
“Eh, eh, kok di lepas di sini? Gak ganti baju di kamar mandi aja, Mas?” tanya Shafa panik.
“Lah, emang kenapa, Sayang? Kan gak ada siapa-siapa di sini,” jawab Reigha dengan santainya sambil memakai baju.
“Mas gak malu gitu sama Shafa?” tanya Shafa kembali.
“Kenapa harus malu, Sayang ... dulu waktu Mas sakit kan kamu yang merawat, cuma ngelap badan Mas aja kamu yang gak mau, kamu selalu nyuruh Bayu. Jadi secara gak langsung kamu ‘kan pernah liat Mas yang lebih dari cuma pakai kimono aja.” Jawaban Reigha semakin membuat muka Shafa merona merah karna malu.
“Astaghfirullah,” lirih Shafa sambil menutup muka pakai kedua tangannya.
Reigha pun tertawa kecil. Berbeda dengan Shafa yang benar-benar malu saat ini.
Tok...Tok...Tok...
“Mas, itu sepertinya makanan yang kamu pesan datang. Shafa bukan ya, Mas. Kamu dah siap itu kan?” ucap Shafa memastikan.
“Iya, Sayang. Mas udah rapi kok,” balas Reigha.
Shafa langsung membuka pintu kamar. Dan masuklah waiters yang menaruh makanan di meja yang udah disediakan. Setelah mengucapkan terima kasih, waiters pun keluar. Lalu, Shafa menutup pintunya kembali.
“Mas, kita makan skrng?” tanya Shafa.
“Bentar lagi, ya. Mas tinggal dikit lagi selesai. Kamu kalau mau makan dulu gapapa Sayang,” jawab Reigha.
“Gak, Mas. Shafa nanti aja, nunggu mas.” Shafa pun memutuskan membaringkan tubuhnya di kasur, dia berbalas chat dengan Anna dan juga Mama Dhiya.
“Sayang, kamu udah kabari Mama kalau kita udah sampai, ya?” tanya Shafa memastikan.
“Udah dong, Sayang. Ayah dan Ibu juga udah tau kalau kita di sini,” jawab Reigha.
“Emm ... ga bilang, soalnya Shafa lagi chat sama Mama Dhiya,” balas Shafa sembari mencurutkan bibirnya.
Shafa saat ini masih memunggungi Reigha, Shafa jadi gugup padahal mereka udah menikah satu tahun. Tapi, rasanya baru kali ini Shafa merasakan gugup yang luar biasa.
“Sayang, kamu kok munggungi Mas, hmm? Biasanya kita juga tidur saty tempat tidur,” ucap Reigha membuat Shafa mematung kaku.
“I—iya, ini Shafa udah gak munggungi Mas kok,” balas Shafa membalikkan badannya menatap Reigha.
Reigha pun segera mengungkung Shafa lalu berkata, “Sayang, izinkan Mas milikimu hari ini dan selamanya.” Reigha mencium kening, mata, kemudian bibir dan berlanjut ke hal yang udah seharusnya terjadi pada suami istri.
****
Shafa menggesek-gesekan hidungnya yang terasa gatal pada bantal yang di peluknya. Dia merasa nyaman dan hangat karena bantal hotel.
“Sayang, bangun yuk.” terdengar suara bariton yang tak lain adalah suara Reigha.
Shafa pun berusaha membuka matanya dan yang pertama dia lihat adalah dada telanjang. Shafa pun malu ternyata yang tadi dia gesek-gesek adalah dada Reigha. Shafa segera sadar dan melihat Reigha yang sedang tersenyum.
“Mau bangun gak, Sayang? Udah siang loh, itu makanannya jadi dingin,” lanjut Reigha.
Shafa menggeliat dan bertanya pada Reigha, “Emangnya jam berapa, Mas?”
“Nih, udah jam dua siang, Sayang,” kata reigha sambil menunjukan arloji di tangannya.
__ADS_1
“Ya Allah, Mas. Bentar lagi waktu zuhur habis.” Shafa pun segera bangun
“Aduh.” Shafa meringis merasakan sakit pada daerah intinya.
Reigha yang paham pun segera memakai kaosnya dan menggendong Shafa membawanya ke dalam kamar mandi, lalu memasukkan ke bathup.
Diisinya air hangat dan diberi aroma terapi yang menenangkan.
“Udah, kamu berendam di situ dulu ya, Sayang. Mas mandi di shower aja.” Reigha segera menyalakan shower dan bergegas mandi. Sedangkan Shafa berendam di bathup sambil menutup mata.
Setelah Reigha selesai mandi, Reigha segera keluar kamar mandi.
Shafa yang tau kalau Reigha keluar segera menyelesaikan mandinya. Setelah selesai mandi, Shafa pun keluar menggunakan kimono lagi.
“Gimana, Sayang, masih sakit?” tanya Reigha.
“Udah mendingan, Mas. Yuk kita sholat dulu. Waktunya dah mau habis nih,” jawab Shafa sembari mengajak Reigha sholat.
Setelah sholat, mereka berdua pun makan bersama. Tetapi, sebelum makan, Shafa terlebih dahulu memanaskan makanannya di microwafe milik hotel.
Setelah makanan dipanaskan kembali, mereka makan siang yang udah terlewatkan.
Setelah makan siang, Shafa segera mengganti sprei yang ada noda darah. Dan Shafa pun rebahan kembali karena badannya terasa capek.
Reigha pun menghampiri dan bertanya, “Sayang, kamu gak mau keluar jalan-jalan?” tanya Reigha.
“Gimana mau jalan-jalan, Mas ... ini aja buat jalan masih sedikit sakit,” jawab Shafa.
“Mas, apa sih,” balas Shafa memiringkan badannya.
“Yaudah, yuk kita tidur lagi!” seru Reigha dan mereka tidur kembali.
Shafa kali ini yang terbangun duluan, dia melihat jam ternyata lama juga dia tertidur, maghrib bentar lagi tiba.
“Mas, bangun yuk. Bentar lagi maghrib, Sayang,” ucap Shafa membangunkan.
“Jam berapa, Sayang?” tanya Reigha sambil menggeliat.
“Ayo bangun, Mas. Waktu maghrib sepuluh menit lagi. Ayo imam-in Shafa dong, Mas!” jawab Shafa.
Dan mereka pun segera wudhu lalu sholat berjamaah.
Setelah sholat ashar, Shafa mengambil ponselnya, sambil nunggu waktu maghrib Shafa menelpon Anna melalui video call.
“Assalamu’alaikum, Na, lagi di mana?” tanya Shafa memulai percakapan.
“Wa’alaikumussalam, Fa ... ini lagi di rumah, baru aja pulang ngantor,” balas Anna.
“Gimana tadi di kantor, ada kejadian apa?” tanya Reigha membuat Anna kaget.
“Eh, ada Pak Reigha,” ucap Anna sambil senyum.
“Ya ada lah, Na. Kita kan di kamar yang sama.” Jawaban Shafa kembali membuat Anna pun tersenyum gemas dengan raut wajah Shafa yang tertera pada ponsel Anna.
__ADS_1
“Gak ada apa-apa kok, Pak. Semu lancar. Hanya aja, tadi Ivanka ke kantor alasannya mau ngajak Abang survey tempat,” ucap Anna menjawab pertanyaan Reigha.
“Terus, Bayu pergi?” tanya Reigha.
“Enggak, Pak. Abang bilang kalau selama pak Reigha pergi, Abang gak akan ninggalin kantor,” jawab Anna.
“Bagus, baiklah.”
“Na, titip mama ya, pastikan mama jangan sampai telat makan,” kata Shafa.
“Siap, pasti gue jaga calon Mama mertua gue, hehehe,” balas Anna sembari terkekeh.
“Yaudah, gue tutup dulu ya. Assalamualaikum.” Shafa pun menutup telponnya dan segera sholat maghrib berjamaah dengan Reigha.
Setelah sholat maghrib, Reigha kembali mengajak Shafa jalan-jalan.
“Sayang, gak pengen keluar? Jalan-jalan dan makan malam di luar yuk,” ajak Reigha yang sedang rebahan di sajadah berbantalkan paha istrinya.
“Besok aja ya, Mas. Shafa bener-bener males keluar, pengen istirahat aja dulu,” balas Shafa.
“Yaudah, kamu istirahat aja, Mas mau telpon Bayu sebentar, ya,” ucap Reigha segera bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Shafa sambil nunggu Reigha, dia juga menelepon Ayahnya.
“Assalamu’alaikum, Ayah,” ucap Shafa mengawali percakapannya.
“Wa’alaikumussalam, Kak,” balas Anggi membuat Shafa kembali melirik ponselnya. Shafa mengira dia salah memencet nomor Ayah.
“Lho, Anggi ... kok angkat telpon HP Ayah?” tanya Shafa.
“Ayah lagi banyak pesanan dan lagi sibuk banget, Kak. Kata Ayah, Anggi aja yang angkat telpon,” jawab Anggi Shafa pun manggut-manggut.
“Kak, kakak lagi keluar negeri ya, nanti anggi belikan oleh-oleh ya, Kak,” lanjut Anggi.
“Emang kamu mau apa sih?” tanya Shafa.
“Terserahlah, kakak ‘kan tau selera Anggi,” jawab Anggi.
“Yaudah, nanti kakak bawakan. Assalamualaikum.” Shafa menutup telponnya, meletakkan ponsel di atas nakas, tanpa membereskan mukena dan sajadahnya.
Shafa mendekat pada Reigha mengajaknya sholat, “Mas, sholat isya yuk, setelah itu tidur.”
“Iya, Sayang. Bentar ya,” balas Reigha.
Shafa pun segera ke kamar mandi untuk wudhu. Tak lama kemudian, Reigha juga segera wudhu, mereka pun sholat berjamaah kembali.
“Yuk tidur, Mas. Besok katanya mau jalan-jalan,” ajak Shafa.
“Kamu duluan aja. Mas mau ke kamar mandi sebentar,” balas Reigha segera berjalan menuju kamar mandi.
Reigha keluar dari kamar mandi dengan muka fresh, setelah itu Reigha langsung berbaring di sebelah Shafa.
Reigha tau kalau Shafa belum tidur. Reigha segera berdoa dan mengecup kening Shafa lalu mencium mata dan membisikan sesuatu pada Shafa, “Sayang, kita ulang yang tadi, ya.”
__ADS_1