
“Kak, Bang, boleh Anggi duduk?” tanya Anggi.
“Duduk aja, Gi, ada apa? Sepertinya ada yang mau kamu omongin?” balas Shafa bertanya pada Anggi.
“Iya, Kak, aku tadi baru dari kamar Naima. Dan saat aku masuk ke kamarnya, Naima lagi melamun. Trus aku tanya dan dia pun cerita kalau semakin mendekati hari pernikahannya, dia semakin ragu. Ada apa sebenarnya?” tanya Anggi.
Sontak saja Shafa dan Reigha pun saling tatap bingung menjelaskan apa pada Anggi.
“Kakak dan abang kamu juga bingung, Gi, Nai semakin pendiam dan tertutup sekarang. Dia gak ceria lagi seperti dulu. Tapi, abang kamu pernah nanya ke Naima kalau dia mau gak acara pernikahan dibatalin aja, dan jawaban Naima dia gak mau, dia ingin pernikahannya tetap dilaksanakan. Makanya kami pun bingung, Gi,” balas Shafa.
“Sayang, mas coba ke kamar Naima ya,” ucap Reigha.
“Iya, Mas ... coba kamu lihat kak Nai, Mas,” kata Shafa.
Reigha pun mengangguk dan segera meninggalkan Shafa dan Anggi menuju ke kamar Daviana.
Saat membuka pintu kamar Daviana, Reigha pun terkejut.
“Astagfirullahal’adzim, Kak Nai,” teriak Reigha kaget.
Shafa dan Anggi yang mendengar pun segera berlari ke kamar Daviana.
“Ada apa, Mas? Kenapa Naima?” tanya Shafa.
“Kenapa, Bang?” tanya Anggi hampir bersamaan dengan Shafa.
“Naima pingsan, gimana ini?” lirih Reigha.
“Bentar, Mas, biar aku lihat dulu,” ucap Shafa dan segera mendekat pada Daviana kemudian meraba pergelangan tangannya.
“Mas jangan panik, Naima hanya pingsan, bentar lagi juga sadar,” kata Shafa setelahnya sembari mencari minyak kayu putih dan diletakkan pada jarinya setelah itu, didekatkan di hidung Daviana dan tak berapa lama, Daviana pun siuman.
“Alhamdulillah,” ucap Shafa.
Reigha segera mendekat dan berkata, “Kak, Alhamdulillah kamu sadar. Kamu kenapa kok tiba-tiba pingsan? Apa perlu kita panggil dokter, Sayang?”
“Naima gapapa, Pa, hanya pusing tadi,” balas Daviana.
“Kalau kamu khawatir, gapapa mas ... panggil dokter aja. Tapi kalau Shafa lihat, Naima cuma lagi banyak pikiran dan gugup karena mau nikah,” kata Shafa.
“Kak, kalau ada apa-apa, cerita ke mama atau papa biar bisa berkurang beban pikiran kamu,” titah Reigha.
“Iya, Pa, maaf ya ... Nai udah membuat papa dan mama khawatir,” ucap Daviana.
Anggi yang tadi keluar pun masuk ke kamar lagi membawakan makanan untuk Daviana.
__ADS_1
“Nai, mungkin karena kamu belum makan juga. Nih aunty bawakan makanan, dimakan ya ... atau mau aunty suapin?” tanya Anggi.
“Ehh ... gak perlu kok, Aunty, Nai makan sendiri aja,” jawab Daviana dan segera memakan makanannya.
“Yaudah kamu makan dulu, anty keluar ya,” balas Anggi dan mendapat anggukan juga balasan senyuman dari Daviana.
Reigha yang melihat Daviana udah baik-baik aja pun segera keluar, tinggalah Shafa dan Daviana di kamar.
Shafa menatap Daviana dengan sedih. Shafa tau apa yang sedang jadi beban pikiran putrinya. Tapi Shafa menunggu Daviana mau bercerita.
“Udah makannya, Nak? Kok gak dihabiskan?” tanya Shafa.
“Udah, Ma, Nai udah kenyang. Ma, boleh Naima minta tolong? Tolong ambilkan vitamin Naima di kotak obat di situ, Ma,” jawab Daviana sambil meminta tolong pada mamanya sembari jarinya yang menunjuk ke lemari.
“Tentu, Nak, akan mama ambilkan,” balas Shafa.
Shafa pun berjalan menuju lemari yang Daviana tunjuk dan segera membuka lemarinya untuk mengambil kotak obat yang disebut oleh Daviana. Namun, saat akan menutup pintu lemari, Shafa melihat ada foto Reza di lemari baju putrinya.
Shafa pun mengembalikan ke tempat semula dan menutup kembali. Lalu menuju ke tempat Daviana untuk memberikan obatnya.
“Ini Nak ... dan ini airnya,” ucap Shafa sembari mengulurkan tangannya.
“Makasih ya, Ma,” kata Daviana sambil menerima obat dan air putihnya.
“Nak, boleh mama tanya sesuatu? Tapi kamu harus jawab jujur, ya,” lirih Shafa menatap lekat pada putrinya.
“Apa kamu jatuh cinta sama Reza, Nak?” tanya Shafa.
“Mama, kok mama ngomong gitu?” balas Daviana yang kaget dengan pertanyaan mamanya.
“Mama tadi gak sengaja melihat kamu menyimpan foto Reza di lemari,” ungkap Shafa.
“Ma, Reza itu saudara aku. Jadi ... ya gak mungkin ‘kan kalau Naima jatuh cinta sama saudara sendiri, lagian Naima kan juga udah mau nikah,” kata Daviana.
“Apa benar begitu, Nak? Tapi kenapa kamu trus aja menunggu kabar dari Reza? Bahkan kamu dan Calvin loh gak pernah saling berkabar,” balas Shafa.
Daviana yang mendengar itu pun terkejut, ‘Apa benar yang dibilang mama, kalau aku jatuh cinta sama Reza, ya,’ kata daviana dalam hati.
“Tuh kan ... melamun lagi. Yaudah kamu istirahat ya, mama akan bantu-bantu di belakang,” balas Shafa yang memberikan waktu Daviana untuk istirahat.
“Iya, Ma.” Daviana pun mengangguk dan setelahnya mengucapkan terima kasih pada Shafa.
Setelah Shafa pergi, Daviana kembali memikirkan perkataan mamanya.
‘Apa benar ya ... aku cinta sama Reza. Tapi gimana, aku udah mau menikah sama mas Calvin. Tapi, kalau pun aku cinta sama Reza, kan Reza belum tentu cinta sama aku. Kalau Reza cinta sama aku, pasti dia akan sering menghubungi aku, apalagi pas jauh gini,’ kata Daviana dalam hati sambil terus memikirkan kata-kata mamanya.
__ADS_1
“Ah udahlah, kalau pun aku cinta sama Reza ... aku pun udah terlambat, aku bentar lagi udah nikah sama mas Calvin, jadi aku kubur aja perasaan ini sebelum semakin besar cinta aku ke Reza,” monolog Daviana.
Dan setelahnya, Daviana pun segera tidur untuk menenangkan pikirannya.
***
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari ini adalah hari pernikahan Daviana dan Calvin. Dari pagi semua sdh di sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Daviana juga udah dimake up dan bukan hanya Daviana saja, bahkan Shafa, Anna, Almeera juga Vilia pun juga di make up.
Hari ini rencana akad nikahnya jam 10 pagi dan sekarang sudah jam 8 pagi. Tampak Daviana yang sejak tadi tak henti-hentinya melihat hp menunggu kabar dari Reza.
Calon pengantin pria datang tepat 30 menit sebelum akad dan mempelai pria langsung duduk di tempat akad. Reigha sengaja meminta Afkar sebagai penghulu walaupun Afkar udah tidak kerja lagi di KUA, dan petugas KUA pun tidak keberatan.
Afkar, Calvin, Daviana dan kedua orang tua dari kedua mempelai pun udah duduk di tempat akad nikah.
Karena acara akan segera di mulai. Daviana masih saja melihat hpnya berharap Reza akan memberi kabar kalau udah sampai Indonesia.
“Bagaimana semua ... apa udah bisa kita mulai?” tanya petugas KUA.
“Nak Calvin, gimana ... apa udah siap?” tanya Afkar.
“Hmm ... InsyaaAllah siap, Om,” jawab Calvin.
“Nai, gimana? Udah siap, Nak?” tanya Afkar.
Daviana pun dengan gugup menjawab, “Om bisa tunggu sebentar? Naima sedang menunggu saudara yang belum datang.”
Reigha dan Bayu pun saling pandang. Mereka tau kalau reza gak akan datang. Tapi mereka bingung mengatakannya.
“Nak, kamu nunggu siapa?” tanya Anna.
“Naima nunggu Reza, Mi. Mami udah dikabari apa belum sama Reza?” balas Daviana kembali bertanya.
“Nak, Reza gak datang. Tapi, tadi Reza kirim kado untuk kamu, udah mama taruh di kamar kamu, Sayang,” sambar Shafa memberitahu.
“Reza gak datang, Ma? Bahkan di acara penting ku saja dia gak bisa meluangkan waktunya,” ucap Daviana tersenyum miris.
“Maafkan Reza ya, Nak ... mami meminta maaf atas nama Reza,” kata Anna.
“Mami gak perlu minta maaf, Mi. Yaudah gapapa, Mi, mungkin memang benar reza saat ini lagi sibuk,” ucap Daviana.
“Om, silakan dilanjut acaranya, Naima udah siap dan gak ada yang ditunggu,” lanjut Daviana setelahnya.
“Baiklah mari kita mulai. Nak Calvin, silakan jabat tangan saya,” kata Afkar.
“Calvin Putra Wijaya, saya nikahkan kamu dengan putri saya Daviana Naima Abqari dengan mas kaw—”
__ADS_1
Belum selesai Afkar melakukan ijab, udah terdengar teriakan seseorang.
“Tunggu!” serunya membuat semua menoleh pada sumber suara.