
Lucy adalah istri dari Andre, sementara Cantika adalah anak dari Andre dan Lucy yang sejak dulu memang selalu mendekat pada Reigha. Entah kenapa kini keduanya kembali hadir dan sepertinya akan mengusik keluarga Papa Harun sebagaimana yang dilakukan oleh Andre waktu itu.
Mama Dhiya langsung berdiri dia menyuruh Lucy dan Cantika duduk dan makan. Ruang makan yang biasanya di penuhi canda tawa setelah makan bersama, sekarang menjadi sunyi karena kedatangan tamu tak diundang itu.
Reigha dan Shafa berdiri izin ke kamar karena Reigha mau minum obat. Setelah sampai kamar, Shafa bertanya pada Reigha, “Mas yang datang tadi siapa, Mas?”
“Oh ... itu istri dari adiknya Papa. Yang kemarin ditangkap polisi karena menyebabkan Mas kecelakaan,” jawab Reigha.
“Oh ... kalau yang satunya, Mas?” tanya Shafa kembali.
“Itu anaknya yang baru pulang dari luar negeri,” jawab Reigha.
“Mas, sepertinya dia suka deh sama kamu!” seru Shafa.
“Hmm ... kamu cemburu, ya, Sayang?” tanya Reigha.
“Enggaklah, Mas,” balas shafa sembari mengerucutkan bibirnya.
“Sayang, bibirnya jangan digituin, nanti Mas gigit loh.”
“Hmm,” dehem Shafa.
Di luar tampak sepi. Semua orang udah masuk ke kamarnya masing-masing setelah makan malam tadi. Anna hari ini menginap di rumah Papa Harun. Begitu juga dengan Lucy dan Cantika yang malam ini juga menginap di rumah Papa Harun.
Entah apa yg mereka rencanakan. Tepat di tengah malam, ada dua orang yang mengendap-endap masuk ke dalam ruang kerja Reigha. Keduanya seperti sedang mencari-cari sesuatu dan kebetulan pula Shafa tengah keluar kamar mengambil air. Karna air minum di kamarnya habis.
Shafa melihat ruang kerja Reigha terbuka. Shafa mengendap-endapan pula melihat di dalam, ternyata ada tante Lucy dan juga anaknya. Kemudian, Shafa kembali masuk ke dalam kamar, dia membangunkan Reigha.
“Mas, Mas ... bangun!” seru Shafa sembari menggoyangkan badan Reigha.
“Ada apa, Sayang ... apa udah pagi?” tanya Reigha.
“Belum, Mas. Tapi, Mas bangun dulu. Cepetan!” seru Shafa.
Reigha pun langsung terbangun dan duduk, kembali bertanya pada Shafa, “Ada apa sih, Sayang?”
“Ssstttt! Mas, di ruang kerja Mas ada orang masuk. Dia sepertinya lagi mencari-cari sesuatu,” jawab Shafa menjelaskan.
“Siapa, Fa?”
“Sepertinya tante Lucy dan anaknya, Mas.”
Mendengar hal itu, Reigha kaget. Reigha tak percaya, tapi Reigha yakin jika hal itu pasti akan terjadi.
“Sebentar, Mas telpon bayu dulu. Trus kita kesana,” ucap Reigha.
Pelan-pelan keduanya berjalan menuju ke ruang kerja Reigha. Jangan lupakan Reigha yang tetap memakai tongkatnya untuk berjaga-jaga.
Berulang kali Bayu ditelpon. Tapi, tidak diangkat olehnya. Akhirnya, Reigha masuk ke dalam ruang kerja berdua sama Shafa.
Reigha masih menunggu di luar sejak tadi. Kemudian Reigha dan Shafa mengendap-endap masuk mendekat pada saklar lampu.
Tiba-tiba lampu ruang kerja dinyalakan. Tante Lucy dan juga anaknya kaget. Dia melihat siapa yang menyalakan lampunya.
“Nyari apa sih, Tante?” tanya Reigha.
__ADS_1
“Oh ... ini, Gha, tante lagi nyari surat yang kemarin tante tinggal di sini. Tante mau ngurus surat-surat yang hilang,” jawab tante Lucy.
“Oh ... Tante mau nyari surat atau berkas perusahaan, Tan?” tanya Reigha kembali.
“Entah-entah kalau nanti tante urus surat tante yang hilang, berkas perusahaanku hilang juga, Tan,” lanjut Reigha mengangkat bahunya.
“Reigha, kamu jangan menuduh Tante! Buat apa coba, tante nyari berkas perusahaan.”
“Oh ... enggak, ya, Tan. Aku salah dong. Tapi, kalau emang mau nyari surat-surat, kenapa harus malam-malam. Mengendap-endap pula kayak maling!” seru Reigha.
“Reigha, kasar banget kamu ngomongnya. Tante ini istri dari adiknya Papa kamu loh, bisa sopan gak kamu?” ucap tante Lucy.
“Tante, kalau tante mau Reigha sopan sama tante, setidaknya tante jangan melampaui batas. Tante di sini sebagai tamu, bukan tuan rumah. Apa baik seorang tamu mengendap-endap di rumah orang ketika orang yang punya rumah lagi tidur!” seru Reigha.
Tante Lucy pun langsung keluar bersama anaknya dari ruang kerja Reigha. Dia membanting pintu dengan keras, dia sangat marah pada Reigha.
‘Kenapa kemarin kamu gak mati aja, Gha. Nyusahin orang aja!’ batin tante Lucy.
Pada pagi harinya, semua berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Tapi, tidak dengan tante Lucy dan Cantika. Mereka pagi-pagi udah pergi dari rumah Papa Harun.
“Gha, ngapain lo semalam telpon-telpon gue? Gak tau apa gue capek banget, jadi gue gak dengar,” ucap Bayu bertanya pada Reigha.
“Oh ... gapapa. Salah pencet mungkin,” jawab Reigha.
“Salah pencet kok sampai lima kali sih, Gha.”
“Hahaha ... gue ‘kan kalau malam suka nglindur, Bay. Nelponin orang-orang,” ucap asal Reigha.
“Aneh!” seru Bayu bergidik ngeri melihat kelakuan Reigha.
Setelah sarapan, Bayu dan Anna bergegas pamit untuk berangkat ke kantor.
Saat Bayu dan Anna hendak berjalan keluar rumah, Reigha ingat sesuatu. dia memanggil Bayu.
“Bay, tunggu bentar di ruang tamu!” seru Reigha sembari berjalan menuju ruang tamu.
Bayu yang mendengar hal itu pun langsung duduk di sofa ruang tamu bersama Anna disampingnya.
Saat Reigha sudah berada di ruang tamu, Bayu pun bertanya pada Reigha, “Kenapa, Gha?”
“Gini, kemarin waktu pulang dari rumah sakit, ada mobil yang tiba-tiba mau nabrak Shafa. Dan lo tau, itu kayaknya kesengajaan,” ucap Reigha bercerita pada Bayu.
“Beneran, Gha? Kenapa lo gak ngomong ke gue dari kemarin?” balas Bayu bertanya pada Reigha.
“Lupa semalam gue,” ucap Reigha menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Nah ... rencananya, gue mau minta tolong. Lo lacak plat nomor kendaraan mobil tersebut,” lanjut ucapan Reigha.
“Oh, oke. Nanti lo kirim lewat WA aja nomor plat mobilnya.”
“Oke. Thanks, Bay!” Reigha pun masuk ke kamar, karena Shafa udah menunggu untuk minum obat. Sementara Bayu dan Anna bergegas menuju ke kantor.
“Ayo diminum obatnya, Mas!” seru Shafa.
“Oke, Sayang,” balas Reigha menerima obat yang diberikan oleh Shafa dan meminumnya.
__ADS_1
****
Satu minggu kemudian, Reigha dan Shafa pergi ke rumah sakit untuk ketemu dokter. Karena Reigha sudah tidak memakai tongkat, Reigha pun berjalan seperti biasa.
Shafa dan Reigha sedang menunggu Farhan di ruang tamu.
“Fa, nanti pulang dari rumah sakit kita pergi dulu, ya. Kemarin, aku dengar ada yang buka nasi goreng di dekat tempat mas kecelakaan itu, Fa. Katanya nasi gorengnya enak banget. Mas jadi penasaran deh, Fa,” ucap Reigha membuat Shafa kaget.
“Hah! Serius, Mas? Itu ‘kan area jualan Ayah. Kasihan dong Ayah kalau dapat saingan. Jadi ikut penasaran deh Shafa, Mas. Seenak apa sih nasi gorengnya itu,” ucap Shafa menautkan kedua alisnya.
Reigha hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Shafa dan masih belum memberi tau apa yang harusnya Shafa ketahui.
Farhan pun sudah siap di depan rumah. Shafa dan Reigha berjalan bergandengan tangan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah dan segera keduanya naik mobil.
Tak lama, sampailah mereka di rumah sakit. Mereka pun bergegas menuju ke ruang dokter. Menunggu nama Reigha di panggil.
Beberapa menit kemudian, nama Reigha di panggil oleh suster.
Reigha dan Shafa pun beriringan masuk ke dalam ruangan dokter.
“Bagaimana kabar pak Reigha hari ini? Sepertinya ... sangat baik, ya,” ucap dokter saat Reigha dan Shafa telah duduk dihadapan dokter.
“Alhamdulillah ... iya, Dok. Hari ini saya merasa sangat sehat,” balas Reigha sembari tersenyum.
“Alhamdulillah, Pak.”
“Hmm ... dari hasilnya hari ini, saya menyatakan kalau pak Reigha sudah sembuh. Tapi, saran saya ... kalau kerja jangan terlalu capek dulu, ya, Pak. Takutnya nanti kalau kecapean masih sering pusing,” lanjut ucapan dokter memberikan penjelasan pada Reigha dan juga Shafa selaku istri dari Reigha.
“Oh ... baik, Dokter. Nanti Shafa yang marahin kalau Mas Reigha udah lupa waktu,” ucap Shafa membuat dokter tersenyum.
“Baiklah, Dokter. Kalau gitu saya pamit dulu. Terima kasih banyak,” ucap Reigha.
“Iya, Pak Reigha. Kalau bisa, kembali ke sini lagi, ya!” celetuk Dokter membuat ketiganya tertawa.
“Sehat selalu, ya, Pak,” ucap Dokter kembali.
“Iya, Dokter,” balas Reigha dan berlalu pergi keluar ruangan dokter bersamaan dengan Shafa.
Keduanya keluar dari ruang dokter menuju ke lobby rumah sakit. Di luar, Farhan udah menunggu.
Mereka pun langsung naik mobil, saat di dalam mobil, Shafa membuka suaranya, “Mas, kita jadi mau nyobain nasi goreng yang katanya enak itu? Shafa yakin pasti masih enak nasi goreng punya ayah.”
“Dicoba dulu aja, Sayang. Nanti baru berkomentar,” balas Reigha.
“Hmm ... Shafa yakin, pasti enak punya Ayah. Eh, tapi, Mas ... ini masih siang loh, emangnya udah buka?” ucap Shafa sembari bertanya pada Reigha.
“Kalau kemarin sih, kabarnya jam sepuluh bukanya, Fa. Sekarang ‘kan dah siang. Pasti udah buka.”
Dan sampailah di ruko nasi goreng yang siang hari ini sangat ramai yang beli. Shafa dengan tidak sabarnya langsung masuk hingga melupakan suaminya yang masih tertinggal didalam mobil. Di biarkannya Reigha turun sendirian dari mobil.
Shafa langsung duduk tanpa melihat sekitarnya. Reigha menyusul dan duduk di samping Shafa. Ayah Reynand yang melihat kedatangan anak dan menantunya pun menghampiri meja tersebut dan bertanya, “Maaf, mau pesan apa?”
Shafa yang merasa tak asing dengan suara itu, seketika langsung menoleh menatap pada Ayah Reynand.
“Lho, Ayah!” teriak Shafa sembari menautkan kedua alisnya, bingung.
__ADS_1