
Di dalam kamar, Daviana yang biasanya cerewet jadi diam, bahkan Daviana sejak tadi menunduk karena malu.
“Nai, kamu kok tumben dari tadi diam aja ... ada apa, Nai?” tanya Reza.
“Emm, karena kamu sekarang adalah su—suamiku, boleh gak kalau aku panggilnya ... abang? Ya, karena gak enak aja didengar kalau manggil nama ke suami sendiri,” lirih Naima sambil menunduk.
“Senyaman kamu aja, Nai, ayo sekarang kamu mandi dulu trus istirahat,” kata Reza.
“I—iya, Bang.” Daviana gugup, dia segera bergegas masuk ke kamar mandi. Bahkan, sangking gugupnya sampai-sampai dia lupa tidak membawa handuk dan juga baju ganti.
Tak lama, Daviana pun selesai dengan ribuan mandinya, dia mondar-mandir dalam kamar mandi mau minta tolong Reza untuk mengambilkan baju dan handuk, Daviana masih malu.
“Aduh, gimana ini? Kok bisa sih gue lupa gak bawa handuk dan baju ganti, masak mau minta tolong ke suami gue, kan malu,” ucap Daviana merutuki diri sendiri.
Reza yang udah ingin mandi pun gak sabar karena Daviana sangat lama di kamar mandi. Badan Reza rasanya udah lengket semua.
“Nai, masih lama?” tanya Reza dari luar pintu kamar mandi sambil mengetuk pintu.
“Ben—bentar ya, Bang,” teriak Daviana dari dalam.
Dan karena Daviana gak keluar-keluar, Reza pun kembali mengetuk pintu.
“Nai, kamu kok lama kenapa? Jangan buat aku khawatir, Nai,” kata Reza kembali mengetuk pintu kamar mandi.
Daviana dengan perlahan membuka pintunya, dan menyembulkan kepalanya.
“Bang, bi—bisa nggak Nai minta tolong? Nai ... Nai gak bawa handuk dan baju ganti,” ucap Daviana.
“Astagfirullah, Nai, jadi karena itu kamu lama di kamar mandi? Bentar ... aku ambilin,” balas Reza.
Dan tak lama kemudian, Reza pun membawakan handuk juga baju ganti untuk Daviana.
“Makasih ya, Bang,” ucap Daviana langsung menutup pintunya dan tak lama kemudian Daviana pun keluar dari kamar mandi.
“Tunggu sebentar ya, Nai ... aku mandi dulu, nanti kita sholat isya nya berjamaah,” kata Reza.
“Iya, Bang,” balas Daviana.
__ADS_1
Setelah itu, Reza segera masuk dan mandi. Tak lama dari itu, Reza keluar dan mereka pun segera sholat isya berjamaah.
Setelah sholat isya berjamaah, Reza segera menghadap ke belakang dan mencium kening Daviana begitu juga Daviana yang langsung mencium punggung tangan Reza.
“Nai, kenapa kamu kok banyak diam? Kenapa, hm?” tanya Reza.
“Ya … gapapa, Bang. Ini karena Nai sama sekali gak menyangka kalau hari ini Nai akan menikah dengan kamu, Bang,” jawab Daviana malu-malu.
“Aku juga gak menyangka, Nai, karena rencana papi dan mami malam ini adalah lamaran … gak nyangka kalau ternyata papi dan mami ngerencanain untuk langsung menikah,” balas Reza.
“Tapi kamu bahagia ‘kan, Nai?” tanya Reza setelahnya.
“Nai sangat Bahagia, Bang, terima kasih ya udah mau jadi suami Nai,” jawab Daviana.
“Itu malah mimpi ku, Nai, karena aku udah jatuh hati dari sebelum kamu nikah,” balas Reza.
“Serius? Kok bisa?” tanya Daviana Kembali dengan sumringah.
“Kamu capek nggak? Kalau enggak, kita lanjut ceritanya di tempat tidur ya, sambil rebahan,” ucap Reza.
“Oke, terima kasih ya, Istriku …” balas Reza menggoda Daviana.
Daviana langsung tersenyum hingga tampak semburat merah di pipinya. Sementara Reza berlalu pergi naik ke atas ranjang sambal memperhatikan istrinya.
‘Dan … akhirnya aku pemenangnya, kamu milikku, Nai,’ batin Rea menatap dalam pada Daviana yang sibuk membereskan sajadah dan mukenanya.
Tak lama, Daviana pun menyusul Reza naik ke atas ranjang sambal berkata, “Abang kenapa memperhatikan Nai sampai kayak gitu?”
“Gapapa, Sayang … ternyata istriku ini kalau semakin diperhatikan semakin cantik,” balas Reza sembari menaik turunkan alisnya.
“Emm … kamu bisa aja, Bang,” ucap Daviana malu-malu.
“Sini rebahan di sini!” seru Reza sambil menunjukan tempat di sampingnya.
“Kamu mau lanjut cerita atau kita tidur?” tanya Reza.
“Lanjut aja, Bang … Nai penasaran,” jawab Daviana.
__ADS_1
“Jadi … ini tuh jauh dulu saat sebelum kamu nikah sama dia. Papa sama papi itu sempat mau jodohin kita, Nai, tapi papa jodohinnya lewat pendekatan. Jadi, aku disuruh papa buat antar jemput kamu. Kamu ingat ‘kan, Sayang?” ucap Reza mulai bercerita dan Nai pun mengangguk.
“Trus … kenapa gak jadi? Kok tiba-tiba gak ada kelanjutannya gitu dulu?” tanya Daviana.
“Iya, dan … karna seringnya aku ngantar kamu, aku jadi menyadari kalau ternyata aku punya rasa ke kamu. Tapi, ya gitu deh, pas aku mulai yakin dengan perasaanku. Tiba-tiba aja aku dengar kabar kalau kamu dilamar orang,” balas Reza melanjutkan ceritanya.
“Dan kamu tau gak, saat kamu diminta menjawab nerima atau enggak, aku berharapan besar kalau kamu gak menerimanya, Nai. Tapi ternyata kamu terima. Dan kamu tau gak gimana perasaanku saat itu? Perasaanku hancur, Nai … makanya aku langsung mutusin untuk langsung ke luar negeri buat kuliah lagi sekalian ngurusin kantor yang di sana,” jelas Reza setelahnya.
“Owh … Jadi kamu pergi karena itu, Bang? Makanya kamu gak mau datang di acara-acaraku saat itu? Nai minta maaf ya, Bang,” lirih Daviana.
“Gak ada yang perlu dimaafin, Nai, kamu itu gak salah … lagian kan kamu gak tau, dan kamu kan juga gak ada perasaan apa-apa ke aku,” balas Reza.
“Aku … emm, sebenarnya waktu itu … Nai udah ada perasaan itu, Bang, tapi aku belum terlalu menyadarinya. Aku hanya menganggap biasa perasaan itu, gak terlalu aku hiraukan,” kata Daviana.
“Yaudah, itu kan cerita kita dulu, jangan diingat lagi ya. Sekarang … karena udah malam kita tidur ya. Selamat malam, Istriku,” ucap Reza.
“Malam, Bang,” balas Daviana yang lalu mematikan lampu kamarnya.
Daviana pun segera berbaring di samping Reza, dan karena mereka kecapean pun langsung tertidur.
Pada keesokan paginya, saat Daviana bangun, ternyata Reza udah tidak ada di sampingnya, Daviana segera mencari di kamar mandi tapi tidak ada. Netra Daviana diedarkannya dari sudut ke sudut mencari sosok Reza, tapi tak kunjung ditemukannya.
“Apa semalam itu aku mimpi ya,” ucap lirih Daviana.
“Mimpi apa, hm? Selamat pagi, Istriku … ini aku bawakan sarapan buat kamu,” kata Reza menyapa Daviana pagi-pagi.
Daviana pun tersenyum. Kemudian berkata, “Terima kasih ya, Bang … Nai kira cuma mimpi kalau udah nikah sama kamu.”
Reza menarik lembut lengan Daviana dan mereka pun kini duduk di sofa kamar.
“Kok mimpi? Maksudnya gimana, Nai?” tanya Reza yang tampak bingung dengan perkataan istrinya itu.
“Emm … gimana ya, karena acara semalam itu terkesan mendadak banget, Bang,” balas Daviana.
“Oh iya … Abang, Nai mau tanya, tapi jawab yang jujur ya,,” kata Daviana setelahnya dan diangguki oleh Reza.
“Sebenarnya, Abang nikahin Nai ini, apa abang ikhlas? Atau … ada tekanan dari siapa gitu?” tanya Daviana.
__ADS_1