
Papa Harun pun mengangguk dan segera pergi dari rumah budhe. Sedangkan Shafa dan Reigha juga anak-anak mengantar Ayah Reynand dan Ibu Khalisa dulu.
Setelah mengantar Ayah dan Ibu, Reigha dan Shafa segera menuju ke rumah Papa Harun karena si kembar dan Reza udah tertidur. Reigha melajukan kendaraannya sedang karena waktu udah malam dan Reigha sedikit mengantuk, jadi Reigha sejak tadi sesekali menguap.
“Mas, kita beli minuman dulu gimana? Kamu sepertinya ngantuk, Mas?” saran Shafa.
“Nggak usah, Sayang, bentar lagi kita sampai rumah,” balas Reigha.
Dan saat udah dekat dengan rumah papa, ada sebuah mobil yang menghadang mobil Reigha.
“Mas, kenapa mobil itu ya, Mas? Kok dia tiba-tiba menghadang mobil kita?” tanya Shafa panik.
“Kamu tenang aja, Sayang, kita tunggu dia turun dulu.” Saat mobil yang menghadang penumpangnya turun. Tiba-tiba Reigha memundurkan mobilnya dan segera menghindar pergi dari tempat itu.
Mereka bergegas kembali masuk dan sempat mengejar mobil Reigha. Tapi, karena rumah papa Harun udah dekat, maka mobil yang menghadang Reigha pun gak bisa menyusulnya.
Reigha segera membawa masuk Reza terlebih dahulu. Sementara Shafa dan si kembar masih di dalam mobil. Setelah menidurkan Reza di kamar Daviandra, Reigha segera kembali ke depan untuk menggendong Daviandra, sedangkan Daviana di gendong oleh Shafa. Mereka berdua pun masuk ke rumah bersamaan.
Setelah Reigha menidurkan Daviandra seranjang dengan Reza dan Shafa menidurkan Daviana di ranjang Daviana. Kemudian, mereka meninggalkan kamar anak-anak.
Setelah dari kamar si kembar, mereka langsung ke kamarnya. Sampai kamar, Shafa langsung bertanya ke Reigha, “Mas, kira-kira yang menghadang kita tadi siapa ya?”
“Kalau firasat Mas sih, itu orang suruhan Ivanka, Sayang,” jawab Reigha.
“Tapi, kenapa kok ke kita?” tanya Shafa kembali.
“Bukan kita tujuannya, tapi Reza. Ivanka punya niat jahat ke Reza,” jawab Reigha membuat Shafa ber-ooh.
“Oh ... Astagfirullah, Reza anak kecil yang gak tau apa-apa jadi sasaran? Benar-benar gak punya hati,” balas Shafa.
Sedangkan di tempat lain, “Lapor, Bos. Tadi mobil orang yang anda suruh, udah saya hadang, dan mungkin mereka akan ketakutan,” kata seorang preman membari laporan.
“Ya ... terus aja buat mereka gak tenang hidupnya. Teror terus!” seru lelaki misterius.
Dan setelah menjawab, preman tersebut pergi.
“Aku akan membayar apa yang udah lo lakukan ke adik gue,” ucap lelaki itu sambil tertawa puas.
Di tempat rumah papa, setelah mandi Reigha izin pada Shafa untuk ke ruang kerjanya menyelesaikan pekerjaannya.
Sesampainya di ruang kerja, Reigha segera menelpon Bayu, “Halo, Bay.”
“Halo ... iya, Gha. Gimana?” tanya Bayu.
“Gue tadi dihadang sama mobil dan orang di dalamnya perawakannya besar-besar, Bay,” jawab Reigha.
“Hah? Serius lo? Lo tau gak siapa, Gha?” balas Bayu kembali bertanya.
“Gue gak tau, gue juga gak kenal siapa mereka,” jawab Reigha.
__ADS_1
“Jangan-jangan itu suruhannya Ivanka, Gha.”
“Gue pun tadi juga mikirnya gitu, Bay,” balas Reigha.
“Trus ... apa tindakan kita selanjutnya?” ucap Bayu.
“Kita lebih hati-hati aja dulu, Bay, trus minta anak buah lo tetap mengawasi Ivanka!” seru Reigha.
“Oh iya. Oke, Gha, gue akan infokan ke anak buah gue.”
Setelah menutup telpon, Reigha kembali ke kamar, ternyata Shafa udah tidur. Reigha pun menghampiri Shafa.
“Sayang, kamu pasti kecapean,” ucap lirih Reigha mengecup kening Shafa dan membenarkan selimutnya.
Setelah itu, Reigha juga merebahkan badannya dan tidur di samping Shafa.
****
Pagi harinya di ruang makan, si kembar dan Reza udah heboh berebut kue bikinan Oma Dhiya.
“Loh-loh, kenapa kalian kok berisik sih, Nak?” tanya Shafa menghampiri mereka.
“Kami sedang makan kue buatan Oma, Mama,” jawab Daviana.
“Iya, Sayang. Tapi, gak boleh berebut dong. Ayo dibagi sama rata, ya,” titah Shafa.
Papa Harun melihat Reigha yang diam aja langsung bertanya, “Kamu kenapa, Gha?” tanya Papa.
“Reigha hanya memikirkan kejadian semalam, Pa, semalam ada yang menghadang mobil kami,” jawab Reigha.
“Siapa? Apa kamu mengenalnya?” tanya papa Harun.
“Gak, Pa. Reigha belum mengenalnya sama sekali, tapi kenapa semalam menghadang kami, ya,” jawab Reigha dan tampak berpikir.
“Kamu selidiki dulu, Gha, sebelum semua terlambat,” balas Papa diangguki oleh Reigha.
“Iya, Pa, Reigha juga udah bicarakan ini ke Bayu,” ucap Reigha.
“Baiklah papa hanya bisa mendoakan kamu semoga masalahnya segera berlalu.”
“Iya, Pa, Aamiin,” kata Reigha.
“Sayang, ayo kita antar anak-anak ke sekolah,” ajak Reigha.
“Iya, Mas. Ayo anak-anak, kita berangkat ke sekolah. Salam dulu ke opa dan oma, Nak!” seru Shafa.
Mereka bertiga pun langsung salam ke opa dan omanya. Setelah itu, mereka keluar untuk jalan menuju ke sekolah.
Shafa hanya mengantar sampai pagar saja, “Udah, ayo salam sama Mama, Nak,” titah Reigha.
__ADS_1
“Kami berangkat ya, Ma ... Assalamu’alaikum,” kata Reza dan si kembar bersamaan.
“Wa’alaikumussalam, Nak,” balas Reigha dan Shafa serempak.
Setelah mobil keluar pagar, menuju ke sekolah setelah menurunkan si kembar mereka pun segera masuk ke sekolah, Shafa hanya menunggu bersama orang tua lainnya di dekat pagar yang memang disediakan untuk tempat duduk orang tua, sedangkan Reigha dari sekolah TK menuju kantor.
Setelah sampai kantor, Reigha segera memanggil Dani. Dani yang dipanggil pun segera masuk ke ruangan CEO bersama Puspa.
“Ada apa, Pak?” ucap Dani saat telah berada di dalam ruangan Reigha.
“Gimana pembangunannya, udah sampai mana?” tanya Reigha.
“Alhamdulillah hari ini finishing, Pak. Bapak bisa melihat nanti sore atau malam. Karena kalau belum bapak lihat dan ternyata ada kesalahan nanti malah dua kali pengerjaan,” jawab Dani menjelaskan.
“Baiklah, nanti sore saya akan melihat warung ayah, jadi besuk udah selesai ya,” balas Reigha.
“InsyaaAllah udah, Pak!” seru Dani.
Dani segera keluar dari ruangan Reigha dan menuju ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Puspa segera membacakan jadwal hari ini. Setelah selesai membacakan jadwal, Puspa memberikan berkas yang harus ditanda tangani Reigha.
Setelah selesai, Puspa pun keluar. Reigha segera menyelesaikan kerjaannya.
Saat makan siang, Reigha mengajak Dani makan siang setelah itu melihat warung Ayah Reynand yang udah direnovasi.
Saat akan menuju di warung Ayah Reynand, Reigha kembali dihadang oleh sebuah mobil yang Reigha tau kalau itu mobil semalam. Reigha dan Dani bersamaan keluar dari mobil.
“Ada apa? Kenapa anda menghadang kami?” tanya Reigha.
“Kami hanya disuruh untuk memberikan ini,” jawab suruhan lelaki misterius itu memberikan kertas yang kemudian dibuka dan dibaca oleh Reigha.
“LO HARUS BAYAR APA YANG UDAH LO LAKUKAN PADA ADIK GUE,” tulis seseorang dalam kertas itu.
Saat Reigha melipat lagi kertas tersebut, orang suruhan itu telah pergi.
Dani segera menghampiri Reigha dan bertanya, “Pak, anda tidak apa-apa?”
“Gapapa kok, Dan, tapi ini siapa ya? Kok tiba-tiba ada yang neror saya?” ucap lirih Reigha.
“Apa bapak gak mencurigai seseorang. Siapa kira-kira ya, Pak?” balas Dani tampak berpikir.
“Gak ada yang saya curiga, Dan, saya gak curiga ke siapapun,” ucap Reigha.
“Yaudah , ayo kita ke warung ayah saja,” lanjut Reigha mengajak Dani segera pergi bersamanya menuju ke warung Ayah Reynand.
Reigha juga Dani pun segera menuju ke warung Ayah Reynand untuk melihat warungnya setelah direnovasi.
Saat mereka berdua sampai di warung Ayah Reynand, ternyata ...
__ADS_1