Bayu ke sini? Shafa mau bilang terima kasih dan juga supaya Bayu bisa cobain nasi goreng Ayah,” ucap Shafa.
“Gak perlu, Sayang,” balas Reigha.
Shafa kembali heran dengan Reigha sampai berpikiran kalau Bayu dan suaminya sedang ada masalah. Perlahan, Shafa kembali bertanya, “Kok gak perlu, Mas?”
“Iya, gak perlu, Sayang. Kamu lihat deh itu, siapa yang lagi bantu Ayah,” ucapan Reigha mampu membuat Shafa menoleh.
“Hah, Bayu. Kok bisa sih Bayu udah ada di sini aja, Mas?”
Reigha tersenyum dan berkata, “Iya, Sayang. Bayu dari kemarin bantuin Ayah jualan.”
Bayu yang tau Shafa dan Reigha membicarakannya pun langsung menghampiri meja keduanya.
“Hayo, kalian ngomongin gue, ya?”
“Eh, Bayu. Makasih banyak atas bantuan lo, ya,” ucap Shafa sembari tersenyum.
“Iya, Fa. Udah, santai aja. Eh, tapi ini semua gak gratis loh!” seru Bayu mengangkat kedua alisnya.
Reigha yang mendengar hal itu pun langsung bertanya, “Lah, Bay. Emang gaji yang gue kasih ke lo masih kurang?”
“Bukan gitu, Gha. Gue ‘kan gantian minta tolong ke Nyonya Reigha Zavier Abqari, bukan ke lo!” seru Bayu membuat Reigha pun mengatupkan mulutnya.
“Mau minta tolong apa emangnya?” tanya Shafa.
“Fa, tolongin gue dong. Emm ... tanyain gimana perasaan Anna sama gue. Jujur, gue pengen nembak Anna. Tapi, gue ragu takutnya Anna gak ada perasaan ke gue,” jawab Bayu.
“Owalah ... kalau masalah itu serahkan ke aku. Sebesar mungkin pasti nanti aku bantu,” ucap Shafa.
__ADS_1
“Oke, Fa. Makasih, ya,” kata Bayu sembari memegang tangan Shafa.
“Iya, sama-sama.”
Netra Reigha menangkap pada tangan Bayu yang masih diatas tangan Shafa, “Bay, lo mau tangan lo gue patahin?” tanya Reigha sembari menatap tajam.
Dan Bayu pun segere lepaskan tangan tangannya yang masih diatas tangan Shafa, “Gha gha, masa gitu aja udah marah. ‘Kan gue cuma megang dikit.”
“Dikit-dikit ... nanti lo kebiasaan. Yang boleh megang Shafa cuma gue!” seru Reigha.
“Dasar suami posesif!” celetuk Bayu yang tak dihiraukan oleh Reigha. Sementara Shafa hanya tertawa kecil melihat kelakuan keduanya.
Ayah pun datang membawa 3 piring nasi goreng seraya berkata, “Silakan dicoba, ya.”
“Makasih, Ayah,” ucap Reigha dan Shafa bersamaan.
“Makasih, Om. Padahal saya mah masih lama di sini. Udah dibuatin aja,” ucap Bayu tak enak.
“Gapapa. Nanti makan lagi, Nak Bayu,” balas Ayah Reynand yang langsung membuat Bayu berbinar.
“Gak nolak, Om!” Ayah yang mendengar ucapan Bayu pun tersenyum.
“Yaudah, Ayah tinggal dulu. Lagi ramai banget ini,” ucap Ayah.
“Nah, itu Ibu juga baru datang,” lanjut ucapan Ayah berlalu pergi kembali membuat nasi goreng untuk para pembeli yang sudah antri.
“Iya, Ayah,” ucap Shafa.
Mereka bertiga makan dengan lahapnya. Beberapa menit kemudian, Ibu Khalisa datang membawakan tiga teh hangat, “Ini minumnya, ya, Nak.”
“Makasih, Bu,” ucap Reigha yang merasa senang. Padahal Ayah dan Ibu sedang sibuk karena antrean ramai, tapi malah tetap melayani anak dan juga menantunya ditengah kesibukan keduanya.
“Fa, gak malu tuh dilihat suami kamu, Nak?”
Reigha pun tersenyum melihat Shafa yang begitu manja dengan sang Ibu.
“Hmm ... baru juga satu minggu gak ketemu, Nak,” lanjut ucapan Ibu Khalisa.
Shafa yang mendengarnya pun merucutkan bibirnya.
“Yaudah. Kapan main ke rumah Ibu? Nanti Ibu masakin kesukaan Shafa,” ucap Ibu Khalisa membuat bibir Shafa tertarik membuat senyuman yang manis pada wajahnya.
“Iya, Bu. Nanti kalau Mas Reigha ada waktu. Karena, sepertinya Mas Reigha akan mulai masuk kerja lagi,” balas Shafa.
“Oh, ya udah nanti klo mau ke rumah ibu kabari dulu,” ucap Ibu Khalisa yang diangguki oleh Shafa.
Ibu pun bergegas pergi kembali membantu Ayah untuk melayani pembeli.
Cukup lama hingga pembeli sudah mulai sepi, tepat pula dengan Reigha, Shafa, dan Bayu yang telah selesai makan nasi goreng.
Reigha dan Shafa pun segera pamit. Tapi, tidak dengan Bayu. Dia masih mau membantu Ayah Reynand di ruko kemudian akan langsung ke kantor.
“Yah, Bu, kami pamit pulang duluan, ya,” ucap Shafa berpamitan.
“Oh ... langsung pulang, ya. Gak di sini dulu?” balas Ayah Reynand bertanya pada Shafa.
__ADS_1
“Lain kali kami mampir lagi, Yah!” seru Shafa sembari mengembangkan senyumnya.
“Terima kasih banyak, Nak Reigha,” ucap Ayah.
“Sama-sama, Yah ... jangan terima kasih terus dong, Yah. Reigha kan anak ayah juga. Ini adalah salah satu bukti bakti anak kepada orang tuanya,” balas Reigha.
Ibu Khalisha pun datang menghampiri Shafa dan Reigha membawakan beberapa bungkus nasi goreng, “Nak, ini nasi goreng di bawa pulang, ya.”
“Ibu ini selalu repot-repot kalau ada Shafa!” celetuk Shafa.
“Gak repot kok, Nak. Nih, diterima, ya.” Shafa pun mengangguk dan menerima bungkusan nasi goreng yang diberikan oleh sang ibu.
“Makasih, Bu,” ucap Reigha tersenyum.
“Kalau gitu, kami pamit, Yah ... Bu,” lanjut ucapan Reigha berpamitan.
Keduanya bersalaman dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju cepat melintasi jalan raya yang cukup ramai, hingga membuat waktu tersita karena kemacetan.
Sesampainya di rumah, Mama Dhiya tampak menunggu kehadiran Reigha dan Shafa. Sejak kepergian Papa Harun keluar kota, membuat Mama Dhiya sangat bosan jika selalu berada di rumah.
Reigha bertemu Mama Dhiya di depan rumah.
“Ma, kita ngobrol dulu di ruang tamu, bisa?” tanya Reigha.
“Bisa dong, Gha. Mau ngobrol apa?” jawab Mama Dhiya sembari bertanya kembali.
“Sebentar, ya, Ma. Kita tunggu Shafa dulu,” balas Reigha membuat Mama Dhiya mengangguk.
Mereka pun duduk sambil menunggu Shafa yang masih di luar untuk menunggu Farhan di depan garasi mobil.
“Farhan, ini bawa nasi goreng untuk keluarga di rumah. Dan, mulai besok bisa gak tiap pagi ke sini. Karena, sepertinya Mas Reigha udah mulai kerja,” ucap Shafa.
“Oh gitu ... bisa kok, Fa.” Farhan mengangguk paham.
“Makasih, ya. Klo gitu udah bisa pulang, Han.”
“Oke, Fa.” Farhan mengambil motornya dan segera keluar dari pekarangan rumah Papa Harun.
Melihat kepergian Farhan, Shafa pun langsung masuk ke dalam rumah. Shafa melihat Reigha dan Mama Dhiya yang duduk di ruang tamu. Shafa bergegas menghampiri Mama Dhiya dan mencium tangan mertuanya.
“Fa, bawa apa itu, kok baunya sedap banget?” tanya Mama Dhiya yang penasaran.
“Ini, Ma. Shafa bawa nasi goreng buatan Ayah. Mama mau? Kalau mau, Shafa ambilkan piring, ya,” jawab Shafa sembari menawarkan.
“Boleh deh, Fa. Tolong taruh di meja makan dulu,” balas Mama Dhiya.
“Baik, Ma.” Shafa berjalan menuju ruang makan. Namun, saat Shafa hendak melangkah, Reigha memanggil.
“Sayang, nanti kalau udah, langsung ke sini, ya,” ucap Reigha menghentikan langkah Shafa.
“Iya, Mas,” balas Shafa yang langsung bergegas ke ruang makan. Mengambil piring dan menaruh bungkusan nasi goreng diatasnya.
Tak lama kemudian, Shafa udah kembali dan kini tengah duduk di ruang tamu, tepat disebelah Reigha.
__ADS_1
“Ada apa sih, Mas?” tanya Shafa.
“Iya nih. Ada apa, Gha? Tumben banget ngajak ngobrol di jam segini,” imbuh Mama Dhiya yang ikut bertanya pada Reigha.