Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 29 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Sintia yang mendengarnya pun kaget dan segera berpamitan pada Shafa, “Yaudah, Fa. Gitu dulu deh. Aku mau pulang, nanti kita chatan aja, ya.”


“Iya, gapapa kok.” Shafa pun mengantar Sintia menuju depan rumah, dan Shafa kembali duduk di samping Reigha.


Ternyata Anggi sudah kembali duduk di ruang tamu sembari bertanya, “Ngapain tuh anak Bu Sinta ke sini, Kak?”


“Kan dia temen kakak, gapapa dong main ke sini,” jawab Shafa.


“Oh iya, Kak ... tolong ajarin aku dong, tadi ada soalan yang susah banget!” seru Anggi.


Shafa menoleh pada Reigha untuk meminta izin, “Mas, Shafa tinggal sebentar, ya.”


“Iya, Sayang,” balas Reigha.


“Yaudah, yok ke kamar,” ucap Shafa yang diangguki oleh Anggi. Anggi berlari mencuci tangan, kemudian menyusul kakaknya yang sudah duluan masuk ke kamar Anggi.


Reigha membiarkan saja Shafa ke kamar Anggi karena Reigha masih asik mengobrol dengan kedua mertuanya.


****


Di sore harinya, saat Ayah ingin berangkat berjualan, tiba-tiba Reigha menghampiri Ayah Reynand sembari bertanya, “Yah, Reigha mau cobain nasi goreng yang Ayah jual. Boleh?”


“Boleh, Nak. Sebentar Ayah buatin,” jawab Ayah Reynand.


Anggi pergi bersama temannya untuk membeli buku persiapan ujian, sementara Shafa tengah rebahan dipangkuan Ibu Khalisa sembari bercerita di kamar Shafa.


Tak lama, satu piring nasi goreng spesial buatan Ayah untuk Reigha sudah siap disantap. Ayah duduk disamping Reigha sembari menatap menantunya yang tengah menyendok nasi goreng masuk ke dalam mulutnya.


“Hmm ... Yah, nasi goreng buatan Ayah enak. Kenapa Ayah masih jualan keliling? Gak sewa ruko atau kedai gitu, Yah?” ucap Reigha seraya bertanya pada Ayah.


“Belum, Nak. Ya ... sementara masih jualan keliling. Uangnya belum cukup kalau buat sewa kedai gitu, masih dikumpul-kumpulkan dulu,” jawab Ayah.


Reigha tampak mengangguk-angguk kecil.


“Okelah, Nak. Kamu lanjutkan dulu makannya, Ayah mau panggil Ibu karena mau berangkat jualan,” ucap Ayah Reynand sembari berjalan menuju kamar Shafa.


Saat Ayah sampai di kamar, “Fa, temani suami kamu di ruang tamu lagi makan nasi goreng. Bu, Ayah mau berangkat jualan,” ucap Ayah.


Shafa pun bangkit dan bergegas menuju ruang tamu, duduk disamping Reigha.


“Mas, tumben makan nasi goreng jam segini?” tanya Shafa.


“Pengen cobain nasi goreng buatan Ayah,” jawab Reigha.


Shafa mendekatkan dirinya sembari berseru, “Mau dong, Mas!” Shafa membuka mulutnya minta disuapin oleh Reigha. Bersamaan pula dengan kehadiran Anggi yang baru saja masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Ibu, ini gak bisa nih gak bisa ... terlalu sweet!” teriak Anggi.


“Ganggu aja ih!” seru Shafa yang baru saja mendapat suapan dari Reigha.


Ayah dan Ibu saling tatap dan geleng-geleng melihat tingkah Anggi, kemudian tertawa bersama.


“Yaudah. Ayah berangkat dulu, ya,” ucap Ayah berpamitan.


Selepas kepergian Ayah untuk berjualan, Anggi bergegas menuju ke kamar untuk kembali melanjutkan belajarnya. Tak lama kemudian, ibu kembali menghampiri Shafa dan Reigha yang masih duduk di ruang tamu. Ibu pun berpamitan pula untuk pergi arisan, “Reigha, Shafa, kalian Ibu tinggal bentar ya. Ibu ada acara arisan sore ini, Anggi udah Ibu tanya, katanya mau di rumah aja, belajar.”


“Iya, Bu. Gapapa,” jawab Shafa.


Ibu bergegas meninggalkan rumah menuju tempat arisan. Sementara Shafa langsung mengambil piring kotor untuk dibawa ke dapur dan sekalian dicuci olehnya.


Setelah dari dapur, Shafa mengajak Reigha untuk ke kamar. Tapi, sebelum Shafa ke kamar, terlebih dahulu Shafa menutup pintu rumah dan ke kamar Anggi sembari berkata, “Gi, kakak ke kamar. Kamu kalau ada apa-apa bilang, ya.”


“Siap, Kak!” seru Anggi tak berpaling netranya dari buku dihadapannya.


Reigha pun berjalan menuju kamar, diikuti oleh Shafa dibelakangnya.


Sesampainya di kamar, Reigha bersandar pada headboard sembari menatap istrinya yang masih saja sibuk berlalu lalang dihadapannya. Dirasa sudah aman, Shafa pun naik ke kasur, duduk disamping Reigha.


“Emm ... Mas,” panggil Shafa.


“Mas, di kantor ada lowongan kerja gak?” tanya Shafa.


“Coba nanti aku tanya ke Bayu, emangnya ada apa?” jawab Reigha sembari bertanya kembali.


“Itu, tadi Sintia tuh ke rumah curhat kalau Bu Sinta selalu marah-marah ke suaminya Sintia karena kerjanya cuma serabutan gitu. Menurut Bu Sinta, nafkah yang diberikan ke Sintia itu kurang, makannya marah-marah gitu ke Farhan, suami Sintia,” ucap Shafa bercerita.


“Emm ... gimana kalau kita pakai supir pribadi aja, Mas? Lagian ... di rumah juga ada mobil nganggur ‘kan? Biar gak selalu ngerepotin Bayu juga kalau kita mau ke rumah sakit,” lanjut ucapan Shafa.


“Oke, boleh juga. Coba kamu tanya dulu ke Sintia, suaminya mau gak kerja jadi bareng kita, Sayang,” balas Reigha yang diangguki oleh Shafa.


Shafa pun bergegas meraih ponselnya dan mengirimkan pesan, “Tia, coba tanya ke suami lo, mau apa gak kerja bareng gue. Jadi supir pribadi untuk antar suami gue ke rumah sakit atau ke kantor gitu. Kalau gue telpon baru dateng ke rumah mertua gue nanti.”


Tak lama, Shafa pun mendapat balasan dari Sintia, “Oke, Fa. Gue tanyain ke suami gue dulu, ya.”


Keesokan harinya, Shafa bersiap untuk memasak yang kali ini Anggi ikut membantu Shafa dan Ibu di dapur. Sementara Reigha masih di kamar karena pagi-pagi Bayu sudah telpon untuk membahas soal pekerjaan.


“Kak, Bang Reigha mana?” tanya Anggi.


“Di kamar, lagi bahas kerja sama Bayu lewat telpon,” jawab Shafa sembari memotong sayuran.


Mereka pun melanjutkan memasak hingga selesai. Kemudian dipersiapkan di atas meja makan. Saat semua sudah siap, Shafa yang hendak menuju ke kamar memanggil Reigha, ternyata Shafa duluan dipanggil oleh Reigha yang tengah di ruang tamu mengobrol dengan Ayah Reynand.

__ADS_1


“Fa!” panggil Reigha.


“Iya, Mas?” tanya Shafa.


“Bayu katanya mau jemput kita pagi ini,” ucap Reigha memberi tau.


“Oke, Mas. Shafa siap-siapin barang kita dulu deh,” balas Shafa yang diangguki oleh Reigha.


Setelah selesai Shafa mempersiapkan barang-barang, Shafa membawa Reigha ke meja makan bersamaan pula dengan kedatangan Bayu.


“Assalamu’alaikum!” salam Bayu sembari mengetuk pintu rumah.


“Wa’alaikumussalam.”


Shafa yang hendak membuka pintu pun dihalangi oleh Anggi, “Udah, Kak. Biar Anggi aja.”


Anggi berjalan bergegas membukakan pintu. Bayu tampak masuk dengan setelan jasnya.


“Bang, langsung ke meja makan aja. Makan bareng sama kami,” ucap Anggi mengajak Bayu makan bersama.


Bayu pun menurut dan duduk bergabung dengan keluarga Shafa. Semua tampak menikmati sarapan dengan lahap.


Setelah selesai, Shafa bergegas ke kamar mengambil obat untuk Reigha. Sementara Anggi membantu Ibu membereskan meja makan.


Kini semua telah berkumpul di ruang tamu, duduk bersama sebelum kepergian Shafa dan Reigha.


“Kak, jangan lupa main ke sini lagi, ya!” seru Anggi.


“Iya, Gi,” balas Shafa sembari melemparkan senyum pada Anggi.


“Gi, belajar yang rajin. Kalau kamu berhasil masuk PTN Keperawatan, kabari abang. Kita langsung berangkat ke korea,” ucap Reigha.


“Siap, Abang ipar! Udah Anggi catat kemarin di sampul buku. Biar lebih semangat lagi buat belajar!” seru Anggi sumringah.


“Yah, Bu, Reigha dan Shafa pamit mau pulang. Ayah dan Ibu sehat-sehat di sini, ya,” ucap Reigha berpamitan.


“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Jangan lupa main ke sini lagi, ya,” balas Ibu Khalisa tersenyum.


Reigha dan Shafa pun mengangguk dan menyalami kedua orang tua, kemudian melangkahkan kaki keluar rumah.


Ayah dan Ibu serta Anggi pun mengantarkan Reigha dan Shafa ke depan rumah. Bayu pun ikut berpamitan pada kedua orang tua Shafa.


“Eh, Shafa. Udah mau pergi aja, gak betah, ya di rumah?” tanya Bu Sinta mulai sibuk dengan urusan orang lain.


Anggi yang mendengar hal itu pun, mulai mengepalkan kedua tangannya, seraya menatap sinis pada Bu Sinta.

__ADS_1


__ADS_2