Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 31 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Ya udah nanti kalau udah bangun kamu ajak makan ya, Nak,” titah Shafa.


“Iya, Ma ...” balas Daviana sambil membuat minuman hangat untuk dirinya.


Setelah selesai membuat minuman, Daviana pun masuk kembali di kamar, dan ternyata Calvin masih belum bangun.


Karena Daviana pun capek, akhirnya dia pun tidur juga di samping Calvin.


Di tempat Reza, dia seharian di kamar. Reza seperti gak ada tenaga, malas untuk ke mana-mana. Reza hanya menghabiskan waktunya di kamar.


Reza belum berani menyalakan HP-nya karena pasti Daviana akan mencarinya. Jadi Reza hanya membuka laptopnya untuk sesekali mengerjakan kerjaannya.


Keesokan paginya, Calvin yang udah dari pagi bangun pun udah keluar dari rumah Reigha. Daviana yang baru bangun, mencari-cari suaminya tapi gak ketemu, akhirnya Daviana pun mandi.


Setelah sholat, Daviana segera membantu mamanya di dapur mempersiapkan sarapan.


“Lho ... Kak, buatin gih suaminya minuman, baru bantuin mama,” kata Shafa.


“Mas Calvinnya aja, Naima bangun udah gak ada, Ma. Pergi sepertinya,” balas Daviana.


“Loh ke mana? Emangnya gak pamit sama kamu?” tanya Shafa.


“Nggak, Ma. Nai juga udah nyari ke mana-mana juga gak ada, mungkin pulang ambil sesuatu, Ma,” jawab Daviana.


“Ooo ... iya mungkin, Nak,” balas Shafa manggut-manggut.


Shafa pun meneruskan memasaknya, sedangkan Daviana membantu menyiapkan makanan.


Setelah semua siap, Daviana bergegas kembali ke kamar untuk menelpon suaminya.


Drttt... Drrttt... Drrrttt...


Beberapa kali Daviana menelpon. Namun, Calvin gak angkat, akhirnya Daviana pun keluar lagi untuk sarapan bersama keluarga.


Saat masuk ruang makan, ternyata semua keluarganya udah kumpul.


“Ayo kita sarapan, Kak,” ajak Reigha.


“Iya, Pa. Maaf ya lama Nai turun, tadi baru nelpon Mas Calvin. Tapi ... gak diangkat,” lirih Daviana.


“Lohh ... emang ke mana pagi-pagi udah pergi?” tanya Reigha.


“Nai gak tau, Pa, Nai bangun tadi ... mas Calvin udah gak ada,” jawab Daviana.


“Yaudah, ayo kita sarapan dulu,” sambar Shafa.


Dan mereka pun sarapan dengan tenang. Setelah selesai sarapan, Vilia pun mengajak Daviandra untuk berangkat.


“Ayo, Mas, kita berangkat ... nanti Vilia terlambat,” kata Vilia.

__ADS_1


“Loh ... Almeera gimana? Kan belum ke sini dia, Vil,” balas Daviandra.


“Nanti kita tunggu di depan aja, Mas,” ucap Vilia.


“Yaudah, pamit gih sama papa dan mama juga kak Nai,” titah Daviandra.


Dan setelah pamitan mereka pun pergi menunggu Almeera di depan. Reigha juga pamit mau ke kantor. Sementara Daviana dan Shafa membereskan meja makan lalu mereka pun duduk di ruang tamu.


Sementara di tempat lain, sepasang kekasih sedang menikmati harinya.


“Sayang, kamu pokoknya hari ini seharian sama aku ya,” rengek Nadia.


“Iya, Sayang, hari ini akan aku habiskan waktuku sama kamu,” balas si pria.


Tak lama, terdengar HP-nya berbunyi.


Drttt... Drrttt... Drrrttt...


Tapi si pria gak mau mengangkat telpon itu.


“Kenapa gak diangkat sih, Sayang?” tanya Nadia.


“Males, aku gak mau diganggu,” jawab si pria.


“Tapi nanti kalau dia telp papa mama kamu gimana?” tanya Nadia kembali.


“Udahlah, biarin aja ... udah gak usah dipikirkan, jangan rusak hari ini ya, kita nikmati aja berdua,” balas si pria.


Sementara di tempat Daviana, karena seharian Calvin gak ada kabar akhirnya Daviana pun menelpon orangtua tua Calvin yang kini menjadi mertuanya.


Drttt... Drrttt... Drrrttt...


“Assalamu’alaikum, Nak?” salam Bu Monica mengawali.


“Wa’alaikumussalam, Ma, mama ... di situ ada mas Calvin nggak, Ma?” tanya Daviana.


“Lho ... Calvin aja dari kemarin itu udah gak ke sini Nak, emang kenapa?” tanya ibu Monica.


“Dari pagi mas Calvin pergi, Ma, Nai telpon juga gak diangkat-angkat,” jawab Daviana.


“Ke mana ya Calvin, Nak ... kalau kerja, mama rasa enggak loh, soalnya papa udah nyuruh Calvin cuti. Coba mama telpon ke papa dulu ya, Nak, nanti mama kabari lagi,” ucap ibu Monica.


“Iya, Ma, maaf ya kalau Nai ngrepotin. Assalamu’alaikum, Ma,” kata Daviana.


“Wa’alaikumussalam,” balas ibu Monica.


“Mas Calvin ke mana ya?di rumah nya juga gak ada,” monolog Daviana sambil berpikir.


Sore harinya, setelah pulang kantor ibu Monica menunggu suaminya di kamar, tak lama kemudian pak Hartawan pun masuk ke kamar.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, Ma, tumben gak nunggu papa di depan?” tanya pak Hartawan.


“Wa’alaikumussalam, Pa, iya sengaja mama nunggu papa di kamar, ada yang mau mama tanyakan,” balas ibu Monica.


“Ada apa, Ma? Sepertinya serius?” tanya pak Hartawan.


“Masalah Calvin, Pa, tadi menantu kita telpon ke mama dia nyari Calvin, katanya ... dari sebelum Daviana bangun, Calvin udah pergi dan gak pamit sama siapa pun,” jawab ibu Monica.


“Astagfirullah ... anak itu emang gak bisa diatur. Pasti dia sedang bersama kekasihnya, Ma. Udah mama telpon?” balas papa Hartawan.


“Udah, Pa, tapi gak diangkat. Gimana ini, Pa? Kalau sampai pak Reigha tau, bisa marah besar sama kita, Pa,” lirih ibu Monica.


“Mama tenang dulu, papa akan suruh Reno mencarinya,” kata pak Hartawan.


“Emang Reno tau rumah kekasih Calvin, Pa?” tanya ibu Monica.


“Mama jangan meremehkan asisten papa, dia sangat bagus kerjanya dan bisa diandalkan,” jawab pak Hartawan.


“Ya udah, papa telpon saja Reno, mama buatin papa minum dulu,” balas ibu Monica lalu melangkah keluar.


Di kamar pak Hartawan langsung menelpon Reno dan meminta Reno untuk mencari Calvin kemudian membawanya ke rumah. Tak lama kemudian, ibu Monica pun masuk ke kamar membawakan minuman untuk suaminya.


Di rumah Reigha, saat makan malam ... Reigha pun mencari keberadaan Calvin.


“Kak Nai, suami kamu mana?” tanya Reigha.


“Nai gak tau, Pa, dari tadi Nai telpon aja gak diangkat. Nai telpon mama Monica pun katanya mas Calvin gak ada di rumahnya,” jawab Daviana.


‘Kemana anak itu?’ ucap Reigha dalam hati.


Sementara di kediaman pak Haryawan, hampir tengah malam Reno asisten pak Hartawan datang ke rumah dengan membawa Calvin.


“Selamat malam, Pak, ini mas Calvin, Pak, maaf kalau gak sopan ... karena mas Calvin gak mau pulang jadi harus saya bawa paksa,” kata Reno.


“Gapapa, Ren. Terima kasih ya, kamu boleh pula,” balas pak Hartawan.


“Sama-sama, Pak, kalau begitu saya pamit pulang. Selamat malam,” ucap Reno.


Setelah mendapat jawaban, Reno pun pergi. Tak lama, pak Hartawan pun mendekat ke Calvin.


“Kamu kenapa pergi ninggalin istri kamu tanpa pamit sama istri kamu ataupun mertua kamu di sana?” tanya pak Hartawan.


“Istri? Calvin gak pernah menganggap Daviana istri Calvin, Pa. Papa ‘kan yang maksa Calvin? Jadi jangan salahkan Calvin kalau seperti ini,” jawab Calvin dengan entengnya.


Pak hartawan pun marah lalu menampar Calvin.


Plakkk


“Kurang ajar kamu ya, apa ini yang selama ini papa dan mama ajarkan sama kamu, hah?” balas pak Hartawan emosi.

__ADS_1


“Pa, dari awal Calvin sdh bilang, gak mau dijodohkan. Calvin maunya cuma nikah sama Nadia. Tapi papa yang selalu memaksa Calvin. Sampai kapanpun Calvin akan tetap cinta sama Nadia, bukan Daviana!” seru Calvin.


__ADS_2