
“Halo, Fa, lo harus dengerin apa yang gue ucapin,” ucap Bayu dengan nada serius.
Mama Dhiya segera memutuskan panggilannya.
“Fa, bisa gak kalau kita balik ke rumah sebentar. Bayu nyuruh Mama ngawasin tante Lucy. Bayu sekarang udah perjalanan pulang,” kata Mama Dhiya menjelaskan.
“Gapapa kok, Ma. Shafa juga gak buru-buru,” balas Shafa.
Sementara di kantor, Bayu tampak berlari kecil menuju ruangan Anna dan berkata, “Sayang, kamu tolong tunggu sebentar di meja Puspa. Nanti kalau Reigha udah selesai meeting, kamu tolong bilang kalau aku duluan pulang ke rumah karena tante Lucy dan anaknya ada di rumah. Tolong ya, Sayang.”
“Oh ... iya, Bang. Oke.”
Bayu pun segera meninggalkan kantor dan melajukan mobilnya menuju rumah.
Sementara Anna langsung membereskan meja kerjanya dan bergegas menuju meja Puspa.
Mobil Mama Dhiya dan Tante Lucy bersamaan sampai di rumah.
“Hai, Kak, dari mana sih pagi-pagi udah keluar aja?” tanya Lucy.
“Tadi jalan-jalan sama menantuku, kamu ada apa ke sini? Papanya Reigha lagi gak di rumah,” jawab Mama Dhiya.
“Oh ... gapapa, Kak. Gak nyariin Papanya Reigha juga kok, cuma mau main sebentar.” balas tante Lucy.
“Yaudah, yuk masuk!” seru Mama Dhiya mempersilakan tante Lucy masuk dan duduk di ruang tamu.
Tante Lucy pun segera duduk bersama Cantika dan juga Mama Dhiya, sedangkan Shafa bergegas ke dapur menyiapkan air minum.
Di ruang tamu, tampak Mama Dhiya tengah diajak ngobrol oleh tante Lucy mengalihkan perhatian Mama Dhiya agar Cantika mudah menjalankan rencananya.
Cantika melihat Mamanya yang berhasil membawa Mama Dhiya dalam obrolan, kini dia bergegas meninggalkan ruang tamu.
Cantika mondar-mandir di depan pintu ruang kerja Reigha seperti ingin masuk ke dalam ruangan dan mencari sesuatu. Tetapi, sewaktu Cantika hendak membuka pintu ruang kerja Reigha, Shafa pun segera menghampiri.
“Ekhm! Mau ngapain masuk ke ruang kerja Mas Reigha?” tanya Shafa membuat Cantika mengurungkan niatnya.
“Eh, lo ngapain sih ngikutin gue?” tanya Cantika meninggikan suaranya.
“Gue cuma nanya. Dan, gue gak ngikutin lo. Udah jelas gue dari dapur buatin teh spesial untuk tamu tak diundang,” jawab Shafa memutar bola matanya malas. Shafa tau pasti tante Lucy dan Cantika mempunyai niat tidak baik datang ke rumah ini.
“Yaudah sana lo. Ini bukan urusan lo!” seru Cantika menekan kalimat akhirnya, mengusir Shafa.
“Gak bisa gitu. Masalah ini jelas urusan gue. Karena, lo mau masuk ruang kerja suami gue. Ya ... sebagai istrinya gue harus jaga ruangan suami gue lah,” balas Shafa membuat Cantika semakin kesal karena rencananya dihalangi oleh Shafa.
“Banyak ngomong lo, ya!” Cantika melayangkan tangan kanannya hendak menampar Shafa.
Syukurlah Bayu datang tepat waktu. Dia berhasil menahan lengan Cantika yang sedikit lagi berhasil menyentuh pipi mulus Shafa.
“Ada apa ini? Ngapain lo di sini?” tanya Bayu menatap Cantika kesal.
__ADS_1
“Ini bukan urusan lo!” seru Cantika dengan kalimat yang pernah diucapkannya pada Shafa tadi.
“Lo berdua ini bukan anggota keluarga ini. Jadi, gak perlu sih kalian berdua ikut campur,” lanjut Cantika.
Bayu dan Shafa pun malas berdebat, tanpa menunggu lama, Bayu segera menyuruh Shafa ke depan, “Fa, lo cepet anterin minuman itu ke Mama. Kasihan kalau Mama udah nunggu.”
“Oke,” balas Shafa sambil berjalan ke depan. Sedangkan Bayu gerak cepat langsung mengunci ruang kerja Reigha dan juga ruang kerja Papa Harun serta kamar Reigha. Sedangkan kamar Papa Harun, pasti sudah terkunci sejak Mama Dhiya keluar tadi.
“Eh, lo ngapain kunciin semua ruangan?” tanya Cantika menatap kesal pada Bayu.
“Ini bukan urusan lo!” seru Bayu mengulangi ucapan Cantika yang tadi sempat dilontarkan padanya.
Bayu melangkah pergi meninggalkan Cantika sembari memamerkan kunci yang dipegangnya.
Tadi Bayu sampai rumah masuk melalui pintu belakang agar tidak ketauan oleh Tante Lucy.
Bayu melangkah menuju ke ruang tamu, “Eh, ada tante Lucy.”
“Bayu, kok gak di kantor?” tanya Lucy kaget dan bingung melihat keberadaan Bayu di rumah.
“Lagi capek ke kantor, Tan,” jawab Bayu duduk di samping Mama Dhiya.
Tak lama, Cantika kembali. Tante Lucy dan Cantika pun berpamitan segera pulang.
Setelah melihat kepergian tante Lucy dan Cantika. Mama Dhiya berkata pada Bayu, “Syukurlah kamu udah sampai rumah, Nak.”
“Aman ‘kan, Fa?” tanya Bayu pada Shafa yang berdiri di belakang Mama Dhiya.
“Kenapa?” tanya Mama Dhiya.
“Tadi Shafa hampir ditampar sama Cantika, Ma,” jawab Bayu.
“Syukurlah Bayu datang tepat waktu, Ma,” imbuh Shafa.
Mama Dhiya merasa sangat kesal dengan Cantika. Dia semakin yakin kalau Lucy dan Cantika akan melakukan apapun demi membalaskan dendam pada keluarga ini.
“Yaudah kalau gitu, Ma, Fa. Bayu pamit mau ke kantor lagi, ya,” ucap Bayu berpamitan.
“Oh iya, hati-hati, Nak!” seru Mama Dhiya.
Bayu pun segera meninggalkan rumah menuju kembali ke kantor.
Setelah kepergian Bayu, Mama Dhiya dan Shafa segera berangkat ke rumah orang tua Shafa.
Sesampainya Bayu di kantor, ternyata Reigha baru keluar dari ruang meeting berpapasan dengan Bayu.
“Bay, dari mana lo?” tanya Reigha.
“Dari rumah, pulang bentar tadi,” jawab Bayu.
__ADS_1
“Ngapain? Ada yang ketinggalan?” tanya Reigha sembari mengecek ponselnya.
“Ya Allah ... ada apa nih sampai Shafa telpon berkali-kali,” lanjut Reigha lirih menatap ponselnya.
“Itulah, kenapa gue pulang. Karena Shafa nelpon lo. Tapi gak bisa, lo kan meeting. Jadinya, istri lo telpon gue,” balas Bayu membuat Reigha memikirkan Shafa, khawatir pada istrinya.
“Apa yang terjadi sama istri gue, Bay?” tanya Reigha dengan raut wajah khawatir.
“Gak ada kok. Lo gak perlu khawatir. Mama dan istri lo baik-baik aja. Shafa tadi ngabari kalau tante Lucy dan Cantika ke rumah, dan untungnya gue datang tepat waktu. Soalnya, pas gue sampai rumah, Cantika melayangkan tangan mau nampar Shafa. Kayaknya Cantika mau masuk ruang kerja lo, tapi dihalangi sama Shafa.” Jawaban Bayu mampu membuat emosi Reigha memuncak.
“Berani banget Cantika mau nampar istri gue!” seru Reigha emosi.
“Ini kunci ruang kerja lo dan ruang kerja Papa. Lo bawa aja, ya. Soalnya lo lebih cepat pulangnya dari pada gue.”
“Thanks, Bay,” balas Reigha.
“Bay, lo ke ruangan gue sebentar, bisa? Sibuk gak lo?” lanjut Reigha bertanya pada Bayu.
“Oke. Kalau buat lo, bisalah diatur,” balas Bayu. Mereka pun berjalan menuju ruangan Reigha bersamaan.
Sesampainya di depan ruangan Reigha, “Gha, lo duluan aja. Soalnya gue mau ngomong bentar sama Anna.”
“Oke. Gue tunggu di ruangan, ya,” balas Reigha.
Bayu pun mengangguk lalu mendekat pada meja kerja Puspa.
“Gimana, Sayang?” tanya Bayu pada saat tepat berdiri di hadapan Anna.
“Ruangan Pak Reigha dan ruangan kamu aman. Tapi, tadi waktu Abang pergi, Ivanka datang,” jawab Anna.
“Ngapain lagi si Ivanka? Kamu diancam lagi, ya?” tanya Bayu.
“Ya ... tetaplah, Bang. Tapi kan dia gak bisa berbuat apa-apa. Ini di kantor,” jawab Anna.
“Baiklah. Sekarang kamu kembali kerja aja. Nanti Abang temui kamu setelah selesai urusan dengan Reigha.”
Anna mengangguk dan bergegas pergi ke meja kerjanya. Sementara Bayu bergegas masuk ke dalam ruangan Reigha.
“Kenapa muka lo?” tanya Reigha saat melihat muka Bayu kusut masuk ke dalam ruangannya.
“Itu, si Ivanka tadi datang nyari gue. Karena, gue gak ada, tuh wanita kembali ngancam Anna,” jawab Bayu mendudukkan diri pada kursi dihadapan Reigha.
“Gha, gue bingung sama tuh wanita, siapa sih dia? Kok tiba-tiba ngancam-ngancam,” lanjut Bayu bertanya pada Reigha.
“Lo belum selidiki siapa Ivanka?” tanya Reigha.
“Yang gue tau, dia anaknya PT. MAKMUR SENTOSA itu aja, Gha,” jawab Bayu.
“Tumben banget lo gak selidiki orang baru, Bay. Satu yang harus lo tau, dia dulu satu SMA sama lo. Jadi, besar kemungkinan dia dulu naksir lo dan sampai sekarang,” kata Reigha.
__ADS_1
“Serius, Gha? Kok lo tau?” tanya Bayu.