
“Silakan masuk, Dokter, istri saya dan istri bayu ada di dalam,” kata Reigha mempersilakan.
“Baik, Pak ... saya masuk ya, Pak,” ucap dokter Renita.
Setelah di persilahkan masuk oleh Reigha, dokter Renita pun segera masuk.
“Selamat siang, Dokter Daviana,” sapa Dokter Renita.
“Selamat siang, Dokter,” balas Shafa dan Anna serempak membalas sapaan dokter Renita yang tak dibalas oleh Daviana karena sejak tadi hanya diam saja.
“Maaf, Bu, bisa kami berdua ngobrol dulu? Kalau boleh, bisa kami berdua saja di kamar ini,” kata dokter Renita.
“Boleh, Dokter ... tentu saja boleh,” balas Shafa.
“Na, ayo kita keluar. Sayang ... mama dan mami keluar dulu ya,” lanjut Shafa berpamitan pada Daviana.
“Iya, Ma, Mi ...” lirih Daviana dengan pandangan kosong.
Shafa dan Anna pun keluar dari kamar Daviana dan mereka pun menyusul suami mereka ke ruang tunggu.
Sementara itu di rumah sakit, Calvin segera menemui papanya di ruang ICU.
Saat berada di depan pintu perawat dari dalam ICU keluar.
“Sus, gimana kondisi papa saya?” tanya Calvin.
“Kami sedang melakukan observasi, Pak, baru saja Pak Hartawan melakukan transfusi darah, semoga setelah beberapa jam ada menunjukan hal baik ya, Pak. Permisi,” kata perawat tersebut dan berlalu pergi meninggalkan Calvin.
“Semoga papa segera sadar, gue ke ruang mama aja,” lirih Calvin dan segera melangkah menuju ke ruang rawat di mana mamanya dirawat.
Sesampainya di depan ruang rawat, Calvin pun langsung masuk. Mama Monica merasa ada yang masuk pun segera menoleh.
“Nak, kamu dari mana aja? Mama cariin dari tadi loh,” tanya mama Monica.
“Maaf ya, Ma, tadi aku ada urusan sebentar,” jawab Calvin.
“Nak, papa kamu ke mana? Kok belum nengokin mama?” tanya mama Monica kembali.
“Ehmm ... oh Iya, Ma, tadi kata dokter gimana? Dokternya udah meriksa mama kan?” balas Calvin yang mengalihkan pembicaraan.
“Kata dokter, mama udah boleh pulang. Jadi ... mama ingin minta papa yabg jemput mama,” kata mama Monica.
“Yaudah, kalau gitu Calvin urus dulu ya, Ma ... biaya perawatannya,” ucap Calvin.
“Iya, Nak ... trus langsung kabari papa ya,” kata mama Monica kembali.
__ADS_1
“Iya, Ma,” balas Calvin yang segera berlalu pergi ke bagian administrasi untuk mengurus kepulangan mama Monica.
Setelah selesai, Calvin menuju ke ruang ICU untuk menjenguk papanya.
“Bagaimana keadaan papa saya, Dokter?” tanya Calvin.
“Masih belum menunjukan perubahan apa-apa, Pak, semoga besok ada kabar baik ya ... permisi, Pak,” jawab dokter segera meninggalkan Calvin.
Calvin yang ditinggal begitu saja oleh dokter pun segera mendekat ke perawat.
“Suster, bolehkah saya menemui papa saya?” tanya Calvin.
“Boleh, Pak. Silakan,” balas perawat.
Calvin pun segera masuk ... setelah memakai baju khusus, Calvin pun segera menemui papanya.
“Pa, Calvin minta maaf ya, Pa ... Calvin belum bisa menjadi anak yang membanggakan buat papa. Calvin tidak bisa menuruti kemauan papa. Perasaan ini gak bisa dipaksa, Pa. Semoga papa bisa mengerti ya, Pa,” kata Calvin.
“Pa, cepat sembuh ya ... mama nyariin papa terus dari tadi. Mama hari ini udah boleh pulang dari rumah sakit, Pa. Papa besok harus membaik ya, Pa, kita mulai kehidupan kita lagi dari awal,” lanjut Calvin.
“Pa, Calvin antar mama pulang dulu ya, Pa, nanti Calvin jagain papa lagi,” kata Calvin sambil mengecup punggung tangan papanya.
Calvin pun segera keluar dari ruang ICU dan segera menuju ke ruang rawat mamanya.
Setelah masuk, ternyata mama Monica udah siap juga baju-bajunya pun udah di dalam tas.
“Ayo, Ma ... tapi, papa sekarang gak ada di rumah, Ma,” ucap Calvin.
“Ke mana, Nak? Apa papa kamu sangat sibuk sampai-sampai gak ada waktu buat mama, Nak?” tanya mama Monica.
“Bukan begitu, Ma, papa sedang mengurus masalah kantor yang sangat serius, Ma,” jawab Calvin.
“Yaudah, yuk ... yang penting kita pulang dulu, nanti mama akan masak buat papa yang spesial,” balas mama Monica.
“Iya, Ma, buat Calvin juga ya, Ma,” ucap Calvin sembari tersenyum.
“Pasti dong, Sayang ... yaudah yuk, mama udah gak sabar,” kata Calvin.
“Iya ... ayo, Ma, mama nanti tunggu di lobi ya, Ma ... Calvin ambil mobilnya dulu,” ucap Calvin.
“Iya, Nak, udah sana keluar dulu,” balas mama Monica.
Tak lama kemudian, Calvin udah berada di depan rumah sakit, mama Monica yang udah tau mobil Calvin dan mobil pun segera pergi meninggalkan rumah sakit.
Sementara itu di rumah Reigha, dokter udah keluar dari kamar Daviana.
__ADS_1
“Bagaimana putri saya, Dok?” tanya Reigha.
Semua langsung berdiri dan tak sabar mendengarkan penjelasan dokter Renita.
“Pak, Bu ... mbak Daviana mengalami trauma akibat apa yang tadi pagi dialaminya,” jawab dokter Renita.
“Trus ... apa yang harus kami lakukan, Dokter?” tanya Reigha.
“Semua keluarga sangat diperlukan untuk membantu menyembuhkan mbak Daviana. Dan untuk penyembuhannya tergantung mbak Daviana. Tapi, yang pasti ... penyembuhannya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghilangkan rasa trauma dan bayang-bayang dari penyebab trauma itu,” kata dokter menjelaskan.
“Oh iya ... itu juga berdampak pada mbak Daviana, kemungkinan akan kehilangan kepercayaan pada seseorang di sekitarnya, terutama pada laki-laki,” lanjut dokter kembali.
“Astagfirullah ... Dok, bagaimana kalau Daviana di bawa ke tempat baru mungkin dengan begitu penyembuhannya bisa cepat,” saran Bayu.
“Semua perlu dicoba, Pak, semoga dengan berada di lingkungan baru, mbak Daviana semakin merasa tenang karena jauh dari orang yang membuat dirinya tidak nyaman ya, Pak,” balas Dokter Renita.
“Terima kasih banyak, Dokter, kami akan segera membawa Daviana pindah dari sini sementara waktu,” ucap Reigha.
“Baik, Pak, itu tadi di nakas ada beberapa obat, tolong diminumkan sesuai yang tertulis ya, Pak, Bu, kalau begitu saya permisi selamat siang,” kata dokter Renita berpamitan.
“Iya, Dokter. Terima kasih selamat siang,” balas semuanya serempak.
Setelah dokter pergi, Shafa mengajak Reigha makan dulu, dan Anna diminta menemani Daviana.
Setelah Reigha dan Shafa selesai makan, Reigha, Bayu dan Shafa membicarakan tentang kepindahan Daviana.
Dan mereka pun sepakat membawa Daviana ke tempat di mana Reza berada saat ini.
Shafa segera mempersiapkan semua juga mempersiapkan kebutuhan untuk dirinya, karena Shafa akan menemani Daviana sementara waktu. Sedangkan Reigha dan Bayu mengurus keberangkatannya tentunya dibantu juga oleh Dani.
Setelah selesai packing, Shafa kembali ke kamar Daviana menjumpai Anna yang masih menunggui di kamar Daviana.
“Na, aku titip anak-anak ya selama aku jaga Naima di sana,” pesan Shafa.
“Iya, Fa, kamu itu kayak sama siapa aja,” balas Anna.
“Jaga Nai ya, Fa, semoga Naima cepat sembuh. Gak tega gue lihat dia seperti ini,” ucap Anna.
“Iya, Na, tolong bantu do'a ya ... semoga Nai cepat sembuh,” lirih Shafa.
“Aamiin ...” Anna pun tersenyum dan mengelus pundak Shafa.
“Yaudah yuk kita keluar, sepertinya Nai udah tidur setelah minum obatnya,” kata Shafa mengajak Anna ke luar kamar.
Sampai di luar kamar, Anna celingukan tampak mencari seseorang.
__ADS_1
“Loh, Fa ... abang pulang ya?” tanya Anna.