
Plakkk
“Kurang ajar kamu ya, apa ini yang selama ini papa dan mama ajarkan sama kamu, hah?” balas pak Hartawan emosi.
“Pa, dari awal Calvin sdh bilang, gak mau dijodohkan. Calvin maunya cuma nikah sama Nadia. Tapi papa yang selalu memaksa Calvin. Sampai kapanpun Calvin akan tetap cinta sama Nadia, bukan Daviana!” seru Calvin.
“Kamu memang anak yang gak tau di untung. Apa kurangnya Daviana itu hah? Udah cantik, pintar, sopan, dokter, dari keluarga terpandang. Kurang apa lagi?” tanya pak Hartawan.
“Kurang cinta, Pa. Calvin sana sekali gak cinta dengan dia,” jawab Calvin.
“Papa gak mau tau. Sekarang kamu pulang ke rumah mertua kamu, minta maaf sama mertua dan istri kamu. Bilang kalau kamu keluar karena sedang mencari rumah untuk tempat tinggal kalian. Dan ini kunci rumah untuk kalian tempati. Nanti alamatnya papa akan WA-kan ke kamu. Dan ingat, kalau kamu gak nurut apa kata papa, papa gak akan segan-segan berbuat buruk sama pacar kamu. Ngerti kamu?” ucap pak Hartawan.
“Ingat, papa gak akan main-main, Vin. Ke mana pun kamu sembunyikan pacar kamu, Reno pasti bisa menemukannya, jadi pikirkan sebelum sesuatu yang buruk terjadi sama pacar kamu. Sekarang kamu pulang!” lanjut pak Hartawan.
Tanpa menunggu lama, Calvin yang gak mau terjadi sesuatu pada Nadia, dia pun segera menurut untuk pulang ke rumah Reigha dengan diantar sopir ibu Monica. Karena mobil Calvin ada di rumah Nadia.
Sesampainya di rumah Reigha, “Assalamu’alaikum,” kata Calvin sembari masuk ke dalam rumah.
“Wa'alaikumsalam, kamu dari mana, Vin?” balas Reigha bertanya.
“Emm ... maaf, Pa, tadi Calvin pergi tanpa pamit ke papa, mama, atau pun Daviana. Calvin sedang mencari rumah untuk Calvin dan Daviana tinggalin, Pa,” jawab Calvin.
“Tapi kenapa Nai telpon gak kamu angkat?” tanya Reigha kembali.
“Tadi HP-nya, Calvin taruh di mobil, Pa. Jadi gak tau. Ma’afin Calvin, Pa,” balas Calvin.
“Yaudah, kamu udah makan belum? Kalau belum, minta istri kamu siapkan makanan. Nai ada di kamar,” kata Reigha.
“Iya, Pa, Calvin ke kamar dulu ya, Pa,” ucap Calvin.
Dan setelah Reigha mengangguk, Calvin pun tak menunggu lama segera meninggalkan Reigha menuju kamar Daviana.
Sesampainya di kamar ternyata Daviana udah tidur. Calvin pun memutuskan untuk segera membersihkan badannya lalu dia pun membaringkan badannya di samping daviana dan tak lama kemudian dia pun tertidur.
Di ruang tengah, Shafa yang baru pulang dari rumah Anna pun segera duduk di dekat Reigha.
“Mas, Calvin apa udah pulang?” tanya Shafa.
“Udah, Sayang, sepertinya dia kecapean dan langsung tidur,” jawab Reigha.
“Owh, yaudah, Mas. Kalau gitu, yuk kita ke kamar. Udah malam ini,” ucap Shafa berdiri dan menggandeng Reigha.
Keesokan paginya, Calvin yang udah bangun langsung ke kamar mandi, setelah itu ia duduk di sofa kamar sengaja menunggu Daviana yang sedang sholat.
Tak lama kemudian, Daviana selesai, Calvin pun memanggil, “Daviana, duduk sini.”
Daviana pun duduk di dekat Calvin dan bertanya, “Iya ... ada apa, Mas?”
“Kita siap-siap pindah dari rumah ini ya, aku kemarin nyari-nyari rumah yang sekiranya cocok untuk kita. Mau gimana pun ... kita kan udah menikah, lebih baik kan kita tinggal di rumah sendiri,” kata Calvin.
__ADS_1
“Iya, Mas, tapi kita omongin ini dulu sama mama dan papa ya. Gak enak kalau langsung pergi tanpa ngobrol ke mama dan papa,” ucap Daviana.
“Iya, nanti biar aku yang bilang,” balas Calvin.
“Ya udah ... yuk, kita sarapan,” ajak Daviana.
Dan mereka pun keluar kamar menuju ke ruang makan bersama.
Di ruang makan, semua ternyata udah kumpul menikmati sarapannya.
Daviana mengambilkan dan menyiapkan sarapan untuk Calvin, setelah itu dia mengambil sarapan untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai seperti biasa, Daviandra mengantar Vilia dan Almeera ke sekolah.
“Assalamu’alaikum,” salam Almeera berjalan mendekat menuju meja makan.
“Wa'alaikumussalam,” balas mereka serempak.
“Mas Andra, Vilia, udah siap?” tanya Almeera.
“Udah nih. Tinggal nunggu Vilia,” jawab Daviandra.
“Kebiasaan deh kamu makannya lama,” gerutu Almeera.
“Bentar dong, Kak. Aku kemarin itu lapar dan gak makan. Pagi ini deh sarapan ku dibanyakin,” balas Vilia.
“Vilia, cepat habiskan makan kamu, Nak. Kak Almeera udah nungguin itu loh,” titah Shafa.
“Iya, Ma ...” lirih Vilia segera menghabiskan sarapannya.
Setelah sarapan habis, Daviandra, Vilia, dan Almeera berpamitan untuk pergi.
Saat keluar dari ruang makan, Vilia ngomel, “Kak Almeera, kalau kakak udah siap, mending nunggu di rumah papi atau di ruang tamu deh. Kalau kakak ke meja makan, aku jadi ga bisa nambah sarapan ku tadi.”
“Nambah sarapan? Wah wah ... pantes tuh badan ngembang,” celetuk Almeera.
“Ini tuh masa pertumbuhan tau, Kak,” balas Vilia mencurutkan bibirnya.
“Almeera, udah-udah ... Vilia tuh lapar karena kemarin malam dia ngerjain tugas sampai ketiduran, jadi gak sempet makan malam,” ucap Daviandra menengahi.
“Nah tuh, Kak Almeera ... denger dong,” balas Vilia yang senang mendapat pembelaan dari Daviandra.
“Tapi walau gitu, dia juga lagi proses penggemukan. Hahaha!” ucap Daviandra kembali disertai tawanya.
“Mas Andra!!!” teriak Vilia.
Daviandra pun berlari masuk ke dalam mobil.
“Sssstt ... dah dah dah, ayo ah mas Andra udah di mobil tuh, ntar kita ditinggal,” kata Almeera.
__ADS_1
Dengan bibir yang masih manyun, dan mata yang tampak disipitkan. Vilia pun berjalan menuju mobil.
Sesampainya di mobil, Vilia pun yang hendak mencubit lengan Daviandra pun langsung dapat peringatan.
“Mencubit, berarti turun dari mobil ini!” seru Daviandra.
“Isss rese-nya mas Andra kumat,” gerutu Vilia.
Daviandra pun terkikik dan segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah papa Reigha.
Kini di ruang makan tinggalah Reigha, Shafa, Daviana dan Calvin.
“Pa, Ma, bisa minta waktunya sebentar?” tanya Calvin.
“Ada apa, Vin?” balas Shafa.
“Begini, Ma, Pa, kemarin kan Calvin udah nyari-nyari rumah dan alhamdulillah-nya udah dapat yang InsyaaAllah Daviana juga akan suka. Boleh gak, Ma, Pa ... kalau kami belajar hidup mandiri. Kami mau pindah ke rumah itu,” ucap Calvin.
“Di mana rumah itu?” tanya Reigha.
“Di Jalan Seroja, Pa. Dekat dengan kantor Calvin,” jawab Calvin.
“Karena Daviana sekarang adalah tanggung jawab kamu, kamu mau ke mana pun Daviana harus ikut, jadi papa gak akan melarang kamu. Tapi ... jangan sampai kamu abaikan putriku. Kalau sampai papa tau kamu menyakiti hati putriku, papa gak akan pernah mema’afkan kamu,” balas Reigha.
“Iya, Pa ... InsyaaAllah,” kata Calvin.
“Kapan rencana kamu pindah?” tanya Shafa.
“Hari ini, Ma, Pa ... kalau boleh,” jawab Calvin.
“Mendadak ya ... tapi gapapa, masih dekat juga dari sini. Nanti bisa Nai atau mama nanti yang main ke rumah,” kata Shafa.
“Iya, Ma, Pa ... terima kasih,” balas Calvin.
“Ya udah kalau gitu. Daviana, kita siap-siap yuk,” ucap Calvin dan diangguki oleh Daviana.
“Pa, Ma, Nai dan mas Calvin ke kamar ya,” kata Daviana.
“Iya, Nak, papa berangkat ke kantor ya,” ucap Reigha.
Daviana pun mengangguk kemudian berkata, “Iya, Pa. Papa hati-hati ya.”
Reigha pun segera ke depan diantar oleh Shafa.
“Mas, hati-hati ya di jalan, jangan ngebut!” seru Shafa.
“Iya, Sayang, mas kan gak pernah ngebut,” balas Reigha.
Dan setelah mereka berpamitan lalu Reigha pun pergi ke kantor.
__ADS_1