
“Bu Maya, lancang sekali mulut anda itu, mau dipecat?” bentak Dani.
“Maafkan saya, Pak,” balas lirih bu Maya sambil menunduk.
“Eh. Maaf, Pak saya hanya penasaran aja kok, gak bermaksud apa-apa,” kata bu Maya.
“Tapi kalau sampai terdengar karyawan lain, akan jadi bahan gosip, sekali lagi saya dengar omongan kamu yang gak benar, maka kamu akan saya pecat!” seru Dani.
“Pak, saya udah lama kerja di perusahaan ini, jangan karena mereka bapak gak ingat kerja keras saya yang ikut membesarkan perusahaan ini. Hm ... lagian bapak kan cuma kepercayaan pak Reigha, emang bisa mecat saya?” celetuk bu Maya.
“Bisa, sangat bisa. Bahkan kalau anda mau, Dani bisa mecat anda sekarang juga,” sambar Reigha.
“Pa—pak Reigha,” lirih bu Maya yang perlahan langsung menunduk.
“Kenapa? Kaget lihat saya di toilet? Saya hanya ingin memastikan kalau anda gak buat masalah lagi,” ucap Reigha.
“Maaf, Pak,” lirih bu Maya kembali.
“Sekali lagi anda berani melawan kata-kata Dani, Dani akan langsung mecat anda!” seru Reigha yang langsung keluar dari tempat itu.
Dani pun segera menyusul Reigha, karena mereka akan keluar untuk meeting. Bu Maya pun segera meninggalkan Andra dan Reza.
Sore harinya, Andra dan Reza udah bersiap untuk pulang, saat mereka mengambil barang-barang di loker, tiba-tiba bu Maya memanggil dan bertanya, “Hey! Mau ke mana kalian?”
“Kami mau pulang, Bu, kan ini udah waktunya kami pulang,” jawab Reza.
“Eh, enak aja. Hari ini tuh kalian lembur, jadi, segera bersihkan ruangan-ruangan yang udah saya tulis di kertas ini. Setelah itu, kalian boleh pulang,” balas bu Maya.
Daviandra pun segera mengambil kertasnya dan membaca hingga membuat Reza yang penasaran pun ikut membaca.
“Hah? Segini banyak kerjaan kami, Bu?” tanya Reza.
“Iya, kenapa? Mau protes?” sambar bu Maya.
“Tidak, Bu, akan kami kerjakan,” balas Daviandra.
“Yaudah sana, cepat kerjakan!” seru bu Maya memerintah.
Setelah Daviandra dan Reza pergi, bu Maya pun meninggalkan ruangan tersebut dan segera pulang, saat di depan lobby bu Maya mendengar suara pak Samsul.
“Bu Maya, kalau ibu gak mau dipecat, segera ibu menyuruh kedua OB baru itu pulang!” perintah pak Samsul.
“Pak, ini kenapa sih sepertinya mereka itu istimewa, hari ini mereka lembur,” kata bu Maya.
“Baiklah terserah ibu saja. Yang penting saya sudah memperingatkan, dan satu lagi ya, Bu, sepertinya saya harus segera membuat surat pemberhentian kerja untuk ibu,” balas pak Samsul membuat bu Maya menoleh sempurna.
“Loh, apa maksud bapak? Kenapa sih semua yang di sini itu sok-sok an jadi bos,” celetuk bu Maya.
“Iya ya, Bu, sama seperti bu Maya juga ya, suka nyuruh-nyuruh!” seru pak Samsul.
Bu Maya pun langsung sewot dan pergi meninggalkan pak Samsul.
__ADS_1
Sementara Reigha yang sudah pulang duluan karena ada meeting di luar pun sudah sampai rumah dari awal, dan mereka pun sedang menunggu kepulangan Daviandra dan Reza yang belum pulang dari kantor.
“Ma, ayo kita makan dulu, Vilia mau ngerjakan tugas,” kata Vilia.
“Kamu makan dulu aja ya, Sayang, gapapa kok,” balas Shafa dengan lembut.
“Ma, aku juga makan dulu ya, hari ini pasien banyak, capek banget,” sambar Daviana.
“Iya, Nak ... makanlah dulu,” titah Reigha.
Vilia dan daviana pun segera makan duluan. Tak lama kemudian, Bayu enelpon Reigha.
Drrrrttt....Drrrttt....Drrrttt
“Assalamu’alaikum, Bay, ada apa?” tanya Reigha.
“Wa’alaikumussalam, Daviandra udah pulang blm? Reza ke apartemen atau pulang ya, Gha?” balas Bayu bertanya.
“Gue juga nunggu mereka nih, belum ada kabar sampai sekarang,” kata Reigha.
“Bentar, Bay, gue tutup dulu. Gue harus segera telpon Dani,” balas Reigha.
Setelah mengakhiri telpon Bayu, Reigha segera menelpon Dani.
“Assalamu’alaikum, Dani, minta tolong coba kamu ke kantor lagi, pastikan kedua anakku, aman. Dari tadi saya tungguin kok gak pulang “ lirih Reigha.
“Baiklah, Pak, nanti segera saya kabari, saya berangkat ya pak kata dani,” sambarny beberapa waktu lalu.
“Mau ke mana kamu, Mas? Kata,” wahh
“Ini, Sayang ... Daviandra dan Reza itu kgawatir pulang dari kantor tuh!” seru Dani.
“Segera minta tolong untuk mencari di kantor,” ucap Dani.
“Iya mas, hat>>-hari siapa? santi
Dani pun segera masuk mobil dan segera meninggalkan rumahnya. Dani langsung meluncur ke kantor.
“Di kantor, dani Dani masuk kantor. Dan saat sampai lobby, Dani. di sapa security.
“Malam, Pak Dani ... tumben malam-malam ke kantor, ada yang ketinggalan ya, Pak?” tanya Security.
“Iya, saya masuk dulu ya,” balas Dani.
“Baiklah, Pak,” ucap security.
Dani pun langsung masuk dan mencari Daviandra dan Reza. Semua ruangan dia cari rapi mereka au axmm1 ketemu. Akhirnya Dani pun menelpon Daviabdra.
Drrrttt...Drrrttttr...Drrrrttt
“Assalamualaikum,” kata Daviandra saat panggilan udah terhubungun
__ADS_1
“Kalian di mana? Kok sampai sekarang belum pulang?” tanya Dani.
“Kami disuruh lembur sama bu Maya. Tapi, ini masih 3 ruangan lagi, Pak,” sambar Reza sedikit meninggikan suaranya agar Dani mendengar suaranya.
“Astagfirullah, udah-udah tinggalin aja, besuk di kerjakan lagi. Ditunggu papa kalian di rumah sekarang. Cepat, om tunggu di lobby,” kata Dani.
“Baik, Om,” balas Reza. Dan Dani pun segera menutup telponnya dan menunggu di lobby.
Di sisi lain di ruangan Daviandra dan Reza.
“Za, lo ngapain ngomong ke om Dani kalau kita disuruh lembur?” protes Daviandra.
“Gue capek, Ndra, gue pengen cepat rebahan,” jawab Reza dengan santainya.
“Tapi pasti akan timbul masalah baru besok,” balas Daviandra.
“Udahlah, gapapa. Yang penting sekarang kita pulang, gue capek banget, Ndra. Ayo di tunggu om Dani di lobby,” ajak Reza.
Andra pun nurut karena dia pun merasa capek badannya. Mereka saat ini telah sampai di lobby dan sudah bertemu dengan Dani.
“Udah, kalian pulang bareng om , motor kalian biar di sini. Kita harus secepatnya sampai rumah!” seru Dani.
“Iya, Om,” balas mereka Andra juga Reza dan mereka bertiga segera naik mobil lalu keluar dari pelataran kantor.
Tak lama, mereka sampai di rumah Reigha. Ternyata Shafa dan Reigha menunggu di depan rumah.
Saat Daviandra dan Reza turun, Shafa langsung mendekat dan berkata, “Astaghfirullah nak, kok kalian kelihatan capek banget sih. Di kantor papa kalian sendiri di perlakukan seperti ini ya ternyata kalian.”
“Loh, Sayang, aku gak nyuruh mereka kerja berat loh, mereka sendiri ya minta jadi OB,” protes Reigha.
“Ayo-ayo kita semua masuk!” seru Shafa mengabaikan omongan suaminya.
“Sayang...sayang, kok aku di tinggal, Sayang?”
Reigha segera menyusul ke ruang makan.
“Nah, sekarang cepat makan habis itu mandi dan istirahat,” titah Shafa pada Andra dan Reza.
“Ma, kami mandi dulu ya, biar segar,” kata Daviandra dan disetujui oleh Reza.
“Yaudah, cepat ya. Mama tunggu,” balas Shafa diangguki bersamaan oleh Daviandra dan Reza.
“Dan, kita ngobrol di ruang tengah dulu sambil nunggu mereka mandi, nanti kamu makan malam aja di sini aja,” ucap Reigha.
“Baik, Pak. Mari,” balas Dani.
Setelah sampai di ruang tamu, Dani pun menceritakan semua kejadian ke Reigha. Reigha yang mendengar pun sangat marah dan kesal.
“Baiklah, besok kita akan beri pelajaran ke Maya!” seru Reigha.
“Maya? Loh, kenapa dengan bu Maya, Mas?” tanya Shafa yang ternyata mendengar Reigha menyeru.
__ADS_1