Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 39 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Na, lo tuh kenapa? Kok lo seperti menghindar dari gue?” tanya Bayu menatap serius pada Anna yang dihadapannya.


“Itu cuma perasaan lo aja, Bang. Gue gak merasa kenapa-kenapa sih, ya ... bersikap biasa aja dan sewajarnya,” jawab Anna santai tanpa menatap pada Bayu.


“Na, lo tau ‘kan kalau gue itu suka sama lo. Tapi, lo pura-pura gak tau,” ucap Bayu dengan raut wajah gusar.


“Na, gue tuh serius. Gue pengen ngelamar lo!” lanjut Bayu.


Anna mendongak sembari berkata, “Maaf, Bang. Gue gak bisa. Lo dan gue itu gak sepadan, lo bisa aja mendapatkan yang lebih dari gue. Gue gak bisa sama lo.”


“Tapi, yang gue mau cuma lo, Na,” balas Bayu dengan raut wajah kecewa setelah mendengar penolakan dari Anna.


Anna hanya diam aja. Kemudian dia melanjutkan makannya. Setelah selesai, Anna membuka suara kembali, “Maaf, Bang. Gue udah selesai makannya.”


Anna melangkah keluar meninggalkan Bayu dengan keadaan Bayu yang penuh kekecewaan pada Anna.


Anna pun keluar ruangan Bayu menuju ke toilet. Di dalam toilet dia menangis sembari berkata lirih, “Maafkan Anna, Bang. Anna udah nyakitin hati Abang. Tapi, andai Abang tau kalau Anna juga sayang dan cinta sama Abang. Tapi, Anna rasa, itu mustahil. Kita ini berbeda, Bang.”


Anna terus menangis. Bahkan Anna tidak sadar kalau di toilet sebelah ada yang mendengar ucapannya. Ya, Shafa. Kebetulan Shafa juga ada di toilet yang sama.


Shafa pun langsung mengetuk pintu seraya memanggil Anna yang masih menangis di dalam.


Tok...Tok...Tok...


“Na, Anna ... bukain pintunya!” seru Shafa dari luar.


“Gue tau lo di dalam, Na,” lanjut Shafa.


Tok...Tok...Tok...


Anna pun keluar dengan mata sembabnya.


“Fa,” panggil Anna yang langsung memeluk Shafa.


“Ayo kita keluar dari sini. Kita ngobrol di Cafe depan kantor,” ucap Shafa yang diangguki Anna tanda setuju.


Sesampainya di lift, Shafa mengirim pesan ke Reigha meminta izin.


“Mas, Shafa izin ke Cafe depan kantor sebentar, ya. Shafa berdua sama Anna,” ketik Shafa mengirimkan pesan pada Reigha.


Tak lama, Shafa mendapatkan balasan dari Reigha, “Oke, Sayang. Hati-hati. Nanti kalau dah selesai urusannya langsung masuk aja ke ruangan.”


“Iya. Makasih, Mas.” Shafa pun menyimpan ponselnya kembali dan berjalan keluar lift.

__ADS_1


Setelah itu, Reigha tak membalas pesan terakhir dari Shafa karena Bayu yang masuk ke dalam ruangan Reigha.


“Gha, gue besok harus jemput teman SMA gue di bandara. Kebetulan dia baru dari kalimantan, ke sini karena mau mengajukan berkas ke perusahaan ini untuk melamar pekerjaan,” ucap Bayu.


“Mau masuk divisi mana?” tanya Reigha.


“Divisi humas butuh anggota satu orang lagi, Gha. Kebetulan dia mau melamar pekerjaan bagian itu,” jawab Bayu membuat Reigha manggut-manggut, paham.


Reigha pun seakan sadar dengan ucapan Bayu. Kemudian, bertanya, “Emangnya harus lo yang jemput?”


“Iyalah, Gha. Lagian dia udah banyak bantu gue pas masa SMA,” jawab Bayu.


“Okelah, gue izinin lo jemput dia,” balas Reigha.


Bayu pun berterima kasih dan segera pergi keluar ruangan Reigha.


Reigha menatap kepergian Bayu dengan penuh tanda tanya karena Bayu tampak aneh, tak biasanya Bayu seserius ini, biasanya ada diselingi candaan disetiap ucapannya.


Saat di lobby, Shafa bertemu dengan resepsionis yang tadi menyuruhnya menunggu. Kini Yola tampak menunduk hormat pada Shafa dan juga Anna yang berjalan melewatinya.


Shafa dan Anna sudah sampai Cafe, Mereka duduk berhadapan, lalu memesan minuman untuk menemani obrolan keduanya.


“Na, gue tadi pagi lihat lo jalan sendirian dan duduk di halte. Trus, tadi di toilet itu gue denger lo nangis. Ada beban apa sebenarnya yang lo sembunyikan dari gue, Na,” ucap Shafa membuka pembicaraannya.


“Fa, gue bingung. Tadi pagi gue kabur dari mobil Bayu karena gue lihat notifikasi dari Delia kalau dia akan ketemuan sama Bayu,” ucap Anna bercerita.


“Emangnya, Delia itu siapa sih, Na?” tanya Shafa.


“Aku gak tau sih, tapi masa pagi-pagi mereka berdua mau ketemuan ‘kan,” jawab Anna yang tampaknya cemburu pada Bayu.


“Lo cemburu, ya?” tanya Shafa sementara Anna hanya menunduk tak menjawab.


“Trus lo kenapa nangis di toilet tadi?” imbuh Shafa bertanya pada Anna.


“Emm ... tadi waktu makan siang, Bayu ngungkapin perasaannya ke gue. Bahkan, dia rencana mau ngelamar gue,” ucap Anna lirih.


“Bagus dong, Na. Trus lo terima?” balas Shafa bertanya pada Anna. Namun, mendapat gelengan dari Anna.


“Fa, lo ‘kan tau gimana keluarga gue. Ini aja gue selama ini tinggal sama Budhe. Gue merasa gak sepadan aja sama Bayu. Bagaikan bumi dan langit, Fa,” ucap Anna lirih.


“Anna, cinta itu gak memandang harta. Cinta itu dari hati, lo tau ‘kan gimana awal pernikahan gue seperti apa dulu nikahnya. Lo kira gak berat, Na. Gue nikah karena terpaksa dan bersama orang yang gak gue kenal. Lo dicintai oleh orang yang mau ngelamar lo, gue dulu gak tau dia cinta atau gak sama gue, Na. Mau gimana pun, kalau kita ikhlas menjalaninya, perbedaan itu akan hihilangTanyakan pada hati mu, Na. Lo siap gak kalau seandainya nanti bayu tiba-tiba dekat dan menikah sama orang lain. Apa lo rela?” balas Shafa panjang pada Anna.


“Jadi, pikirkan lagi, Na. Gak usah dengerin omongan orang. Lo tau sendirian gimana orang itu menggunjing kita. Benar di gunjing, salah juga di gunjing. Jadi, gak usah lo takut sama omongan orang. Kita ‘kan hidup bukan dari dikasih makan orang itu. Jadi, sebelum terlambat ... cepat lo kasih keputusan sebelum Bayu ngelamar orang lain. Lagian, tadi di toilet gue juga denger kalau ada yang cinta dan sayang sama Bayu,” lanjut ucapan Shafa sambil senyum-senyum.

__ADS_1


Anna pun malu, karna ucapannya di toilet tadi ternyata didengar oleh Shafa.


“Makasih, ya, Fa. Lo udah buat pikiran gue terbuka. Semoga keputusan gue ini nanti gak salah,” ucap Anna yang diangguki oleh Shafa.


“Nah, gitu dong baru sahabat gue. Yuk diminum dulu, terus kita buruan ke kantor lagi. Ntar ada yang nyari,” balas Shafa.


“Iya, Fa.”


Setelah semua telah selesai, Shafa pun membayarnya. Kini mereka pun langsung keluar Cafe menuju ke kantor kembali.


Keduanya masuk ke dalam lift yang mengantarkan menuju ke ruang CEO.


Shafa dan Anna berpisah di depan ruangan CEO. Shafa masuk ke dalam ruangan Reigha, sementara Anna berniatan masuk ke dalam ruangan Bayu.


Anna yang merasa bersalah, kini langsung mendekat pada pintu ruangan Bayu. Tetapi, Anna masih ragu-ragu untuk mengetuk pintu.


Tok...Tok...Tok...


“Masuk!” teriak Bayu.


Anna mendekat dan duduk dihadapan Bayu seraya berkata, “Bang, sebelumnya Anna minta maaf udah buat lo marah.”


“Oh ... iya, gapapa.” Bayu pun melanjutkan pekerjaannya karena masih malas untuk mengobrol bersama Anna.


Tak lama, ponsel Bayu berdering menampilkan nama Delia. Anna yang melirik ponsel Bayu pun hanya terdiam dan memendam rasa cemburunya itu.


Bayu menerima panggilan tersebut, “Ya, Del.”


“Bay, gue besok dijemput lo ke bandara ini ‘kan?” tanya Delia yang dari sebrang telpon. Anna tak mendengar apa yang Delia ucapkan.


“Iya, nanti gue ke sana. Lo ke kantor bareng gue,” jawab Bayu.


/jleb.


Anna merasa sesak, Bayu dengan cepatnya berubah. Bayu kini mau berangkat ke kantor bersama Delia dari pada Anna.


Setelah menutup telpon, Bayu hanya diam tak berbicara apapun bahkan tidak melirik Anna sedikit pun.


Mereka berdua sama-sama diam, sampai sepuluh menit tak ada pembahasan apapun dari keduanya. Akhirnya, Anna pamit keluar dari ruangan Bayu.


Anna langsung duduk di ruang kerjanya. Sedangkan, Bayu yang di dalam ruangan duduk sambil melamun, sejak Anna keluar dari ruangannya, dibiarkannya kerjaan yang diatas meja kerjanya itu terbengkalai begitu saja.


Di ruangan Reigha, Shafa menceritakan apa yang terjadi pada Anna. Shafa menceritakan semua masalah Bayu dan Anna.

__ADS_1


“Gimana, Mas? Ada solusi gak untuk mereka berdua?” tanya Shafa yang ingin masalah Bayu dan Anna segera selesai.


__ADS_2