
“Dari siapa, ya?” tanya Chayra memutar-mutarkan buket bunga yang dipegangnya.
Chayra pun segera melihat kartu yang terselip di bunga, kemudian membacanya.
“Jangan putus asa, tetap semangat kalau berjodoh pasti tuhan akan mempertemukan. Jangan lupa tersenyum,” ucap Chayra membaca tulisan dalam kartu tersebut.
“Loh, kok gak ada namanya. Dari siapa ya?” monolog Chayra yang akhirnya bunga itu pun di bawa ke kamarnya dan dipindah di vas bunga yang kosong.
Sementara di kantor, Daviandra tampak sering melamun.
‘Kira-kira, Chay udah terima bunga itu apa belum, ya? Kalau dia memang ingin kuliah di luar negeri, gapapa. Aku pasti dukung, lagian ... kalau jodoh pasti bertemu lagi,’ batin Daviandra dan Reza pun nampak terus memperhatikan saudaranya itu.
“Bro, lo kenapa? Dari tadi melamun terus?” tanya Reza.
“Gak ... gapapa. Gue gak melamun, lo tu ngagetin aja,” balas Daviandra.
“Kalau lo gak melamun, gak mungkin lo kaget. Sekarang cerita sama gue, lo kenapa?” tanya Reza lagi.
“Gue gapapa. Dibilangin gapapa, tetap aja gak percaya,” jawab Daviandra sambil pergi meninggalkan Reza.
“Gue yakin, lo ada masalah. Tapi, masalah apa,” ucap lirih Reza sambil berpikir.
Dan pada sore harinya, saat jam pulang kantor, Daviandra pun segera keluar terlebih dahulu meninggalkan Reza.
Reza yang memanggil-manggil pun tak terdengar oleh Daviandra.
“Mau kemana sih tu anak, ninggalin gue,” gerutu Reza.
Reza segera pulang ke rumah, sedangkan Daviandra naik ojek online menuju rumah Chayra.
Saat sampai depan rumahnya, Daviandra ragu untuk masuk. Daviandra hanya berdiri di luar pintu gerbang rumah Afkar.
Tak lama kemudian, nampak dari jauh mobil Afkar memasuki halaman rumahnya.
Terlihat dari luar gerbang, kalau Afkar dan istrinya juga anaknya yang bungsu masuk ke rumah.
‘Aduh, kalau cuma di sini, mana bisa gue dengar. Tapi kalau masuk, apa alasannya, ya,’ batin Daviandra.
‘Yaudahlah, gue pulang aja. Besok gue akan cari tau di kampus,’ batin Daviandra lagi dan segera pergi meninggalkan rumah Afkar.
Tak lama kemudian, Daviandra pun udah tiba di rumah dan bertemu dengan mama Shafa.
“Nak, kamu dari mana? Reza udah pulang dari tadi loh,” tanya Shafa pada Daviandra.
“Iya, Ma. Maaf tadi ada urusan sebentar,” jawab Daviandra.
“Hari ini Andra nampaknya ada yang beda, Ma. Dari tadi, Reza perhatiin sering melamun,” kata Reza.
__ADS_1
“Benar begitu, Ndra? Kamu kenapa?” tanya Reigha.
“Gapapa, Pa. Andra baik-baik aja,” jawab Daviandra.
“Ya udah, ayo kita segera makan,” ajak Shafa. Dan kemudian, mereka pun makan bersama.
Setelah selesai, Reigha duduk di ruang tengah, dan terdengar ada telpon masuk.
“Assalamu’alaikum, Bro,” kata Reigha mengawali.
“Wa’alaikumussalam, Bro. Apa kabar?” tanya Afkar.
“Alhamdulillah baik. Gimana-gimana, Afkar. Ada kabar apa, Bro?” balas Reigha bertanya.
Karena mendengar papanya menyebut nama Afkar, Daviandra pun langsung duduk di sebelah papa Reigha.
“Mau tanya nih, anak perempuan gue kan mau kuliah di luar negeri. Maksud gue nelpon lo, siapa tau kan, lo punya teman atau saudara yang rumahnya ada kamar disewakan,” jawab Afkar.
“Lo itu banyak uang, ngapain cari rumah disewakan,” celetuk Reigha.
“Halah ... bukannya gitu, Bro, gue gak tega aja kalau anak gue sendirian di sana. Gue ingat, dulu Daviana kan di sana,” balas Afkar.
“Iya sih, kita gak bisa ninggalin anak perempuan sendirian di negeri orang. Lo tempatin rumah gue di sana, nanti di sana ada ART gue yang nemenin putri lo selama di sana,” ucap Reigha.
“Nah gitu dong. Kan tenang gue jadinya. Thanks ya, Bro,” kata Afkar.
“Oke, Assalamu’alaikum.” Afkar pun mengakhiri telponnya.
“Wa’alaikumussalam,” balas Reigha dan telpon pun ditutup.
“Ada apa om Afkar telpon, Pa?” tanya Daviandra.
“Tumben kamu ingin tau, Nak, biasanya cuek,” ucap Reigha tanpa menjawab apa yang anaknya tanyakan.
“Kan cuma tanya, Pa. Lagian, kalau papa gak mau jawab juga gapapa, kan gak penting juga buat Andra,” balas Andra tampak kesal.
“Kok marah, Nak? Papa kan cuma bercanda. Kamu kenapa?” tanya Reigha.
“Gapapa, Pa, Andra lagi capek aja,” jawab Daviandra berlalu masuk ke kamar.
“Kenapa sih anak kamu, Ma, kok sensitif banget kayak perempuan lagi PMS,” tanya Reigha pada istrinya.
“Papanya aja tuh yang gak peka, cobalah peka dikit sama anak,” jawab Shafa.
“Emang ada yang aku gak tau, Sayang?” balas Reigha yang tampak mengerutkan alisnya.
“Sepertinya anak kamu ada perasaan sama anaknya teman kamu itu. Tapi, dia belum paham aja,” kata Shafa berbisik tepat di samping telinga suaminya.
__ADS_1
“Masa sih, Sayang, kok aku baru tau ya?” tanya Reigha yang juga berbisik.
“Coba deh mas, kamu cari tau aja atau lihat sikapnya. Kalau kita lagi ngomongin gadis lain semisal anaknya Dani atau gadis siapa yang lain dengan anaknya Zhafira, coba mas lihat deh sikap dia. Tapi, Mas jangan langsung ngomong ke Andra, pasti dia akan mengelak,” jawab Shafa menjelaskan.
“Iya, Sayang ... aku tau kok. ‘Kan sifatnya agak mirip sama aku,” balas Reigha tersenyum.
“Tumben nyadar, Mas,” celetuk Shafa yang kemudian tertawa.
“Anak-anak udah di kamar semua, Sayang?” tanya Reigha.
“Udah, Mas. Ayo kita ke kamar, istirahat,” ajak Shafa dan kemudian mereka pun langsung ke kamar untuk istirahat.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Afkar. Afkar dan istrinya sedang ngobrol dengan Chayra mengenai kepindahannya ke luar negeri.
“Nak, emangnya udah kamu pikirkan lagi? Kamu udah mantap lanjutin keinginan kamu pindah ke luar negeri?” tanya Afkar memastikan.
“Iya, Pa. Udah Chay pikirkan kok,” jawab Chayra.
“Chay, kamu mau ninggalin mama, Nak? Mama gak bisa kalau kamu jauh dari mama,” lirih Zhafira menangis.
“Pa, Ma, Chay gak lama kok. Lagian ‘kan gak selamanya juga Chay tinggal sama papa dan mama ‘kan,” balas Chayra berusaha untuk tetap tersenyum.
“Baiklah kalau begitu, besok pagi papa antar ke bandara ya. Papa akan mengurus pendaftaran dan tempat tinggal kamu selama di sana,” ucap Afkar.
“Kenapa gak minggu depan aja sih, Mas. Aku masih ingin bersama putriku,” protes Zhafira.
“Mama, lebih cepat lebih baik, Ma, nanti di sana Chay janji akan setiap hari menelpon atau VC deh sama mama,” kata Chayra yang kangsung memeluk Zhafira.
“Kamu itu keras kepala, sama seperti papa kamu itu. Kalau udah ada maunya gitu. Yaudah kalau memang itu udah keputusan kamu, Nak. Mama do’akan yang terbaik buat kamu,” ucap Zhafira.
Dan setelah mengobrol, mereka pun segera beristirahat. Di kamar, Chayra masih berbaring tapi tidak bisa tidur.
“Besok adalah awal yang baru di mana aku tidak akan memikirkan kak Daviandra dan akan berusaha melupakannya. Semoga kamu bahagia selalu, Kak. Selamat tinggal,” ucap Chayra lirih.
Dan tak lama Chayra pun tertidur.
Sedangkan di kamar Daviandra, malam ini Daviandra gelisah karena besuk Chayra akan meninggalkan Indonesia yang artinya dalam waktu lama Daviandra gak akan bertemu sama Chayra lagi.
“Ya Allah, sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa sepertinya aku gak rela kalau Chayra pergi. Apa aku mulai mencintai dia,” lirih Daviandra.
Karena Daviandra sangat gelisah, akhirnya Daviandra pun bangun dan ke kamar mandi untuk berwudhu lalu Daviandra melaksanakan sholat sunnah.
Setelah sholat, barulah Daviandra udah agak tenang dan akhirnya dia bisa tidur.
Keesokan harinya, pada waktu sarapan, Reigha ingin membuktikan ucapan istrinya. Reigha pun segera menelpon Afkar.
“Assalamualaikum, Bro, gimana? Jadi putri lo kuliah di luar negeri?” tanya Reigha sambil sesekali memperhatikan Daviandra.
__ADS_1