
Sesampainya di rumah Reigha udah tengah malam, orang tua Shafa dan Anggi juga Budhe langsung pulang di antar Vano.
“Kak, Anggi harus pulang. Besok ujian,” ucap Anggi.
“Iya, semangat ujiannya, Aunty!” seru Shafa dengan suara yang dibuat-buat seperti ajak kecil.
“Gemes banget, pasti deh kalau cewek cantik kayak Anggi. Kalau cowok ganteng kayak Kak Reigha,” balas Anggi membuat Shafa mengernyit.
“Lah, ngigau deh. Udah sana pulang udah ditunggu Ayah dan Ibu tuh di mobil, hati-hati ya.”
Anggi pun berlari masuk ke dalam mobil.
“Bro, gue pamit pulang ya, istri gue dah ngantuk sepertinya,” ucap Afkar pada Reigha.
“Lo tidur sini ajalah, sekali-kali ngobrol-ngobrol dulu,” balas Bayu.
“Iya, bener tuh, nginap sini aja ya, besok juga minggu. Pasti lo libur,” imbuh Reigha.
Afkar tampak menoleh pada Zhafira, “Gimana, Sayang? Mau nginap di sini gak?” tanya Afkar.
“Terserah kamu, Mas, Fira ngikut aja,” jawab Zhafira.
“Baiklah kalau itu mau kalian, tapi sory ya jadi ngrepotin,” ucap Afkar.
“Gak repot sama sekali,” balas Reigha.
Huek...Huekk...
“Abang, Anna mual,” lirih Anna yang langsung diantar Bayu masuk ke dalam rumah.
“Gue masuk bentar ya,” kata Bayu dengan cemas langsung membopong tubuh Anna ke kamar.
“Sayang, bisa tolong antar istri Afkar untuk istirahat,” titah Reigha menoleh pada Shafa yang di sampingnya.
“Iya, Mas. Mari, Fira, aku antar ke kamar,” ajak Shafa.
“I—iya. Mas, aku ke kamar dulu ya.” Zhafira pamit pada Afkar dan diangguki oleh suaminya. Kemudian mengikuti langkah Shafa yang mengantarnya ke kamar tamu.
“Bu, udah berada bulan kandungannya?” tanya Zhafira saat berada di samping Shafa.
“Jangan panggil ibu dong, udah berasa tua aja,” balas Shafa.
“Saya segan aja. ‘Kan ibu istrinya Pak Reigha,” ucap Zhafira.
“Udah, gapapa. Panggil Shafa aja.”
“Baiklah, Shafa. Udah berapa bulan kandungan kamu, Fa?” ucap Zhafira mengulangi pertanyaannya.
“Alhamdulillah udah empat bulan, Anna tadi mual, itu karena hamil juga. Usia kandungannya dua bulan,” jawab Shafa.
“Alhamdulillah ... pasti beberapa bulan lagi bakal ramai suara bayi di rumah ini.” Zhafira menatap perut Shafa yang tampak menjendul.
__ADS_1
“Fa, boleh aku pegang gak?” tanya Zhafira dengan ragu-ragu.
“Boleh dong,” jawab Shafa.
Zhafira mengulurkan tangannya dan memegang perut Shafa.
“Semoga secepatnya nular ke kamu, ya,” tutur Shafa yang di-aamiinkan oleh Zhafira.
Setelah sampai di depan kamar tamu, Zhafira mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke kamar.
Shafa pun kembali ke depan rumah, “Mas, ayo ajak Kak Afkar masuk. Jangan mengobrol di depan!” seru Shafa.
Reigha dan Afkar pun masuk ke dalam. Tak lama, Bayu menyusul mereka di ruang tamu dan mengobrol ber-tiga.
Melihat itu, Shafa segera ke kamar Anna. Tak lama, Shafa dan Anna bersamaan ke ruang tamu, sudah berganti baju.
“Kak, Fira tadi bawa baju ganti gak?” tanya Anna.
“Enggak, tapi bentar lagi ada yang antar kok,” jawab Afkar.
Tak lama, sesuai dengan yang Afkar ucapkan, baju yang Afkar pesan pun tiba. Afkar diberitahu dimana letak kamarnya, dia segera ke kamarnya.
“Istirahat aja, Bro. Besok kita lanjut ngobrolnya,” ucap Reigha.
“Oke, thanks, ya!” seru Afkar.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk istirahat dan kembali ke kamar masing-masing.
Setelah semua siap, Shafa memanggil Reigha, Bayu dan Anna. Begitu juga dengan Zhafira yang memanggil suaminya di kamar.
Mereka pun berkumpul di ruang makan dan menikmati sarapan pagi ini. Kemudian mereka menuju ruang tamu untuk mengobrol.
“Gha, Bay, nanti gue pulang agak siang ya, soalnya hari ini mau ngajak istri jalan-jalan,” ucap Afkar.
“Oh iya. Gapapalah,” balas Reigha.
“Jadi, istri lo kerja bagian apa di kantor Reigha?” tanya Bayu.
“Bagian keuangan ya, Sayang?” tanya Afkar memastikan menoleh pada Zhafira.
“Iya, saya dibagian keuangan, Pak,” jawab Zhafira menoleh pada Bayu.
“Dasar pimpinan cuek!” celetuk Afkar.
“Tapi, gapapa, dengan gitu kalian gak ngelirik cewek lain ya gak?” lanjut Afkar tertawa dan dibenarkan oleh Bayu.
“Cewek di kantor gak ada yang menarik!” seru Bayu.
“Bang, kan Anna cewek kantoran,” sambar Anna yang mendengar seruan Bayu.
“Kalau istri lo, Gha? Ketemu di mana sama istri lo?” tanya Afkar.
__ADS_1
“Afkar, lo jangan nanya deh. Bakal panjang kalau diceritakan,” sambar Bayu membuat Reigha melirik Shafa yang tengah mengulumkan senyumnya.
“Dia dulu perawat di rumah sakit, singkat cerita. Gue jatuh cinta sama dia pas dia ngerawat gue,” jawab Reigha.
“Oh ... kayaknya menarik,” balas Afkar.
“Dia termasuk suster yang pintar loh. Gak banyak perawat yang udah S2 di rumah sakit itu,” imbuh Anna.
“Gak perlu dibuka juga dong, Na,” lirih Shafa.
“Kok lo tau, Na?” tanya Zhafira.
“Tau dong, ‘kan gue sahabatnya Shafa. Gue dulunya juga perawat di tempat yang sama dengan Shafa,” jawab Anna.
“Trus masih kerja di rumah sakit, Fa?” tanya Zhafira.
“Enggak, waktu udah nikah masih ngurus Mas Reigha sampai sembuh. Setelah sembuh ada resepsi lagi, trus bulan madu, pokoknya belum sempat kerja lagi, udah hamil,” jelas Shafa.
“Oh, sekarang gue paham deh. Waktu itu sempat rame di kantor soal Pak Reigha yang kecelakaan dan udah setahun lagi kan kayak resepsi tuh, disitu rame banget kantor sampai Puspa kasih penjelasan kalau Pak Reigha itu resepsi dengan perempuan yang sama, soalnya dikira mereka Pak Reigha nikah dua kali,” ucap Zhafira.
“Hah? Kok Puspa gak cerita?” tanya Bayu.
“Iya, dia juga gak cerita ke gue, Bay,” imbuh Reigha.
“Mungkin Puspa gak mau nambah pikiran ke Pak Reigha dan Pak Bayu selama masih bisa ditangani oleh Puspa langsung,” balas Zhafira membuat mereka manggut-manggut.
Tak lama mereka mengobrol, waktu menunjukkan pukul sebelas, Afkar dan Zhafira segera pamit pulang.
“Yaudah kalau gitu, kami pamit ya. Makasih udah ngundang gue,” ucap Afkar.
“Iya, sama-sama. Semoga lancar kerjaan lo, ya!” seru Bayu.
“Pasti kita ketemu lagi, Bro. Kan lo ojek istri lo,” imbuh Reigha bercanda.
“Eh jangan gitu, itu tanda gue gak mau istri kenapa-kenapa, Gha,” balas Afkar sambil tertawa karena ucapan Reigha.
“Gaklah, gue bercanda. Kita bakal sering ketemu pas lo antar atau jemput Zhafira ke kantor,” ucap Reigha.
“Nah itu bener!” seru Afkar.
“Aku pamit dulu, ya. Semoga kehamilan kalian lancar,” titah Zhafira pada Shafa dan Anna.
“Iya, makasih, Fir,” balas Shafa dan Anna serempak.
“Kalau lahiran kabari, ya!” seru Zhafira diangguki oleh Shafa dan Anna.
Kemudian, Afkar dan Zhafira masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan rumah.
Reigha dan Bayu membawa istri mereka masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Saat Bayu dan Anna udah masuk ke dalam kamar, Reigha mendekat pada Shafa dan berkata, “Sayang, Mas pengen makan.”
“Hah? Makan lagi, Mas?”
__ADS_1