Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 80 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Kayaknya, Mas lagi pengen ... ”


Sebelum Reigha melanjutkan ucapannya, Mama Papa dan juga Mbok Nah segera pergi dari ruang tamu, tidak mau terkena sasaran dengan keinginan aneh dari Reigha.


“Mama dan Papa kenapa sih, Sayang?” lanjut Reigha bertanya saat mereka berlalu pergi meninggalkan Reigha dan Shafa di ruang tamu.


“Emang Mas pengen apasih, Mas?” tanya Shafa dengan lembut.


“Sayang, Mas lagi pengen dipeluk kamu,” jawab Reigha yang langsung mendekat pada Shafa.


Kemudian, Shafa pun memeluk suaminya.


Sebulan dari kejadian aneh Reigha pun berlalu. Shafa selalu menghadapi keinginan aneh dari Reigha dengan sabar. Setelah berlalu sebulan waktu Santi bersama dengan Anna juga Dani, semakin membaik kesehatan Santi.


Santi tampak semakin akrab dengan Anna. Begitu juga dengan Dani yang ternyata diam-diam menyukai Santi. Tapi, Dani tidak berani mengutarakannya.


Anna melihat Santi yang keadaannya udah stabil, Anna akan bicara dari hati ke hati pada Santi mengenai Reigha. Karena, selama ini Anna tidak pernah menyebut nama Reigha di hadapan Santi. Pak Rudi sudah kembali ke Surabaya dua minggu yang lalu.


Santi di rumah bersama mbak Mira perawat yang menjaga Santi dan sesekali Dani yang menjaga dengan telaten. Anna selalu pulang sore dan pagi datang kembali ke rumah Santi.


“San, sekarang gimana keadaan kamu?” tanya Anna saat baru saja masuk ke dalam rumah Santi.


“Alhamdulillah udah semakin sehat, Na, terima kasih ya kamu mau jadi sahabatku, aku gak kesepian lagi,” jawab Santi.


“San, boleh aku cerita sesuatu tentang Kak Reigha,” kata Anna yang akan memulai cerita.


“Oh ... Mas Reigha, ada apa dengannya? Apa udah gak sibuk? Kapan dia mau kesini? Santi mau ucapin terima kasih karena udah menyuruh kamu dan Mas Dani untuk jaga aku,” balas Santi.


“Kamu cuma mau berterima kasih, San? Gak pengen yang lainnya?”


“Yang lain, maksudnya? Santi gak ngerti deh, Na,” balas Santi.


“Saat kamu di Surabaya dulu kamu gak ingat, San? Kamu minta Kak Reigha menikahi kamu ‘kan?”


“Ah, itu masa lalu, Na, gak usah dibahas lagi. Kalau ingat itu, aku malu sama Pak Reigha, baru kenal kok minta nikah. Lagian Pak Reigha kan udah nikah, Na, aku gak mau jadi sebab keretakan rumah tangga Pak Reigha,” ucap Santi panjang.


“Kalau kamu mau anterin, aku mau minta maaf sama istrinya karena gara-gara jagain aku, pak Reigha sampai ninggalin istrinya lama,” lanjut Santi menunduk sedih.


“Baiklah, lain kali aku ajak ke rumahnya. Aku tau kamu orang baik, San. Alhamdulillah kamu udah sembuh,” balas Anna tersenyum senang.


“Makasih ya, Na. Ini juga berkat kamu. Oh iya, aku boleh tanya sesuatu gak?” tanya Santi.


“Katakanlah, San. Apa yang mau kamu tanyakan?” balas Anna penasaran.

__ADS_1


“Na, Mas Dani itu udah punya istri atau pacar apa belum sih?” lirih Santi dengan malu-malu.


“Ciee ... ada yang lagi jatuh cinta nih,” ledek Anna membuat Santi bersemu.


“Kamu ih, kok malah ngledek sih, Na. Aku beneran nanya loh,” balas Santi.


Bukannya menjawab apa yang Santi tanya, malah Anna memanggil Dani untuk mendekat pada Anna dan Santi.


“Dani, coba ke sini dulu,” pinta Anna.


Santi langsung salah tingkah karena Anna tiba-tiba memanggil Dani.


“Eh, iya. Ada apa, Bu?” tanya Dani yang sudah di dekat Anna.


“Sini duduk dulu, temani kami ngobrol,” balas Anna yang tentu langsung dilaksanakan oleh Dani, kalau tidak dilaksanakan dia takut kena amukan dari Bayu.


Dani pun langsung duduk di depan Santi, Santi dan Dani langsung gugup saat tidak sengaja mata mereka bertemu.


“Nih, Dani. Tadi ada yang nanya dan sebaiknya yang jawab tuh yang bersangkutan,” ucap Anna mencuil dagu Santi.


“Mau menanyakan apa?” tanya Dani menatap mata hooded milik Santi yang begitu indah bagi Dani.


“Ayo, San, tadi katanya mau tanya,” ucap Anna menggoda Santi tampak gugup ditatap oleh Dani.


“Mau tanya apa? Kalau gak ada saya mau pergi,” ujar Dani yang hendak berdiri.


“Eh, tunggu. I-itu Mas Dani ... emm Mas dani ... eee,” kata Santi dengan gugup.


“Halah, kelamaan, itu loh, Dan. Santi mau nanya. Kamu udah punya pacar atau istri belum?” tanya Anna mewakili.


“Oh itu, mau tanya itu ya? Belum sih, sampai saat ini saya belum punya pacar atau istri dan saat ini gak ada yang sedang dekat sama saya. Tapi, saat ini saya sedang menyukai seseorang. Ada lagi?” jawab Dani.


Santi yang mendengar kalau Dani sedang menyukai seseorang, langsung menekuk mukanya sedih.


“Ada apa? Apa ada yang salah sama kata-kata saya?” tanya Dani saat melihat wajah sedih Santi.


“Emang deh, cowok itu pada gak peka. Kamu itu masa gak paham sih. Sinta itu suka sama kamu, tapi ternyata kamu udah menyukai seseorang,” sambar Anna.


“Bu Anna dan Santi emang gak tanya, siapa wanita yang saya sukai?” tanya Dani membuat Santi mendongakkan wajahnya.


“Emangnya penting? Udahlah, gak perlu,” jawab Santi langsung berdiri mau pergi dari tempat itu.


“Tunggu, tunggulah sebentar. Wanita yang saya sukai itu kamu, Santi. Saya menyukai kamu,” jawab Dani tegas.

__ADS_1


Seketika Santi diam mematung. Hatinya begitu bahagia karena masih ada yang menyukai dia.


Santi pun langsung membalikkan badannya, “Apa benar yang kamu katakan, Mas? Emangnya kamu gak malu, masa laluku yang kelam, perempuan depresi, pernah hamil.”


“Itu biarkan menjadi masa lalu, semua orang punya masa lalu. Kita menatap ke depan jangan melihat ke belakang terus, saya mau mengajak kamu membuka lembaran baru dengan kisah cinta yang baru. Gimana, apa kamu terima cinta saya?” titah Dani.


Tanpa menunggu lama, Santi pun memgangguk setuju.


“Alhamdulillah ... selamat ya, San, akhirnya tugasku selesai!” seru Anna dengan raut wajah begitu senang.


“Ekhm. Belum, Bu. Tolong bantu saya melamarkan Santi ke Pak Rudi,” pinta Dani.


“Oh tidak bisa. Kalau itu udah bukan urusanku, Dan. Tentu itu urusan Kak Reigha dan Bang Bayu,” balas Anna.


“Tapi, tenang. Nanti aku bicarakan di rumah dengan Kak Reigha dan Bang Bayu, ya,” lanjut Anna.


“Bentar-bentar, ini maksudnya gimana? Tugas selesai? Emang kamu dapat tugas apa dan dari siapa?” ucap Santi dengan rentetan pertanyaan.


“Santi, sebenarnya Bu Anna ini adik iparnya Pak Reigha. Dan, dia ke sini untuk membantu kesembuhan kamu. Selain memang Bu Anna kerja di kantor Pak Reigha, Bu Anna dulunya adalah suster di rumah sakit,” jawab Dani menjelaskan.


“A-adik ipar?” Santi yang mendengar kalau Anna adalah adik ipar Reigha, dia langsung menunduk. Santi malu karena selama ini dia banyak salah sama keluarga Reigha, dan ternyata keluarga Reigha sangat baik memperlakukan dirinya.


Santi semakin merasa bersalah dia membuat Reigha sebulan penuh jauh dari keluarganya, istrinya, dan anaknya yang masih di dalam kandungan.


“Kenapa kamu, Sann? Ada apa?” tanya Anna yang melihat Santi melamun.


“Ma-maaf, Bu Anna. Bisa gak kalau saya bertemu keluarga Pak Reigha ke rumahnya, saya ingin minta maaf,” ucap Santi segan.


“Lah, kenapa jadi manggil aku pakai embel-embel Bu Anna, biasanya ajalah panggil Anna seperti kita ngobrol kemarin-kemarin. Kita kan teman,” balas Anna.


Santi langsung memeluk erat Anna, “Na, tolong ... sampaikan maafku pada keluarga Pak Reigha.”


“Iya, nanti aku tanyakan dulu kapan kamu bisa kesana. Dan, maafnya kamu akan aku sampaikan, atau mending kesananya sekalian antar undangan,” ujar Anna.


“Undangan apa, Bu?” tanya Dani mengernyit bingung.


“Undangan khitannya kamu, Dan!” celetuk Anna sambil ketawa.


“Ya undangan pernikahan kalianlah, Dan. Kapan rencananya?” lanjut Anna.


Santi langsung tersenyum mendengar celetukan Anna yang sangat absurd.


“Hmm ... Santi, kapan Pak Rudi ke Jakarta? Atau kita ke Surabaya saja untuk lamarannya?” tanya Dani.

__ADS_1


__ADS_2