
“Halo, kenapa?” tanya Reza ketus.
“Jangan bilang kamu baru bangun, Za?” balas seseorang itu hingga membuat Reza terlanjur kaget.
“Papi,” lirih Reza.
“Kenapa kamu ketus gitu angkat telpon? Tumben kamu baru bangun juga. Ada apa?” tanya Bayu.
“Reza capek, Pi. Reza mau izin dulu hari ini, Reza pusing,” jawab Reza.
“Yaudah istirahat aja. Nanti kalau waktu papi senggang, papi ke sana,” balas Bayu dan menutup telponnya.
Sementara nenek Khalisa, di jalan meminta untuk mampir sebentar di makam suaminya yaitu kakek Reynand.
“Nak Fathir, kita mampir sebentar di makam ayah, ya,” pinta nenek Khalisa.
“Iya, Bu. Ini kita langsung menuju ke sana,” balas Fathir.
Sesampainya di makam, nenek Khalisa turun dari mobil ditemani oleh Fathir, Anggi, dan dua putranya.
Kakek Reynand meninggal saat si kembar masih SMA, karena kecelakaan yang membuatnya harus meninggalkan istri juga anak cucunya. Kepergiannya tentu merupakan pukulan besar bagi Shafa juga Anggi saat itu.
“Yah, cucu kita ... gak terasa udah besar, dan bentar lagi mau nikah, Yah,” lirih nenek Khalisa saat tepat berada di samping batu nisan suaminya.
Kemudian, nenek Khalisa membacakan do’a untuk suaminya. Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk pulang.
***
Beberapa bulan kemudian, setelah Daviana dan juga Calvin melakukan pendekatan, Daviana pun memutuskan untuk melanjutkan hubungannya dengan Calvin pada jenjang yang lebih serius.
Dan lebih tepatnya hari ini, mereka semua tampak berkumpul di ruang tamu rumah Reigha. Ada keluarga pak Hartawan yang udah tampak hadir.
“Bagaimana? Apa keputusan kalian?” tanya pak Hartawan.
“Keputusan ada pada Daviana ‘kan, Pa?” balas Calvin menoleh pada Daviana.
“Keputusan saya ... ” Daviana menarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskannya perlahan.
“Saya mau melanjutkan hubungan ini dan mengikat tali pernikahan,” jawab Daviana
“Alhamdulillah,” ucap semua orang serempak, namun tidak pada Reigha dan Reza yang perasaannya tidak karuan saat itu.
“Mari kita tentukan tanggal baiknya, Pak,” kata pak Hartawan pada Reigha.
Reigha hanya mengangguk kecil dan tersenyum.
Mereka pun melanjutkan dengan pembahasan masalah persiapan pernikahan. Sementara Reza yang merasa kupingnya panas pun pamit untuk ke kamar Daviandra beristirahat.
“Maaf semuanya, saya mau ke kamar untuk istirahat,” kata Reza yang langsung berdiri hendak meninggalkan ruang tamu.
“Loh, Za, semua lagi kumpul loh,” balas Mami Anna.
“Reza pusing, Mi. Reza gak enak badan,” ucap Reza.
“Udah gapapa, Na. Biarkan Reza istirahat,” kata Shafa.
“Makasih, Ma, Mi,” balas Reza segera meninggalkan ruang tamu begitu saja dan menuju ke kamar Daviandra.
__ADS_1
Daviana terlihat bingung, dia khawatir dengan Reza yang dianggapnya seperti abang sendiri, sementara sekarang ini dia tengah sibuk membahas pernikahannya.
“Kenapa, Daviana?” tanya pak Hartawan yang menyadari kebingungan Daviana kala itu.
“Emm ... Om, saya harus ke kamar mandi dulu,” jawab Daviana.
“Pergilah, Nak,” balas Bu Monica.
“Makasih, Tante,” ucap Daviana segera berlalu pergi menuju ke kamarnya.
Daviana bukannya ke kamar mandi, malah mengambil alat medisnya di kamar, dan karena kamar Daviandra di sebelah kamarnya, dia pun langsung masuk untuk memeriksa Reza.
“Za,” panggil Daviana mendekat pada kasur.
“Hah? Nai, ngapain di sini?” tanya Reza.
“Za, mana tega gue ngelihat lo sakit dibiarkan gini aja,” jawab Daviana yang mulai memeriksa.
“Ternyata lo hanya perlu istirahat yang cukup, jangan capek-capek dan juga ... emm ... per—”
“Perlu perhatian lo, ya?” sambar Reza membuat Daviana mengernyit bingung.
“Apaan sih lo, Za,” balas Daviana memukul pelan pundak Reza.
“Dan juga perlu minum vitamin yang waktu itu gue resepin,” ucap Daviana melanjutkan apa yang tadi sempat terpotong karena disambar oleh Reza.
“Iya, makasih, Nai,” ucap Reza.
“Sama-sama.” Daviana membereskan alat medisnya kemudian berlalu pergi keluar kamar.
Daviana segera menutup pintu dan kembali menuju ke kamar mengembalikan alat medis dan segera menuju ke ruang tamu setelahnya.
Reza yang di kamar pun saat ini tengah senyum-senyum sendiri karena perhatian Daviana padanya juga karena tingkah lucu Daviana.
Namun, saat Reza teringat Daviana saat ini tengah membahas pernikahannya di bawah, Reza langsung kesal dan memilih memejamkan matanya agar tertidur.
“Maaf lama,” kata Daviana mendudukkan diri kembali di samping Daviandra.
“Kak, mending lo ke kamar nemenin Reza,” bisik Daviana.
“Gak mau. Gue harus turut andil dalam pernikahan lo nantinya,” balas Daviandra membuat Daviana mencurutkan bibirnya kesal.
Tak lama kemudian, tanggal baik pun udah ditentukan, lamaran seminggu lagi, kemudian disusul dengan pernikahan setelah satu bulan selesai lamaran dan disetujui oleh keduabelah pihak keluarga.
Dan setelah selesai pembahasan mereka, keluarga pak Hartawan pamit pulang.
Daviana yang sejak tadi duduk pun tak mendengarkan apa-apa karena enggak fokus.
“Heh, calon kamu balik itu,” ucap Daviandra mengkagetkan Daviana.
“Udah balik, Kak? Dah, cepatlah kamu ke kamar, Kak, Reza di sana tuh,” balas Daviana.
“Oalah ... dari tadi tuh diam karena mikirin Reza,” bisik Daviandra yang mendelik menatap adiknya.
“Eh udah ah, aku mau antar mas Calvin,” balas Daviana berlalu pergi menyusul kedua orang tuanya yang mengantar keluarga pak Hartawan sampai depan rumah.
Shafa yang melihat putrinya di samping pun berkata, “Alhamdulillah ya, Kak ... akhirnya kamu setuju dengan Calvin.”
__ADS_1
“Iya, Ma. Alhamdulillah,” balas Daviana segera memeluk mamanya.
“Eits, kali ini gak nangis kan?” tanya Shafa.
“Nggak dong, Mama,” jawab Daviana sembari tersenyum senang kemudian mencium pipi mamanya.
“Yaudah ayo masuk. Kita lanjut ngobrol di dalam aja. Gak baik ngobrol di depan pintu gini,” titah Bayu.
Semua pun masuk dan kembali ke ruang tamu. Sementara Daviana nampak Daviandra masih duduk di tempat yang sama pun segera mendekat dan berbisik protes, “Astaga, Kak ... aku kira udah di kamar. Trus gimana coba kalau dia butuh apa-apa.”
“Gak, Nai. Dia itu tidur,” balas Daviandra berbisik.
Daviana merengut dan memilih untuk diam.
“Pa, jadinya keputusan lamaran dan pernikahannya tuh kapan?” tanya Daviana pada Reigha.
“Loh loh, Kak ... kamu gak nyimak ya tadi?” balas mama Shafa bertanya.
“Nai lagi banyak pikiran, Ma. Jadi, sempat ngelamun,” balas Daviana.
“Udah ditentukan, Nak. Lamaran satu minggu lagi dan pernikahan satu bulan setelah lamaran,” jawab Reigha pada pertanyaan putrinya.
“Kak, kalau kakak menikah, barang-barang kakak yang gak pakai lagi untuk aku aja,” celetuk Vilia.
“Eh, kok gitu? Lagian, ya ... buat apa barang-barang itu sama kamu?” tanya Daviana.
“Yaa dari pada gak kepake, Kak. Sayang banget,” jawab Vilia.
“Nasib tuh punya adek cewek. Haha!” seru Daviandra.
“Udah-udah ... kalian ini,” kata Reigha menengahi.
“Pa, emang gak kecepatan tuh satu minggu lagi lamaran? Persiapan emang udah ada?” tanya Daviana.
Reigha pun segera menceritakan semuanya dari tanggal dan persiapan yang memang dimulai dari malam ini.
“Oh gitu ... jadi mas Calvin nanti ke sini lagi, Pa?” tanya Daviana kembali.
“Nggak, Nak. Hanya beberapa orang untuk mengurus dekorasi di sini. Ya ... mungkin pak Hartawan yang langsung mengawasi di sini,” jawab papa Reigha membuat Daviana menggut-manggut.
Tak lama kemudian, saat mereka masih mengobrol, ternyata Reza udah kembali duduk diantara mereka.
“Udah baikan, Za?” tanya Reigha segera.
“Alhamdulillah udah, Pa. Apalagi tadi ada bidadari yang tiba-tiba datang,” jawab Reza membuat Daviana menoleh dan mendelik pada Reza.
“Sejak kapan kamu bisa lihat bidadari?” tanya mami Anna yang menanggapi serius.
“Iya bisa, Mami. Sangat cantik,” balas Reza sengaja menatap lekat Daviana yang tampak kesal saat ini.
Sementara Reigha yang memperhatikan mereka berdua pun hanya senyum-senyum sendiri.
“Jadi gimana? Pembahasannya lancar?” tanya Reza.
“Lancar, mereka tunangan seminggu lagi dan pernikahannya sebulan setelah tunjangan,” jawab mama Shafa membuat Reza kaget bak disambar petir kala itu.
Reza terdiam sebentar kemudian seakan bertanya mengulangi sepenggal ucapan mama Shafa, “Sebulan lagi pernikahan, Ma?”
__ADS_1