Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 78 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Ini siapa, Mas Reigha?” tanya Santi saat melihat Bayu di samping Reigha.


“Adik saya,” jawab Reigha singkat.


“Halo, perkenalkan aku calon istri Mas Reigha,” ucap Santi pada Bayu yang hanya dapat senyuman dari Bayu.


Pesawat pun meninggalkan bandara internasional Juanda menuju ke Jakarta.


Sesampainya di Jakarta, Reigha dan Bayu dijemput oleh Vano. Ternyata Vano udah memesan ojek untuk mengantarkannya pulang.


Mobil Bayu yang tadi dibawa oleh Vano, atas perintah Bayu agar lebih mudah mengurus wanita depresi ini. Reigha terlebih dahulu mengantarkan Santi dan Pak Rudi ke tempat tinggal yang sudah disiapkan Bayu selama di Jakarta. Reigha menunggu Santi tidur dulu barulah bisa di tinggal.


Sebelum Reigha pergi, Bayu memberikan nomer Dani ke pak Rudi kalau sewaktu-waktu butuh apa-apa agar menelepon Dani. Dan, kalau Santi bertanya suruh bilang kalau Reigha pergi ke kantor.


Setelah itu Bayu dan Reigha menuju ke barbershop terlebih dahulu agar wajah Reigha lebih fresh. Kemudian, mereka menuju ke rumah sakit. Saat udah sampai di rumah sakit, Bayu langsung mengajak Reigha masuk ke ruang rawat Shafa.


Reigha bertemu dengan Mama Dhiya dan Anna yang menunggui Shafa.


“Gha, kamu kemana aja,” lirih Mama Dhiya memeluk erat anaknya.


“Maafkan Reigha, Ma,” balas Reigha menunduk sedih.


“Lihatlah, Nak. Lihat istrimu yang sebulan yang lalu kamu tinggalkan,” ucap Mama Dhiya menunjuk Shafa.


“Udah lama Shafa tidur, Ma?” tanya Reigha.


“Cukup lama, bahkan Shafa gak mau makan, Gha. Shafa lebih nyaman dengan tidurnya, bangun hanya menangis sebentar, berbicara kalau ditanya saja. Setelah itu, berusaha untuk memejamkan mata kembali, Nak,” jawab Mama Dhiya membuat Reigha semakin kesal dengan dirinya sendiri.


Reigha segera masuk dan melihat Shafa yang sedang tidur. Reigha segera menghampirinya, “Sayang, maafkan Mas, ya. Mas ninggalin kamu sangat lama.”


Shafa yang merasa ada yang memanggil dan mengenali suara suaminya pun langsung terbangun dan menangis.


“Mas, ini beneran kamu?” tanya Shafa langsung terbangun dan memeluk Reigha.


“Baru ingat istri, Mas?” tanya Shafa ditengah pelukannya dengan Reigha.


“Bukan begitu, Sayang, maafkan Mas ya. Mas lama ninggalin kamu,” kata Reigha sambil mengelus rambut Shafa yang masih tertutup hijabnya.


“Kamu kok sampai sakit seperti ini, mana Shafa yang kuat dan tangguh. Jangan seperti ini, Sayang, Mas sangat sedih,” lanjut perkataan Reigha hingga tak sadar air matanya telah lolos menetes ke pipi.


“Sekarang makan ya, mas suapin,” imbuh Reigha mengambil makanan yang masih utuh di atas nakas.


Shafa pun mengiyakan dan segera duduk.


Semua yang di ruangan itu terharu melihat Reigha dan Shafa yang saling melepas kerinduan.


Shafa makan dengan lahapnya, dia merasa sehat seketika, “Mas Shafa langsung sehat karena Mas pulang. Lain kali kalau kerja, sesekali beri kabar ke istri dong, Mas. Kalau gini, Shafa ngerasa Mas gak sayang lagi sama Shafa.”


“Maaf, Sayang ... Maaf. Sekarang istirahat ya. Mas akan temani kamu di sini,” balas Reigha Setelah selesai menyuapi dan memberikan Shafa segelas air minum.

__ADS_1


Dan tak lama, Shafa pun kembali tidur.


Reigha segera menghampiri Mama Dhiya, Papa Harun, Bayu, dan juga Anna yang duduk di sofa ruang rawat Shafa.


“Kamu kemana aja, Gha? Lupa kalau istri kamu lagi hamil?” tanya Papa Harun yang sejak tadi diam.


“Ya enggaklah, Pa. Maafkan Reigha, Pa, Ma. Ada sedikit masalah di Surabaya,” jawab Reigha mendudukkan diri di sofa.


“Tapi, kenapa kamu gak ngabari kami?” tanya Mama Dhiya.


“Udahlah, Ma. Yang penting Reigha udah pulang. Jangan berdebat lagi, nanti Shafa bangun,” sambar Papa Harun yang malas membahas itu.


Bayu pun mendekati Anna, “Sayang, udah makan? Temani abang yuk makan di kantin.”


Anna mengangguk.


“Pa, Ma, Bayu ajak Anna ke kantin sebentar untuk makan,” ucap Bayu.


“Iya, Nak. Jangan biarkan menantu Mama satu lagi sakit,” balas Mama Dhiya.


“Gha, mau titip makanan? Lo belum makan,” ucap Bayu menawarkan.


“Gue udah kenyang lihat Shafa makan dengan lahap tadi, Bay. Nanti kalai lapar, gue ke kantin,” jawab Reigha.


Bayu dan Anna segera menuju ke kantin tanpa melepas gandengan tangan pada keduanya.


“Terus gimana, Bang, apa rencana Abang?” tanya Anna.


“Abang minta tolong sama kamu ya, Sayang. Tolong kamu ajak berteman itu si Santi. Abang rasa dia itu butuh teman ngobrol,” ujar Bayu.


“Tapi, kamu nanti kalau ke sana di antar Dani sekalian Dani bisa ngawasin kamu biar gak diapa-apain Santi. Karena, Santi perempuan nekat, dia rela melakukan segalanya demi mendapat perhatian Reigha. Kamu, jangan sampai kenapa-kenapa, ya,” lanjut Bayu.


“Baiklah, Bang, demi Shafa, kak Reigha dan dua keponakan kita, Anna siap,” balas Anna.


“Terima kasih, Sayang, Abang hanya mau pelan-pelan agar Sinta lupa sama Reigha,” titah Bayu.


“Tenang aja, Bang, Anna bisa kok, Anna ‘kan dulu suster. Anna tau obat untuk bikin dia tenang.”


Setelah mengobrol berdua, mereka pun segera ke ruang rawat Shafa untuk pamit. Anna udah siap dengan misinya.


Sesampainya di rumah, Anna segera bersiap untuk datang menemui Santi dan pak Rudi. Bayu menemani Anna bersiap sambil mengajak Anna ngobrol.


Tak lama, yang ditunggu pun datang. Dani tampak masuk ke dalam rumah dan duduk di hadapan Bayu dan Anna.


Bayu menceritakan pada Dani dan apa yang harus Dani lakukan. Setelah itu, Anna pamit ke Bayu dan berangkat bersama Dani.


“Dan, titip istri saya, tolong jaga Anna ya, karena yang mau kalian datangi ini wanita depresi,” ucap Bayu.


“Baik, Pak. Saya akan jaga Bu Anna dan akan hati-hati,” balas Dani yang diangguki oleh Bayu.

__ADS_1


Setelah kepergian Anna dan Dani, Bayu segera ke kantor Reigha untuk mengecek kerjaan Reigha yang diambil alih oleh Dani selama sebulan ini. Bayu terlihat serius mengecek semua kerjaan sambil menunggu kabar istrinya.


Di rumah pak Rudi, Anna udah sampai dan pak Rudi pun udah di kasih tau oleh Bayu.


Santi terbangun langsung mencari keberadaan Reigha, “Mas ... Mas Reigha.”


Pak Rudi yang mendengar segera menghampiri Santi.


“Ada apa, nak? Pak reigha ‘kan lagi di kantor,” ucap Pak Rudi dengan sabarnya.


“Santi mau Mas Reigha ke sini sekarang. Tolonglah Papa hubungi Mas Reigha,” mohon Santi pada sang Papa.


Sewaktu Pak Rudi mau nelpon, Pak Rudi mendengar suara mobil datang.


“Itu pasti Mas Reigha, Pa.” Sinta langsung berlari keluar.


“Mas Reigha,” panggil Sinta saat membuka pintu.


Sinta kaget dan langsung berhenti saat tau kalau ternyata yang datang itu bukan orang yang diharapkan.


“Halo, boleh saya berkenalan?” sapa Anna.


“Kamu siapa? Kok kesini?” tanya Sinta menumpuk kedua alisnya.


“Makannya, saya ngajak kenalan dulu. Perkenalkan saya Anna sekertaris Pak Reigha, dan ini Dani asisten pribadi Pak Reigha,” jawab Anna berkenalan.


“Wah, kalian ini orang kepercayaan calon suamiku ya. Perkenalkan aku Santi, calon istri Mas Reigha,” kata Santi dengan percaya dirinya.


‘Calon istri, calon istri, mimpi kamu ketinggian, Mbak,’ batin Anna menatap geram dengan wanita dihadapannya ini.


‘Kalau mau dibandingkan dengan Shafa masih kalah jauh, Mbak. Pakai mimpi ketinggian pula, duh kalau jatuh sakit deh,’ lanjut Anna masih membatin wanita bernama Santi itu.


“Halo, Anna,” ucap Santi melambai-lambaikan tangannya melihat Anna yang melamun menatap dirinya dengan senyuman tak dapat diartikan.


“Eh, maaf. Iya, saya panggil Mbak Santi, boleh?” tanya Anna.


“Boleh dong, ada apa ke sini?” jawab Santi seraya bertanya.


“Kami disuruh Pak Reigha mengajak mbak Santi jalan-jalan. Karena, pak Reigha sedang sibuk. Pekerjaannya sebulan terbengkalai karena terlalu lama di Surabaya. Jadi belum bisa ke sini,” jawab Anna.


“Oke, aku ganti baju dulu ya. Tunggulah sebentar,” kata Santi langsung masuk ke rumah untuk berganti baju.


Pak Rudi pun segera bertanya, “Apa benar kalian adalah sekretaris dan asisten pribadinya Pak Reigha?”


“Kalau pak Dani kemarin kita sempat bertemu di Surabaya ya, Pak,” lanjut Pak Rudi.


“Iya, benar. Kemarin kita bertemu di Surabaya, saya asisten pribadi pak Reigha, dan ini Bu Anna adik ipar pak Reigha,” ucap Dani.


“Oh ... baiklah. Maaf, Bu Anna kalau boleh saya tau. Kalian mau ngajak anak saya ke mana? Dan, Bu Anna mau ngapain anak saya?” tanya Pak Rudi sebelum melepaskan putrinya pergi ke luar rumah.

__ADS_1


__ADS_2