Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 106 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Lima tahun kemudian, hari ini merupakan hari spesial buat Anggi karena hari ini Anggi akan menikah.


Ya ... ternyata Anggi menikah dengan Farhir Muzakki karyawan di kantor Reigha yang pernah mendonorkan darahnya sewaktu Shafa melahirkan.


Setelah pertemuan pertama di rumah sakit, ternyata mereka saling bertukar nomor telpon dan hubungan mereka semakin dekat hingga mereka akhirnya memutuskan untuk menikah.


Saat ini, Anggi udah jadi perawat di sebuah rumah sakit besar ternama di Jakarta. Si kembar sudah berumur lima tahun, mereka sangat tampan dan juga cantik, jangan lupakan wajah lucu dan menggemaskan mereka berdua.


Reza yang beda umur hanya tiga bulan dari si kembar juga tak kalah tampannya mereka semua saat ini sedang berada di rumah ayah Reynand. Hari ini, rumah ayah Reynand sangat ramai.


Sedangkan Bayu karena sudah punya rumah sendiri hadiah dari Papa, walau hanya sebelahan sama rumah Reigha. Bayu dan Anna, mereka belum hadir di rumah Ayah Reynand.


Bayu dan istri besok akan datang juga. Tidak bisa datang malam ini karena mereka harus periksa kehamilan ke-dua Anna yang usia kandungannya udah lima bulan.


Dani dan Santi kabarnya juga akan hadir dengan anaknya yang juga seumur dengan si kembar yang hanya beda delapan bulan dari si kembar. Anak Dani perempuan bernama Jasmine Fauziah.


Kebahagian keluarga ayah Reynand selalu membuat iri tetangganya Bu Sinta. Dan pastinya akan selalu menjadi bahan gosip untuk Bu Sinta.


Seperti ketika Shafa dan Reigha datang. Ibu Sinta pun tak melepaskan kesempatannya untuk memberikan kata-kata pedasnya.


“Eh, Shafa, tumben nih kesini. Kirain lupa jalannya, mentang-mentang di sana jadi Ratu, udah gak mau nengokin orang tuanya di sini!” seru Bu Sinta.


Sintia yang mendengar langsung menyambar, “Ma, jangan seperti itu. Berkat pertolongan mereka Mas Farhan sekarang kerja di kantoran dan jabatannya sangat bagus. Harusnya kita berterima kasih, Ma.”


“Heh, Sintia, suami kamu itu kerja di kantoran karena dia yang pintar, bukan karena mereka ini,” balas Bu Sinta yang masih tak mau kalah.


Ayah Reynand yang mendengar pun segera menyuruh Shafa dan Reigha juga cucu-cucunya masuk.


“Ayo masuk, Nak. Kasihan cucu-cucu kakek nih kepanasan,” titah Ayah.


Dan mereka pun segera masuk rumah. Para tetangga yang mendengar Bu Sinta ngomong seperti itu ke Shafa pun segera menegurnya.


“Bu Sinta, punten ya ... Bu Sinta tuh udah tua, kurangilah buat dosa perbanyak amalnya. Tobat atuh, Bu, sudah tua juga, mulut masih pedas aja,” tegur salah satu tetangga.


Ibu Sinta yang mendengar pun langsung melengos kembali masuk ke rumahnya.


Reigha dan Shafa hari ini sengaja nginap di rumah Ayah Reynand karena Shafa ingin membantu orang tuanya menyiapkan persiapan pernikahan adiknya.


Tepat pada sore hari, Reigha meminta Shafa untuk memanggil Anggi.


“Sayang, bisa tolong panggilkan Anggi?” pinta Reigha.


“Iya, Mas, akan Shafa panggilkan.” Shafa segera beranjak pergi kamar Anggi.


Tok...Tok...Tok...


Shafa segera masuk mendapat sahutan dari Anggi.


“Dek,” panggil Shafa.


“Ada apa, Kak?” tanya Anggi.

__ADS_1


“Gi, dipanggil Mas Reigha tuh, temui sana!” seru Shafa.


“Oh ... baiklah, Kak.” Anggi segera keluar dari kamarnya. Sementara Shafa ke dapur untuk membuatkan minum Reigha.


Sebelum sampai ruang tamu, Anggi dipanggil oleh keponakan kembarnya.


“Aunty ... Aunty temani Daviana beli bakso bakar,” rengek Daviana sembari menarik-narik tangan Anggi.


“Andra mau es krim, Aunty!” imbuh Daviandra yang ikut menarik tangan Anggi.


“Sayang-sayangnya Aunty, sebentar ya ... Aunty masih dipanggil Papa kalian. Tunggu ya,” balas Anggi dengan lembut.


“Tapi Aunty cepetan yaa,” ucap Daviana.


“Iya, Sayang.” Anggi mengecup pipi si kembar bergantian. Kemudian Anggi pun segera menemui Reigha.


“Ada apa, Bang? Kak Reigha manggil Anggi?” tanya Anggi.


“Ini, Gi ... hadiah pernikahan dari kami,” jawab Reigha memberikan amplop coklat pada Anggi.


“Apa ini, Bang?”


“Buka aja, Gi!” seru Shafa yang tiba di ruang tamu sembari membawa segelas kopi untuk Reigha.


Anggi pun membuka amplop tersebut. Dan saat di buka ternyata tiket bulan madu ke korea.


“Bang, ini beneran? Ini Anggi mau ke korea?” kata Anggi sangat bahagia.


Anggi pun menangis terharu sembari berkata, “Bang, abang baik banget sama Anggi dan keluarga. Bagaimana Anggi harus membalas kebaikan Abang.”


“Udah-udah, gak usah nangis. Keluarga kamu kan keluarga abang juga, Gi.”


Dan tiba-tiba si kembar datang, karena menunggu Anggi kelamaan.


“Aunty, ayo pergi dong, Aunty. Kok aunty malah nangis sih. Ntar kalau udah malam tutup gimana, Aunty,” gerutu Daviana yang mendekat pada Anggi.


“Hahaha ... Aunty udah besar nangis,” celetuk Daviandra dengan tawanya.


“Enggak dong, Sayang. Aunty gak nangis kok. Yaudah, yuk kita pergi ... lets go!” seru Anggi menarik kedua lengan keponakan kecilnya itu.


“Sebentar, Aunty, kami belum minta uang sama Mama,” ucap Daviana menghentikan langkah mereka.


“Ini Aunty udah ada uangnya kok, yuk kita pergi. Pamit dulu gih sama Papa dan Mama kalian,” titah Anggi.


“Pa, Ma, kami pergi dulu ya, kami mau beli bakso bakar dan es krim,” ucap mereka berdua serempak.


“Hati-hati ya, Sayang,” balas Reigha pada kedua anaknya.


“Gi, jaga si kembar baik-baik, ya,” imbuh Shafa berkata pada Anggi.


Anggi pun mengangguk kemudian membawa dua keponakan meninggalkan ruang tamu. Di depan rumah, ada Ayah Reynand Dan juga Ibu Khalisa sedang berkumpul dengan para tetangga yang membantu acara besok hari.

__ADS_1


“Mau kemana ini cucu-cucu kakek?” tanya Ayah Reynand.


“Kami mau beli bakso bakar dan es krim, Kek, kakek mau?” jawab Daviana sembari bertanya pada sang kakek.


“Emm ... kalian aja ya yang beli, kakek udah kenyang,” balas Ayah Reynand semnari tersenyum.


“Gi, hati-hati ya di jalan. Jaga cucu nenek ini yang cantik dan ganteng,” titah Ibu Khalisa diangguki oleh Anggi.


“Iya, Bu. Anggi pamit pergi sebentar.”


Kemudian, mereka pun bersalaman dan mencium tangan bergantian setelah itu pergi naik motor.


Satu jam kemudian, Anggi dan si kembar udah sampai rumah, si kembar sangat senang di rumah kakeknya karena Anggi sangat memanjakan mereka berdua dan selalu mengajak si kembar jalan-jalan dan bermain di taman dekat rumahnya.


“Assalamu’alaikum,” salam si kembar masuk ke dalam rumah.


“Wa'alaikumsalam,” sahut semua yang tengah berkumpul di ruang tamu dengan serempak.


Shafa pun segera mendekat dan menggandeng si kembar yang tampak bahagia.


“Anak-anak Mama kok lama sih, kemana aja?” tanya Shafa.


“Kami diajak aunty jalan-jalan keliling-keliling trus main ke taman, Ma,” jawab Daviandra.


“Loh, mana tadi bakso bakar dan es krimnya?” tanya Reigha.


“Udah habis, Pa, waktu kami main di taman tadi” jawab Daviana.


“Yaudah, sekarang gosok gigi trus cuci muka, lanjut tidur ya, Sayang, besok biar gak kesiangan,” titah Shafa.


“Papa, Mama, boleh gak Andra tidur sama kakek dan nenek?” tanya Daviandra.


“Daviana juga, Pa, Ma,” imbuh Daviana.


“Boleh bangetlah, masa cucu-cucu nenek mau tidur sama nenek gak boleh, ayo kita ke kamar,” ucap Ibu Khalisa.


“Bu, emangnya gapapa si kembar tidur sama Ibu? Mereka itu kalau tidur mutar-mutar loh, Bu, nanti ibu malah gak bisa tidur,” balas Reigha yang merasa tidak enak.


“Gha, Gha, istrimu dulu tidurnya juga muter-muter kok, lagian Ayah malah seneng, cucu Ayah mau tidur bareng kita, ya gak, Bu?” ucap Ayah Reynand diangguki oleh Ibu Khalisa.


“Iya, Yah, malah itu yang kita tunggu-tunggu kalau si kembar ke sini,” kata Ibu Khalisa dengan senyumnya.


“Ayah nih, buka kartu Kak Shafa aja,” celetuk Anggi sembari tertawa.


Shafa pun tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Makasih ya, Yah, Bu,” ucap Reigha.


Ibu Khalisa pun mengangguk dan segera mengajak si kembar pergi ke kamarnya. Kemudian, Shafa menyusul Ibu Khalisa untuk membantu si kembar gosok gigi dan cuci muka. Sedangkan Ayah Reynand masih duduk ngobrol bareng Reigha di ruang tamu.


“Yah, ini ada sedikit rezeki dari Reigha dan Shafa untuk membantu acara pernikahan Anggi, mohon di terima,” ucap Reigha memberikan amplop yang berisi cek untuk Ayah Reynand.

__ADS_1


__ADS_2