Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 57 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Reigha tau kalau Shafa belum tidur. Reigha segera berdoa dan mengecup kening Shafa lalu mencium mata dan membisikan sesuatu pada Shafa, “Sayang, kita ulang yang tadi, ya.”


Shafa pun mengangguk dan terjadilah apa yang terjadi tadi siang. Hingga mereka tertidur hanya tertutup sehelai selimut saja.


Jam empat pada waktu Singapore, Shafa terbangun, dia memandangi wajah Reigha yang sedang tidur.


‘Alhamdulillah Ya Allah ... engkau berikan hamba suami yang begitu sempurna, semoga pernikahan kami bahagia. Kalaupun ada cobaan di pernikahan kami, semoga kami bisa sabar melaluinya. Aamiin,’ ucap Shafa dalam hati sambil memegang hidung mancung Reigha.


Reigha merasa ada yang memegang hidungnya pun terbangun, “Kenapa, Sayang, kok megang-megang hidung Mas. Mau di cium lagi, hmm?” tanya Reigha menggoda Shafa. Padahal dia baru saja bangun tidur, udah mulai menggoda istrinya.


“Mas apa sih,” ucap Shafa langsung membalikan badan membelakangi Reigha.


Reigha pun segera memeluk Shafa dari belakang sambil berkata, “Tidur lagi, Sayang ... subuhnya masih lama.”


“Shafa udah gak ngantuk, Mas. Shafa mau mandi.” Shafa bangkit dari tidurnya, tapi tiba-tiba ...


Baru saja Shafa bangkit dari tidurnya, tiba-tiba Reigha kembali mengungkungnya dan serangan fajar pun terjadi lagi.


Reigha dan Shafa kembali tertidur sambil berpelukan. Hingga satu jam kemudian, Shafa pun terbangun dan langsung ke kamar mandi.


Saat ini Shafa pengen berendam, badannya terasa remuk terus-terusan Reigha menggempur Shafa tanpa ampun.


Reigha yang terbangun, mencari shafa hingga Reigha ke kamar mandi melihat Shafa memejamkan matanya di dalam bathup. Perlahan, Reigha segera ikutan masuk ke bathup. Hingga Shafa kaget membuka matanya melihat Reigha tepat dihadapannya.


“Mas,mandi di shower sanalah, jangan di sini,” lirih Shafa sambil mencurutkan bibirnya.


“Mas mandi di sini aja sama kamu, ya, Sayang,” balas Reigha.


“Oh ... gak, gak. Ntar bukannya mandi malah kamunya minta yang lebih,” ucap Shafa yang hanya dibalas tawaan dari Reigha.


Reigha pun segera keluar dari bathup sembari tertawa puas karena menggoda Shafa pagi-pagi.


Sementara itu di Indonesia, tepatnya di kantor. Bayu sedang sibuk karena kerjaan Reigha dihandle olehnya. Tiba-tiba Bayu kedatangan tamu tak diundang.


Tamu tersebut tanpa tanya dan izin pada Anna langsung masuk ke ruangan Bayu begitu saja.


“Selamat Pagi, Pak Bayu.” Ivanka menyapa dan segera masuk dan mendekat pada kursi kebesaran Bayu.


Anna yang melihat Ivanka masuk tanpa izin padanya selaku asisten Bayu hanya menatap malas pada Ivanka. Kemudian, kembali mengerjakan tugasnya.


Sementara Bayu yang merasa namanya disebut pun langsung melirik siapa yang datang menghampiri ditengah kesibukannya saat ini.


“Siang. Ada apa, Bu Ivanka? Apa udah buat janji sebelumnya sama calon istri saya di depan?” tanya Bayu dengan cueknya tanpa menatap pada Ivanka.

__ADS_1


“Ekhm. Maaf, Pak Bayu, ini di kantor loh ... masa harus izin ke calon istri?” tanya Ivanka.


“Kemarin bukannya saya udah kenalkan ke anda kalau Anna itu asisten saya juga calon istri saya. Jadi, kalau di kantor, sebelum menemui saya harus izin pada asisten saya,” ucap Bayu menjelaskan.


“Ah, ribet banget sih mau ketemu Anda!” seru Ivanka.


“Maaf, Bu Ivanka. Ini udah peraturan kantor kami, jadi kalau mau ketemu saya harus lewat Anna dulu. Dan satu lagi, tolong yang sopan masuk ke ruangan saya. Anda tadi tidak mengetuk pintu ‘kan?” ucap Bayu dengan meninggikan suaranya pada Ivanka.


“Oh ... baik, saya minta maaf. Tapi, karena saya udah sampai sini bisa gak kalau saya mengajak Anda untuk makan siang nanti? Di kantin sini tidak apa-apa juga karena saya belum ada partner makan siang ini,” ucap Ivanka duduk di kursi depan Bayu tanpa dipersilakan.


“Maaf, saya udah disiapkan makan siang nanti oleh calon istri saya. Jadi, saya tidak bisa makan siang dengan Anda. Lagian, hari ini kerjaan saya sangat banyak. So, tolong Anda keluar dari ruangan saya.” Bayu mengusir Ivanka dan tak lagi mempedulikan keberadaan Ivanka yang masih berada di depannya.


Ivanka pun segera keluar ruangan Bayu, Ivanka langsung ke meja Anna.


“Hey, wanita kampung! Ingat ya ... lo gak akan bisa menikah dengan Bayu, gue pastikan Bayu akan meninggalkan lo. Jadi, lo harus mundur atau nyawa lo yang jadi taruhannya. Ingat itu!” ancam Ivanka membuat Anna pucat seketika. Setelah itu, Ivanka segera bergegas pergi meninggalkan Perusahaan Trengginas Jaya Abadi.


Siang harinya, Anna bergegas memberikan makan siang ke bayu. Karena memang ini sudah jam makan siang.


Tok...Tok...Tok...


Anna masuk saat mendengar sahutan dari Bayu. Kemudian, Anna mendekat pada Bayu.


“Abang, ini makan siangnya. Abang makan siang sendiri ya, tadi Anna udah makan,” dusta Anna.


“Tadi waktu Abang ada tamu, Anna gak tahan, jadi langsung ke kantin buat makan bekal yang Anna siapkan tadi dari rumah,” jawab Anna kembali yang masih berdusta pada Bayu.


“Hmm ... kamu kenapa, Sayang, wajah kamu pucat loh!” seru Bayu menyelidiki wajah cantik Anna.


“Gapapa kok, Bang. Emm ... Anna keluar dulu ya, Bang,” Anna segera keluar ruangan Bayu tanpa menunggu sahutan dari Bayu.


Anna mendudukkan diri kembali di tempatnya, Anna bingung memikirkan bagaimana hubungannya dengan Bayu. Anna mau menelpon Shafa, tapi takut menggangu. Akhirnya, Anna melamun di meja kerjanya saja.


Bayu keluar mau mengembalikan kotak bekal pada Anna. Bayu melihat Anna melamun, tanpa menunggu lama, perlahan Bayu duduk di depan Anna berbatas meja, dirinya memandangi Anna tetapi yang dipandang tidak menyadari kehadiran Bayu. Bayu yang sejak tadi curiga pada Anna, kini semakin yakin kalau ada yang terjadi pada Anna.


Sepuluh menit berlalu, Anna masih belum menyadari kalau ada Bayu di depannya. Bayu pun segera memanggil Anna.


“Na ... Na,” panggil Bayu sembari memegang tangan Anna.


Anna pun kaget, “Eh, Bang. Ada apa?” tanya Anna.


“Ini kotak bekalnya, Abang udah selesai makan siang,” ucap Bayu segera mengulurkan tangannya. Kemudian, berlalu pergi kembali ke ruangannya.


Bayu sengaja tidak bertanya dulu ke Anna, Bayu ingin Anna terbuka pada Bayu.

__ADS_1


Bayu kini berada di dalam ruangannya, selang waktu lima menit, Bayu yang tak tenang bekerja pun kembali keluar, ternyata Anna masih saja melamun.


Akhirnya, Bayu ingin memanggil Anna, Bayu mau menanyakan apa yang terjadi.


Bukannya ke meja Anna, Bayu malah kembali ke dalam ruangannya. Di dalam ruang kerja Bayu, dirinya segera menghubungi Puspa.


“Halo, Puspa. Tolong suruh Anna ke ruangan,” ucap Bayu.


“Baik, Pak.”


Sementara di ruangan Anna, Puspa yang sejak tadi memanggil-manggil tak didengar oleh Anna. Puspa pun memegang pundak Anna membuatnya kaget.


“Na, disuruh ke ruangan Pak Bayu!” seru Puspa.


Anna mengangguk dan segera bersiap masuk ke ruangan Bayu.


Bayu yang melihat Anna akan segera masuk, mulai berpura-pura sibuk dengan laptop yang dihadapannya.


Tok...Tok...Tok...


“Masuk!” sahut Bayu dari dalam ruangan.


Anna segera masuk ke ruangan Bayu, “Ada apa, Bang?” tanya Anna.


“Duduk, Na!” seru Bayu membuat Anna segera mendudukkan diri di kursi yang tepat berhadapan dengan Bayu.


Bayu menatap Anna dengan serius. Anna yang ditatap merasa gugup dan kembali menanyakan pertanyaan yang tadi dilontarkannya pada Bayu.


“Ada apa, Bang?” tanya Anna kembali.


“Abang yang harusnya bertanya. Kamu kenapa, Sayang? Dari tadi Abang perhatikan kamu gak konsentrasi kerja, kamu melamun aja dari tadi. Sakit?” tanya Bayu.


“Gak ada, Bang. Anna gak kenapa-kenapa kok,” jawab Anna sambil menunduk.


“Mulai besok, kamu gak usah kerja aja. Kamu di rumah sama Mama siapin pernikahan kita,” ucap Bayu membuat Anna mendongak kaget.


“Eh, kok cepat, Bang? Gak usah buru-buru siapin pernikahannya, Bang,” sahut Anna dengan cepat.


“Jawab jujur, kamu kenapa? Kemarin kamu mau kita cepet nikah, sekarang malah gak mau cepet nikah. Abang minta kamu jujur, Abang gak mau kamu menyembunyikan masalah kamu ke Abang,” ucap Bayu panjang.


Anna tak sengaja menitikkan air matanya, Anna menunduk berusaha menyembunyikan air mata yang tanpa izin keluar begitu saja.


Bayu pun segera menghampiri Anna. Bayu memutar kursi dan segera memeluk Anna.

__ADS_1


“Gak bisakah kamu jujur pada Abang? Kamu gak mau terbuka ya sama Abang?” tanya Bayu membuat Anna pun memeluk Bayu begitu erat.


__ADS_2