Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 42 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Mau sampai kapan lo pura-pura tidur gini?” tanya Reigha membuat Bayu kaget.


Entah dari mana Reigha tau kalau Bayu tengah pura-pura tidur.


“Gha, lo aja sama Shafa keluar makan malam, ya. Gue malas keluar,” ucap Bayu duduk sambil menopang dagunya.


“Ayolah keluar aja jalan-jalan biar pikiran lo gak kasut gini. Kasihan Shafa dah nungguin tuh. Ntar kalau gak jadi, dia kecewa, Bay,” balas Reigha membuat Bayu dengan malasnya bangkit.


“Yaudah, gue ke kamar mandi bentar,” kata Bayu.


“Gue tunggu di ruang tamu, ya,” balas Reigha yang dibalas deheman oleh Bayu.


Reigha menuju ruang tengah, ternyata di ruang tengah masih ada Mama Dhiya, “Ma, maaf ya, Ma ... malam ini Mama makan malam sendiri.”


“Gapapa kok, Gha. Tadi Shafa dah cerita kok,” ucap Mama menanggapi anaknya.


“Oh iya ... Ma, Papa kapan pulang?” tanya Reigha.


“H-2 pernikahan kamu, nanti Papa sudah ada di rumah ini, Gha,” jawab Mama Dhiya.


“Emm ... Gha, nanti setelah pernikahan kamu. Mama ikut Papa aja, ya. Kasihan Papa kamu nanti sendirian. Lagian kamu ‘kan udah ada Shafa yang ngurusin,” lanjut ucapan Mama Dhiya.


“Iya, Ma. Gapapa kok. honeymoon lagi ‘kan, Ma!” celetuk Reigha.


“Gha ... Gha, kamu ini, Mama udah tua. Waktunya nimang cucu, bukan nimang anak. Udah gak ada lagi honeymoon-an,” ucap Mama menanggapi ucapan Reigha.


“Do’ain aja yang terbaik, Ma!” seru Reigha.


Tak lama, Shafa datang menghampiri Reigha yang tengah mengobrol bersama Mama Dhiya. Shafa mendekat pada Mama dan duduk disampingnya sembari berkata, “Ngobrol apa Ma, kok kayaknya seru banget nih.”


“Tuh Reigha minta do’a semoga segera diberi momongan,” ucap Mama.


“Emm ... do’akan aja, ya, Ma.” Shafa tersenyum tulus pada Mama Dhiya yang tampak mengangguk merespon ucapan Shafa.


“Oh iya, kalian setelah nikah mau honeymoon kemana?” tanya Mama.


Reigha yang ditanya beralih menatap pada Shafa meminta jawaban dari sang istri. Shafa yang tau hal tersebut pun hanya membalas sebagaimana keinginannya, “Di rumah aja ya, Mas. Shafa tuh males kalau pergi-pergi, apalagi naik pesawat, Shafa takut.”


“Ya jangan di rumahlah, Fa. Kalau gak mau naik pesawat ‘kan bisa di dekat sini aja. Di Jogja atau di Puncak, bisa kok naik mobil,” ucap Mama Dhiya meyakini Shafa.


“Yaudah, nanti kami pikirkan lagi, ya, Ma,” balas Reigha.


“Iya, Nak.”


Tak lama, Bayu pun datang menghampiri Reigha dengan malasnya.


“Ma, kami pergi dulu, ya,” ucap Shafa berpamitan sembari mencium tangan Mama diikuti oleh Reigha dan Bayu.


“Iya. Kalian hati-hati, ya.”


“Iya, Ma. Assalamualaikum,” salam Reigha.


“Wa’alaikumussalam.”

__ADS_1


Ketiganya berjalan menuju garasi, Bayu mengambil mobilnya dan segera Shafa dan Reigha masuk ke dalam mobil. Bayu melajukan mobilnya dengan cepat. Mereka bertiga berangkat menuju rumah budhe Anna.


Sesampainya di rumah budhe, ketiganya turun dari mobil.


“Assalamu’alaikum, Budhe,” salam Shafa.


“Wa’alaikumussalam, Fa. Udah lama gak ketemu. Apa kabar, Nak?” balas Budhe.


“Alhamdulillah Shafa selalu baik, Budhe,” ucap Shafa sembari mengembangkan senyumnya.


“Oh iya, Budhe ... kenalin ini Mas Reigha suaminya Shafa. Dan, yang ini Bayu saudaranya Mas Reigha,” imbuh Shafa memperkenalkan dua laki-laki yang ikut bersama Shafa saat ini.


Mereka pun bergantian menyalimi budhe.


Tak lama, Anna pun keluar dari kamar dan langsung berpamitan sama Budhe.


“Budhe, Anna pamit, ya. Makan malam Budhe udah Anna siapin. Nanti kalau Budhe ngantuk tidur duluan gapapa kok,” ucap Anna yang diangguki oleh Budhe.


Dan, kini mereka pun berangkat ke restoran. Shafa dan Reigha duduk di belakang, sementara Anna duduk di depan sebelah Bayu.


Anna dan Bayu saling diam tenggelam dengan pikiran masing-masing. Anna memikirkan Bayu yang seakan menjauh darinya karena Delia, sedangkan Bayu memikirkan Anna yang beberapa hari lalu menolak dirinya, kembali membuat Bayu kesal.


Mereka berdua hanya menjawab seperlunya aja pertanyaan dari Reigha dan juga Shafa. Hingga kini mobil mereka udah sampai di parkiran restoran tempat mereka makan malam ini.


Mereka ber-empat masuk ke dalam restoran, mencari tempat duduk yang masih kosong.


Pelayan restoran pun datang memberikan daftar menu. Mereka memesan makanan yang mereka inginkan. Sembari menunggu makanan, Reigha beralasan izin ke toilet.


“Gue ke toilet dulu, ya,” ucap Reigha berpamitan.


Mereka berdua pun menuju ke toilet bersamaan. Tinggal-lah Bayu dan Anna yang sama-sama diam.


Bayu memainkan ponselnya, sedangkan Anna hanya diam aja sesekali melirik Bayu.


Dari kejauhan, Reigha dan Shafa mengintipnya keduanya yang hanya berdiam diri saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.


“Mas, gimana sih mereka berdua itu, kok malah diam-diam aja,” kata Shafa.


“Iya, Sayang. Mereka masih mempertahankan egonya masing-masing. Gak ada yang mau ngomong duluan,” balas Reigha yang memperhatikan keduanya.


Sepuluh menit berlalu, Bayu dan Anna masih saja tak ada yang memulai pembicaraan diantara keduanya.


Akhirnya, Anna pun memulai membuka suaranya, “Bang, kok ceweknya gak diajak?” tanya Anna.


“Siapa, Na?” balas Bayu yang tampak cuek pada Anna.


“Cewek yang tadi abang ajak ke kantor,” ucap Anna.


“Oh ... dia di rumah, jagain adeknya,” ucap Bayu asal saja. Padahal, Bayu pun tak tau dimana Delia saat ini.


“Bang, lo marah sama gue, ya? Emm ... Anna mau minta maaf, bukan maksud Anna menolak perasaan Abang. Tapi, Anna cuma merasa gak pantas aja buat mendapatkan Abang. Anna ini hanya seorang anak yatim piatu dan gak punya apa-apa. Mungkin, kalau gak ada Budhe ... Anna ini hanya sebatang kara, Bang. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Anna,” lirih Anna dan air mata yang sejak tadi ditahan pun lolos begitu saja.


Bayu pun meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian, berkata, “Na, lo gak tau ‘kan gue ini siapa. Gue hanya anak yang ditemuin Om Harun di jalanan, gue anak terlantar yang dibawa pulang dan dirawat oleh orang tua Reigha, dijadikan anak sama orang tua Reigha. Gue rasa, lo masih beruntung karena masih punya Budhe, sedang gue gimana? Kita ini sama, nasib kita sama. Jadi, gak usah merasa gak pantas gitu.”

__ADS_1


“Maafkan Anna, Bang. Anna sebenarnya sayang sama Abang. Emm ... apa gue belum terlambat untuk menerima perasaan Abang?” tanya Anna lirih dan masih didengar oleh Bayu.


Bayu pun segera memegang tangan Anna dan memastikan, “Lo gak terpaksa ‘kan, Na?”


Anna menggelengkan kepalanya mantap.


Dan akhirnya mereka pun jadian. Wajah keduanya tampak berseri-seri.


Tak lama, datanglah Reigha dan Shafa yang sejak tadi mengintip.


Reigha berdehem dan berkata, “Sayang, tadi kayaknya waktu kita ke toilet, ada yang diam-diaman, ya.”


Shafa sambil tersenyum menjawab, “Iya, Mas. Sekarang, liat deh. Wajah mereka begitu bahagia.”


Dan berapa lama kemudian, pesanan mereka datang. Mereka ber-empat pun akhirnya makan malam dengan bahagia.


“Bang, aku mau tanya deh. Cewek yang tadi sama kamu tuh, siapa sih?” tanya Anna.


“Sekarang udah aku kamu nih?” godaan Shafa membuat Anna menunduk malu.


“Fa,” lirih Anna mengulum senyumnya.


Anna pun kembali menatap pada Bayu meminta jawaban dari pertanyaannya.


“Dia teman SMA aku, Na. Kalau kamu gak percaya, dengar ini, ya.” Bayu segera mengambil ponselnya dan memencet tombol telpon pada kontak Delia dan menyalakan speaker.


Saat panggilan terhubung, Delia mengeluarkan suaranya.


“Assalamu’alaikum. Kenapa, Bay?” tanya Delia.


“Wa’alaikumussalam. Lo nyaman di sana ‘kan?” balas Bayu bertanya pada Delia.


“Nyaman kok. Lo tenang aja. Udah deh, lo gak usah hubungin gue kalau gak penting. Gak kasihan lo sama Anna? Cukup lo buat dia sedih saat di kantor, jangan lebih dari itu pakai telpon gue di belakang Anna dong, Bay!” seru Delia menerocos panjang.


“Gak di belakang Anna sih. Gue lagi telpon sama lo di depan Anna nih,” ucap Bayu membuat Delia semakin mengernyit heran.


“Makin kelewatan lo, udahlah gue matiin aja. Gue cewek, dan gue tau gimana perasaan Anna,” balas Delia membuat Anna merasa bersalah karena salah mengartikan Delia.


“Gue tuh telpon lo mau kasih kabar, kalau gue udah berhasil dapetin Anna. Gue lamaran, lo datang, ya!” seru Bayu.


Delia terdiam sebentar, mencerna kata-kata Bayu yang baru saja lewat di telinga kanannya.


“Oh ... selamat, Bay!”


“Anna mana?” imbuh Delia bertanya pada Bayu.


“Besok aja di kantor. Gue mau lanjut makan malam sama Anna. Gak enak pula ‘kan sama Reigha dan istrinya yang lagi di sini,” balas Bayu.


“Oh ada pak Reigha juga. Okedeh, lo lanjut aja sana, Bay!” seru Delia.


“Ya ... oke. Assalamualaikum, Del,” balas Bayu.


“Wa’alaikumussalam.” Delia pun mematikan telponnya.

__ADS_1


Bayu menatap serius pada Anna, “Gimana, Na?”


__ADS_2