Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 32 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Trus menurut kamu gimana? Kamu mau kalau pernikahan kita berakhir gitu aja karena kesepakatan gak jelas itu?” tanya Reigha yang masih emosi.


“Enggak, Mas ... Shafa sayang sama Mas. Shafa gak mau pisah sama Mas,” jawab Shafa sambil menundukkan kepalanya.


“Kalau gitu, kita harus secepatnya mengadakan resepsi dan akad nikah lagi. Masalah Mama, nanti aku yang urus!” seru Reigha yang mulai menurunkan emosinya.


“Iya, Mas. Tapi, kamu jangan emosi, ya, Mas. Ingat, walau bagaimanapun kamu harus sabar menghadapi Mama, Mas,” ucap Shafa kembali.


“Iya, Sayang. Udah, kamu jangan nangis lagi, ya.” Reigha tersenyum dan kembali mengusap air mata Shafa dengan lembut.


“Iya, Mas. Oh iya, Mas tadi setelah makan di restoran kamu belum minum obat, Shafa siapin dulu obatnya, ya,” ucap Shafa bergegas mengambil obat untuk Reigha.


“Iya, Sayang.”


Setelah minum obat, Reigha langsung tertidur. Shafa keluar dari kamar menuju dapur. Shafa memasak untuk makan malam. Sesampainya di dapur, ternyata Mama Dhiya sedang masak.


Shafa menghampiri Mama dan bertanya, “Ma, lagi masak apa?”


“Eh ... Kamu, Fa, ini rencana Mama mau masak kesukaan Reigha. Kamu ke dapur mau apa, Sayang?” jawab Mama Dhiya sembari bertanya kembali.


“Rencana mau masak sih, Ma. Eh, ternyata udah keduluan Mama nih. Boleh Shafa bantuin, ya, Ma?” balas Shafa.


“Boleh dong, Fa. Tapi, ini udah hampir selesai. Tinggal buat sambel. Gapapa, ya, Fa. Kamu yang buat sambelnya,” kata Mama Dhiya.


“Iya, Ma. Gapapa kok.” Shafa mulai berkutik dengan bumbu-bumbu dapur dan perkakas dapur lainnya, sembari diperhatikan oleh Mama Dhiya.


“Mama kenapa kok lihatin Shafa gitu?” tanya Shafa.


Mama Dhiya terdiam. Jujur, dirinya ingin mengatakan sesuatu pada Shafa.


“Fa, emm ... boleh Mama ngomong sebentar?” tanya Mama Dhiya.


“Owh ... iya, Ma. Mama mau ngomong apa?” balas Shafa yang kini mulai deg-deg an. Takut, jika Mama meminta Shafa segera meninggalkan Reigha.


“Gini, Fa. Sebelumnya, Mama mau minta maaf. Emm ... Fa, gimana kalau perjanjian kita yang dulu itu, kita batalkan aja? Jujur, Mama sayang sama kamu, Fa. Mama gak mau kehilangan menantu Mama yang baik ini,” ucap Mama Dhiya.


Shafa langsung memeluk Mama Dhiya sembari menangis haru. Dia tidak menyangka kalau Mama Dhiya mau membicarakan masalah itu dan membatalkannya.


“Terima kasih, Ma ... terima kasih. Shafa gak tau mau ngomong apa lagi. Jujur Shafa udah sayang sama Mas Reigha, Shafa berat rasanya kalau mau pisah sama Mas Reigha. Dan, ternyata Mama sendiri yang batalin perjanjian itu. Terima kasih, Ma,” kata shafa sambil memeluk Mama Dhiya.


“Iya, Fa. Mama hanya melakukan apa yang harusnya sejak dulu Mama lakukan, kalian pasangan yang serasi. Reigha pun bahagia bersama kamu. Mama bahagia kalau anak mama bahagia, Fa. Semoga kalian selalu langgeng sampai anak cucu,” ucap Mama Dhiya tersenyum senang.


“Ya udah, kamu lanjut dulu buat sambelnya. Mama ke kamar dulu, ya, Fa.” Mama memegang pipi Shafa, kemudian berlalu pergi menuju ke kamar.


“Iya, Ma. Biar Shafa yang lanjutin,” balas Shafa.

__ADS_1


Akhirnya Mama Dhiya ke kamarnya, Shafa pun melanjutkan masaknya dengan penuh gembira.


Setelah semua sudah dipersiapkan di ruang makan, Shafa pun bergegas ke kamar untuk segera mandi.


Sesampainya di kamar, Shafa melihat Reigha yang ternyata sudah bangun.


“Darimana, Sayang?” tanya Reigha.


“Tadi Shafa dan Mama masak, Mas,” jawab Shafa sembari mendekat naik ke atas kasur dan duduk di sebelah Reigha.


“Mas, kamu tau gak, Mas. Alhamdulillah banget, tadi pas di dapur, Mama tuh ngomong ke Shafa kalau perjanjiannya dibatalkan. Ya Allah, Mas ... gak menyangka banget aku,” sumringah Shafa bercerita dengan suaminya.


Reigha yang mendengarnya pun bernafas lega, akhirnya Mamanya menyetujui pernikahan ini.


“Emm ... udah deh. Mas, Shafa mandi dulu, ya.”


“Iya, Sayang.”


Shafa pun turun dari kasur dan segera bergegas menuju masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Shafa masuk ke kamar mandi, Reigha pun menelepon Bayu.


Saat panggilan terhubung ...


“Oh iya, gue taruh di kamar gue, Gha. Nanti pulang kantor gue antar ke kamar lo deh,” jawab Bayu.


“Oke, Bay,” ucap Reigha.


“Oh iya, yang kemarin gue minta tolong carikan itu, udah dapat?” lanjut Reigha bertanya pada Bayu.


“Alhamdulillah udah, Gha. Gak juah dari rumah Shafa. Dekat perempatan yang kemarin lo kecelakaan itu.”


“Oke, Bay. Trus gimana? Udah lo urus semuanya?” tanya Reigha kembali.


“Udah aman, Gha. Bahkan, gue udah ajak Om Reynand liat lokasinya langsung. Beliau gak henti-hentinya ngucapin terima kasih ke lo,” balas Bayu.


“Alhamdulillah kalau Ayah Reynand suka. Kapan rencana pembukaannya?”


“Kalau kata Om Reynand sih, satu minggu lagi, Gha.”


“Oke kalau gitu. Nanti waktu pembukaan, gue ajak Shafa ke sana. Gue mau buat kejutan buat istri gue.” Reigha tampak tersenyum membayangkan betapa bahagianya istrinya itu. Karena, yang Reigha inginkan saat ini hanyalah kebahagiaan dari Shafa.


“Oke, Gha. Dah dulu, ya. Gue lagi sibuk nih,” ucap Bayu.


“Iya, Bay. Makasih banyak, ya.” Telpon pun di tutup bertepatan pula Shafa yang keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


“Mas, tadi telpon siapa? Kok kayaknya serius?” tanya Shafa sembari duduk di pinggiran kasur merapikan kancing lengan bajunya.


“Oh. Itu tadi Bayu, Sayang. Mas cuma mau tanya HP yang kemarin dia belikan diletakkan dimana,” jawab Reigha.


“Mas beli HP juga?” tanya Shafa kembali.


“Iya, Sayang. Mas ‘kan bisa nanti kerja lewat HP tersebut,” jawab Reigha membuat Shafa manggut-manggut paham.


“Owh ... oke, Mas. Shafa sholat duluan, ya. Mas buruan cepat mandi trus sholat, dah mau habis lo asharnya.”


“Hmm ... oke, Sayang.” Reigha melangkah menuju kamar mandi. Sesuai perintah ibu negara, Reigha segera mandi.


Sepulangnya Bayu dari kantor, dia datang bersama Anna. Karena, Shafa yang meminta Anna mampir ke rumah.


Dan, sesuai yang Bayu ucapkan, sepulang kantor dirinya langsung menuju ke kamar Reigha untuk mengantarkan HP barunya Reigha .


Tok...Tok...Tok...


Shafa membukakan pintunya. Shafa mempersilahkan keduanya masuk. Bayu langsung menghampiri Reigha yang memang menunggu kehadiran Bayu sejak tadi.


Bayu mengulurkan tangannya, menyerahkan HP yang udah siap pakai. Karena, udah diinstal dan juga diisi aplikasi lengkap untuk kebutuhan kerja Reigha saat di rumah, bahkan CCTV kantor pun sudah dihubungkan ke HP baru Reigha.


“Nih, Gha. HP lo dah siap pake kerja. Nomor-nomor patner kerja kita, nomor keluarga, bahkan nomor istri lo juga udah gue masukin semua,” ucap Bayu sembari menyerahkan ponsel baru Reigha.


“Oke, Bay. Makasih banyak, ya!” seru Reigha.


Sejak masuk kamar tadi, Shafa dan Anna sudah sibuk mengobrol berdua di sofa kamar.


****


Waktu makan malam pun tiba. Semua menuju ke ruang makan. Mama Dhiya tampak sangat gembira karena malam ini makannya dengan formasi lengkap.


Semuanya makan dengan lahap dan gembira, Reigha dan Shafa tampak saling menyuapi hingga membuat Anna tersenyum senang melihat Shafa yang kini dapat merasakan kasih sayang dari suaminya. Karena, sejak dulu Reigha belum menampakkan langsung bagaimana keromantisan keduanya di hadapan keluarga.


Disaat semua sudah selesai makan. Tiba-tiba ada tamu tak di undang datang langsung masuk ke dalam ruang makan.


“Hai semua! Gimana kabarnya kakakku yang baik? Sepertinya semua lagi bahagia, ya. Tanpa memikirkan kesedihan adiknya dalam sel tahanan,” ucap Lucy mendekat pada Papa Harun dan Mama Dhiya.


Semua yang di meja makan langsung menatapnya malas. Kecuali, Shafa dan Anna yang memang tak tau dan tak kenal siapa orang tersebut.


Ralat. Bukan tak kenal, tetapi belum kenal.


“Ekhm! Hai, Kak Reigha ... Kakak makin tampan deh. Aku makin jatuh hati sama kakak. Kapan kakak mau melamarku?” ucap Cantika tepat disamping Reigha.


Lucy adalah istri dari Andre, sementara Cantika adalah anak dari Andre dan Lucy yang sejak dulu memang selalu mendekat pada Reigha. Entah kenapa kini keduanya kembali hadir dan sepertinya akan mengusik keluarga Papa Harun sebagaimana yang dilakukan oleh Andre waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2