Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 68 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Kemana lo pergi, Na,” ucap Shafa berlari kecil menghampiri Budhe.


“Budhe, budhe, Anna gak ada di kamarnya. Gimana ini, Budhe?” tanya Shafa dengan raut wajah panik.


“Walah, kok bisa gak ada di kamar, kemana Anna? Duh gusti,” lirih budhe ikut panik.


Mereka berdua segera mencari-cari di mana Anna. Sampai mereka di dapur ditanya sama tetangga budhe.


“Ada apa toh, budhe, kok kayak orang bingung?” tanya tetangga budhe.


“Iki lho, Mbak yu, piye toh ... Anna kok ngilang, duh Gusti,” jawab budhe dengan logat jawanya.


(Ini lho, Mbak, gimana sih ... Anna kok menghilang, ya Allah).


“Tenang dulu, gak usah nangis, Budhe. Itu lho Anna lagi numpang mandi di rumahku,” ucap tetangga tadi.


“Owalah, ngono kok gak pamit sek toh Anna kuwi,” balas Budhe dengan sedikit lega.


(Aduh, gitu kok gak pamit dulu ya Anna itu).


“Tadi mau mandi di kamar mandi situ, trus tak bilangin, gak boleh pengantin mandi di kamar mandi rumah. Harus numpang mandinya, biar gak hujan pas acara. Trus langsung tak suruh mandi di rumahku, mungkin Anna buru-buru jadinya gak sempat pamitan,” ucap tetangga menjelaskan.


Dan Anna pun muncul dari pintu samping dengan heran karena melihat budhenya habis menangis.


“Lah, budhe kenapa? Kok nangis?” tanya Anna.


“Kamu itu lho, Na, kalau kemana-mana tuh pamit budhe dulu. Budhe panik nyari kamu,” jawab budhe.


“Maaf budhe, tadi Anna buru-buru,” balas Anna merasa bersalah.


“Yaudah, alhamdulillah kamu gapapa. Itu, Na yang rias kamu udah nunggu. Yuk, Na!” seru Shafa segera mengajak Anna berjalan menuju kamarnya.


“Anna ke kamar dulu ya, Budhe,” pamit Anna segera pergi menuju kamar.


Budhe pun mengangguk dan langsung ke depan lagi karena tamu-tamu mulai datang.


Tepat pukul sembilan, rombongan pengantin laki-laki datang. Bayu pun segera duduk di tempat akad nikah bersama Papa Harun.


Sementara Reigha, tengah sibuk mencari istrinya. Mama Dhiya datang langsung diajak Budhe untuk mengobrol.


“Gimana, Budhe, sesuai rencana?” tanya Mama Dhiya.


“Alhamdulillah, Bu, saudara dan tetangga semua bisa hadir,” jawab budhe.


Tak lama, tampak Ayah Reynand dan juga Ibu Khalisa datang menghampiri budhe dan ikut membantu-bantu di sana. Sementara Anggi langsung menuju kamar Anna.


Di tempat lain, Reigha celingak-celinguk mencari Shafa. Karena yang dicari tak kunjung ketemu, akhirnya Reigha memutuskan menelepon Shafa.


“Halo, Sayang. Kamu, di mana?” Mas udah sampai nih di depan,” ucap Reigha.

__ADS_1


“Shafa di kamar Anna, Mas. Bentar lagi Shafa keluar, ya!” seru Shafa.


“Oke, Sayang.” Reigha pun menutup telponnya.


Sementara di kamar, Anna nampak gelisah. Shafa yang menuadari hal itu pun bertanya, “Kenapa, Na? Kok sepertinya gak tenang gitu. Itu Bayu udah di depan kok, gak perlu khawatir.”


“Gue grogi, Fa. Semoga akadnya lancar ya, Fa,” ucap Anna.


“Halo, kakak-kakakku yang cantik!” sapa Anggi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Anna.


“Lah, kamu, Gi. Kapan sampai?” tanya Shafa.


“Baru aja, Kak.”


“Gi, kamu tunggu di sini nemenin Anna sebentar ya, Mas Reigha nyari,” ucap Shafa berpamitan sebentar.


“Iya, Fa. Tolong nanti ke sini lagi, ya,” balas Anna yang diangguki langsung oleh Shafa.


Shafa pun segera keluar dari kamar Anna, segera menemui suaminya yang sejak tadi sibuk meng-spam chat mencari Shafa.


“Ada apa sih, Mas?” tanya Shafa saat berada di samping Reigha.


“Mas kangen kamu, Sayang, gak lihat kamu dari pagi, kamu kok semakin cantik,” goda Reigha sambil mencubit kecil pipi Shafa.


“Gombal kamu itu, Mas, belum juga satu hari gak ketemu,” balas Shafa dengan pipi yang bersemu merah.


“Beneran, Sayang. Aduh, Beneran gak kuat kalau sampai satu hari gak ketemu,” ucap Reigha dengan wajah memelas.


“Gha, Fa, kalian lagi ngapain sih? Gha, gha, kamu tuh ya, gak tau tempat deh bucinnya,” kata Mama Dhiya.


Shafa pun tersenyum mendengar perkataan Mama.


“Reigha ‘kan kangen, Ma, masa ketemu sebentar gak boleh buat vitamin pagi aja,” balas Reigha.


“Lebay kamu, Gha, kayak mau ditinggal Shafa kemana aja. Kemana wibawanya seorang Reigha Zavier Abqari seorang CEO itu, hmm.”


“Ssstt, Ma. Jangan keras-keras, ntar ada yang denger. Lagian, Mama kayak gak pernah muda aja, Ma,” titah Reigha.


“Mama pernah muda, tapi gak sebucin kamu!” seru Mama membuat Shafa dan Mama Dhiya tertawa bersamaan.


Reigha pun segera duduk di dekat Bayu, karena gak mau mamanya godain terus. Sementara Shafa kembali ke kamar Anna.


“Ma, Shafa ke kamar Anna dulu, ya,” pamit Shafa.


“Barengan aja, Fa. Mama ‘kan pengen lihat calon istrinya Bayu,” ucap Mama Dhiya.


Mereka pun segera masuk kamar Anna bersamaan. Dilihatnya Anna sedang mengobrol bersama Anggi.


“Ekhm! Aduh, cantiknya nyonya Bayu!” seru Mama Dhiya saat sampai di kamar Anna.

__ADS_1


Anna menoleh dan berkata, “Mama bisa aja, Anna ‘kan jadi malu, Ma.”


Merek ber-empat pun mengobrol agar Anna lebih tenang nantinya.


Setelah ngobrol, karena jam sudah menunjukan jam 09.45 artinya lima belas menit lagi akad nikah di mulai, Mama Dhiya pun keluar.


“Mama keluar dulu ya, sebentar lagi acara di mulai. Anna, tenang, Nak.”


“Iya, Ma,” balas Anna.


Di tempat Bayu, tepatnya di tempat akad nikah. Bayu mulai keluar keringat dingin, Bayu sangat grogi saat ini.


“Udahlah, Bay. Lo tenang aja. Gak usah se-grogi itu. Lo ‘kan udah hafal,” kata Reigha.


“Halah, Gha, kamu dulu juga grogi. Lupa?” ledek Papa Harun membuat Reigha menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya cengengesan.


“Pa, ini udah hampir jam sepuluh loh, kok orang KUA dan penghulu belum datang, ya?” tanya Bayu gelisah.


“Iya, ya. Apa jalannya macet, ya,” ucap Papa Harun mulai ikut bingung.


“Tunggu aja, sebentar lagi pasti datang,” balas Reigha menenangkan.


Tapi dalam hati, Reigha pun juga gak tenang, reigha segera menyuruh Farhan ke kantor KUA, untuk memastikan kalai petugas KUA dan penghulu udah berangkat juga tak salah alamat.


Farhan yang diperintahkan pun segera berangkat. Tepat pukul 10.00 bapak modin atau biasa disebut bapak kaum sudah sampai. Namun, Pak modin terkejut karena petugas KUA dan penghulu belum datang.


“Lho, kok yang dari KUA belum datang?” tanya Pak modin.


“Itulah, Pak. Saya kira berangkat bareng bapak tadi,” jawab Reigha.


“Tadi saya sebelum berangkat, mereka sudah menelepon. Katanya udah berangkat kok, Pak,” ucap Pak modin.


“Lah, terus kemana, ya, apa nikahkan di tempat lain dulu, Pak?” tanya Reigha.


“Kebetulan hari ini hanya satu tempat, Pak,” jawab Pak modin membuat pikiran Bayu semakin kalut, begitu juga dengan Papa serta Reigha.


“Yaudah, di tunggu aja dulu. Silakan duduk, Pak,” titah Papa Harun mempersilakan Pak modin duduk.


Bayu semakin gusar, Bayu udah mulai curiga ada yang tidak beres. Bayu segera menelepon anak buahnya untuk menyelidiki wanita yang mengusiknya beberapa hari belakangan ini. Bayu curiga kalau Ivanka ada di balik ini semua.


Tak lama, Farhan pun kembali ke rumah Anna dengan tergesa-gesa.


“Huft! Pak, kata orang di KUA, petugas dan penghulu udah berangkat sejak satu jam yang lalu,” ucap Farhan yang berlarian untuk memberikan info pada Reigha.


“Harusnya kalau berangkat satu jam lalu, ini udah sampai,” ucap Reigha berpikir.


“Maaf, Pak. Tadi saya menemukan ini di persimpangan depan,” imbuh Farhan memberikan sejenis tas kerja pada Reigha.


Reigha di bantu pak modin pun melihat dan membuka tas tersebut barangkali penting atau bersangkutan dengan petugas serta penghulu yang tak kunjung datang.

__ADS_1


“Ini kan ... ” Reigha memutuskan ucapannya sembari menelusuri satu persatu barang yang ada di dalamnya.


__ADS_2