
“Nai, kamu ini kenapa? Kenapa tiba-tiba ngomong seperti itu? Aku salah apa, Nai?” tanya Reza kembali yang merasa bingung pada istrinya.
“Bang, aku mau, kamu jawab jujur. Kamu kenapa mau nikah sama aku? Kamu di paksa siapa? Kalau kamu cintanya sama Chayra, kenapa kamu mesti mau disuruh nikah sama aku, Bang?” tanya Daviana bertubi-tubi yang meluapkan kemarahannya.
“Kamu ini ngomong apa sih, Nay? Dari awal kan aku udah bilang, aku cintanya sama kamu, aku sayang sama kamu. Dan Chayra? kenapa tiba-tiba kamu bahas Chayra? Sedang aku dan Chayra aja gak ada hubungan apa-apa, Nai, kami terakhir ketemu dan aku nyapa Chayra aja saat sebelum kamu pulang ke Indonesia waktu itu, Nai,” ucap Reza menjelaskan.
“Gak ada hubungan maksud kamu? Trus kenapa kamu lihat-lihatin sosial medianya Chayra? Kamu mantau Chayra? Kamu cemburu Chayra foto sama laki-laki lain?” balas Daviana yang masih tersulut dengan emosinya.
Reza seketika paham kenapa Daviana tiba-tiba marah. Secara tiba-tiba, Reza memeluk erat Daviana kemudian berkata dengan lembut.
“Kamu salah paham, Nai ... yang suka sama Chayra itu Andra, bukan aku. Tadi aku telpon Andra, tapi dia gak angkat telponku. Trus aku menuruskan nelpon papa, ternyata Andra lagi badmood seharian, Nai, papa cerita kalau Andra seharian uring-uringan karena melihat foto Chayra bersama laki-laki dan aku hanya memastikannya aja tadi, Nai,” kata Reza menjelaskan pada istrinya dengan memeluknya.
“Benarkah begitu? Abang gak sedang bohong?” tanya Daviana dalam pelukan Reza.
Perlahan Reza melepaskan istrinya dari pelukannya. Kemudian Reza berkata, “Yaudah, kalau kamu gak percaya, aku telpon papa sekarang ya. Kamu dengarkan.”
Reza kembali mengambil ponselnya dan segera mencari kontak’ papa Reigha’ dan saat hendak menelpon papanya, Daviana pun segera merebut ponsel suaminya.
Daviana gak mau membuat keluarga di Indonesia khawatir hanya karena masalah salah paham ini.
“Gak usah, Bang, aku percaya kok. Ma’afin Nai karena menuduh abang yang enggak-enggak,” lirih Daviana.
“Nai, kamu itu kenapa sih? Kamu selalu curiga dan terus aja menanyakan kalau aku terpaksa menikah dengan kamu,” ucap Reza.
“Nai, aku itu sangat mencintai kamu, dan gak ada yang maksa itu ... kamu jangan pernah meragukan perasaanku ya,” lanjut ucapan Reza.
“Maaf, Bang, aku hanya takut aja. Karena ... karena ... eh, ayo kita tidur aja, Bang,” kata Daviana yang tampak malu.
“Karena apa, Nai? Kenapa kamu ragu mau ngomong?” tanya Reza.
“Nai trauma, Bang ... Nai takut apa yang terjadi sama Nai dulu, terjadi lagi. Karena sikap abang gak seperti orang yang cinta sama Nai,” jawab Daviana menunduk malu.
“Maksud kamu ... gak seperti yang orang cinta gimana? Apa karena aku gak seperti ini?” balas Reza yang langsung mencium bibir Daviana.
Reza pun terus mencium bibir Daviana tanpa Daviana bisa menolaknya. Sampai akhirnya Daviana pun pasrah dan menyerah dengan apa yang Reza lakukan padanya sampai tak sadar pakaian Daviana pun udah terlepas.
__ADS_1
“Nai, apa kamu siap kalau aku meminta hak ku sekarang?” tanya Reza dengan suara parau.
Daviana pun dengan malu menganggukkan kepalanya dan Reza yg melihat pun tersenyum bahagia.
Reza kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti tadi, dan terjadilah malam yang indah bagi kedua pengantin baru itu.
Menjelang subuh, Daviana pun terbangun dan melihat suaminya yang masih tidur pulas.
Daviana pun tersenyum dan memandangi Reza. Reza yang sebenarnya udah bangun pun perlahan membuka matanya dan dilihatnya lah istri cantiknya itu tengah memandanginya.
“Kenapa dari tadi ngelihatin aku, Nai? Baru sadar ya kalau suami kamu ini ganteng?” tanya Reza sambil menaik turunkan alisnya.
“Ihh, Abang ... narsis banget sih, dahlah ... aku mau mandi,” balas Daviana yang malu ketahuan sedang menatap Reza.
Saat Daviana bangkit, dirinya merasakan sakit di daerah intinya.
“Aduhhh,” lirih Daviana yang langsung duduk kembali.
Reza yang tau pun segera bangun dan membopong Daviana lalu membawa istrinya itu ke kamar mandi.
“Kan kamu sakit, Sayang, jadi ya aku bopong aja,” balas Reza.
“Udah, sekarang kamu mandi. Atau ... mau sekalian aku mandiin aja?” ucap Reza setelah menurunkan Daviana.
“Abang, mesum banget sihh,” kata Daviana yang mencurutkan bibirnya.
Reza pun menyempatkan menoel hidung istrinya kemudian tertawa dan segera keluar dari kamar mandi.
Di luar kamar mandi, Reza menyiapkan baju untuk daviana karena tadi Daviana tidak sempat mengambil baju. Setelah selesai, Reza pun kembali mendekat ke kamar mandi.
“Sayang, bajunya aku letak di sini ya, cepat mandinya ... udah mau subuh loh ini,” teriak Reza dari luar kamar mandi.
“Iya, Bang ... keluarlah abang dulu, baru aku cepat selesainya,” kata Daviana.
“Kamu itu ... aku kan juga udah tau semuanya, Sayang,” ucap Reza.
__ADS_1
“Abangggg!” teriak Daviana dari dalam kamar mandi karena malu.
Reza pun kembali keluar sambil tertawa.
“Ternyata seru juga ya Nai, bercandain kamu,” ucap lirih Reza sembari senyum-senyum mengingat Daviana yang malu saat digendongnya tadi.
Tak lama kemudian, Daviana pun keluar dari kamar mandi. Kemudian, Daviana menyusul Reza yang tengah menunggu di luar.
“Bang, mandi gih, keburu habis nanti subuhnya,” kata Daviana.
“Iya, Sayang,” balas Reza sambil berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi, Reza pun bersiap untuk sholat subuh berjamaah.
Setelah selesai sholat, Daviana mencium punggung tangan Reza dan Reza pun mencium kening Daviana.
Setelah selesai sholat, mereka pun duduk di sofa.
“Nai, makasih ya kamu udah berikan yang paling berharga ke padaku,” ucap Reza sembari memandangi istri cantiknya itu.
“Ya karrna abang suami Nai, masa mau Nai berikan ke yang bukan suami Nai,” balas Daviana.
“Nai, tapi ....” Reza ragu untuk meneruskan kata-kata yang ingin dilontarkannya.
“Kenapa, Bang? Gak usah ragu ... Nai tau maksud abang,” kata Daviana.
“Memang dulu waktu Nai menikah, Nai sama sekali tidak di sentuh, Bang ... dia dulu menikah karena terpaksa,” lanjut perkataan Daviana.
Dan itu membuat Reza terkejut dan sekaligus senang. Karena dengan begitu, Reza lah orang yang pertama menyentuh Daviana.
“Tapi pernikahan kamu selama satu tahun loh, Nai, kok bisa kamu tahan dan gak curiga?” tanya Reza setelahnya.
“Ya ... kalau curiga sih pasti ada, Bang. Cuma ... aku gak terlalu ambil pusing juga karena kemarin-kemarin itu pekerjaanku juga lagi banyak-banyaknya, jadi aku sama sekali gak berpikiran yang aneh-aneh karena dia pun sepertinya lagi banyak kerjaan juga,” jawab Daviana.
“Yaudah lah, Nai, gak usah bahas masa lalu lagi, sekarang yang penting masa depan kita ya,” kata Reza mendekat ke Daviana.
“Bang, mau apa?” tanya Daviana memundurkan duduknya.
__ADS_1