
“Reigha, Shafa, ibu mau nanya ... atas dasar apa perjodohan ini? Apa karena bisnis?” tanya nenek Khalisa hingga membuat Reigha dan Shafa saling tatap.
“Bukan, Bu. Ini sama sekali gak ada hubungannya dengan bisnis,” jawab Reigha.
“Waktu itu pak Hartawan sendiri yang datang ke kantor menemui Reigha dan membahas untuk meminta Daviana sebagai menantunya,” lanjut Reigha.
“Jadi, jika seandainya kedepannya ini Naima gak menerima, gak jadi masalah ‘kan dengan bisnis kamu?” balas nenek Khalisa bertanya.
“Nggak jadi masalah kok, Bu,” kata Reigha.
“Yaudahlah, biar dijalani dulu, kalau kedepannya emang gak berjodoh dengan nak Calvin, semoga Naima menemukan jodoh terbaiknya,” ungkap nenek Khalisa dan di-aamiinkan oleh semuanya.
“Kalau begitu, ibu mau pulang dulu sama Anggi dan Fathir,” lanjut nenek Khalisa berpamitan.
“Loh ... ibu malam ini gak nginap aja?” tanya Reigha.
“Nggak, Nak. Ibu pulang aja,” jawab nenek Khalisa.
“Bu, gapapa kok nginap aja dulu malam ini,” sambar Shafa.
“Yaudahlah, Bu ... lagian udah malam ini,” imbuh Anggi.
“Iya deh, gapapa. Hitung-hitung ... menghabiskan waktu lebih lama dengan cucu-cucuku,” kata nenek Khalisa.
Akhirnya mereka pun segera menyiapkan kamar untuk istirahat nenek Khalisa, Anggi serta suami dan anak-anaknya. Setelah kamar siap, mereka pun segera istirahat.
Keesokan paginya, mama Shafa, Anggi, juga nenek Khalisa tengah sibuk di dapur, sementara Reigha, Fathir, dan anak-anak di ruang tamu. Namun, tidak dengan Daviana.
“Pa, Nai mana?” tanya Daviandra.
“Masih di kamar mungkin, Nak. Coba kamu panggilkan aja,” jawab papa Reigha.
“Yaudah Andra ke kamar Nai bentar ya, Pa,” balas Daviandra dan mendapat anggukan dari Papa Reigha.
Sesampainya Daviandra di kamar Daviana, dia mengetuk pintu dan tak lama pintu pun terbuka.
“Kenapa, Kak?” tanya Daviana.
“Ayo turun, udah pada kumpul di bawah itu,” jawab Daviandra.
“Emm ... iya, bentar lagi,” balas Daviana.
“Gak lah, sekarang aja ayo!” seru Daviandra.
Tak lama kemudian, tampak Vilia yang ikut menyusul Daviandra.
“Kak, kok lama?” tanya Vilia.
“Iya-iya, ayo turun,” ucap Daviana yang malas mendengar celotehan Vilia yang tak berujung.
Mereka bertiga pun bersamaan turun menuju ke ruang makan karena semua telah berkumpul di sana.
“Loh, Pa ... tumben Reza gak ikutan sarapan di sini?” tanya Daviana membuat Reigha kaget dan sedikit menaruh harapan untuk Reza ada di relung hati putrinya.
“Dia nginap di apartemen, Nak. Mungkin sarapan di sana,” jawab Reigha membuat Daviana manggut-manggut.
__ADS_1
Mereka pun segera menikmati sarapan dan setelah selesai mereka berkumpul di ruang tengah.
Tak lama dari itu, mereka kedatangan seseorang pagi ini.
“Assalamu’alaikum, Om, Tante, semuanya,” ucap Calvin yang udah dipersilakan masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumussalam,” balas semuanya serempak.
“Om, Tante, saya ke sini mau izin mengajak Daviana keluar untuk jalan-jalan,” ucap Calvin membuat Daviana sontak kaget.
“Nak ... kamu mau?” tanya Reigha yang menatap pada Daviana.
“Hmm ... iya, Pa,” jawab Daviana.
“Bersiaplah dulu, Nak, setelah itu pergi,” titah Shafa.
Daviana bergegas ke kamar untuk bersiap sementara Calvin menunggu di ruang tengah sambil mengobrol dengan keluarga Reigha.
Tak lama kemudian, Daviana tampak turun dan terlihat begitu anggun.
“Pa, Ma, Nek, Aunty, Om, semuanya ... Nai pamit dulu ya,” kata Daviana berpamitan.
“Hati-hati di jalan ya, Nak,” titah Shafa.
“Iya, Mama.” Daviana mencium punggung tangan mamanya juga papanya, kemudian pada nenek, aunty juga omnya.
Setelah itu, Calvin berpamitan juga pada keluarga Daviana. Lalu, mereka berdua bersamaan keluar dari rumah menuju ke mobil Calvin.
Selama di dalam mobil, tak ada yang bersuara satupun, hingga tak lama dari itu Calvin mulai membuka suara.
“Apakah kamu gak mempunyai kekasih saat ini?” tanya Calvin.
“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Daviana setelahnya.
“Terserah kamu, mau ke mall atau ke taman,” jawab Calvin.
“Aku ngikut mas Calvin aja,” balas Daviana.
Tak ada pembicaraan lagi, Calvin pun membelokkan mobilnya pada parkiran mall.
“Belilah apapun sesuka kamu, nanti aku yang bayar,” kata Calvin.
“Aku gak terlalu hobi belanja, Mas,” balas Daviana.
“Yaudah, kita jalan aja dulu, kalau kamu pengen sesuatu, bilang aja,” ucap Calvin dan diangguki oleh Daviana.
Sementara Daviandra di rumah tengah bersiap untuk pergi bekerja.
“Pa, Ma, Vilia nanti diantar kak Andra aja, ya,” ucap Vilia.
“Kenapa gak sama om Bobby?” tanya Mama Shafa.
“Lagi pengen sama kak Andra, Ma,” jawab Vilia sambil cengengesan.
“Tanya kak Andra coba,” ucap papa Reigha.
__ADS_1
Vilia pun segera berlari menuju kamar Daviandra dan mengetuk-ketuk pintu kamar.
“Kak, kak Andra!” teriak Vilia.
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Daviandra yang begitu tampan setelah mandi.
“Kenapa sih, Dek?” tanya Daviandra.
“Nanti anterin aku sekolah ya, Kak,” jawab Vilia dengan tatapan memohon.
“Iya, segeralah bersiap!” seru Daviandra.
Vilia pun mengangguk mantap dan berlari menuju ke kamarnya.
Sementara di ruang tamu, tampak nenek Khalisa, aunty Anggi dan om Fathir juga kedua anak mereka tampak sudah siap untuk pulang.
“Kami pulang dulu, ya, titip salam untuk Andra, Naima dan Vilia,” kata nenek Khalisa.
“Iya, Bu. Hati-hati di jalan,” balas Shafa.
“Fathir, jangan ngebut bawa mobilnya, pelan aja asal aman sampai rumah. Kalau udah sampai jangan lupa kabari,” kata Reigha.
“Iya, Bang, aman itu. Nanti kami kabari,” ucap Fathir.
Reigha membantu Fathir mengangkat barang-barang ke atas mobil kemudian mobil pun segera melaju meninggalkan rumah Reigha.
“Da ... Da ... om Reigha dan tante Shafa!” teriak anak-anak Anggi serempak sembari melambaikan tangannya.
Setelah mobil Fathir hilang dari pandangan, Reigha dan Shafa pun masuk ke dalam rumah dan melihat Daviandra yang udah rapi juga Vilia yang berlarian menuruni anak tangga.
“Nak, jangan suka lari-larian gitu, ntar jatoh,” tegur Shafa.
“Iya mama sayang,” ucap Vilia berlari menghampiri dan mengecup singkat pipi mamanya.
“Ma, Pa, kalau gitu Andra pamit ya mau antar Vilia sekalian mau ke kantor,” kata Daviandra berpamitan.
“Vilia juga, Ma, Pa, mau ke sekolah,” imbuh Vilia.
“Iya, Nak. Hati-hati!” seru Reigha.
“Iya, Papa.”
“Jangan ngebut bawa mobilnya, Nak,” titah Shafa.
“Mama tenang aja, selama Vilia ikut dalam mobil, pasti kalau ngebut dikit dia bawel, Ma. Jadi, Andra pasti gak akan ngebut,” balas Daviandra sembari tersenyum pada mamanya. Kemudian mencium punggung tangan papa juga mamanya diikuti oleh Vilia.
Daviandra dan Vilia pun bergegas keluar rumah dan segera masuk ke dalam mobil Daviandra.
Sementara di apartemen, Reza yang tak bersemangat sejak semalam, dia berniat tidak bekerja hari ini.
Reza masih tampak terlelap, hingga dering ponsel pun mengganggu tidurnya.
Drrrttt ... Drrrttt ... Drrrttt ...
“Ah siapa sih. Ganggu aja,” gerutu Reza yang masih tak memperdulikan ponselnya.
__ADS_1
Tak lama dari itu, ponsel kembali berdering hingga Reza pun terbangun.
“Halo, kenapa?” tanya Reza ketus.