
“Tapi ... kok lama, ya, Pak?” tanya Anna membuat Reigha mengulurkan tangannya mengambil ponsel yang sejak tadi diletakkan disudut meja agar lebih terdengar suara Anna.
Sekarang Reigha mempunyai satu bukti kalau Anna mencari keberadaan Bayu. Suara Anna yang direkamnya, langsung dikirim ke nomor Bayu.
“Sebentar, gue telpon Bayu,” ucap Reigha.
“Tapi, jangan bilang saya yang nyari, ya, Pak,” balas Anna yang diangguki oleh Reigha.
Kini Delia berdua di mobil bersama Bayu. Delia menatap heran dengan Bayu yang ada di sampingnya, “Bay, bentar deh. Kalau lo jemput gue, cewek lo gak marah ‘kan?”
“Semoga aja enggak,” jawab Bayu seadanya.
“Lo ada masalah, Bay? Gue bisa bantu lo. Karena, lo udah baik banget sama gue. Jadi, gue mau bantu menyelesaikan apa masalah lo, buruan cerita!” seru Delia.
Bayu pun menyetir mobil sambil menceritakan soal Anna dan juga rencana Reigha.
“Gitu doang? Oke, gue mau kok bantu lo menjalankan rencana yang lo bilang,” ucap Delia mengangguk mantap.
Saat di perjalanan, tiba-tiba ponsel Bayu berbunyi. Bayu menerima panggilan dari Reigha. Saat panggilan terhubung, Reigha menyalakan speaker agar Anna mendengarnya, begitu juga dengan Bayu agar Delia mendengarnya.
“Bay, lo dimana? Kok lama?” tanya Reigha.
“Ini lagi perjalanan ke kantor, gue sama Delia nih bentar lagi sampai,” jawab Bayu.
“Oh iya, buruan gue tunggu!” seru Reigha.
Bayu pun memberi kode agar Delia segera mengeluarkan suaranya.
“Bay, lagi telpon sama siapa sih?” tanya Delia begitu dekat suaranya dengan ponsel Bayu.
Anna yang mendengarnya langsung berpikiran negatif dan segera keluar ruangan Reigha tanpa pamit.
“Anna udah keluar, Gha. Ini bukti kedua buat lo!” seru Reigha menutup telponnya.
Bayu tersenyum smirk.
‘Ini baru awal, Na. Gue belum percaya penuh apakah lo emang ada perasaan buat gue,’ batin Bayu.
Sesampainya Bayu dan Delia di kantor, Bayu membukakan pintu untuk Delia. Hal tersebut tentu dilihat oleh karyawan yang berada di lobby.
“Eh, tuh lihat Pak Bayu bawa siapa tuh. Pakai dibukain pintu segala!” celetuk Yola didengar oleh Anna yang tengah berada di resepsionis.
Anna hanya menoleh dan memperhatikan Delia dari kejauhan yang tertawa bersama dengan Bayu seakan tak ada beban apapun yang dirasakan oleh Bayu.
Anna yang malas melihat keduanya pun langsung bergegas menuju lift. Saat di dalam lift, Anna memencet tombol lift yang akan mengantarkan dirinya menuju ruangan CEO.
Anna heran kenapa lift tak kunjung jalan, malah pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Bayu dan Delia yang melangkah masuk ke dalam lift.
Kini dalam lift ada tiga orang, Anna yang hendak melangkah keluar, ditahan oleh Bayu, “Mau kemana, Na?”
“Maaf, Pak. Saya mau ke Cafe depan kantor,” jawab Anna.
Lagi-lagi Anna yang hendak keluar ditahan oleh Bayu, “Bukannya ini jam kerja?”
__ADS_1
Anna diam tak menjawab. Anna tak jadi keluar lift dan melihat pemandangan didepannya yang sangat dekat jarak keduanya.
Saat pintu lift terbuka, Anna segera berjalan meninggalkan Bayu dan Delia.
Anna menuju ke ruangannya. Sementara Bayu dan Delia berjalan menuju ruangan Reigha.
Di sore harinya, Anna tampak keluar dari ruangannya bersamaan dengan Bayu.
“Permisi, Pak,” ucap Anna melewati Bayu begitu saja.
Ternyata saat di depan lift, Anna bertemu dengan Reigha yang menunggu lift terbuka.
Saat lift terbuka, Reigha dan Anna masuk bersamaan disusul oleh Bayu.
“Gha, lo langsung balik duluan aja sama Farhan. Gue harus antar Delia dulu,” ucap Bayu yang telah keluar dari lift dan buru-buru menghampiri Delia di ruangannya.
Reigha menoleh ke belakang melihat Anna yang melirik Bayu dengan tatapan sendu.
“Na, ayo gue antar pulang bersama Farhan,” ucap Reigha.
“Maaf, Pak. Gue pulang naik taksi aja,” balas Anna berjalan melalui Reigha.
“Gue harus bilang gimana ke Shafa?” lirih Reigha membuat langkah Anna terhenti.
Akhirnya Anna pulang bersama Reigha. Anna duduk di belakang. Sementara Reigha duduk di depan bersama Farhan.
Saat diperjalanan, Anna hanya diam saja. Namun, tak lama, Anna pun mengeluarkan suaranya.
“Kata Bayu, lo gak nerima dia. Mungkin dia mau mencoba mencintai orang lain, Na,” ucap Reigha membuat Anna geram.
“Tapi, ‘kan setidaknya dia memberi Anna waktu,” balas Anna dengan nada seperti menahan tangisnya.
“Maaf, Na. Gue gak bisa ikut campur lebih dalam. Yang jelasnya, gue ingat Bayu cerita kalau lo bilang Bayu akan mendapatkan yang sepadan,” balas Reigha membuat Anna bungkam.
Sesampainya di rumah budhe, Anna mengucapkan terima kasih dan turun dari mobil.
Farhan pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah Papa Harun.
Reigha segera mengambil ponselnya menghubungi Bayu, “Bay, lo dimana? Udah pulang dari antar Delia?”
“Gue di rumah. Gue tadi langsung pulang karena Delia mau pulang naik taksi aja,” jawab Bayu.
“Oh ... oke. Ini gue baru aja nurunin Anna. Sekarang, perjalanan pulang ke rumah,” balas Reigha menutup telponnya.
Sesampainya di rumah, Reigha berjalan masuk ke dalam rumah dan mendapati Bayu yang menunggunya di ruang tamu.
“Lo nanti temenin gue makan malam, ya. Bareng Shafa dan Anna juga!” seru Reigha.
“Gaklah. Capek banget gue,” ucap Bayu.
“Bay, sejak kapan lo bisa bantah perintah gue?” tanya Reigha.
“Gha, please tolong ngerti gue, ya. Gue males hari ini keluar, gue capek,” balas Bayu.
__ADS_1
“Bay, untuk malam ini lo harus temani gue, dan gue gak terima penolakan.” Reigha melangkah masuk ke dalam kamar meninggalkan Bayu sendirian di ruang tamu.
Sesampainya di kamar, Reigha mendekat pada Shafa yang tengah duduk di sofa sembari membaca novel online di ponselnya.
“Assalamu’alaikum, Sayang,” ucap Reigha.
“Wa’alaikumussalam, Mas,” balas Shafa menarik tangan Reigha dan mengalaminya.
“Sayang, kamu udah kabari Anna untuk ajakin makan malam?” tanya Reigha yang tengah duduk di samping Shafa.
“Oh iya ... lupa. Sebentar, ya, Mas,” ucap Shafa yang langsung mengalihkan layar aplikasinya.
Shafa pun memencet tombol telpon pada kontak Anna. Saat panggilan terhubung ...
“Na, lo nanti gue jemput sekitar jam tujuh malam, ya. Kita makan malam di luar,” ucap Shafa.
“Ada acara apa, Fa?” tanya Anna.
“Acara syukuran atas kesembuhan Mas Reigha. Pokoknya harus siap-siap sebelum jam tujuh, ya, Na,” jawab Shafa.
“Oke, Fa,” balas Anna.
Shafa pun mematikan telponnya. Dan beralih menatap suaminya, “Udah nih, Mas. Sekarang, Mas buruan mandi deh.”
Reigha pun mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Shafa pun berjalan keluar kamar menemui Mama Dhiya yang ternyata Mama berada di ruang tengah sedang menonton TV.
“Ma,” panggil Shafa duduk di samping Mama Dhiya.
“Iya, Fa. Sini deh kita nonton bareng. Seru ceritanya nih,” balas Mama Dhiya.
“Iya, Ma. Tapi Shafa ke sini Cuma mau bilang dan minta izin ke Mama kalau Shafa dan Mas Reigha nanti mau makan malam di luar,” ucap Shafa.
“Kok makan di luar, Fa? Dalam rangka apa nih?”
“Gak ada, Ma. Cuma mau bantu menyelesaikan masalah Bayu dan Anna aja,” jawab Shafa.
“Oh ... yaudah, gapapa. Hati-hati, ya, Fa. Nanti Mama makan sendiri aja kalau gitu,” ucap Mama Dhiya.
“Maaf, Ma,” balas Shafa yang merasa tak enak pada Mama Dhiya.
“Gapapa kok, Nak. Santai aja,” ucap Mama mengelus kepala Shafa yang terlapisi oleh hijabnya.
Shafa pun segera ke kamar untuk segera mandi dan bersiap. Reigha yang sudah siap, kini tengah berjalan keluar menuju kamar Bayu.
Tok...Tok...Tok...
“Bay, lo dah siap belum?” tanya Reigha dari luar kamar.
Sampai beberala kali gak ada sahutan dari Bayu. Akhirnya, Reigha kembali masuk ke kamar. Dilihatnya Bayu tengah pura-pura tertidur.
“Mau sampai kapan lo pura-pura tidur gini?” tanya Reigha membuat Bayu kaget.
__ADS_1