
“Dok, bagaimana keadaan istri saya? Istri saya kenapa?” tanya Bayu khawatir.
“Maaf, Pak. Jadi begini, istri bapak berkemungkinan sedang mengandung. Jadi, karena kecapekan istri Anda pingsan,” jawab Dokter.
“Hah? Apa, Dok? Saya gak salah dengar ‘kan?” ucap Bayu memastikan.
“Untuk memastikannya, kita akan lakukan USG sekarang ya, Pak. Silakan bapak berdiri di sebelah istri bapak,” titah Dokter yang dituruti oleh Bayu.
Suster pun segera mengambil alat USG kecil dan segera membuka baju yang bagian perut lalu mengoleskan gel.
Dokter langsung menggerakkan alat tersebut di perut Anna, “Nah, itu dia, Pak. Ada kantung kecil. Itu janinnya, calon anak bapak.”
Bayu melihat calon anaknya merasa terharu. Dia bersyukur karena akan menjadi seorang Ayah.
“Sayang, makasih ya ... kamu udah mau mengandung anak abang,” ucap Bayu memegang erat tangan Anna.
“Anak Anna juga loh, Bang,” protes Anna yang tak terima.
“Iya, Sayang. Anak kita,” balas Bayu yang kali ini ucapannya diangguki oleh Anna.
Setelah selesai, suster pun segera membersihkan bekas gel di perut Anna. Dokter segera memberikan keterangan ke Bayu.
“Pak, calon anak bapak usianya 5 minggu ya. Dan, ini obat untuk penguat kandungan, vitamin untuk Bu Anna. Sementara ini Bu Anna jangan terlalu capek. Jangan diajak olah raga malam dulu ya. Karena, tadi saya lihat Bu Anna ada flek sedikit,” ucap Dokter menjelaskan.
Bayu pun merasa bersalah karena tadi siang udah memaksa Anna melayaninya.
“Baik, Dokter, Terima kasih. Kalau gitu kami permisi dulu,” balas Bayu menerima hasil USG.
“Iya sama-sama, Pak. Silakan.”
Setelah keluar dari IGD, Mama dan Papa udah gak sabar untuk bertanya.
“Kenapa kalian lama banget sih, Mama cemas menunggu di luar,” gerutu Mama Dhiya langsung mendekat pada Anna.
“Ma, ini untuk Mama,” ucap Bayu memberikan hasil USG ke Mama Dhiya.
“Hah? Kamu hamil, Na? Alhamdulillah dapat cucu lagi!” seru Mama Dhiya.
“Lihat nih, Pa. Ini hasil USG calon cucu kita,” ucap Mama dengan antusiasnya.
“Tahun ini kita panen cucu, Ma,” balas Papa Harun.
Santi juga Dani mendekat untuk memberikan selamat ke Anna dan Bayu.
“Bu Anna, Pak Bayu, selamat atas kehamilannya, semoga Bu Anna dan calon bayinya sehat sampai lahiran,” ucap Dani.
“Terima kasih ya, Dani. Tapi, kok kalian ada di sini? Bukannya tadi mau jalan-jalan?” tanya Anna.
“Kami tadi ditelpon Pak Harun. Karena, Bu Anna pulang dari rumah Santi pingsan. Jadinya, Santi langsung panik dan minta di antar ke sini melihat bagaimana kondisi Bu Anna langsung,” jawab Dani menjelaskan.
__ADS_1
“Oh gitu. Makasih ya, San.”
“Oh iya, Ma, Pa, ini Santi,” ucap Anna memperkenalkan.
“Kita semua juga sudah kenal, Sayang. Ini ‘kan yang mau hancurin rumah tangga Reigha?”
“Bukan, Ma. Mereka ini Santi dan Dani, sepasang kekasih,” ucap Anna.
“Hah? Sejak kapan?” tanya Bayu kaget.
“Abang sih, daritadi Anna mau cerita Abang gak mau dengar. Jadinya gak tau ‘kan?” gerutu Anna.
“Mereka baru jadian tadi siang, Bang. Jadi, Santi ini udah sembuh depresinya. Dia mau ketemu Kak Reigha dan Shafa untuk minta maaf. Bukan hanya Kak Reigha dan Shafa sih, tapi dengan keluarga kita,” lanjut Anna menceritakan.
“Alhamdulillah, jadi beneran dia ini udah jadian sama Dani?” tanya Mama Dhiya memastikan.
“Iya benar, Ma. Bahkan Dani minta tolong untuk melamarkan Santi ke Pak Rudi,” jawab Anna.
“Trus, Reigha udah tau belum, Na?” tanya Papa.
“Itu dia, Pa. Kak Reigha belum tau. Tadi ‘kan rencana Anna ke kantor abang mau cerita masalah Santi dan Dani, eh ternyata keduluan pingsan,” jawab Anna kembali.
“Yaudah, kalau memang Santi ingin minta maaf ke Reigha, mari kita sama-sama ke rumah,” ucap Papa Harun.
“Baiklah pak, kami ikutin Pak Harun dari belakang.”
Mereka pun segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, mereka segera berkumpul di ruang tamu. Reigha yang mendengar ada suara ramai langsung keluar dari ruang kerjanya.
Netra Reigha seakan mengabsen satu per satu. Melihat adanya Santi, Reigha jadi gugup. Reigha takut kalau Santi akan mendekati Reigha dan akan meminta menikahinya di depan keluarganya.
“Kok bisa ada Santi?” tanya Reigha.
“Papa minta duduk dulu, Gha. Anna, tolong panggilkan Shafa,” pinta Papa Harun.
“Iya, Pa,” balas Anna.
Saat Anna ingin melangkah, Bayu berbisik, “Hati-hati, Sayang.”
Anna mengangguk dan berjalan menuju kamar Shafa. Kemudian, segera mengetuk pintu dan terdengar suara Shafa menyaut menyuruhnya masuk. Anna pun segera masuk dan melihat Shafa menangis.
“Lah, Fa, lo kenapa?” tanya Anna heran.
Shafa pun segera memeluk Anna.
“Na, Mas Reigha mau nikah lagi. Gimana dengan gue? Gue kan gak mau diduakan,” lirih Shafa sambil menangis tersedu-sedu.
“Hah? Kata siapa Kak Reigha mau menikah lagi?” tanya Anna heran.
Shafa pun bercerita kalau tadi Reigha udah menceritakan semua kejadian di Surabaya.
__ADS_1
Anna pun mengusap air mata Shafa, “Udah ih, sekarang ayo kita ke depan agar masalah ini segera kita selesaikan. Berdiam diri seperti ini gak bisa menyelesaikan masalah lo. Ayo, Fa. Papa udah nunggu di ruang tamu.”
Shafa pun segera berdiri dan berjalan bersama Anna. Sampai di ruang tamu, Shafa terkejut ternyata semua lagi kumpul. Netra Shafa langsung menangkap wanita di dekat dani.
‘Siapa wanita itu? Apa itu yang mau minta dinikahi Mas Reigha?’ batin Shafa bertanya-tanya.
“Duduk, Sayang,” ucap Reigha.
Shafa pun segera duduk di dekat Mama Dhiya. Karena, Shafa belum mau duduk di dekat Reigha.
Santi langsung mendekat dan duduk di depan Shafa, “Bu, saya minta maaf karena telah membuat Ibu bersedih. Saya membuat masalah, saya minta maaf, Bu.”
“Kamu siapa? Kenapa minta maaf ke saya?” tanya Shafa.
“Saya Santi dari Surabaya, saya yang beberapa bulan ini mengganggu kedamaian rumah tangga Ibu,” jawab Santi.
“Kamu minta maaf itu artinya kamu gak jadi menikah sama Mas Reigha?” tanya Shafa.
“Tentu saya jadi menikah, Bu. Tapi, saya menikah sama Mas Dani,” jawab Santi.
Reigha yang mendengar itu langsung bernafas lega, “Alhamdulillah, terima kasih ya, San, sudah sembuh berarti?” tanya Reigha.
“Iya, Pak. Saya udah sembuh. Saya juga mau minta maaf sama bapak karena kemarin udah banyak merepotkan bapak.”
“Baiklah, masalah saya anggap selesai dan Santi pun juga udah minta maaf. Bagaimana sekarang, kalian memaafkan apa tidak?” tanya Papa Harun.
Shafa pun menatap Reigha. Kemudian, Reigha mendekat ke Shafa.
“Sayang, Mas minta maaf ya,” ucap Reigha mendudukkan diri di samping Shafa.
Shafa pun segera memeluk Reigha, “Iya, Mas, Shafa juga minta maaf.”
“Anak-anak, maafkan Papa, ya,” ucap Reigha mensejajarkan dengan perut Shafa.
Mereka yang melihat Reigha dan Shafa menatap penuh haru.
Setelah mereka saling minta maaf, Reigha dan Shafa duduk bersama.
Reigha mewakili Shafa mengatakan sesuatu ke Santi, “Santi, kami berdua memaafkan kamu, kami menganggap masalah kemarin adalah ujian cinta kita, dan sekarang kami telah lulus dengan ujian tersebut.”
“Dani, rencananya kapan kalian akan menikah?” tanya Mama Dani.
“Kami menunggu Papanya Santi untuk ke Jakarta, Bu. Rencananya, kami mau minta tolong keluarga Pak Harun ini untuk menjadi wali saya, itupun kalau gak keberatan,” balas Dani menunduk sedih. Karena Dani yang gak punya keluarga membuat dirinya sedih.
“Kami semua tidak keberatan, kami akan jadi keluarga kamu kok. Iya gak, Gha, Bay?” titah Papa Harun minta persetujuan pada anak-anaknya.
“Iya, Pa. Kami setuju kok,” ucap Bayu dan diangguki oleh Reigha.
“Oke. Kalau gitu, sekarang ganti Mama yang mau ngomong. Mama ada kabar bahagia,” ujar Mama Dhiya yang begitu semangat karena akan panen cucu tahun ini.
__ADS_1
“Hah? Apa, Ma?” tanya Reigha.
Semua tampak serius menatap Mama Dhiya yang senyum-senyum sendiri.