
“Anak papa siapa?” Reza tampak menoleh dan menatap serius pada Reigha.
“Ya maunya siapa ... Daviana atau Vilia?” tanya Reigha.
“Papa, Reza belum mikirin itu, Pa,” protes Reza.
“Yaudah kalau kamu belum mikirin, berarti teman papa yang mau melamar anak papa akhir bulan ini papa terima aja. Yaudah, Za, kamu boleh pergi,” kata Reigha.
Dan ucapan Reigha yang terakhir pun menggangu pikiran Reza. Reza langsung terdiam dan berjalan sambil melamun. Reigha pun memperhatikan perubahan sikap dari Reza. Reigha semakin yakin kalo Reza punya rasa sama putrinya, Daviana.
Setelah sampai di pantry, Reza langsung duduk dan melamun. Daviandra yang baru masuk ke pantry pun heran, karena Reza yang biasanya ceria sekarang sedang melamun.
“Za ... Reza, lo lagi kesambet?” tanya Daviandra menyadarkan Reza dari lamunannya.
“Eh ... lo ngagetin aja, Dra. Ada apa?” balas Reza.
“Lo melamun kenapa? Lo sakit?” tanya Daviandra.
“Enggak, Dra, gue gapapa,” jawab Reza yang tiba-tiba langsung keluar pantri dan segera menyelesaikan kerjaannya.
“Apa ada yang serius ya, tadi ‘kan dia masuk ke ruangannya om dani. Apa reza di suruh nikahin Jasmin?” tanya Daviandra dalam hati.
Daviandra pun segera keluar dan menyelesaikan kerjaannya.
Di rumah sakit, karena Daviana jadwalnya pagi dia pun bersiap untuk pulang. Saat sampai di lorong rumah sakit, Daviana dipanggil oleh temannya.
“Daviana!” panggil Raymond.
“Iya, ada apa, Ray?” tanya Daviana.
“Pulang bareng yuk, gue juga dah selesai jam kerja gue,” jawab Raymond.
“Boleh, yuk!” seru Daviana.
“Tapi kita mampir ke cafe dulu ya. Ngobrol-ngobrol sebentar,” kata Raymond.
“Ehmmm, oke deh. Tapi, cuma sebentar ya,” balas Daviana setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.
Dan mereka berdua pun segera sampai di parkiran dan naik mobil sendiri-sendiri menuju cafe yang telah di tentukan.
Setelah sampai cafe, mereka turun dan masuk ke cafe dan mereka pun mengobrol sambil menunggu pesanan datang.
“Tumben lo ngajak gue ke cafe, Ray. Ada yang mau lo omongin?” tanya Daviana.
“Hehehe, lo kok tau aja sih,” jawab Raymond.
__ADS_1
“Emm ... sebenarnya gue ...” lirih Raymond yang kemudian kembali membuka suara.
“Emm ... Daviana, sebenarnya udah lama aku jatuh cinta sama kamu. Mau kah kamu menjadi pacar aku?” tanya Raymond yang tiba-tiba pakai aku kamu.
“Ray, lo kan udah kenal gue dari lama. Gue gak mau pacaran, Ray. Dan sampai saat ini juga belum ada seorang cowok pun yang buat gue jatuh cinta. Maaf kalau buat lo tersinggung,” jawab Daviana.
“It’s oke, Daviana. Walau pun lo nolak gue, tapi gue akan berusaha buat lo jatuh cinta. Boleh kan?” balas Raymond.
“Itu terserah lo, Ray, tapi gue gak janji bisa menerima lo. Gue takut lo kecewa nantinya,” ucap Daviana.
“Atau lo sebenarnya udah punya cowok yang lo simpan di hati, makanya tidak ada seorang cowok pun bisa masuk ke hati lo,” kata Raymond menerka-nerka.
“Maaf, Ray, yang jelas sampai sekarang gue gak ingin pacaran. Dan gak ada yang ada di hati gue,” ucap Daviana.
“Ray, gue pulang ya ... maaf gue lupa kalau harus jemput adik gue,” lanjut Daviana berpamitan.
“Tapi, Na, ini pesanan kita blm datang loh,” kata Raymond.
“Maaf, Ray, adik gue udah nunggu,” balas Daviana dan segera pergi meninggalkan cafe.
Di mobil, Daviana segera melajukan mobilnya menuju sekolah Vilia. Sampai sana, Daviana masih menunggu karena belum jam pulang adiknya.
“Maafin gue, Ray, gue bingung mau jawab apa. Bahkan sampai sekarang gue gak tau hati ini untuk siapa. Karena dari dulu gue hanya fokus untuk belajar mengejar cita-cita. Bahkan sampai sekarang pun gue belum pernah kepikiran untuk mempunyai kekasih,” ucap lirih Daviana.
“Kakak, kok lama sih bukanya,” gerutu Vilia sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
“Maaf, Dek, tadi gak dengar. Udah ini, kita jalan sekarang?” tanya Daviana.
“Kita sekalian jemput kak Almeera ya, Kak,” jawab Vilia.
“Iya, Dek. Boleh,” balas Daviana yang manggut-manggut.
Mereka pun segera menjemput Almeera dan setelah itu mereka bertiga pulang.
Di kantor, Daviandra dan Reza udah waktunya pulang. Mereka segera menuju tempat mobilnya dan segera membuka penyamarannya. Setelah itu mereka pulang.
Di kantor, Reigha sengaja memanggil Bayu datang dengan alasan mengajak pulang bersama.
Setelah sampai kantor, Bayu pun menelpon Reigha.
“Gha, gue udah di luar nih, ayo katanya mau pulang bareng,” kata Bayu.
“Loe ke ruangan gue dulu, Bay. Kerjaan gue dikit lagi selesai, nanggung,” balas Reigha.
Setelah menutup telponnya, Bayu pun segera memarkirkan mobilnya dan segera keluar mobil kemudian masuk kantor menuju ke ruangan kerja Reigha.
__ADS_1
“Lho ... Pak Bayu. Ada apa, Pak?” tanya Puspa.
“Oh ini ... saya di suruh Reigha ke ruangannya,” jawab Bayu.
“Owh ... silakan, Pak. Pak Reigha ada di dalam ruangannya. Saya permisi pulang dulu, Pak,” kata Puspa.
“Iya, silakan,” balas Bayu dan kemudian Bayu pun segera masuk ke ruangan Reigha.
“Gha, katanya lo masih ada kerjaan. Ini malah duduk-duduk santai, mending kita cepat pulang. Yuk!” seru Bayu.
“Duduk dulu, Bay, gue sengaja nyuruh lo ke sini mau ngajak lo ngobrol,” kata Reigha.
Bayu pun segera duduk di dekat Reigha kemudian bertanya, “Ada apa, Gha?”
“Bay, lo kan tau gimana rasanya punya anak perempuan. Setiap dia keluar gue itu gak tenang. Takut dia kenapa-kenapa, jadi akan lebih aman dan lebih tenang kalau Daviana gue carikan suami,” ucap Reigha.
“To the point aja, Gha, maksud loe apa?” balas Bayu bertanya.
“Bay, gimana kalau Reza kita jodohkan sama Daviana?” tanya Reigha menatap serius pada Bayu.
“Lo serius, Gha, mereka itu saudara loh. Dan, jangan memaksakan kehendak,” jawab Bayu.
“Gue gak maksakan kehendak, Bay. Kita yang mencoba mendekatkan mereka. Gimana?” balas Reigha.
“Terserah lo, Gha, asal gak memaksakan kehendak mereka, gue setuju. Jadi, gimana rencana lo?” tanya Bayu.
“Kita mulai dari Reza, kita mintain tolong mengantarkan Daviana, Almeera dan Vilia. Kan dari jaraknya Daviana yang terakhir. Nanti saat berdua pasti lama-lama akan ada interaksi keduanya. Nah, kalau ada kesempatan kita gunakan mereka untuk pergi. Gimana?” balas Reigha.
“Okelah, lo atur aja. Tapi kita jangan bicarakan ini dulu ke istri kita ya. Bisa gagal nanti,” kata Bayu.
“Pastilah kalau itu. Yaudah, kita pulang yuk!” ajak Reigha menyeru.
Dan mereka pun meninggalkan ruangan Reigha menuju ke parkiran kantor. Mereka pun naik mobil berdua, mobil Reigha sengaja di tinggal di kantor. Hingga mereka pun sampai di rumah, Bayu segera ke rumahnya lewat pintu samping.
Malam harinya saat makan malam, Reza yang memang biasa makan di rumah Reigha nampak gak tenang.
Sejak Reigha mengatakan ada yg melamar Daviana. Di sudut hatinya seperti tidak rela kalau Daviana dimiliki orang lain.
‘Ya Allah ... perasaan apa ini, gue sama Naima itu saudara,’ ucap Reza dalam hati.
“Za, mama perhatikan kamu kok gak tenang gitu?” tanya Shafa.
“Gapapa, Ma. Cuma ini, perut Reza agak sakit,” jawab Reza.
“Lo sakit, Za? Nanti setelah kita makan, gue periksa,” kata Daviana dengan santainya, namun membuat Reza kaget dan menatap lekat pada Daviana.
__ADS_1