
“Fa, kita nginap disini, yuk?” ucap Reigha.
“Shafa ikut Mas Reigha aja. Tapi, di sini ga ada AC. Emang Mas bisa tidur tanpa AC?” balas Shafa.
“Apa kita beli AC dulu?” tanya Reigha.
“Yaudah, Shafa pergi ke toko elektronik sebentar, ya. Gapapa ‘kan Mas, Shafa tinggal sebentar?” balas Shafa.
“Tapi ... kalau untuk beli AC, Shafa gak punya uang sih, Mas,” ucap Shafa sembari malu-malu.
Reigha pun tersenyum seraya berkata, “Kamu ambil aja kartu yang warna hitam di dompet Mas. Sekalian belikan TV untuk Anggi dan apa yang dibutuhkan pakai kartu itu, ya, Fa.”
“Lah, emang gapapa uang Mas Shafa pakai untuk keperluan rumah ini? Shafa gak enak sama Mama,” tanya Shafa.
“Gapapa dong, anggap aja itu nafkah dari Mas untuk kamu,” jawab Reigha.
“Yaudah. Shafa pamit, ya,” ucap Shafa berpamitan pada Reigha dan kedua orang tuanya.
“Kak, ikut dong!” seru Anggi. Kemudian diangguki oleh Shafa.
“Hati-hati, ya, Fa,” balas Reigha sembari tersenyum.
Setelah Shafa dan Anggi pergi, Reigha pun kembali membuka suaranya.
“Boleh ‘kan, Yah, Bu ... kalau Reigha menginap di sini?” tanya Reigha menatap pada kedua mertuanya.
“Pasti boleh dong, malah kami seneng banget kalian nginap di sini,” jawab Ibu Khalisa yang diangguki oleh Ayah Reynand yang setuju dengan sang istri.
“Tapi, kenapa harus membelikan TV untuk Anggi?” tanya Ayah Reynand.
“Gapapa, Yah. Untuk hiburan Anggi atau kalau Ayah dan Ibu bosen bisa nonton juga ‘kan?” jawab Reigha.
“Terima kasih, ya, Nak,” balas Ayah sembari tersenyum pada Reigha.
Bayu beralih menatap pada jam yang ada di tangannya, kemudian Bayu pamit untuk kembali ke kantor karena ada rapat yang harus dihadiri olehnya.
“Gha, gue harus ke kantor sekarang. Soalnya, ada rapat. Lo gue tinggal dulu gapapa ‘kan? Gue gak bisa nunggu sampai Shafa pulang nih, gimana?” tanya Bayu berpamitan.
“Iya, gapapa. Ada Ayah dan Ibu di sini. Hati-hati, Bayu. Lo tolong nanti kabari ke Papa dan Mama kalau gue dan Shafa nginap di sini. Nanti gue juga telpon Mama kok,” balas Reigha yang mendapat anggukan oleh Bayu.
“Besok gue jemput agak siangan, ya!” seru Bayu.
“Kapan lo sempat aja,” balas Reigha.
Bayu pun menyalimi Ayah Reynand dan Ibu Khalisa dan berlalu pergi meninggalkan rumah menuju ke kantor.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, tampak ada mobil datang membawa AC, TV, dan Kasur masuk ke dalam pekarangan rumah Ayah Reynand.
Shafa tampak masuk ke dalam rumah sembari berkata, “Mas, ini barang-barangnya udah sampai, trus Shafa bawa orang yang sekalian mau masang. Dan, Shafa gak lupa bawa orang tukang listrik buat nambahin daya. Gapapa ‘kan, Mas?”
“Gapapa dong, Sayang,” balas Reigha tersenyum.
Ayah dan Ibu keluar dari rumah, diikuti oleh Reigha yang dibantu berjalan oleh Shafa. Namun, saat hendak menurunkan barang-barang, Bu Sinta tampak kepo dan langsung berteriak.
“Duh. Borong, ya, Shafa! Emangnya kuat tuh listriknya?” celetuk Bu Sinta.
“Astaghfirullah, Kak ... mak lampiran keluar lagi dari kandang,” ucap Anggi membuat Shafa membekap mulut sang adik.
Bu Sinta yang mendengar ucapan Anggi pun merasa kesal dan berlalu masuk ke dalam rumah.
“Alhamdulillah, masuk kandang!” seru Anggi tertawa.
Beberapa jam kemudian, barang pun sudah dibawa masuk semua, daya sudah ditambahkan, semua sudah aman terpasang.
“Yaudah kalau gitu Ayah mau berangkat jualan. Reigha lanjut ngobrol sama Ibu, ya,” ucap Ayah Reynand yang diangguki oleh Reigha.
‘Kasihan banget Ayah udah tua, malah jualan keliling. Gue harus melakukan sesuatu,’ batin Reigha.
Ayah Reynan pergi jualan meninggalkan rumah. Padahal, rasanya Ayah masih mau ngobrol banyak bersama Reigha, tapi Ayah sudah bersiap untuk berangkat sejak tadi.
“Kak, Anggi buatin minuman, ya,” ucap Anggi langsung bergegas menuju dapur.
“Bang Reigha, Anggi mau curhat deh. Masa Anggi tuh nyari cowok kayak abang ipar gak nemu sih di sekolahan. Capek keliling sekolah, taunya gak ketemu yang spesies sama abang ipar,” ucap Anggi dan berakhir mencurutkan bibirnya.
Reigha melirik pada ponsel yang Anggi pegang tampak tidak layak lagi karena layar yang pecah. Kemudian, Reigha pun membalas ucapan Anggi dengan bertanya, “Emang, kamu kelas berapa, Gi?”
“Udah kelas 3 SMA, tapi masih jomblo aja,” jawab Anggi menghela napasnya.
“Spesies apa sih, capek ih ngomong sama Anggi!” seru Shafa.
“Aku ‘kan ga ngomong sama kakak, aku aja ngomong sama abang ipar. Wleekk!” balas Anggi mengulurkan lidahnya membuat Shafa mendelik kesal.
Ibu Khalisa melihat kedua anaknya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak heran sih, karena keduanya sudah lama tidak mengobrol bersama seperti ini.
“Oiya, Kak Shafa ... tutorial dapat yang spesies Bang Reigha dong!” seru Anggi.
“Tadi katanya ga ngomong sama aku!” celetuk Shafa membuat Anggi tertawa kecil.
“Lupa, Kak. Maafin, yaa,” ucap Anggi dengan tatapan nanar.
Shafa pun mengangguk dan tersenyum. Kemudian bertanya pada sang adik, “Mau yang kayak Mas Reigha?”
__ADS_1
Anggi mengangguk mantap.
“Belajar yang baik, trus gapai cita-cita kamu yang pengen jadi orang sukses,” ucap Shafa membuat kedua alis Anggi meengernyit.
“Apa hubungannya sih, Kak?” tanya Anggi.
“Berhubungan tau. Ntar juga kembaran Mas Reigha deketin kamu,” jawab Shafa.
“Wah, beneran?” tanya Anggi kembali berbinar.
“Tapi, mimpi!” seru Shafa berlari menuju dapur. Karena, Shafa tau pasti Anggi akan mengejarnya.
“Kakak!” seru Anggi berlari mengejar Shafa yang tengah mempersiapkan makanan untuk Reigha.
Sesampainya Anggi di dapur, melihat Shafa yang tengah memasak untuk Reigha.
“Kak, jadi istri pasti berat banget ‘kan?” tanya Anggi.
“Gi, kamu gak perlu memikirkan apa yang belum saatnya kamu pikirkan. Kamu udah kelas tiga SMA, harusnya fokuslah pada ujian yang akan kamu hadapi. Ntar juga kamu merasakan gimana rasanya jadi istri,” jawab Shafa membuat Anggi tersenyum.
“Kalau gitu, Anggi bantu kakak masak aja deh. Pasti buat abang ipar karena mau minum obat ‘kan?” ucap Anggi membuat Shafa mengangguk membenarkan.
Shafa dan Anggi pun sibuk di dapur, sementara Reigha tengah mengobrol dengan Ibu Khalisa di ruang tamu.
Saat makanan sudah siap, Shafa memanggil Ibu dan Reigha untuk makan bersama. Akhirnya mereka berempat pun menikmati makanan tersebut, karena Ayah belum pulang, lauk disisihkan oleh Ibu untuk Ayah.
“Gha, setelah ini kamu istirahat aja di kamar,” ucap Ibu Khalisa.
“Kak, ibu nih dari tadi selalu memperhatikan abang ipar. Kakak udah gak penting lagi buat ibu, hahaha,” celetuk Anggi sembari tertawa.
“Iya, begitulah. Makannya kakak harus ekstra jaga menantu kesayangan Ibu dan Ayah ini,” balas Shafa membuat Reigha menatap Shafa.
“Sabar, ya, Reigha. Dua anak ibu nih memang gitu kalau udah ketemu,” ucap Ibu Khalisa membuat Reigha mengangguk memaklumi.
Setelah selesai makan, Ibu dan Anggi membereskan meja makan, sementara Shafa berlalu ke kamar mengambil obat Reigha.
“Mas, ayo diminum obatnya,” ujar Shafa memberikan obat pada Reigha.
Shafa pun bersandar pada bahu Reigha. Sedangkan Reigha masih saja diajak ngobrol oleh Ibu dan Anggi.
“Ibu, jiwa jombloku meronta-ronta. Huwaa!” seru Anggi mendramatisir keadaan saat melihat Shafa yang terlihat romantis bersama Reigha.
“Kamu jangan gitu, Gi. Siapa suruh kamu di sini,” ucap Shafa mengulum senyumnya, ternyata Shafa sengaja membuat Anggi kesal.
“Bu, Shafa antar Mas Reigha ke kamar, ya. Biar istirahat,” lanjut ucapan Shafa yang diangguki oleh Ibu.
__ADS_1
Saat Shafa membantu Reigha berjalan menuju kamar, tiba-tiba Anggi berteriak, “Kak, ikut!”