
“Ada acara apa, Ma?” tanya Shafa.
“Gak ada, Fa, cuma mau menikmati hari tua aja. Jadi, kamu Anna ... segera siapkan pernikahan kalian, ya, biar Mama tenang ninggalin dua anak laki-laki Mama. Reigha udah aman bersama Shafa. Tinggal Bayu aja nih, kalau udah nikah sama kamu. Mama jadi tenang ninggalinnya,” jawab Mama Dhiya sembari berkata pada Anna.
“InsyaaAllah kalau itu segera Anna bicarakan bersama Abang, Ma.”
“Baiklah. Mama tunggu kabar baiknya, ya. Yaudah, yuk kita ke depan, sepertinya para laki-laki sedang ngobrol serius.”
Mama, Shafa, dan juga Anna bergegas menuju ruang tengah.
Reigha yang melihat istrinya pun segera berdiri dan menghampiri Shafa menariknya sedikit menjauh dari ruang tengah.
“Kenapa, Mas?” ucap Shafa bertanya.
“Sayang, kamu udah tau masalah Anna dan Bayu?” tanya Reigha.
“Belum, Mas. Bayu belum cerita tadi ke Shafa. Sementara Anna gak mau cerita,” jawab Shafa.
“Kayaknya kita harus bantu mereka deh. Kamu ingat Ivanka? Dia udah ancam Anna untuk segera ninggalin Bayu. Nyawa Anna taruhannya.” Ucapan Reigha berhasil membuat Shafa kaget dan melirik pada ruang tengah.
“Mas, beneran tuh?” tanya Shafa memastikan.
“Iya, Sayang.” Reigha pun membawa Shafa kembali ke ruang tengah.
Mereka mengobrol bersama menceritakan honeymoon-nya. Begitu juga dengan Bayu dan Anna yang menceritakan kesibukannya di kantor tanpa membawa nama Ivanka dalam obrolan mereka.
Hingga Mama pun tampak menguap. Mereka menghentikan obrolannya dan segera pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Reigha dan Shafa di kamar sedang mengobrol sambil rebahan.
“Mas, gimana caranya kita bantu mereka?” tanya Shafa yang ternyata masih memikirkan ucapan Reigha tadi.
“Nanti kita cari caranya, Sayang. Pasti ada caranya untuk menyelesaikan,” jawab Reigha.
Shafa tampak melamun. Kemudian dia berkata, “Mas, Mas besok udah mulai kerja lagi. Anna kerja juga, Shafa ngapain, Mas? Kalau cuma di rumah aja, Shafa bosan.”
“Kamu maunya gimana, Sayang?” tanya Reigha memiringkan badannya menatap Shafa dalam.
“Shafa mulai kerja di rumah sakit aja ya, Mas, biar ada kegiatan,” jawab Shafa dengan ragu-ragu. Takut jika tidak diperbolehkan oleh suaminya.
“Sayang, kok di rumah sakit? Emm ... gimana kalau kamu jadi dosen aja. Nanti sekalian kuliah lagi S3 atau kamu mau kursus masak aja. Nanti kamu bisa buka rumah makan,” ucap Reigha memberi saran.
“Nanti Shafa pikirin lagi deh, Mas. Yang penting Shafa ada kegiatan,” balas Shafa.
“Iya, Sayang. Nanti kalau udah ada keputusan dari kamu. Bilang ke Mas, ya,” ujar Reigha mencium kening g Shafa.
__ADS_1
Shafa yang tau kalau Reigha akan meminta haknya, Shafa tak menolak karena memang udah tugas Shafa untuk melayani suaminya. Mereka pun melakukannya hingga tertidur.
Ke esokan paginya, Reigha, Bayu dan Anna berangkat ke kantor.
“Mas, Mas yakin mau naik mobil sendiri? Berarti Farhan udah gak kerja sama kita lagi, Mas?” tanya Shafa membuat Bayu yang tengah minum pun tersedak.
“Oh iya ... gue lupa mau kasih tau kalian. Kemarin, waktu lo berdua honeymoon, Farhan kesini. Karena lo gak ada, akhirnya Farhan gue suruh kerja di kantor aja di bagian marketing,” ucap Bayu setelah menetralkan tenggorokannya.
“Alhamdulillah, syukurlah. Makasih, Bay. Walau gimana pun, Farhan udah baik sama kita selama ini,” balas Reigha menepuk pundak Bayu.
Shafa pun lega mendengarnya. Tak lama, Shafa teringat sesuatu dan meminta izin pada Reigha, “Mas, nanti izin ke rumah Ayah, boleh? Mau antar oleh-oleh buat Ayah, Ibu, dan Anggi.”
“Oh ... boleh, Sayang. Nanti kanu minta antar sama sopirnya Mama aja, ya,” ucap Reigha memberi izin pada Shafa.
“Eh, oleh-oleh gue mana, Fa?” tanya Bayu.
“Nanti gue taruh di kamar aja. Sekarang berangkat, nanti kesiangan,” jawab Shafa.
Anna yang baru saja selesai menyiapkan bekal untuk dirinya dan Bayu pun segera mendekat pada Bayu dan siap berangkat bersama.
Sementara Reigha yang sudah disiapkan bekal sejak tadi oleh Shafa pun segera Shafa mengantar Reigha menuju halaman rumah. Menyalimi Reigha dan berkata, “Mas, hati-hati bawa mobilnya.”
“Siap, Sayang,” balas Reigha mengecup singkat kening Shafa Dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Tok...Tok...Tok...
“Ma, Shafa boleh masuk?” tanya Shafa dari luar kamar.
“Masuk, Sayang. Papa udah berangkat kok, Nak,” balas Mama Dhiya sedikit berteriak dari dalam kamar.
Shafa segera masuk ke dalam kamar Mama, perlahan dibukanya pintu dan melangkah masuk. Ternyata Mama Dhiya sedang bersantai sembari membaca majalah di sofa kamar.
Shafa menghampiri Mama Dhiya dan berkata, “Ma, ini oleh-oleh untuk Mama dan Papa.”
“Aduh, Fa ... kalian nih repot-repot aja belikan Mama dan Papa oleh-oleh. Ayah dan Ibu kamu juga udah dibelikan?” ucap Mama Dhiya bertanya pada Shafa.
“Iya, Ma. Samaan kok dengan Mama dan juga Papa.”
“Bagus itu, nanti bisa buat acara nikahannya Bayu dan Anna,” balas Mama Dhiya.
“Eh, tapi ... oleh-oleh yang di sini gak lupa ‘kan?” imbuh Mama Dhiya bertanya sembari mengelus perut rata Shafa.
“Enggak kok, Ma. Tinggal tunggu kabar baik aja,” jawab Shafa menunduk malu.
“Alhamdulillah ... semoga disegerakan ya, Nak,” balas Mama Dhiya yang diangguki oleh Shafa.
__ADS_1
“Aamiin, Ma. Oh iya, Ma, Shafa izin pinjam sopir Mama boleh?”
“Mau kemana, Fa?” tanya Mama Dhiya.
“Shafa mau antar oleh-oleh untuk Ayah, Ibu, dan Anggi, Ma,” jawab Shafa.
“Boleh Mama ikut, Fa? Kebetulan Mama gak ngapa-ngapain kok di rumah.”
“Ya ... boleh dong, Ma. Malah Shafa senang kalau Mama ikut. Jadinya, Shafa ada teman ngobrol di mobil.”
“Baiklah. Kamu siap-siap, Mama juga siap-siap ya, Nak,” ujar Mama Dhiya.
“Iya, Ma. Shafa ke kamar dulu,” balas Shafa langsung keluar kamar Mama Dhiya dan segera bersiap.
Shafa segera menuju kamarnya untuk ambil tas dan oleh-oleh untuk orang tuanya. Sekalian dibawakannya oleh-oleh untuk Bayu dan Anna yang langsung Shafa taruh di mereka masing-masing.
Sambil nunggu Mama Dhiya keluar, Shafa segera minta tolong sopir Mama Dhiya untuk menyiapkan mobilnya.
Setelah Mama Dhiya tampak keluar kamar, mereka pun segera menuju mobil lalu berangkat.
Sesampainya di luar pagar, tampak oleh Shafa adanya tante Lucy dan anaknya yang sedang menuju pagar rumah. Mama Dhiya pun segera menyuruh Vano menghentikan mobilnya.
“Sebentar, Van. Itu sepertinya Lucy mau ke rumah, kita tunggu sebentar, ya!” seru Mama Dhiya.
“Fa, kamu segera telpon Reigha, bilang kalau tante Lucy ke rumah,” lanjut Mama Dhiya yang segera diangguki oleh Shafa.
Shafa langsung menelepon Reigha. Tetapi, sampai beberapa kali panggilan, Reigha tak menjawab. Tanpa menunggu lama, Shafa pun segera menelepon Bayu.
“Assalamu’alaikum, Bay, ini Mas Reigha kemana ya, kok gak bisa dihubungi?” tanya Shafa.
“Wa’alaikumussalam, Fa. Iya, Reigha lagi meeting, mungkin ponselnya disilent. Ada apa, Fa? Kalau penting gue ke ruangan meetingnya,” jawab Bayu.
“Itu, Bay. Tante Lucy ke rumah. Gimana? Soalnya, gue sama Mama mau pergi,” balas Shafa.
“Mama mana, Fa?” tanya Bayu yang mulai khawatir.
Shafa segera mengulurkan tangannya memberikan ponsel pada Mama Dhiya.
“Iya, Bay. Gimana?” tanya Mama Dhiya.
“Ma, boleh bayu minta tolong? Gini, Ma, tolong Mama dan Shafa tunda dulu perginya dan balik ke rumah, trus tolong selalu awasi dulu tante Lucy dan anaknya. Bayu segera pulang, Ma,” jawab Bayu.
“Baiklah, Bay. Mama putar balik dulu.” Mama Dhiya memberikan kembali ponselnya pada Shafa.
“Halo, Fa, lo harus dengerin apa yang gue ucapin,” ucap Bayu dengan nada serius.
__ADS_1